PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 343. Adik Penguasa


__ADS_3

"Stop!" dokter Chandra menghentikan Indra.


Dengan cepat lengan Dean ditutupi cahaya putih. Hingga tak lama, ekspresi Dean menjadi lebih baik. Bulir-bulir keringat yang sebelumnya menetes, dilap oleh Widuri yang tak mampu berkata-kata.


"Kalian tak kan bisa melepaskannya," ujar dokter Chandra yakin.


"Bagaimana Anda bisa tau, Penguasa?" tanya Robert.


"Anak panah ini hanya dimiliki oleh satu orang."


Dokter Chandra memejamkan matanya. Cahaya putih terang memancar dari tubuhnya. Satu tangannya diarahkan pada anak panah. Satu tangan lain menyentuh lengan Dean. Perlahan tapi pasti, anak panah itu menjadi samar-samar, lalu hancur jadi debu. Semua memandang dengan kagum kemampuan Penguasa Cahaya.


Dokter Chandra mengeluarkan botol kecil berisi pil satu-satunya. "Minum ini. Orang itu biasanya menambahkan racun pada anak panahnya."


"Terima kasih, Penguasa."


Widuri meraih obat itu dan mengambilkan air untuk minum Dean. Dean menurut saja, dan meminum pil itu.


"Kau beristirahlah. Widuri, bawa dia ke atas!" perintah dokter Chandra.


"Baik!"


Keduanya menghilang di ujung tangga.


"Kalian tau letak jebakan itu?" sekarang pandangan dokter Chandra teralih pada Robert dan Indra.


"Ya!" jawab mereka bersamaan.


"Ayo ke sana!"


Dokter Chandra terbang ke mulut gua, diikuti oleh Robert dan Indra. Kali ini Penguasa memeriksa mulai dari mulut gua. sepanjang jalan masuk itu diperiksanya dengan seksama. Tangannya yang bercahaya putih, diarahkan ke dua sisi badannya kiri dan kanan, sambil melayang pelan, memasuki lorong.


Indra dan Robert mengamati dan mengikuti dari belakang. Mereka tak mengerti harus membantu seperti apa, selain ikut mengamati lantai dan langit-langit gua. Mereka khawatir kejadian Dean sebelumnya, akan memicu keluarnya jebakan yang lain.


Mendadak, dokter Chandra berhenti maju. Indra hampir saja menabrak punggungnya. Akhirnya, mereka mengamati apa yang diperiksa dokter Chandra.


"Mundur!" perintah dokter Chandra.


Indra dan Robert patuh untuk mundur. Dokter Chandra juga menggeser posisinya, mundur dua langkah. Diselubunginya Indra dan Robert dengan bola cahaya putih. Hal itu membuat Robert dan Indra sedikit tegang.


"Apakah jebakan di sini lebih berbahaya?" tanya Indra pada Robert lewat transmisi suara.


"Tidak tau. Kita lihat saja. Penguasa pasti tau apa yang harus dilakukannya." balas Robert.

__ADS_1


Keduanya memperhatikan jari dokter Chandra bergerak beberapa kali. Mereka tak mendengar suara diluar bola cahaya. Tapi dapat terlihat beberapa benda berkilau beterbangan dengan cepat.


Bahkan ada dua yang menabrak bola cahaya yang menyelubungi mereka bertiga. Tapi senjata itu tak dapat menembusnya. Robert bisa melihat senjata itu jatuh ke lantai setelah menabrak dinding cahaya, lalu jatuh ke lantai. Robert tak tau jenis senjata itu.


"Bajingan itu ternyata hidup di sini setelah terusir dari daratan utama," Penguasa mengumpat kesal.


"Penguasa mengenal orang yang mendiami tempat ini setelah Anda tinggalkan?" tanya Indra ingin tau.


"Ya. Apa kalian pernah mendengar tentang jenderal wanita dengan gelar Panah Pembunuh?" Penguasa bertanya balik.


"Aku tidak tahu," jawab Z jujur.


"Aku pernah mendengar nama itu dibicarakan para jenderal, sekitar seratus tahun setelah Anda berkuasa," jawab Jenderal So.


"Apakah dia jahat?" tanya Indra makin penasaran.


"Hemmm, aku tidak terlalu ingat lagi apa yang membuatnya jadi perbincangan," sahut Jenderal So.


"Ya, dia jahat! Dan akan melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya, bahkan mencelakai dan mengorbankan pasukannya sendiri!" Penguasa berkata dengan geram.


"Ah ... aku ingat sekarang! Dia bermaksud memberontak. Dalam pemberontakan itu, seluruh pasukannya habis ditumpas. Aku masih dalam pendidikan saat itu. Jadi tidak ikut terlibat dalam pertempuran."


Robert lega karena dia akhirnya bisa mengingat cerita tentang jenderal wanita yang ingin merebut posisi Penguasa Cahaya.


