
Sampai sore Robert, dokter Chandra dan Marianne berhasil membuat 2 wadah datar yang sama sekali tidak mirip piring, sebuah mangku abstrak dan 2 buah sendok panjang. Mereka terlihat senang dengan pencapaian itu.
"Wahh keren sekali," seru Indra.
"Yah, lumayanlah untuk seorang pemula. Sekarang biarkan kering dulu. Semoga hari tidak hujan. Besok kita bakar agar bisa digunakan." Robert tersenyum miring.
"Mumpung sore ini santai, aku pergi mandi dulu. Apa kau ingin ikut dok?" tanya Robert sembari berlalu.
"Ah ya.. aku juga," sahut dokter Chandra cepat.
"Kalian para pria tidak ingin mandi? Bauuu," ejek Marianne membuat para pria itu salah tingkah.
Akhirnya di shelter hanya ada para wanita yang sibuk menyiapkan makan malam. Mereka ngobrol dengan gembira sebab langit terlihat cerah, tidak seperti hari sebelumnya.
Seperti biasa, suasana makan malam diisi dengan diskusi dan rencana kegiatan esok hari.
"Ku kira shelter kita sudah lebih memadai. Jadi besok mungkin aku akan pergi memeriksa keliling pantai dan tebing di sebelah sana." Robert menyampaikan kembali rencananya.
"Baiklah, kau mau pergi dengan siapa? Berapa lama?" tanya Indra.
"Aku bawa Gilang saja. Bagaimanapun butuh cukup pria untuk melindungi tim kita. Dan rencanaku, akan berjalan sejauh 2 hari perjalanan baru kembali. Tp jika ada keadaan lain, mungkin sedikit lebih lama. Jadi sekitar 5 hari lah," jawab Robert.
"Oke," sahut Gilang.
"Lalu bagaimana dengan gerabah yang kita buat tadi?" Marianne ingin tau.
"Itu harus dijemur dibawah matahari dulu baru dibakar dengan api besar. Sementara kalian bisa buat beberapa peralatan dan dijemur dulu. Nanti aku kembali baru bakar sekaligus." Robert memberi usul.
"Mungkin kita juga bisa membuat batu bata agar dinding shelter lebih kuat," Laras memberi ide lain.
"Yaa.. itu ide cerdas." Mata Silvia berbinar cemerlang terkena cahaya perapian.
"Dengan batu bata, kita akan punya tempat berteduh yang lebih baik." Niken menambahkan.
"Ya.. kalian bisa buat itu. Tapi tidak perlu semua orang membuat gerabah dan batu bata. Coba Laras dan Silvia besok buatlah persediaan garam. Itu penting untuk mengawetkan ikan dan memasak," saran dokter Chandra.
"Baik. Besok kami buat garam. Bagaimana membuatnya? Apakah perlu dijemur saja di bawah matahari di tepi laut?" tanya Silvia.
"Menjemur memang terlihat mudah. Tapi kalian masih harus membuat kolam di pasir pantai lalu mengisinya dengan air laut. Setelah itu menunggu beberapa hari hingga air menguap. Tapi yg paling sulit adalah saat mengambil kristal garam yang mungkin akan bercampur pasir pantai," jelas Liam.
"Jadi baiknya gimana?" tanya Laras.
__ADS_1
"Masak saja di panci di atas perapian. Jika air berkurang, isi lagi dengan air laut, masak sampai mendapatkan garam sebanyak yang kita butuhkan saja. Itu jauh lebih praktis," jawab Liam.
"Benar katamu itu. Buat sebanyak kebutuhan saja. Lain kali buat lagi jika kurang," Marianne nimbrung.
Diskusi selesai setelah membagi tugas kerja masing-masing. Mereka beristirahat dengan tenang dibawah cahaya bintang-bintang.
*
Pagi setelah sarapan Robert dan Gilang bersiap berangkat untuk memeriksa lokasi mereka. Mereka hanya membawa tombak dan 2 ekor ikan asap untuk bekal di perjalanan.
"Indra, jika sekiranya kalian melihat ada kapal mendekati pantai, jangan langsung menampakkan diri. Perhatikan dulu apakah mereka orang baik atau tidak," saran Robert.
"Ya, aku tau. Menurutku, jika ini Indonesia, tidak mungkin ada pantai dan laut begini indah tanpa ada seorang manusiapun yang tinggal disini. Jadi perkiraanku, kita ini ada di pulau terpencil. Jadi kemungkinan akan ada bajak laut yang bersandar mencari air atau perbekalan," jawab Indra.
"Baik, kami berangkat." Robert menepuk pundak Indra dan berlalu diikuti Gilang.
Malam saat giliran berjaga, Robert sudah membuat beberapa tombak baru dan meruncingkan yang lainnya untuk alat pertahanan tim. 'Andai saja bisa membuat panah, itu akan lebih baik. Tapi tak cukup waktu untuk itu sekarang. Jadi harus puas dengan yang ada' batinnya.
Robert merasakan kegelisahan yang samar dengan rencana perjalanannya ini. Apakah perjalanan nanti akan berbahaya? Robert tak tau. Tapi Robert bersedia menghadapi kemungkinan apapun agar mereka bisa menemukan jalan pulang.
*
Laras dan Silvia sibuk membuat garam. Mereka 3 kali naik turun tebing mengambil air laut untuk dimasak. Dan mereka senang dengan hasilnya. Garam yang bersih dan bebas pasir.
Marianne mencuci bersih kulit-kulit kelinci dan serigala di sungai, lalu dia menjemurnya di tempat terbuka. Itu adalah kulit hasil buruan saat di hutan salju. Robert mengumpulkan dan menyimpannya dengan rapi. Tadi pagi meminta Marianne untuk mencuci bersih agar bisa dimanfaatkan nanti.
