
Sore hari, pekerjaan Dean, Alan dan Sunil selesai. Dewi memandang jejeran pagar kayu itu dengan puas. Domba-domba kesayangannya aman sekarang. Besok tugas mereka menambahkan rumput di kandang, karena hanya ada sedikit area hijau tempat domba bermain kini.
"Terima kasih. Begini memang lebih praktis," kata Dewi.
"Ya, sudah. Kalian pergi mandi lah. Sebentar lagi gelap. Makan malam sudah siap nih." Nastiti berteriak dari pintu dapur.
Para pria pergi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Senja itu dihiasi rintik-rintik hujan. Widuri menyajikan makanan di dalam pondok. Ada sebuah meja yang cukup diisi 6 kursi, tak jauh dari perapian yang memisahkan dinding kamar pria dan wanita. Di beberapa tempat diletakkan kristal cahaya sebagai penerangan tambahan.
"Bagaimana rasa dagingnya?" tanya Widuri.
"Sangat enak, gurih dan wangi," jawab Alan sambil mengunyah roti diselingi sup tomat berisi irisan daging domba yang digoreng dengan mentega.
Di depan Widuri, sepiring besar salad sayur dan buah dicampur remahan keju dan irisan tipis daging berbumbu juga nyaris tandas. Tak ada yang rela melewatkan hidangan lezat malam ini setelah bekerja keras seharian.
"Pengawetan daging yang diajarkan Dean ternyata sukses ya," puji Sunil yang tak henti memasukkan irisan tipis daging ke mulutnya.
"Syukurlah jika kalian suka dengan cara ini." Dean tersenyum, dibalas anggukan kepala teman-temannya.
"Apa besok jadi memeriksa ujung lorong gua?" tanya Nastiti.
"Ya. Lebih baik cepat diselesaikan. Jadi kita bisa lebih cepat berangkat," jawab Dean.
"Baiklah. Apa kami boleh ikut?" tanya Nastiti lagi.
"Tidak perlu juga. Persiapkan saja apa yang ingin kalian bawa nanti, agar tak buru-buru," jawab Dean lagi.
"Dean, saat kita pergi, apakah domba, ayam dan kelinci kita biarkan di sini saja?" tanya Dewi yang terlihat tidak rela. Ya, Dewi lah yang selalu mengurus dengan sabar semua binatang peliharaan.
Dean terdiam sebelum menjawab dengan hati-hati agar Dewi tidak sedih.
"Kita lihat dulu situasi nanti. Mudah-mudahan ada cara untuk menjaga mereka tetap aman. Aku akan mengusahakan, tapi tidak bisa menjanjikan. Atau kau punya ide untuk itu?" Dean ingin mendengar pendapat Dewi.
"Apakah ternak kita tak bisa masuk dalam ruang penyimpananmu?" tanya Dewi ragu.
Dean menggeleng.
"Bisa saja, jika mereka sudah kita sembelih."
Dewi tampak sedih tapi tetap mengangguk mengerti.
**
__ADS_1
Keesokan Paginya..
Alan, Sunil dan Dean sudah siap membongkar dinding penutup ujung lorong yang dibuat Dean.
"Kalian menjauh dulu. Aku akan membuat sedikit lubang untuk melihat ke arah sana," kata Dean.
"Ya, kalau masih terlihat kabut hitam, tutup lagi lubang itu secepatnya." Alan dan Sunil menjauh dari Dean.
Dean bersiap. Tangannya yang sedikit bersinar dan berbayang samar diarahkan pada dinding batu. Dean membentuk kotak segi empat seukuran jengkal tangannya. Lalu kotak itu pelan-pelan mengikuti tarikan tangan Dean hingga lepas dari dinding. Dean segera mengintip melalui lubang itu. Wajahnya terlihat cerah.
"Coba kalian lihat." Dean memberi kesempatan pada Alan dan Sunil untuk mengintip.
Alan memberanikan diri mengintip lebih dulu.
"Hahahaa.. Kelihatannya aman." Alan tertawa senang, membuat Sunil penasaran dan dengan cepat mengintip juga melalui lubang.
"Tidak ada kabut hitam disitu." Sunil gembira.
"Baiklah. Jadi mari kita singkirkan pintu ini dan melihat apa yang terjadi."
Dean meminta Alan dan Sunil menjauh saat dia bekerja. Dean memotong dinding batu itu seukuran pintu agar mudah untuk dilewati. Perlahan diangkatnya kepingan pintu batu itu lalu memindahkannya ke sisi dinding.
Di depan tampak lorong gua yang hanya sejauh 15 meteran dari pintu keluar. Lantainya penuh batu di sana-sini. Dean ingin melangkah untuk memeriksa ketika matanya tertumbuk pada sesuatu di sisi kanan pintu yang baru dibukanya.
Dean seketika berjongkok saat mengenali lambang bintang yang tampak kusam dan berdebu diantara lapuknya pakaian.
"O, Z, maafkan aku. Kalian pasti menungguku dengan putus asa di sini." Dean meneteskan airmata saat menggosok lambang bintang itu.
