
Lima orang itu terdiam. Di depan mereka ada tiga orang memegang senjata yang siap menyalak. Beberapa orang lainnya berlari menyusul.
"Penyusup!"
Teriakan itu ramai terdengar.
Suara sirine terdengar nyaring meraung-raung, dan semua lampu sorot dinyalakan maksimal. Kini ada lebih banyak moncong senjata yang diarahkan. Bahkan cahaya laser merah telah membidik dada mereka. Itu senapan sniper dari atas menara!
"Angkat tangan!" seru salah satunya.
Tim Dean tak bergeming, dan tak beranjak dari tempatnya.
"Lihat! mereka melayang di atas air!" seru yang lain terkejut.
"Kalian berada di post penjagaan perbatasan dua negara. Sebelum melintas, diharuskan melaporkan diri dan keperluannya. Jika tak bersalah, kalian akan dilepas!"
Terdengar suara speaker dari arah menara pengawas.
Anggota tim itu saling pandang. Mereka harus berhati-hati mengambil keputusan. Jika salah perhitungan, maka peluru sniper itu akan menerjang lebih dulu.
Robert merasa sangat bersalah. "Aku lupa. Seharusnya kita tak berhenti di sini," kata Robert lewat transmisi suara.
"Kenapa?" tanya Dean.
"Karena ini adalah pulau perbatasan. Harusnya mereka memiliki radar dan pemindai. Jadi, siapapun yang mendekati tempat ini, pasti terdeteksi." Robert merasa menyesal atas kealpaannya.
"Kalian jangan bersiasat! Tangkap mereka!" ujar salah seorang di depan Indra.
Dua orang diantara mereka mendekat maju dan bergerak cepat meringkus Indra. Sunil juga sudah dijatuhkan ke tanah. Mereka bukan tak bisa melawan, tapi dokter Chandra belum memberi perintah apapun.
"Bersiap-siaplah," ujar dokter Chandra di kepala masing-masing. Anggota tim itu menunggu rencana Penguasa.
Tiba-tiba sebuah cahaya kemilau memerangkap seisi pulau. Semua orang tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri.
"Sekarang!" perintah dokter Chandra.
Sunil dan Indra melepaskan diri dari petugas yang jatuh tertidur di punggung mereka. Kelimanya melesat cepat melewati selat menuju dataran luas bersalju di depan sana. Mereka masih belum menurunkan kecepatan, meski sudah mencapai daratan.
Dokter Chandra berhenti setelah bayangan laut tak lagi terlihat dari ketinggian. Saat ini tak ada yang tau ini berada di mana. Yang terlihat hanya padang luas, bukit dan puncak-puncak gunung yang diselimuti salju.
"Ke mana arah yang mau kita tuju?" tanya Sunil.
Dokter Chandra sedang memejamkan matanya. Cahaya putih berkilau menyebunginya. Lalu matanya yang secemerlang berlian, terbuka.
"Ke arah sana!" tunjuknya.
Lima orang itu terbang lagi. Dalam perjalanan, mereka menemukan lokasi pemukiman para nomaden, dengan tenda khas mereka. Tak ada yang memperhatikan mereka melintas.
"Kita istirahat di dulu di sini." Dokter Chandra berhenti terbang di puncak rerimbunan pepohonan. Dia terlihat kelelahan.
__ADS_1
"Nanti kita mengarah ke sana!" tunjuknya ke arah perbukitan.
"Oke. Kita istirahat dulu. Aku juga sudah lelah.
Mereka turun dan mempersiapkan keperluan tidur. Mereka sangat butuh tidur saat ini.
*
*
Cahaya matahari yang hangat, menyentuh pipi. Membangunkan Dean. Mereka ada di dalam hutan sekarang. Pepohonan yang hijau tinggi. Dikeluarkannya Widuri untuk menemani, karena yang lain masih tertidur pulas.
"Di mana kita sekarang?" tanya Widuri.
"Rusia," jawab Dean.
"Bagaimana perjalanan menyebrangi lautnya? Apa tak ada hambatan?" tanyanya lagi.
Dean pun, menceritakan kejadian malam sebelumnya.
"Bagaimana penguasa melakukan hal itu?" ujar Widuri tak percaya.
"Entah. Yang jelas, tiga orang itu langsung tumbang begitu saja," jelas Dean.
"Sambil menunggu yang lain, biar ku buatkan teh hangat dulu. Apa kau mau?" tawar Widuri.
"Tentu saja!" sahut Dean cepat.
"Ke arah bukit di sebelah sana," jawab Dean.
"Dean, bila seandainya setelah kita melewati celah dimensi atau apapun itu, ternyata dunianya bagus. Maukah kau jika kita tinggal di sana saja?" tanya Widuri hati-hati.
