PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 29. Lebih Baik Rebahan Dari Pada Mati Kesal


__ADS_3

"Kau sudah mendapatkan makanan rupanya." Suara dan kemunculan Dean yang tiba-tiba, membuat Widuri terperanjat.


"Astaga, kau mengagetkanku," Widuri mengusap-usap dadanya meredakan rasa terkejut. "Ya, mereka sudah mengantarkan bahan makanan dan kayu api ke sini. Kurasa akan cukup hingga malam."


"Mereka juga menanyakanmu." Widuri menambahkan informasi.


"Apa sudah matang? Aku sudah sangat lapar," Dean tak menggubris kata-katanya. Dia mengambil panci air hangat di dekat perapian lalu meneguk isinya.


"Kalau kelinci, ku rasa belum, tapi ubinya sudah. Mari kita makan ubi dulu. Aku juga sudah lapar." Widuri meniup-niup ubi bakar yang dibelahnya agar cepat mendingin dan bisa dimasukkan ke mulut. Dean ikut mengambil ubi dan meniup-niup sebelum memakannya.


"Dean, maafkan sikapku tadi. Aku salah." Widuri bicara sambil membalik-balikkan daging kelinci di atas perapian.


"Hmm.." Dean hanya bergumam dan mengangguk dengan mulut penuh. Widuri melihat dan tak mempermasalahkannya lagi. Mereka melanjutkan makan hingga daging kelinci matang dan setengah bagiannya habis. Air di panci sudah habis. Widuri memanaskan lagi sepanci salju untuk persediaan minum.


"Jadi bagaimana hasil perjalananmu? Apakah menemukan pintu keluar?" Widuri tak dapat lagi menahan rasa penasarannya.


"Belum," Dean mengambil tas lalu mengeluarkan kristal ungu bercahaya yang diambilnya tadi dan menunjukkannya pada Widuri yang sedang terheran-heran dan dengan mulut ternganga melihat kristal itu.


"Tapi aku menemukan ini." Tunjuk Dean sambil melangkah ke arah yang lebih gelap agar cahaya ungu kristal itu terlihat lebih jelas.


"Apakah itu batu mulia? Permata? Sebesar itu?" Pertanyaan Widuri begitu banyak. Dia sangat takjub. Jika itu batu permata, alangkah besarnya. 'Mereka bisa kaya saat pulang nanti,' pikirannya kini dipenuhi keserakahan.


"Dimana kau menemukannya?" Widuri terus bertanya karena Dean tak juga menjawabnya.


"Pertanyaanmu banyak sekali. Bingung mau menjawab yang mana dulu." Dean kembali ke tempat duduknya dekat perapian. Kristal ungu diletakkannya begitu saja di atas batu datar tempat mereka tidur tadi malam.


"Tak usah jawab pertanyaan. Ceritakan saja perjalananmu," Widuri menekan nada suaranya karena mulai jengkel.


'Tak bisakah dia bersikap tidak menjengkelkan?' Widuri menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan agar emosinya tak mudah tersulut. 'Kenapa aku jadi gampang emosi ya? apa sudah waktunya pms?'


Dean pun menyadari nada suara dan sikap Widuri yang tampak sangat berusaha menahan diri. Dia menggeleng samar dan memutuskan untuk menceritakan saja dengan gamblang apa yang ditemukannya. 'Tak ada guna menambah kejengkelan wanita, hanya akan berakhir dengan pertengkaran' batin Dean.

__ADS_1


*


"Coba ku lihat buku yang kau temukan." Widuri menyodorkan tangannya ke arah Dean. Dean melihat tangan yang terulur itu.


"Kalau cuma ingin melihat, kau bisa lihat juga dari situ kan. Tapi kalau ingin ikut membaca, maka ke sinilah. Kau lihat aku juga sedang membacanya. Lagipula ditempatmu itu agak gelap untuk membaca."


Dean menyodorkan foto yang dilihatnya tadi dan Widuri menerimanya. Ada foto hitam putih sepasang pria dan wanita dengan gaun pengantin di situ. Wanita itu terlihat cantik. Widuri melihat bagian belakang kertas foto, ada tulisan Mariage d'Eugène et Cerise, le 12 mars 1956.


"Bahasa apa ini?" tanya Widuri.


"Perancis" Dean menjawab sambil terus membaca.


"Kau bisa berbahasa Perancis juga?" tanya Widuri takjub. Dean hanya mengangguk dan berguman "hmm."


Widuri tak lagi berminat pada buku itu. Lagipula dia tak akan mengerti apa yang tertulis di situ. Jadi tunggu saja Dean menceritakan isinya. Dibiarkannya Dean yang sedang asik membaca sementara dirinya memegang dan mengamati kristal ungu yang bercahaya di tangannya itu. Ukuran sekitar 30 cm dengan lebar sebesar telapak tangan. Irisannya yang lurus-lurus tak beraturan tapi tidak cukup tajam untuk melukai tangan saat dipegang.


