PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 396. Perjalanan Menuju Indonesia 2


__ADS_3

"Jelaskanlah maksudmu. Aku jadi semakin bingung," keluh Sunil.


"Apa kalian ingat, bahwa pesawat kita saat itu mengalami turbulensi?" desak Robert.


"Hemmm ... ya. Pesawat bergetar hebat dan berayun, bahkan terasa terombang-ambing!" ujar Sunil mengingat-ingat kejadian itu.


"Bukankah saat itu memang musim hujan. Dan awan tebal sudah menyelimuti sejak siang. Hujan turun tak lama kemudian! Pesawat pasti berada dalam mata badai saat itu!" jelas Dokter Chandra.


"Kemungkinan besarnya seperti itu. Seperti saat kita kehilangan Alan. Kita terlontar jauh menuju dunia lain dan waktu berbeda!" ungkap Robert dengan mata berbinar.


"Ya ... terus?" Dokter Chandra memiringkan kepalanya sedikit, karena belum memahami maksud Robert.


"Mungkin maksud Robert, pesawat kita juga mengalami hal yang sama dengan saat kita terlontar bersama Alan!" duga Sunil.


"Itu dia!" Robert tersenyum lebar.


"Hemm ... masuk akal." Dokter Chandra akhirnya mengangguk mengerti.


"Tapi maksudku sebenarnya adalah...." Robert menunjuk ke atas, di mana ujung lorong teleportasi berada.


"Apa lagi maksudmu?" tanya dua temannya sambil ikut melihat ke atas.


"Kemungkinan peringatan turbulensi itu sebenarnya adalah daya dorong dan daya tarik di dalam lorong teleportasi!" Robert mengatakan hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi.


Dua temannya memikirkan penjelasan Robert sambil memandangi ruang kosong di angkasa. Hanya mereka yang tahu, bahwa ada ujung jalur teleportasi di sana.


"Kurasa kau ada benarnya. Kemungkinan besar, awan tebal menghalangi pandangan pilot. Lalu pesawat memasuki lorong teleportasi yang entah milik siapa. Kemudian keluar di dunia lain, dan langsung terhempas akibat daya tarik pintu keluarnya!" Dokter Chandra bergumam.


"Nah ... benar 'kan?" Robert sangat senang melihat Dokter Chandra akhirnya mengerti maksudnya.


"Baiklah. Kita sudah memahami sebab musabab jatuhnya pesawat kita. Tapi kan nasi sudah jadi bubur. Tak ada yang bisa kita perbuat lagi sekarang!" tambah Sunil.


"Ada!" seru Robert cepat.


"Ada? Apa maksudmu? Kau mau kita krmbali ke waktu lampau, atau bagaimana?" tanya Dokter Chandra yang mulai tak mengerti lagi.


"Maksudku, kita ikuti jalur pesawat itu dan cari jalur teleportasi yang ada di antara Jakarta dan Singapura!" Senyum Robert begitu misterius.


"Lalu? Apa kau mau kita ke sana lagi?" tanya Sunil.


"Ya!" Kita mungkin bisa mengeluarkan bangkai pesawat itu dan meletakkannya di satu tempat terpencil, sebagai bukti dan argumen keberadaan kita!" Robert menjelaskan dengan antusias.


"Hah ... memusingkan. Nanti saja kita bahas. Sekarang yang paling penting adalah memeriksa lokasi kita saat ini. Kita ini sebenarnya berada di mana?" Dokter Chandra kembali pada rencana perjalanan mereka.


"Yah, jika kita masih salah jalur, maka keinginanmu tadi tetap percuma dilakukan!" tambah Sunil.


"Benar juga!" gumam Robert.


"Ayo pergi!" ajak Dokter Chandra.

__ADS_1


"Hei, tunggu!" tahan Robert.


"Apa lagi? Kau sudah menahan kami selama setengah jam, di sini. Bagaimana kalau ada pesawat lainnya yang lewat?" kali ini nada suara Sunil berubah tinggi.


"Itu dia. Ujung jalur teleportasi kita berada dekat dengan jalur penerbangan pesawat! Bagaimana kalau ada yang melenceng jalur? Lalu masuk ke lorong teleportasi dan keluar di dunia kecil? Yg lebih mengerikan, pintu teleportasi justru ada di rumah besar, di mana orang-orang berkumpul!" Robert menjelaskan dengan emosi!


Dua temannya terkejut mendengarnya. Kenapa mereka melupakan bahaya itu?


"Ayo!"


Dokter Chandra membawa bola cahaya putih itu ke arah mereka jatuh sebelumnya. Ujung jalur itu tak terlihat. Tapi tekanan udara di sekelilingnya, menunjukkan bahwa jalur itu ada di sana.


Dokter Chandra menyelubungi pintu keluar jalur teleportasi itu dengan selubung transparan , dengan sedikit cahaya redup.


"Tidakkah pesawat dapat melihat selubung cahaya itu dan melaporkannya pada petugas menara?" kritik Robert.


Dokter Chandra memperbaiki selubung yang dibuatnya. Sekarang cahaya redup itu telah hilang sepenuhnya.


