PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 86. Lariiii !


__ADS_3

Mata Dean berubah keemasan, artinya kesadaran jiwa A sudah muncul. Ditajamkannya pendengaran untuk mendengarkan hal-hal asing di sekitar pondok itu. Hanya terdengar gemerisik daun disapu angin.


"Tunggu! Bukankah pondok ini ada di tengah padang rumput? Bagaimana bisa terdengar gemerisik daun meskipun samar?" gumam Dean heran.


Semua temannya dibangunkan. Dean mengatakan apa yang terjadi. Sunil bersiap dan muncul cahaya biru di matanya. Widuri, Nastiti dan Dewi sudah menyandang ransel di punggungnya.


"Bagaimana mungkin dia malah tidur lagi sambil duduk?" Dewi menatap Alan heran.


Sunil dan Dean mengamati Alan. Seberkas cahaya merah kecil melayang menari-nari di depan Dean dan Sunil, lalu cahaya itu melesat ke sela jendela kayu yang dibuka sedikit oleh Sunil.


"Biarkan Z memeriksa keadaan di luar. Kita tunggu di sini dulu," jelas Sunil.


"Cahaya merah kecil itu adalah Z?" Dewi tak percaya.


"Bagaimana cahaya sekecil itu ingin mendominasi Alan?" Nastiti juga keheranan.


Sunil menggeleng.


"Itu hanya pecahan jiwa Z. Itu keahliannya. Bisa memecah bagian dari jiwanya untuk memeriksa keadaan. Itu juga yang membuatnya terluka parah saat itu." O menunduk sedih mengingat peristiwa yang membuat mereka terluka parah lalu tewas di luar pintu lorong.


Cahaya merah kecil itu kembali masuk melalui celah jendela. Dia melayang terbang seperti menari-nari di hadapan Sunil dan Dean, lalu melesat masuk kembali ke tubuh Alan.


"Z mengatakan ada pergerakan dari arah padang ilalang. Itu pergerakan dalam jumlah besar menuju ke sini." Dean menjelaskan.


"Lebih baik malam ini juga kita kembali ke gua. Bisakah kalian menutup pintu gua itu agar aman hingga pagi?" Widuri mendapat satu solusi.


Dean mengangguk.


"Aku bisa menutup pintu gua itu selama ada cukup batu di sana," jawab Dean pasti.


"Baik, kalau begitu kita berangkat." Sunil memutuskan.


""Ternak kita bagaimana?" Dewi tak bisa merelakan binatang peliharaannya.


"Biar aku dan A yang membawa semua ternak itu. Jadi O, tugas pengamanan tim ku serahkan padamu." Alan bangkit dari duduknya. Matanya berkilat kemerahan.


A dan O mengangguk. Mereka membuka pintu perlahan dan keluar satu persatu lalu mengunci kembali pintu. Keenam orang itu mengendap-endap menuju kandang ternak. Hewan-hewan itu terlihat sangat gelisah dan terus mengeluarkan suara yang bisa mengundang bahaya mendekat.


Z mengeluarkan kilatan merah dari matanya. Semua ternak mereka diam seketika dan tak berontak lagi saat Dean mengangkat tubuh mereka dan melayang di udara.


Rombongan itu bergerak menjauhi pondok, melewati kebun sayur. Dean memimpin di depan. Para wanita mengikuti. Alan menyusul sambil terus mengambil segala sesuatu yang tertinggal di kebun sayur dan kebun buah yang mereka lewati. Semua yang diambilnya melayang di udara. O mengikuti mereka dari belakang. Cahaya kebiruan menyelubungi tubuhnya.

__ADS_1


Mereka terus bergerak menyusuri jalan setapak di hutan, diterangi sinar redup bulan sabit dan bintang-bintang. Tak lama terlihat gunung batu di depan sana. Lalu permukaan tanah bergetar dan terdengar suara gemuruh.


"Lariii !"


Aba-aba O terdengar lantang dari belakang. Widuri menoleh ke belakang untuk mencari tau apa yang terjadi. Tapi Z sudah memeluk pinggangnya dan membawanya lari bersama Dewi. Widuri melihat tubuh O yang bercahaya biru itu naik dan terbang melayang. Cahaya yang menyelubunginya makin membesar.


Sejenak Widuri terpukau karena takjub melihat itu. Tapi kemudian dia sadar sesuatu.


"Nastiti mana?" tanyanya pada Dewi.


"Dia digendong Dean di depan sana," Dewi menunjuk ke arah depannya.


Widuri memutar sedikit tubuhnya yang menghadap belakang itu untuk melihat Nastiti.


"Jangan banyak bergerak, nanti jatuh!" omel Z.


Widuri pasrah dan kembali mengarahkan pandangan ke tempat O yang terus melayang mengikuti. Bagaimanapun dia tak cemas lagi, karena Nastiti tidak tertinggal.


Mereka berlari di sisi dinding gunung batu, menuju pintu gua. Di belakang, cahaya biru O sudah terlihat seperti bola cahaya yang besar.


"Kami sampai!" teriak Z pada O.


Z menurunkan tubuh Widuri dan Dewi dari rangkulan tangannya. Semua bawaannya dimasukkan dalam gua.


Nastiti sudah turun dari gendongannya. Hewan ternak juga sudah berkumpul di dalam ruang gua tempat mereka tinggal dulu. Segala sesuatu yang dibawa Z saat lewat tadi juga ditumpuk di satu tempat dan terlihat menggunung.