"Mereka O dan Z. Dua pelindung yang dikirim ke sini waktu itu. Aku akan membawa dan membaringkan mereka di sebelah makamku."
Dean menggerakkan tangannya dengan hati-hati. Tubuh keduanya yang hanya tinggal rangka itu, melayang perlahan. Alan dan Sunil menyingkir memberi jalan tanpa berkomentar apapun.
"Alan kau temani Dean. Biar aku berjaga di sini. Jangan sampai ada makhluk yang tidak kita inginkan, menerobos masuk ke dalam," kata Sunil.
Alan mengangguk dan berjalan cepat mengejar Dean. Dean membawa kedua pelindungnya ke ruang kolam air. Satu kerangka di letakkannya di atas bak batu. Yang satu lagi masih di lantai.
"Ada yang bisa ku bantu Dean?" tanya Alan tulus.
Namun Dean menggeleng dalam diamnya. Dengan cangkir batu, ditampungnya air yang menetes di dinding hingga penuh. Air itu lalu disiramkan pada kepala. Lalu ditampungnya lagi air dengan cangkir batu. Begitu berulang kali hingga semua tulang belulang itu telah dibasahinya.
Dean menandangi bak batu itu dengan wajah sangat sedih dan penuh penyesalan.
"Dean, tak bisakah rohnya keluar dan memasuki tubuh lain seperti halnya roh A yang menetap di tubuhmu?"
__ADS_1
Alan menyadari situasi saat ini. Dia tau Dean merasa sangat bersalah karena tak bisa membuka pintu batu untuk menolong kedua pelindung itu.
"Untuk apa?" Dean menoleh ke arah Alan.
"Agar kalian bisa saling menjelaskan situasi dan sebab kenapa kau tidak dapat membukakan pintu batu itu untuk mereka." Alan mengemukakan pikirannya.
"Apa kau mau dia menetap di tubuhmu?" tanya Dean penuh selidik.
"Tidak apa-apa. Selama kalian bisa saling berdamai, bukankah itu baik? Setelah itu dia bisa beristirahat dengan tenang bukan?" kata Alan dengan polos.
Dean tersenyum mendengarnya.
"Tak semudah itu menyuruhnya pergi jika dia telah memilihmu. Apa kau tak kuatir dikuasainya? Para pelindung adalah sosok yang kuat. Lebih kuat dariku. Belum tentu dia bersedia mengalah dan menyatu dengan dirimu secara sukarela." Dean menjelaskan panjang lebar.
Sementara itu, kerangka di atas bak batu perlahan kembali ke wujud fisiknya. Alan terlompat melihatnya. Itu hal paling tak masuk akal yang pernah dia lihat
Dean memeriksa kalung yang ada di leher tubuh kaku itu. Dikeluarkannya satu set pakaian dan memakaikan pakaian yang layak serta menempelkan kembali lambang bintang di dada jubahnya.
"Dia sangat tampan dan masih muda," gumam Alan memuji.
Dean mengangkat tubuh yang sudah bersih itu menuju ruang transmisi. Dibukanya pintu dengan cahaya yang keluar dari keningnya. Alan ikut masuk untuk melihat isi ruangan itu.
Dean meletakkan tubuh itu di lantai, karena tak ada meja atau semacamnya di situ. Dilepasnya lambang bintang dari dada orang itu dan meletakkannya pada meja panel kecil di tengah ruangan.
Tangan Dean berada di tengah panel, lalu keluar pantulan cahaya dari lambang bintang itu. Cahaya kebiruan berisi huruf-huruf asing yang tak dimengerti Alan. Dean memperhatikan dengan serius proyeksi cahaya itu. Wajahnya murung. Lalu proyeksi itu berhenti. Dean mengembalikan lambang itu ke jubah temannya.
Dean kembali ke ruangan kolam air lalu mengangkat kerangka pelindung lainnya dan meletakkan di atas bak batu.
Kali ini Alan memperhatikan dengan lebih serius saat Dean berkali-kali menampung air dengan cangkir batu dan menyiramkan air itu hingga membasahi seluruh tulang belulang itu dari kepala hingga kaki. Lalu mereka menunggu dengan sabar.
Saat telah terjadi perubahan fisik, Dean kembali mengambil satu set baju yang layak dari penyimpanan sosok itu dan memakaikannya hingga tampak pantas. Proses itu selesai. Dean menoleh pada Alan.
"Jadi bagaimana? Kau masih bersedia untuk ditempati oleh salah satu pelindung ini?" tanya Dean memastikan.
Alan merasa ditodong. Tadi dia menawarkan bantuan karena mengira roh itu bisa diminta pergi jika urusannya telah selesai. Tapi sekarang dia ragu.
"Apa kau tau caranya?" tanya Alan asal-asalan.
Dean menangguk.
"Kau bisa pikirkan itu nanti atau bahas dengan teman yang lain. Sekarang kita periksa dulu apa yang ada diujung lain lorong itu. Bagaimana kabut hitam bisa menghilang dari sana?"
Dean melangkah keluar, menyusuri lorong gua menuju ke tempat Sunil yang sedang menunggu.
__ADS_1
***