"Yah ... itu lebih baik!" Robert mengangguk.


"Apa kau sudah puas? Sudah bisakah kita pergi?" goda Sunil.


"Hehehe ... ayo!" Robert terkekeh senang.


Dokter Chandra melepas selubung cahaya putih yang melingkupi Sunil dan Robert. Sekarang ketiganya dapat terbang sendiri.


"Ini di tengah lautan. Mari kita lihat ke arah sana!" tunjuk Dokter Chandra. Ketiganya melesat cepat seakan berlomba!


"Lihat di bawah sana!" tunjuk Sunil ke arah gelapnya daratan.


"Gelap! Tak ada yang bisa dilihat!" sahut Robert.


Sunil turun lebih rendah. Robert dan Dokter Chandra mengikuti. Kemudian ketiganya berhenti. Sekarang beberapa cahaya mulai terlihat dari atas.


"Kurasa itu pulau," kata Robert.


"Ya. Tapi pulau apa!" tanya Sunil.


"Tidak tahu. Suasana gelap! Tak ad yang terlihat dengan jelas!" balas Robert.


"Mari kita cari tempat untuk turun. Kita bisa mengetahuinya nanti!" ajak Dokter Chandra.


Ketiganya terbang rendah dengan hati-hati. Pengalaman dulu di dunia Aslan, memnjadi pelajaran berharga.


"Ini bukan pulau kecil. Lihat!" Robert menunjuk ke sana kemari dengan jarinya.


"Ya. Ini cukup besar. Kita bahkan tak melihat ujungnya!" Dokter Chandra mengamati ujung pulau itu.


"Tunggu sebentar! Lihat tepian pulau yang ini yang seperti sebuah tanjung. Jika koordinat yang dibuat Ta dekat dengan Indonesia, maka mungkin ini area lebih utara. Kamboja atau Vietnam!" duga Dokter Chandra.

__ADS_1


"Kenapa bukan Malaysia? bukankah itu lebih dekat?" tanya Sunil.


"Karena, jika ini adalah Malaysia, maka harusnya ada juga terlihat pulau Sumatera di sebelan sini!" Robert berbalik dan menunjuk arah belakangnya.


"Ah, ya ... aku lupa kalau Malaysia hanya dibatasi selat dengan Pulau Sumatera." Sunil mengangguk.


"Jadi bagaimana? Ingin turun ke sana, atau mencari ke arah sebaliknya?" tanya Robert pada Dokter Chandra.


"Kita turun dulu, untuk memastikan benar atau tidak dugaan tadi," ujar Dokter Chandra.


"Oke. Aku juga setuju itu."


Ketiganya turun perlahan fan mencari bagian pantai yang lebih gelap, agar kedatangan mereka tak diketahui.


"Di sana!" tunjuk Robert.


"Ayo!"


Dokter Chandra mendahului terbang ke arah yang dimaksud Robert. Makin dekat ke daratan, makin terlihat bahwa sebenarnya itu tidaklah sama sekali gelap. Hanya ada sedikit area gelap pohon-pohon peneduh dan taman, diantara villa-villa bagus pinggir pantai.


"Sepertinya ini tempat wisata!" kata Sunil.


"Kita tak bisa turun di sini!" putus Dokter Chandra.


Dia kembali terbang lebih tinggi, menjauhi jangkauan pandangan orang-orang. Robert dan Sunil mengikuti. Sekarang ketiganya menyusuri bibir pantai, dari ketinggian.


"Untungnya kita tiba saat malam sudah larut!" kata Sunil lewat transmisi suara.


"Ya. Kalau siang hari, pasti sudah dilihat oleh banyak orang!" Robert menimpali.


"Bagaimana kalau di sana?" tunjuk Dokter Chandra. Ada area gelap yang lumayan luas di situ.


"Mari kita lihat!"


Tiga pria itu melayang turun perlahan. Memperhatikan sekitarnya, mengantisipasi mata yang mungkin sedang memandang mereka.


"Ini hutan mangrove. Kita bisa turun di sini!" Dokter Chandra memutuskan. Ketiganya kemudian turun di barisan hutan mangrove terluar.


"Kita harus berjalan menembus hutan ini hingga ke darat!" kata Dokter Chandra.


"Oke!"


Tiga pria itu berjalan melintasi satu satu akar pohon, ke akar pohon lainnya dengan penuh semangat. Hingga sinar matahari pertama menerangi langit dengan cahayanya.


"Ayo cepat!" kita sebaiknya sudah keluar dari hutan ini sebelum langit terang!" seru Dokter Chandra yang ternyata sudah jauh di depan.


"Bagaimana dia bisa melewati begini banyak akar dengan begitu cepat? tanya Sunil.


Robert memperhatikan cara Dokter Chandra melompat. "Dia seperti setengah terbang, dan hinggap dari akar ke akar dengan gerakan ringan!" kata Robert.

__ADS_1


Dua orang itu menerapkan teknik melompat setengah terbang tang ditunjukkan Dokter Chandra. Dan terbukti itu lebih menghemat waktu.


********


__ADS_2