"Sunil masih di luar. Kita harus menunggunya!" Widuri membantah dan tak bergerak dari tempatnya. Sementara Dewi sudah menyingkir dari mulut gua yang besar itu menuju ke arah Nastiti berdiri.


"Tidak. Itu sangat berbahaya!"


Z menarik tubuh Widuri dan mendorongnya ke arah Nastiti dan Dewi berkumpul. Widuri panik ketika menyadari dirinya melayang ke arah Nastiti.


"Oh tidak. Menjauh dari situ," teriak Widuri, khawatir tubuhnya menabrak Nastiti dan Dewi.


Brukkk.


"Adduuhh.. kau harus diet mulai sekarang. Berat sekali," gerutu Nastiti pada Widuri.


"Hei, ini masih ideal. Paling cuma lebih 5 kilo doang," balas Widuri.


"Kalian tak apa-apa?" tanya Dewi yang selamat dari tubrukan itu.

__ADS_1


"Aahh punggungkuu.." keluh Nastiti.


"Maaf.. maaf.. Alan tuh yang melemparku ke sini." Widuri membela diri. Dibantunya Nastiti duduk lalu mengusap-usap punggungnya. Nastiti tersenyum penuh kemenangan. Dewi tertawa melihat itu.


"Ayo kita masuk, jangan merepotkan para pria." ujar Dewi sambil membuka pintu lorong menuju ruang batu.


"Baiklah." Nastiti segera bangun dari duduknya lalu melangkah mengikuti Dewi.


Widuri melihat Dean sudah mulai mengangkat bebatuan besar di gua dan menumpuknya menutupi mulut gua yang lebar dan tinggi itu.


"Hei, Sunil masih di luar. Kenapa kalian tinggalkan?!" protes Widuri.


Dduarrrr.. Duarrr..!


Dentuman kuat di luar gua itu menggetarkan lantai gua. beberapa batuan kecil gugur dari langit-langit. Seberkas cahaya merah membentang melebar di atas kepala Widuri. Tidak. Cahaya itu melebar hingga ke tempat hewan ternak berada. Melindungi semua yang ada di bawahnya dari batu-batu yang berguguran.


"Menakjubkan," gumam Widuri menatap Alan yang terus mengamati dengan seksama bagian atas mulut gua yang belum tertutup.


"Hah?! Cahaya biru dari luar itu bahkan melesat masuk sampai mulut gua? Apakah itu O?" Tanpa sadar, Widuri bicara sendiri.


Tak lama getaran di lantai gua menghilang sama sekali. Setelah menunggu sejenak, Z menarik cahaya merah yang menutupi langit-langit gua. Lalu seberkas cahaya merah kecil melesat keluar dari atas mulut gua yang tidak tertutup.


Tak Lama, Dean menyingkirkan beberapa batu besar hingga membentuk celah pintu. Asap panas membakar menyerbu masuk, membuat Widuri terdorong mundur sambil melindungi wajahnya.


Dean melangkah cepat mencari dalam kabut asap yang pengap dan membutakan itu. Tubuhnya disebungi cahaya keemasan. Dean menemukan cahaya merah kecil yang melayang naik turun di satu tempat. Itu tubuh Sunil. Dean mengangkat tubuh yang terkena luka bakar parah itu hati-hati. Sunil melayang perlahan menuju gua.


"Sunil...." gumam Widuri tercekat melihat tubuh gosong yang melayang mengikuti cahaya keemasan Dean.


Lalu seberkas cahaya merah kecil juga melesat masuk ke tubuh Alan. Tubuh itu perlahan tumbang dari posisi berdirinya di mulut gua. Widuri berlari menghampiri. Ditopangnya tubuh yang lemah dan kehilangan daya itu lalu dibaringkan dengan baik di lantai gua. Widuri tak bisa meninggalkan Alan sendirian saat ini, meskipun dia sangat ingin tau keadaan Sunil.


Sementara itu,


Cahaya keemasan yang menyelubungi Dean melayang cepat menuju ruangan dimana jasad Z diletakkan. Dewi dan Nastiti sudah menunggu di situ.


"Bantu aku untuk menurunkan jasad Z. Sunil butuh perawatan sekarang." pinta Dean dingin.


Nastiti dan Dewi mengangguk lalu mengangkat tubuh kaku Z dan memindahkannya ke dalam ruang transmisi yang masih terbuka. Dean menurunkan tubuh Sunil di bak batu dengan hati-hati. Lalu ditampungnya air cucuran dari tembok dengan cangkir batu, kemudian menyiramkannya ke tubuh Sunil yang seperti terkena luka bakar parah. Begitu terus diulang-ulang hingga seluruh tubuh Sunil sudah basah kuyup. Tapi Dean masih terus menampung air dengan cangkir batu. Memasukkan air melalui celah bibir O dengan sabar.


Dean sedang menahan perasaan marah dan jatuhnya air mata. Dia merasa begitu lemah dan tak berdaya. Hanya ini yang bisa dilakukannya untuk mempertahankan nyawa Sunil.


"Ku mohon, jangan berkorban nyawa lagi untukku. Jangan membuatku berhutang nyawa dua kali O," suara Dean terdengar lirih.

__ADS_1


Dewi dan Nastiti tak berani bersuara. Hanya tatapan sedih yang terpancar melihat Sunil tak berdaya, entah pingsan entah tewas. Pengorbanan yang begitu besar untuk melindungi mereka hingga rela mengorbankan nyawanya sendiri. Tak terasa airmata bergulir jatuh dari pipi keduanya. Suara isakan halus membuat ruang itu semakin terasa suram.


***


__ADS_2