
"Pintu ini masih di sini!" ujarnya mengangguk puas.
"Kenapa?" tanya Marianne.
"Karena aku sudah menempatkan beberapa pintu teleportasi di dunia lain, dan menjadikan ini sebagai titik pusatnya. Kecuali ada yang mencurinya, seperti yang kalian lakukan, maka kita masih bisa melihat tempat-tempat itu!" ujarnya yakin.
"Jika pintu teleportasi di sana dicuri orang, apa yang akan terjadi?" tanya Dokter Chandra.
"Maka itu adalah tiket sekali jalan. Kita bisa pergi tapi tak bisa kembali!" jawabnya ringan.
"Berbahaya sekali. Tidak, jangan lakukan hal itu. Kami sudah lelah. Mungkin kita harus mengambil pintu teleportasi di rumah Aslan dan membawanya sebagai jaminan jalan pulang!" keluh Dokter Chandra.
"Tungu! Aku ingat sesuatu. Semoga saja tidak hancur!" Ta melesat keluar gua, menuju kaki bukit yang mengarah ke pantai. Dia menarik-narik tabaman liar yang merambat dan menjalar di dinding tebing.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu, di sana?" tanya Marianne.
"Hemm...." gumamnya sambil terus bekerja.
Dokter Chandra menggerakkan jarinya. Dalam sekejap finding gunung itu bersih dari tanaman merambat.
"Hah?!" Ta terkejut. Tapi Marianne hanya tersenyum.
"Bukankah sudah dikatakan bahwa dia adalah jelmaan Penguasa Cahaya! Kenapa kau masih saja terkejut melihat kemampuannya?" tegur Marianne.
"Jadi be-benar Anda Penguasa Cahaya?" Ta benar-benar gugup sekarang. Sejak tadi dia telah bersikap tidak hormat pada Dokter Chandra. "Ma-maafkan ketidak sopananku," ujarnya menunduk.
"Lupakan itu. Katakan apa yang kau cari di sini!" desak Dokter Chandra.
"Aku menyembunyikan satu pintu teleportasi yang belum sempat aku pindahkan ke tempat lain," ujarnya. Dia berusaha sekuat tenaga menggeser sebongkah batu besar yang menempel dinding gunung.
"Menyingkir!" perintah Dokter Chandra. Marianne menarik lengan Ta dan terbang menjauh.
Dokter Chandra menggerakkan jarinya untuk menggeser batu besar di depannya.
"Kuat sekali!" guman Ta tak sadar.
Maruanne tertawa mendengarnya. "Itu belum seberapa. Dia lebih suka dilayani, hingga kemampuannya sering tak diketahui orang," bisik Marianne pada Ta.
"Bagaimana Kau tau?" tanya Ta dengan mata membulat tak percaya.
"Karena aku adiknya!" Marianne tertawa lagi dan mendekat ke sebuah lubang di balik batu.
"Kak, aku menemukannya!" Marianne mengeluarkan sebuah pintu teleportasi dengan hati-hati.
Wajah Dokter Chandra berbinar-binar. Harapan kembali tumbuh di hatinya.
__ADS_1
"Sekarang, kita bisa memeriksa beberapa tempat yang kau katakan. Jika tak perlu, kita bawa lagi pintu teleportasi yang di sana. Kita mungkin harus memasangnya di tempat lain suatu hari nanti!" putus Dokter Chandra.
"Betul. Misalnya, di tempat aku meninggalkan anak-anak itu. Jika keturunan mereka masih ada, kita mungkin bisa membuat hubungan dari sana ke sini dengan teleportasi!" mata Ana berkilau cerah. Dia optimis bisa menemukan lagi anak-anak itu.
Dokter Chandra mengangguk setuju. "Aku berpikir untuk menempatkan satu pintu teleportasi di Kota Pelabuhan, dimana Laras, Liam, dan Nastiti tinggal. Bukankah di sana juga ada Yoshi dan Yabie yang juga keturunan Bangsa Cahaya!"
"Kau benar. Kita harus mencari pintu teleportasi lain untuk ditempatkan di sana!" Marianne mengangguk setuju.
Ta hanya bisa mendengar obrolan keduanya tanpa mengerti apa pun.
Ketiganya kembali terbang menuju gua. Pintu teleportasi itu bersinar redup kekuningan. Marianne membersihkannya. Tangannya bersinar hijau dan kuning keemasan. Tak butuh waktu lama, pintu teleportasi itu jadi bersih, dan sinarnya kembali cemerlang.
"Apakah kode ini masih bisa kita datangi?" Dokter Chandra menihat kode di bagian atas pintu itu.
"Tempat itu sudah hancur." Ta menggeleng tanpa keraguan.
"Baiklah. Mari kita mulai bekerja." Dokter Chandra mulai serius dengan pintu itu.
"Beri aku catatan tempat yang sudah kalian jelajahi.
