PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 85. Naluri


__ADS_3

Dewi terlihat lesu sambil membawa tempat susu.


"Kenapa wajahmu ditekuk 100 begitu? Ntar hilang cakepnya, Sunil gak melirikmu lagi hloo," canda Nastiti.


Mendengar itu, Dewi justru makin cemberut.


"Masa domba-domba pada ngambek, gak mau ngasih susu. Lihat, cuma dapat segini."


Dewi menuang susu yang diperahnya ke dalam satu mangkuk kecil.


"Ya sudah, kita pakai buat masak saja susu segitu," usul Widuri.


"Masak apa?" tanya Nastiti.


"Kita buat pasta saus carbonara tambah jamur saja untuk makan malam. Mau?" tanya Widuri tersenyum.


"Yummmyyy. Mari ku bantu." Nastiti tampak senang.


"Ku ambilkan mentega dan keju untukmu," kata Dewi.


"Sunil, bisakah kau membantu menyiapkan kelinci panggang untuk makan malam kita?"


Widuri menemukan Sunil sedang menyiapkan perapian kecil di meja teras yang biasa digunakan sebagai penerang saat makan di teras.


"Oke. Akan ku siapkan," jawab Sunil cepat.


Widuri mengangguk lalu kembali ke dapur. Mereka bertiga berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam. Urusan domba sudah terlupakan.


Alan, Sunil dan Dean sedang membalik-balik daging kelinci agar matang merata. Cahaya kemerahan di langit mulai memudar ketika para wanita membawa mangkuk besar berisi pasta dengan saus susu dan keju. Dean membantu mengiris daging kelinci panggang lalu menyusunnya di piring besar. Di mangkuk lain sepiring besar salad sayur dan buah tampak menggoda untuk disantap.


Mereka menikmati makan malam dengan santai sambil berbincang.


"Tadi saat aku memilih kelinci, mereka terlihat gelisah. Seperti takut pada sesuatu." Kata Sunil.


"Hah? Jadi itu bukan perasaanku saja dong. Domba-domba juga tampak gelisah. Sampai-sampai produksi susu ikut turun." Dewi menimpali.


"Insting binatang biasanya lebih peka. Lebih baik kita berhati-hati malam ini," sahut Dean.


"Ku kira, rencana perjalanan kita jangan ditunda lagi. Lebih cepat, lebih baik," Widuri menimpali.


"Alan, bagaimana denganmu? Apakah masih belum bisa berdamai dengan Z?" tanya Nastiti.


"Aku juga gak ngerti." Alan tampak bingung.

__ADS_1


"Besok kita makamkan saja jasad Z. Dia muncul atau tidak, ku rasa sudah tak masalah lagi." Sunil nimbrung.


"Oh ya, masalah air untuk di bawah sana gimana?" Widuri kembali bertanya.


Dean dan Sunil saling memandang.


"Bukankah air yang mengalir di ruang bak batu itu berasal dari batu mata air abadi?" Sunil bertanya pada Dean dengan mata berkilat kebiruan.


"Kau benar. Kita bisa memindahkan batu itu seperti dulu dia dipindahkan dari danau abadi." Wajah Dean cerah seketika.


"Urusan air sudah selesai. Besok bisa kita bereskan." Kata-kata Dean membahagiakan teman-temannya.


"Jadi, ku rasa malam ini kita bisa mulai memindahkan penyimpanan persediaan kita yang ada di pondok ini. Aku tak ingin tinggal lebih lama lagi di sini. Kalau bisa, kita tinggalkan tempat ini besok." Widuri berkata lugas.


Kelima temannya menatapnya heran. Tapi Dean mampu menangkap kegelisahan yang tersembunyi di dalam mata Widuri.


'Mungkinkah instingnya yang tajam juga memberi peringatan padanya?' pikir Dean.


"Baik. Kita bereskan apa-apa yang di sini. Besok pagi kita kembali ke gua." Dean membuat keputusan dengan cepat.


"Malam ini?" Dewi dan Nastiti terkejut bahwa keputusan akan dibuat begitu cepat.


"Selesai makan malam, kita bereskan semua ini. Kosongkan penyimpanan di sini, malam ini juga." Dean menegaskan.


"Iya, tentu saja." Sunil menjawab cepat.


Makan malam itu segera diakhiri begitu mangkuk dan piring sudah kosong. Bersama-sama mereka membersihkan semua peralatan dan langsung menyimpannya di ruang penyimpanan milik Sunil. Hingga dapur itu jadi terlihat kosong melompong. Hanya ada tempat cuci piring dan tungku masak dari batu di situ. Sunil bahkan memasukkan rak kayu tempat Dewi biasa menyusun wadah mentega dan keju yang dibuatnya. Lalu pintu dapur ditutup dengan rapat. Mereka kembali ke pondok.


