
Setelah sinar biru yang berisi memori data menghilang, O terpekur menunduk. Dia kembali mengingat semuanya dengan jelas. Dialihkannya pandangannya ke arah jasad Z diletakkan. Ekspresinya tak terbaca oleh Alan.
Dean tak beranjak dari tempatnya. Dibiarkannya O mencerna keadaannya saat ini. Dia siap menjelaskan apapun yang ingin diketahui O.
O memandang Dean. Matanya nengeluarkan cahaya biru. Mata Dean juga mulai bersinar keemasan. Mereka berdua terlihat bicara dengan serius. Tapi Alan sama sekali tak mengerti apa yang mereka ucapkan.
'Apakah seperti itu bahasa asli mereka? Pantas saja tulisannya berbeda dengan manusia sekarang,' batin Alan.
Alan lalu bergabung dengan Widuri, Nastiti dan Dewi. Diceritakannya apa yang dilihatnya tadi. Akhirnya mereka sepakat untuk memberi kedua roh asing itu waktu untuk menyelesaikan segala urusan dan kesalah pahaman diantara keduanya.
Tak lama Dean dan Sunil keluar dari ruang transmisi. Mereka mendapati keempat temannya duduk di lantai dan berbincang santai.
"Kami akan memindahkan jasad O ke ruang pemakaman." Dean menjelaskan.
"Oh, baiklah. Tapi apakah Sunil baik-baik saja?" tanya Alan.
Alan khawatir, karena dia masih melihat kilatan cahaya biru dari mata Sunil. Ekspresi Sunil yang biasanya hangat dan ramah juga lenyap dari wajahnya.
"Salam kenal. Aku O. Sunil baik-baik saja. A sudah menceritakan semua yang terjadi. Aku mengerti dan menerimanya. Seperti A, aku akan membantu dan menganggap kalian sebagai penyelamat kami. Terima kasih."
O meletakkan kedua tangannya di depan dada. Dean juga mengikuti sikapnya. Kepala keduanya menunduk.
"Ahh.. tidak apa-apa. Kami senang jika ini dianggap membantu. Sebagai teman, kita harus saling bantu bukan?" jawab Alan.
"Ya.. jangan sungkan. Selama kamu tidak mendominasi Sunil dan membiarkan dia tetap jadi dirinya sendiri, maka kami akan menerimamu. Seperti kami menerima A yang menempati tubuh Dean," tambah Widuri.
"Selama kamu tidak menjahati kami, maka kamu akan baik-baik saja." Dewi mengeluarkan ancaman. Nastiti mengangguk di belakangnya.
"Terima kasih. Aku akan mengingat itu," O tersenyum ramah.
Senyum itu seperti angin segar yang mengantar kelegaan pada keempat orang tersebut.
O mengangkat jasadnya, melayang di tengah ruangan. Dean melangkah di depan mengantar O ke ruang pemakaman. Alan, Widuri, Nastiti dan Dewi mengikuti di belakang keduanya.
Di ruang pemakaman, Dean membuat lubang baru di sebelah makamnya dengan cara memotong permukaan batu lalu memindahkannya ke atas.
O merendahkan jasadnya tepat di depannya. Diambilnya kalung di balik jubah dan memasangnya di leher. Tanda bintang di dadanya lalu menghilang. Dipandangnya sejenak wajah putih lesi miliknya sebelum menurunkan tubuh kaku itu hati-hati ke dalam lubang. Dean kembali menyusun balok-balok batu untuk menutup lubang itu membentuk makam segipanjang sederhana. Dean mengukir tulisan asing pada balok batu. O memejamkan matanya dan menghela nafas panjang.
'Hidupku sudah berakhir. Duniaku juga sudah menghilang entah kemana. Ini kesempatan kedua bagiku, aku harus memulai hidup baru sesuai cara di dunia yang baru dan asing ini,' janji O pada dirinya sendiri.
"Dean, bisakah aku juga menerima jiwa Z?" Permintaan Alan yang tiba-tiba, mengejutkan semua temannya.
__ADS_1
Dean memandang Alan dengan serius.
"Kau tau resikonya bukan? Kekuatan jiwa Z mungkin berbeda dengan aku dan O. Bagaimana jika dia menolak menerima kenyataan?" Dean menjelaskan resiko itu sekali lagi.
Alan mengangguk yakin.
"Aku paham. Tapi aku percaya kalian adalah orang-orang baik. Dan aku yakin Tuhanlah yang membimbing kami menemukan kalian, untuk menjadi bagian dari kami." Alan sudah memantapkan hatinya. 'Jika ada 3 jiwa kuat tambahan, maka tim mereka akan lebih aman' pikirnya.
"Siapa itu Tuhan? Diakah pemimpin di duniamu?" O bertanya dengan heran.
"Tuhan adalah entitas yang kami yakini sebagai pencipta, pemilik, yang mengatur jalannya alam semesta. Segala hal yang terjadi adalah kehendakNya. Kira-kira begitulah pemahaman sederhananya. Apa kau mengerti?" Dewi memandang tepat ke mata O.
"Berarti Dia lebih kuat dari Penguasa Cahaya yang mengatur dunia kami." O berusaha memahami penjelasan Dewi.
"Lupakan itu dulu. Bagaimana denganku?" Alan mengalihkan fokus kembali padanya.