Dokter Chandra menunjukkan kode-kode yang mereka catat. Termasuk kode tempat terakhir Sunil terluka. Itu sudah di bumi yang sama. Hanya saja, jaraknya terlalu jauh dari Indonesia.
Ta menekuni kode-kode yang ada. Lalu mengikuti peta kasar yang dibuat Dokter Chandra di lantai gua.
"Semudah itu?" Dokter Chandra tak percaya.
"Coba saja! Jika masih melenceng, bukankah masih bisa kembali?" tantangnya.
"Jika kalian ingin ke sana lebih dulu, lalu bagaimana dengan anak-anak itu?" protes Marianne.
"Kita masih uji coba. Bahkan jikapun ini titik yang benar, kami masih harus kembali dulu. Karena kalian kan masih tinggal di sini!" jelas Dokter Chandra.
"Baiklah. Kita harus bicarakan ini dengan yang lainnya juga," saran Marianne.
"Tentu saja. Mari kita kembali dan menyampaikan kabar ini." Dokter Chandra mengangguk setuju.
"Apakah ... apakah jika kalian sudah kembali ke dunia itu, kalian tidak akan kembali ke sini? Apakah tugasku sudah selesai?" tanya Ta.
"Tidak. Aku ingin menjadikan dunia kecil ini pusat dari tempat bangsa-bangsa Cahaya yang terserak. Jadikan ini markas besar dari dunia-dunia kecil, seperti dulu."
Dokter Chandra telah memikirkan hal ini sejak Ta mengatakan bahwa dia telah menempatkan banyak pintu teleportasi di dunia lain.
"Jadi, keahlianmu sangat dibutuhkan. Dan kau harus hidup panjang dan lama, agar bisa mengajarkannya pada generasi muda!" putus Dokter Chandra.
"Baik, Penguasa," sahut Ta hormat.
__ADS_1
"Tapi satu hal yang harus kau ingat. Kau sedang menempati tubuh cucuku. Jadi kau harus membiarkannya keluar sesekali!" Marianne mengingatkan.
"Baik," jawab Ta takzim.
Ketiganya terbang keluar gua dan kembali ke rumah panggung.
*
*
Saat beristirahat siang, tim itu berdiskusi. Pilihan mana yang mesti diambil lebih dulu. Ivy ngotot ingin melihat keadaan anak-anak yang ditinggalkannya. Sementara untuk bisa memudahkan kembali dari sana, mereka harus mengambil pintu-pintu cahaya lain yang telah disembunyikan Ta.
Tapi argumen Dokter Chandra juga masuk akal. Dia ingin memastikan bahwa itu dunia yang tepat. Setelah itu, kembali lagi ke dunia kecil.
"Bagaimana jika kita pergi dulu mengambil pintu teleportasi lain untuk ditempatkan di sini? Jadi tim bisa dibagi dua. Satu ke dunia kita, satu tim lagi membantu Marianne mencari anak-anak itu," usul Dean.
"Lalu bagaimana dengan para wanita?" tanya Dokter Chandra.
"Aslan yang harus menjaganya!" timpal Sunil.
"Tapi aku tak punya kemampuan menjaga dan bela diri," tolak Aslan.
"Bukankah cucuku adalah pemanah nomor satu di dunianya?" goda Dokter Chandra.
"Cucu Jenderal Panah Pembunuh, tak mungkin takut menjaga dua wanita hamil," timpal Marianne.
"Atau, biar aku saja yang berjaga di sini, seperti biasa." Indra menawarkan diri.
"Tidak. Untuk membawa kembali pintu teleportasi, butuh tenaga tiga orang!" jelas Dokter Chandra.
"Tidak perlu. Biar aku dan Indra pergi dan pulang dengan caraku yang dulu. Dean tinggal di sini bersama Aslan, menjaga para Wanita!" tegas Marianne.
"Ah, ya. Aku lupa bahwa kau bisa ke sini tanpa pintu teleportasi." Dokter Chandra mengangguk mengerti.
"Baik, kita lakukan seperti itu saja. Besok Robert dan Sunil menemaniku pergi ke salah satu tempat dimana kau menyembunyikan pintu teleportasi!" Dokter Chandra telah membuat keputusan final.
"Baik, Penguasa," jawab anggota tim itu serempak.
"Jadi hari ini mari kita selesaikan mengolah tanah ladang itu. Saat kami pergi, kalian harus mulai menanaminya!" pesan Dokter Chandra.
Tim itu kembali mengangguk dengan kompak. Mereka mengakhiri diskusi dan istirahat siang. Lalu kembali ke ladang.
Marianne, dibantu para wanita, juga membuat persiapan untuk perbekalan tim yang berangkat besok. Mereka telah terbiasa melakukannya sepanjang petualangan, sejak pesawat itu jatuh di dunia asing.
*******
__ADS_1