"Apa kau terpengaruh pemikiran Niken?" Dean menatapnya. Widuri menggeleng.
"Aku sudah memikirkannya. Selama ini, setiap kali kita melewati celah dimensi, teleportasi ataupun worm hole, kita tidak tau apa yang akan terjadi. Tak mungkin kita selamanya berjudi dengan nasib. Mungkin seperti Leon. Aku juga mulai lelah dan ingin kedamaian," ujarnya jujur.
"Dengar. Jika kau ingin pulang, maka tinggal katakan saja. Aku akan mencari cara untuk pulang." Dean meyakinkan Ana.
"Hemm ... aku tau." Widuri tersenyum.
"Kalian mesra sekali!" sapa Indra.
Sunil juga sudah bangun. Kemudian. Niken dan Marianne menyusul Widuri.
Mereka hanya beristirahat saja di tengah hutan yang subur itu. Tak banyak kegiatan yang bisa dilakukan.
"Penguasa, apakah kita akan melintasi kota kecil di bawah sana, untuk menuju ke bukit itu?" tanya Robert.
"Tidak perlu membuang waktu. Kita tunggu malam hari saja. Kemudian, langsung terbang melintas ke sana," jawab dokter Chandra enteng.
__ADS_1
"Apakah tidak berbahaya ataupun memancing perhatian otoritas terkait?" tanya Indra heran. "Dataran itu lumayan luas juga untuk kita lintasi tanpa terdeteksi," tambahnya.
"Di bawah sana hanya ada petani dan penggembala ternak. Jangan risaukan lagi," tukas dokter Chandra.
Semua mengangguk mengerti. Tak ada lagi yang mempertanyakan rencana Penguasa.
*
Malam hari.
"Ayo!"
Dokter Chandra melayang naik lebih dulu. Dia menunggu dalam bayangan gelap hutan. Yang lain menyusul. Lalu kelimanya terbang dengan santai hingga ke tepi hutan.
"Ini batas hutan. Kita harus melesat cepat, mulai dari sini," pesan dokter Chandra. Yang lain mengangguk mengerti.
Lima bayangan melesat cepat melintasi sebuah kota kecil hingga dataran tinggi di seberangnya. Tapi dokter Chandra belum mengurangi kecepatan. Jadi yang lain mengikuti.
Begitu cepatnya mereka menembus udara, menciptakan bayangan cahaya yang samar di udara.
Di sebuah pos penjagaan kota.
"Apa kau lihat lintasan lima cahaya di langit itu?" seorang petugas menunjuk ke udara.
"Apa mungkin hujan meteor?" tanya temannya.
"Meteor itu jatuh dari atas, ke bawah. Jikapun melintas, dia pasti ada di langit tinggi!" bantah temannya.
"Lalu bagaimana cahaya yang kau lihat tadi?" tanya yang seorang, masih tidak acuh.
"Cahaya itu melintas dari kaki bukit di sana, menuju bukit di sana. Seperti terbang di atas kota!" jelasnya temannya.
"Kau mungkin terlalu mengantuk untuk berjaga. Kau tidurlah lebih dulu," saran temannya.
"Ini baru pukul delapan malam. Mengantuk apanya? Aku akan melapor pada komandan dan memperingatkan hal ini ke pos di bukit itu. Mereka harus memeriksanya!"
Orang itu pergi untuk melapor. Sementara temannya melihat-lihat keluar jendela, tapi tak menemukan apa yang dikatakan temannya tadi. Kota yang mereka jaga, terlihat aman tenteram.
Dokter Chandra berhenti tepat di depan sebuah tebing setinggi sekitar seratus meter. Tebing itu sangat luas. Di depan mereka ada air terjun yang mengalir deras. Sungai di atasnya cukup lebar, hingga air yang jatuh, membentuk tirai air hingga ke dasar tebing. Di bawah sana, air yang jatuh dengan deras itu, menyipratkan air kembali ke udara. Udara yang berhembus terasa lebih dingin dan basah.
"Apakah tempatnya ada di sini?" tanya Dean heran.
"Ya! Aku merasakan energi yang sangat kuat di sini."
Dokter Chandra berputar-putar mencari. Yang lain ikut membantu mencari semacam pintu teleportasi atau semacamnya di sekitar tebing itu. Tapi mereka tak menemukannya.
Dokter Chandra memejamkan mata untuk berkonsentrasi menemukan sumber energi yang dicarinya itu. Namun, suara baling-baling helikopter terdengar. Hal itu mengagetkan mereka semua.
"Sembunyi!" teriak Robert panik.
__ADS_1
Namun sayang, karena pencarian tadi, jarak mereka jadi terlalu jauh. Akhirnya kelimanya harus berpencaran mencari tempat sembunyi masing-masing.
*******