
"Bagaimana cara kembali ke bumi satu?" tanya Dokter Chandra.
Orang itu terkejut. Dia menggeleng.
"Ibuku dulu pernah bilang bahwa mereka diterbangkan dengan pesawat besar ke sini, bersama para peneliti dan banyak peralatan."
"Ayah ibuku termasuk dalam tim yang pertama berangkat ke sini. Ketika usiaku 5 tahun, ayahku tewas dalam pertarungan melawan para penghuni asli tempat ini. Dan sejak ibuku juga tewas, maka aku akhirnya tumbuh besar di barak. Sekarang jadi tentara penjaga yang ditempatkan di post itu."
"Jadi kau tak tau cara kembali ke bumi satu. Lalu bagaimana dengan tiga bumi yang lainnya? Apakah orang-orang di bumi satu juga mengirim para peneliti ke sana?" tanya Dean.
"Ku dengar, baru bumi tiga yang dieksplorasi belakangan ini. Sudah sekitar 20 tahun belakangan. Tapi hasilnya aku kurang mengetahuinya," jawabnya jujur.
Dean mengangguk-angguk. Tim itu tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Tapi tiba-tiba Michael kembali nyeletuk.
"Apa yang kalian jaga di situ?
Orang itu menggeleng. "Bukan apa-apa."
"Kau menolak menjawab?" ancam Alan.
"Tidak! Bukan begitu. Aku sendiri tidak percaya pendapat para atasan. Mereka mengatakan bahwa itu pintu teleportasi. Tapi setelah mengirim 3 tim masuk ke sana, mereka tak pernah kembali lagi."
Petugas itu menunduk.
"Ada berapa pintu teleportasi seperti itu di bumi dua ini?" tanya Dokter Chandra.
Orang itu mengenyit sebentar sebelum menjawab.
"Ada 7 pintu teleportasi. Yang ini pintu ke empat."
"Dean, jika aku tak salah ingat, kita datang waktu itu, petugasnya bilang pintu lima. Berarti ini pintu teleport ke arah lain." Robert mengirim pesan transmisi.
Dean mengangguk. Dia juga mengingatnya.
"Pintu lainnya di mana?" tanya Sunil.
Orang itu menggeleng. "Sejak bertugas, aku terus ditempatkan di sini. Jika mendapat libur, kami kembali ke base camp lalu kembali ke sini lagi."
"Apa semua penghuni basecamp adalah para penjaga pintu teleportasi?" tanya Dokter Chandra.
"Tentu saja tidak. Ada juga para petani, peternak dan pekerja lain di sana." sahutnya jujur.
"Apa kami bisa menggunakan teleportasi itu untuk pergi ke tempat lain?" tanya Dokter Chandra.
__ADS_1
Penjaga itu terkejut. Bagaimana ada orang yang menawarkan diri untuk mati? Sementara para petugas yang dikirim saja ketakutan, karena tak ada yang bisa kembali lagi ke sini.
"Apa kalian ingin mati?"
"Aku hanya bertanya. Jika dibolehkan, mungkin kami akan mencobanya," elak Dokter Chandra. Tak mungkin dia mengatakan bahwa mereka telah berkali-kali melalui jalur teleportasi.
Dean mengalihkan pembicaraan pada hal lain.
"Apa kau tau kenapa di bumi ini mataharinya suram? Kenapa tak ada tanaman yang dapat tumbuh di sini? Aku pernah menggali tanah. Dan airnya hitam. Bisa kau jelaskan itu?"
"Tentu. Itu ilmu dasar saat sekolah. Bumi ini entah dikarenakan apa yang belum diketahui. Tapi berdasarkan teori ilmuwan, saat alam semesta hancur berantakan, bumi ini mengalami hal buruk yang tak terbayangkan. Banyak sampah dan partikel debu semesta beredar dan menutupi permukaannya. Mereka mengelilingi bumi, seperti halnya bulan. Hal itulah yang membuat sinar matahari sulit untuk menembus masuk."
"Lalu, tentang air yang hitam dan tanaman yang tak dapat tumbuh. Itu saling terkait. Sesekali akan turun hujan yang sangat asam dan merusak. Airnya yang hitam, dapat langsung membunuh pohon, ternak dan manusia seperti dimakan ulat."
"Ku ingatkan sekali lagi. Jika langit terlihat sangat gelap, maka kalian harus mencari tempat berlindung secepatnya. Ingat! Cari tempat perlindungan yang kokoh. Atau tubuh kalian akan hancur seperti dimakan ulat!" ucapnya bersungguh-sungguh.
"Apakah gelap yang seperti itu yang kau maksud?" Alan menunjuk langit gelap di kejauhan.