"Mau dibuat apa itu?" tanya Niken ingin tau.
"Kita tak punya cukup alat untuk membuat kulit jadi sesuatu yang halus. Jadi kita bisa buat kulit kasar ini jadi pelapis dinding yang anti hujan atau yang lainnya. Tapi aku ingin membuat beberapa tali kulit pesanan Robert lebih dulu," jawab Marianne.
Indra bersama Liam mengambil dan mengumpulkan tanah lempung lalu menghaluskannya. Mereka mencetak cukup banyak batu bata hingga siang dan membiarkannya dibawah matahari.
Selesai mencetak batu bata, Indra dan Liam lamjut mengumpulkan ikan dari bubu di sungai dam kolam air terjun lalu membersihkan dan menyerahkannya pada Laras dan Silvia.
Angel tertarik untuk mencoba membuat gerabah saat melihat kerja Indra dan Liam. Ada banyak ide muncul di kepalanya, jadi dicobanya. Dan hasil kerjanya lumayan bagus. Angel jadi percaya diri untuk membuat lebih banyak. Bagaimanapun, mereka memang butuh peralatan makan dan minum.
"Niken, kesini. Ayo kita buat piring makan. Ternyata tidak terlalu sulit juga. Cuma harus dengan perasaan saja membuatnya," Angel tersenyum lebar menunjukkan hasil kerjanya.
Niken mendekati Angel dan mengambil duduk di sebelahnya.
"Sungguhan mudah buatnya?" tanya Niken tak percaya.
__ADS_1
Sebenarnya Niken enggan bermain lumpur. Tapi dari semua anggota tim, hanya dia yang menganggur. Itu membuatnya tak enak hati. Tadi dia ingin membantu Marianne, tapi ternyata kulit itu baru dijemur saja. Dia tak mungkin bersikeras tetap disitu.
"Ya. Kau bisa ikuti caraku," Angel mengambil adonan lempung yang baru dan meletakkannya di permukaan batu.
Niken mengikuti langkah Angel. "Begini?" tanyanya tak mengerti.
"Ya, lalu buat begini. Gunakan perasaan saat membentuk agar hasilnya bagus dan halus," Angel menunjukkan caranya.
Niken memperhatikan gerakan tangan Angel dengan seksama dan mencoba juga. Dilakukannya dengan hati-hati. Akhirnya tanpa disadari Niken tenggelam dalam keasikannya. Dia menikmati bermain lumpur yang sebelumnya selalu dianggapnya kotor dan menjijikkan.
"Yeayyy, aku berhasil," teriak Niken gembira.
"Apa kataku. Tidak sulit kan," Angel tersenyum melihat Niken yang sangat bahagia.
Mereka masih membuat beberapa gerabah lagi sebelum sore tiba. Toni dan Leon sudah kembali dengan cukup banyak kayu bakar dan 2 ikat jagung yang mereka taruh di atas tumpukan kayu di punggung mereka.
"Kalian menemukan tanaman jagung? Dimana?" tanya Indra penasaran.
"Waahh, kita makan besar hari ini. Haha.." tawa Liam gembira.
"Kami mencari kayu lebih jauh dari sebelumnya. Lalu berhenti saat melihat beberapa pohon jagung yang tumbuh liar. Kami lihat ada buahnya, jadi dipetik dan bawa pulang. Setelah itu baru mengumpulkan kayu bakar," Leon menjawab.
"Marianne, ini beberapa bunga yang mirip dengan yang kau petik kemarin. Ku petik beberapa, mungkin berguna," Toni menyerahkan seikat bunga putih dan kuning.
"Ah, terima kasih Toni. Malam ini kita bisa menikmati teh enak dan wangi." Marianne sangat senang. Toni mengangguk dan pergi.
Sore itu Marianne membuat teh bunga di teko yang cukup untuk semuanya. Mereka menikmati sunset dengan tenang sambil menunggu makan malam matang.
*
Sementara itu perjalanan Robert dan Gilang tak semulus harapan. Hingga sore hari, mereka tak menemukan pantai landai. Mereka terus berada di tebing berbatu. Tepi laut itu sangat curam. Juga tak ada sungai dan mata air, tapi ada cukup banyak pohon kelapa dan pohon lain disini. Gilang memanjat pohon kelapa, membuat undakan tangga dengan pisau Robert dan memetik cukup persediaan buah kelapa.
Malam itu mereka tidur di tepi tebing batu. Membuat tempat berlindung sederhana dengan dinding daun-daun kelapa sebagai penahan angin. Lalu menyalakan api untuk mengusir dingin. Malam itu mereka makan bekal ikan yang dibawa tadi pagi dan minum air kelapa.
Robert sudah membuat beberapa jebakan sore itu saat Gilang memetik kelapa. Dia berharap ada yg berhasil. Jadi mereka bisa melanjutkan perjalanan setelah mengisi perut besok pagi.
Suara kicau burung membangunkan Robert. Langit masih berwarna keemasan berpadu biru dan putih yang sangat indah. Robert segera bangkit untuk mengusir jauh-jauh rasa malas dan lelah. Dia pergi memeriksa jebakan sore sebelumnya. Dari 3 jebakan, hanya satu yang berhasil. Seekor tupai malang terperangkap. Robert segera membersihkannya di tempat, lalu mencucinya dengan air kelapa sebelum membakarnya di perapian.
Harum daging bakar membangunkan Gilang. Dia langsung duduk dengan linglung.
"Ayo sarapan, baru lanjutkan perjalanan." Robert menyodorkan setengah bagian daging panggang pada Gilang.
__ADS_1
Mereka makan dengan tenang lalu melanjutkan perjalanan.
***