"Aku ingin membersihkan diri sebelum tidur. Tapi sejujurnya aku merasa sangat takut malam ini." Widuri menunduk.


"Biar kami temani ke kamar mandi. Kalian bisa mandi dengan tenang." kata Dean.


"Terima kasih."


Widuri mengangguk lalu mengajak kedua temannya untuk bersama-sama mandi agar tak membuang waktu terlalu banyak di luar pondok.


"Dean, apa hanya perasaanku, kalau Widuri tampak aneh malam ini?" Alan tak dapat menahan keheranannya.


Dean mengangguk, merangkul bahu Sunil dan Alan. Lalu bicara dengan suara rendah seperti berbisik.


"Tadi aku memeriksa pagar belakang kandang ternak. Seperti ada jejak kaki asing di dekat kandang ayam." bisik Dean.


"Apa?! teriak Alan.

__ADS_1


"Sssttttt! Jangan berisik. Kau mau buat mereka panik?" Dean tetlihat kesal pada Alan.


"Berarti itu yang membuat ternak kita ketakutan. Artinya, malam ini pun mungkin mereka tak akan aman." Sunil menyimpulkan. Dean mengangguk.


"Mungkin saja jejak kaki itu bukan berasal dari makhluk yang berbahaya." Alan menyanggah kesimpulan Dean dan Sunil.


"Kalau makhluk itu tak bahaya, tak mungkin semua ternak jadi ketakutan. Bahkan Widuri juga merasa ketakutan meski tak tau keadaan sebenarnya." bantah Dean.


"Lalu, apa kau akan membiarkan domba-domba itu begitu saja? Kalau mati bagaimna?" tanya Sunil pelan.


"Itu yang membuatku bingung. Para ternak itu tak bisa dimasukkan dalam penyimpanan jika masih hidup." Dean menggeleng putus asa.


"Kita berjaga bergantian malam ini. Tajamkan pendengaran. Jika ada keributan dan hal tak biasa, bangunkan yang lain, bagaimana?" tanya Alan.


"Baiklah. Kita akan bergantian jaga malam ini. Tapi lebih baik semua perapian di kandang di nyalakan dulu, untuk menambah kenyamanan," tukas Dean.


Sunil dan Alan mengangguk setuju. Keduanya bersama menyalakan perapian di tiap kandang, sementara Dean tetap mengawasi kamar mandi. Tak lama Sunil dan Alan kembali bergabung dengan Dean.


"Sudah beres,"


Alan mengaitkan jempol dan telunjuknya membentuk huruf O dan ditunjukkan pada Dean. Dean mengangguk puas.


"Hei! Kami sudah selesai!" teriak Dewi memanggil ketiga pria yang berdiri cukup jauh dari kamar mandi.


"Ya. Ayo kita kembali."


Sunil menjawab dan melangkah menghampiri para wanita. Mereka beriringan kembali ke pondok. Perapian kecil di meja teras sudah dipadamkan. Pintu dan jendela pondok ditutup rapat malam ini.


Para wanita tak bertanya apa-apa. Di dalam kamar, mereka merapikan tas ransel masing-masing dan siap dibawa kapanpun. Ketiganya tidur dengan gelisah.


Di kamar sebelah, Dean memilih untuk berjaga lebih dulu. Sunil dan Alan memaksa tubuh mereka beristirahat agar tetap fit menghadapi segala kemungkinan.


Dean merasa udara malam itu lebih dingin dari biasanya. Dikenakannya coat panjang untuk menghangatkan tubuh. Lalu ditambahnya batu bara pada perapian untuk menghangatkan kedua kamar yang ada.


'Semoga semua baik-baik saja malam ini' harapnya dalam hati.


Dean duduk di bangku kayu dekat perapian. Dia memikirkan banyak hal luar biasa yang telah dilewatinya dalam beberapa bulan ini. Dia mikirkan keluarganya, teman-teman dan rekan kerjanya.


'Apakah mereka telah menganggap aku tewas dalam kecelakaan pesawat itu?' pikir Dean dengan ekspresi suram.


Dean masih melamun ketika tiba-tiba jantungnya berdetak keras. Dalam suasana sunyi itu, suara jantung Dean seakan bisa terdengar ditelinganya. Dean menegakkan posisi duduknya. Diperhatikannya ke sekeliling ruangan itu, tak ada perubahan. Di ceknya ruangan kamar tempat para wanita tidur. Tak ada yang aneh. Diperiksanya juga Sunil dan Alan. Semua temannya tertidur pulas. Tapi kenapa jantungnya berdegup kencang?


'Tak mungkin jika tanpa alasan' pikirnya waspada. Dean sangat mempercayai nalurinya bahwa ada bahaya yang mengintai, hanya saja dia belum tau itu apa.

__ADS_1


***


__ADS_2