Semua melihat ke arah tersebut. Ada gumpalan awan hitam menggantung di kejauhan.
Penjaga itu juga terkejut.
"Sial! Aku harus segera melaporkan ini pada basecamp. Hujan itu mendekati tempat mereka," ujarnya panik.
Dean dan timnya saling pandang. Tak tau harus senang atau tidak.
"Ayo bawa dia kembali."
Dean terbang mendahului. Yang lain mengikuti dari belakang. Mereka menuju pos penjagaan pintu teleportasi 4.
Dean dan timnya turun di tengah-tengah area pos itu. Kemunculan mereka langsung disambut kokangan senjata Laras panjang. Alat pembunuh itu siap menyalak kapan saja.
"Minta mereka menurunkan senjata. Atau Tempat ini akan berubah jadi ladang pembantaian!" kata Sunil dingin.
Penjaga yang bersama mereka kaget melihat mata Sunil yang bersinar biru terang. Dan mata yang lainnya juga bersinar dengan bermacam warna. Dia bahkan bisa melihat sambaran listrik kecil keluar dari ujung-ujung jari tangan Alan.
"Tenang ... tenang. Turunkan senjata kalian. Mereka tadi menolongku di sana lalu mengantarku kembali. Tidak pantas menodong teman dengan senjata," bujuknya.
Tapi teman-temannya bergeming. Wajah mereka teguh mempertahankan keyakinan untuk menodong orang tak dikenal.
Penjaga itu mencoba cara lain untuk menurunkan ketegangan.
"Aku melihat mendung di atas basecamp. Cepat beri informasi ke sana!"
__ADS_1
Orang-orang itu terkejut. Seorang lari ke arah sebuah gedung.
"Biar aku kirim berita"
Dua lainnya masih menodongkan senjata. Ekspresi mereka teguh.
"Siapa kalian?" tanya salah satunya.
"Kami hanya orang yang tersesat hingga ke sini. Tidak tau tentang dunia ini. Jadi tadi sedikit mengganggu kegiatan saudara ini." Dean menjawab dengan ramah.
"Kau pikir siapa yang coba kau bodohi? Bagaimana ada orang tersesat hingga ke sini? Dari mana asal kalian?" tanyanya garang.
"Kami pengembara dunia. Asal mula kami dari bumi juga. Tapi bukan bumi yang seperti ini..Bumi yang biru dengan langit cerah, daratan hijau penuh pepohonan, sungai berliku serta lautan biru yang luas."
Mata Dean menerawang membayangkan keadaan bumi tempat asalnya.
Tiga penjaga itu tercengang sejenak, lalu tertawa terpingkal-pingkal.
"Kau membayangkan bumi satu berdasarkan buku pelajaran? Benar-benar sangat menjiwai. Sampai ku kira kalian benar-benar sudah pernah ke sana."
"Nak, saat kami pergi, yang kami tau bumi hanya satu. Sungguh mengejutkan ternyata bumi sekarang kembar lima!"
Dokter Chandra terkekeh geli. Tak lama dia menambahkan lagi.
"Kalau kalian belajar tentang bumi satu, apa kalian pernah membaca tentang negara Indonesia? Kami berangkat dari negara itu di akhir tahun 2021."
Tiga penjaga itu ternganga. Bagaimana bisa mempercayai pernyataan itu? Berasal dari bumi satu, pergi berkelana di tahun 2021?
"Sekarang saja sudah tahun 3561! Berarti mereka telah meninggalkan bumi satu selama 1540 tahun? Saat terjadi malapetaka besar yang menghancurkan dunia seribu tahun yang lalu, mereka ada di mana? Bagaimana bisa tidak tau?" Ketiga penjaga itu saling berbisik dan berdebat.
"Hei, awan hitamnya menuju ke sini! Apa kalian mau mati?" penjaga yang tadi pergi, menunjuk ke langit. Dia berlari menuju bangunan lain yang lebih besar.
"Berlindung!" teriak penjaga yang tadi mereka culik.
Mereka bertiga lalu berlari menuju bangunan besar itu.
Dean memandang teman-temannya dan mengangguk. Mereka melesat mengejar empat penjaga itu.
"Kalian tidak diijinkan masuk!" cegah penjaga lain dengan garangnya.
"Hei, jangan begitu. Kita masih butuh informasi mereka. Bagaimana membuat laporan jika mereka mati begitu saja?" Bisik salah seorang diantaranya.
Akhirnya Dean dan teman-temannya diperbolehkan berlindung. Namun mereka masih saja menodongkan senjatanya. Tapi Dean dan teman-temannya tidak peduli. Perhatian mereka tertuju pada pintu teleportasi yang ada di salah satu dinding.
__ADS_1
Kira-kira kemana tujuan pintu itu?
******