"Jika kau sudah yakin, mari kita selesaikan hari ini saja. Jadi esok kita sudah bisa mulai persiapan untuk turun." Dean menatap Alan menunggu jawaban.
"Ayo." Alan mengangguk.
Dean memimpin jalan kembali ke ruang tempat bak batu berada. O membantu memindahkan jasad Z dari ruang transmisi ke atas bak batu. Alan mendekat ke arah Dean.
Alan mengulurkan tangannya ke arah Dean. Ditatapnya jasad Z. "Jangan kecewakan aku," bisiknya lirih.
Dean menggores jari Alan. Tak lama setetes darah menetes ke dahi Z, membentuk pola berwarna merah di seluruh wajahnya. Dean dan O menyingkir, menunggu proses penyatuan jiwa itu dengan sabar.
Teriakan keras Alan menggema beberapa kali sebelum selubung sinar merah itu memudar dan menjatuhkan tubuh Alan ke lantai. Alan pingsan dengan peluh membasahi bajunya.
Widuri memandang Alan dengan khawatir. 'Tampaknya Z tidak mudah' pikir Widuri.
Dean menampung air untuk diminumkan pada Alan agar fisiknya segera pulih. Satu gelas sudah habis, tapi Dean masih menampung cucuran air di tembok itu. Dibawanya gelas ke dekat Alan. Dean memandang Odengan kilatan mata emasnya dan dibalas O dengan anggukan kepala.
Widuri, Nastiti dan Dewi diminta menjauh. O mengarahkan telunjuknya pada tubuh Alan. Seberkas cahaya biru melesat ke dadanya. Lalu Dean memberikan Alan minum dari cangkir yang dipegangnya. Dean dan O tak sedikitpun melepaskan pandangan dari Alan.
"Aaarrgghhhh..!" teriakan keras menggema di gua itu.
Kilatan cahaya merah bergerak dan menyambar dengan liar. O langsung mengarahkan sinar biru dari jarinya untuk mengikat tubuh Alan yang sedang dikendalikan oleh Z. Langkah itu meredam efek sambaran cahaya merah yang berbahaya tersebut. Tubuh Alan masih berontak dan melakukan perlawanan, tapi makin lama, tindakan O terlihat mulai membuahkan hasil. Sinar merah itu melemah dan mulai tenang.
Seberkas sinar merah terbang ke arah O. Sinar merah kecil itu seperti menari di depan O. Mata O berkilat mengeluarkan cahaya birunya. Dean mendekat dan menatap sinar merah kecil itu dengan matanya yang keemasan.
Sinar merah itu seperti bicara pada O dan Dean. Dia melayang, berpindah dari depan Dean lalu ke depan O. Begitu terjadi beberapa kali sebelum akhirnya sinar merah menyala itu melayang tenang kembali ke tubuh Alan.
__ADS_1
Widuri, Nastiti dan Dewi melihat dengan mata kepala mereka sendiri peristiwa diluar nalar itu. Cahaya merah yang menguar dari tubuh Alan mulai meredup, lalu hilang sama sekali. Tubuh Alan terhuyung hampir jatuh, jika bukan karena masih berada dalam topangan sinar biru O.
"Ugghhh..! Kepalaku sakit banget," rintih Alan sambil memegang kepalanya dengan dua tangan.
O membantunya duduk bersandar pada bak batu lalu melepas belitan cahaya birunya. Dean kembali menampung cucuran air dengan cangkir batu, lalu mengangsurkannya ke mulut Alan.
"Minumlah."
Alan menurut. Dia menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.
"Alan, apa kau baik-baik saja?" Mata Widuri terlihat sangat khawatir.
Alan mengangguk masih dengan mata terpejam.
"Selain kepalaku yang rasanya seperti dihantam batu, yang lainnya baik-baik saja," jawab Alan.
"Kau ini siapa siapa sebenarnya?" Nastiti ingin memastikan.
"Kau lupa namaku? Benar-benar membuat kecewa." sahut Alan.
"Jawab saja!" Dewi bersuara ketus.
Alan terkejut. Tampaknya ini bukan waktunya untuk bercanda, karena semua temannya sedang serius dan khawatir.
"Aku Alan. A, L, A, N.. Alan," jelas Alan sabar.
"Kau bukan Z?" Dewi tampak tak yakin.
"Z? Sia... Ahh ya, aku ingat sekarang." Alan menatap Dean dan Sunil dengan bodoh.
"Apakah aku tidak berhasil? Dimana Z?" tanya Alan pada Dean.
"Tadi dia muncul. Kekuatan jiwanya menguasaimu. Dia mengamuk dan memberontak. Kami sudah mengatasinya. Mungkin dia lelah sekarang dan sedang memulihkan kekuatan jiwanya. Biarkan saja." O menjelaskan.
"Ohh, seperti itu. Jadi sekarang bagaimana?" Alan tak tau mesti bagaimana bersikap sekarang.
"Sekarang kita kembali saja ke pondok, agar kau bisa istirahat juga. Hari ini sudah sangat melelahkan. Kita diskusikan langkah selanjutnya saat makan malam." terang Dean.
"Baiklah. Ayo kembali. Aku harus mencerna hal ini pelan-pelan. Otakku terlalu bingung." Widuri berjalan keluar ruangan diikuti yang lainnya.
***
__ADS_1