"Hati-hati jangan sampai jatuh atau membentur sesuatu. Itu mudah sekali patah menjadi kepingan kecil." Dean mengangkat kepalanya merasa terganggu melihat Widuri menimang-nimang kristal dan mengangkatnya ke atas dan ke bawah.


"Bukankah katamu di sana ada tambangnya? Kita bisa mengambil cukup banyak untuk menerangi seluruh lorong gua." Widuri berkilah.


"Yahh.. silahkan saja jika kau ingin menambangnya." Dean menjawab asal. Wajah Widuri jadi merah padam karena sangat kesal tapi harus menahannya. Matanya hanya bisa melotot melihat Dean yang asik membaca di bawah cahaya matahari tanpa peduli kalau kata-katanya tak enak didengar sama sekali.


'Huh..! Lebih baik rebahan menunggu waktu makan malam. Dari pada mati kesal karena dia.' Widuri membaringkan diri, mencoba memejamkan mata sambil memikirkan segala yang telah dilaluinya dalam hidup. Kebahagiaan, penderitaan, rasa pahit dan manis serta kerinduannya pada kedua orang tuanya, membuatnya tertidur meringkuk dengan air mata tergenang di sudut matanya.


"Dean! Widuri!" Suara orang di atas lubang membuat Widuri terbangun. Dia bangkit dan berjalan ke arah lubang.


"Ya, aku di sini. Indra, syukurlah kalian sudah datang." Dean menjawab antusias.


"Aku rasa ini sudah sore." Dean melihat jam tangannya.


"Ya, kami baru saja tiba dan ternyata ada kejadian seperti ini. Aku langsung ke sini. Jadi bagaimana situasi di bawah?" tanya Indra lagi.

__ADS_1


"Sudah terlalu sore untuk membahas keadaan di sini. Lebih baik kalian persiapkan shelter tambahan agar semua aman terlindung. Di sini kami baik-baik saja, kecuali tentang makanan, air dan kayu bakar."


"Baik, kami turunkan makanan, kayu bakar dan bola salju lagi sebagai persediaan kalian untuk malam dan pagi hari." Teriak seseorang lainnya.


"Ya, Sunil. Terima kasih atas kerja keras kalian." Teriak Dean. Sunil menjatuhkan seekor kelinci, beberapa ubi, kayu-kayu bakar dan bola-bola salju.


"Baik, terima kasih. Sudah cukup di sini. Kalian juga membutuhkannya. Besok pagi kita bahas masalah ini." Dean berteriak kembali.


"Ok, jangan khawatirkan kami di atas. Semua baik-baik saja. Kami kembali dulu yaa.." Teriak Indra lagi. Dean melambaikan tangannya, lalu mulut lubang itu ditutup dari atas dengan menyisakan celah kecil untuk tempat keluarnya asap perapian.


Gua kembali gelap. Cahaya kristal ungu itu cukup membantu menerangi area tidur. Dean melihat sekeliling ruang gua itu. Kalau saja dia bisa mencongkel 3 atau 4 kristal lagi dengan ukuran sama, maka gua itu akan terang di setiap sudutnya.


Widuri menyimpan persediaan ubi dan bola saljunya berdekatan. Gua itu cukup dingin untuk menjaga bola salju tidak cepat mencair. Tapi kelinci yang dijatuhkan terakhir itu akan tetap dipanggangnya di atas perapian. 'Makanan matang jauh lebih aman. Letakkan dekat dengan perapian untuk menghindari pembusukan' pikir Widuri.


***


Di shelter setelah makan malam.


"Jadi bagaimana Indra? Apa yang harus kita lakukan agar mereka bisa keluar?" Alan bertanya.


"Kelihatannya lubang itu cukup dalam. Tak mungkin membuat tangga kayu. Hanya bisa membuat tali untuk mengangkat mereka naik," kata Indra.


"Ya, tapi ku rasa kita perlu tunggu cerita Dean yang sudah melakukan eksplorasi di lorong gua dan bisa kembali dengan selamat. Dari situ baru kita bisa putuskan langkah selanjutnya," Marianne ikut bersuara.


"Tapi memang kita tetap butuh tali untuk menurunkan makanan atau mungkin kita juga perlu turun, jika Dean bisa menemukan jalan keluar." Leon ikut menyampaikan pendapatnya.


"Benar. Jadi untuk sementara, pagi besok kita hanya perlu mengantarkan supply saja. Setelah mendengar ceritanya baru kita putuskan harus bagaimana." tegas Silvia.


"Ya. Baiklah. Sementara diskusi kita seperti ini saja. Kalian beristirahatlah," kata Sunil. Semua kembali ke shelter masing-masing untuk beristirahat.


***

__ADS_1


__ADS_2