"Kenapa dia tidak dihukum mati?" tanya Indra heran.


Suara Penguasa Cahaya itu melemah. Matanya terlihat sayu. Nampak jelas kesedihan yang dipendamnya.


Indra dan Robert merasa jantung mereka hampir copot mendengar pengakuan itu. Ya Tuhan .... Keduanya saling pandang. Robert jadi tak ingin membicarakan hal itu lagi, jika hanya akan membuat sedih Penguasa.


"A-apakah jebakan di depan itu sudah aman?" Indra berusaha mengalihkan perhatian pada tujuan semula, memeriksa lorong gua.


"Lebih aman kita tetap berada dalam bola cahaya. Entah ada berapa jebakan yang sudah dipasangnya di sini, untuk menyambutku!" Suara itu terdengar tegar. Namun Indra dan Robert dapat menemukan rasa pilu dalam iramanya.


Bola cahaya itu kembali melayang. Penguasa kembali membentangkan dia tangannya ke kiri dan kanan tubuhnya untuk memeriksa setiap inci dinding.


Mereka mendapatkan dua sambutan lagi, sebelum mencapai pintu ruangan gua itu.


"Tak heran jika kedudukan Penguasa tak bisa dijatuhkan dengan mudah oleh adiknya. Karena dia punya kemampuan lebih. Mungkin Penguasa tak bisa bertarung, tapi memiliki kebijaksanaan dan kemampuan unggul lainnya. Dan itu terbukti menjadi masa-masa kejayaan Bangsa Cahaya," batin Robert bangga.


"Tak ada apapun, di lorong masuk. Tapi aku tak percaya jika dia hanya menyiapkan sedikit penyambutan," gerutu dokter Chandra.


"Bagaimana Anda tau Dia akan membuat sambutan?" tanya Indra bingung.

__ADS_1


"Yah ... setelah melihat tempat ini, juga seluruh tanaman obat koleksiku, dia pasti tau kalau aku kerap datang ke sini untuk melihat tanaman obat."


Dokter Chandra kembali melayang, memasuki gua. Mereka masih berada di dalam bola cahaya.


"Di mana jebakan yang mengenai Dean?" tanyanya.


"Di sana!" tunjuk Robert.


Bola cahaya itu melayang ke tempat yang ditunjuk Robert. Sekarang dokter Chandra dapat melihat bongkahan batu di atas lantai, dekat sebuah lubang batu seukuran batu tersebut.


"Dia melepas lantai, untuk membuat jebakan. Menurutku, ada satu ruang rahasia di dekat sini. Dia sudah memprediksi, aku akan mencari bibit tanaman itu ke seluruh tempat!" Dokter Chandra menggelengkan kepala.


Indra dan Robert tak ingin berkomentar. Tutup mulut adalah hal paling bijak saat ini. Tak ada gunanya mencampuri urusan keluarga. Karena kakak dan adik itu, seperti dua sisi mata uang. Seperti apapun buruk sisi yang satu, dia takkan terpisahkan dengan sisi lainnya.


Dokter Chandra memeriksa lantai yang lebih rendah itu. Merabanya dengan tangannya yang bercahaya. Tak ada suatu apapun.


"Perhatikan sekitar, kita coba bongkar sambutan terakhirnya!" perintah Penguasa.


"Baik!"


Indra mengawasi sekitar, sementara Robert memeriksa langit-langit gua. Jebakan yang disimpan di ketinggian gelap, sulit dideteksi.


Dokter Chandra menekan lantai yang lebih rendah itu. "Benar saja, ini seperti sebuah pegas yang—"


"Awas, serangan dari atas!" seru Robert keras.


Bola cahaya itu menggelinding menjauh, menyerong ke samping.


Brukkk!


Ketiganya terkejut melihat rangkaian jebakan besar yang saling hantam, tepat di posisi mereka sebelumnya.


Lalu, kembali terdengar bunyi debuman di tengah gua. Mereka berbalik dan melihat. Sebuah jebakan lain, jatuh di tengah-tengah ruangan gua. Bentuknya seperti kepingan kayu, dengan banyak duri tajam di bagian bawahnya.


"Dia benar-benar berniat membunuh!" gumam Indra ngeri.


"Penguasa, ada yang aneh dengan jebakan itu!" kata Robert.


Dokter Chandra membawa bola cahaya mendekat ke jebakan di tengah ruangan. Di bagian atas jebakan itu ada jasad seseorang. Dia tertancap pada kepingan kayu jebakan, dengan sebuah anak panah di dadanya. Anak panah yang sama yang melukai Dean.


"Apakah dia Adik Anda, Penguasa?" tanya Indra.


"Tak mungkin dia bunuh diri dengan menancapkan anak panah di dadanya sendiri. Tidak, setelah dia bersusah payah membuat banya jebakan!" bantah Robert.

__ADS_1


"Itu bukan dia. Kalungnya berbeda."


*******


__ADS_2