
Setelah membicarakan perihal keberangkatan yang tinggal 3 hari lagi, Kang dan Sunil langsung kembali ke rumah besar di tepi tebing. Kang harus menjemput Robert dan menyiapkan bahan makanan yang dijanjikannya untuk bekal tim Dean.
Sementara Dean, langsung memanen seluruh gandum yang sudah memasuki masa panen. Yabie memberikan setengah hasil panen untuk ditukar sebagai ongkos naik kapal. Sebagai gantinya, ladang gandum yang digarap Dean di hutan larangan, akan dipanen Yabie kemudian.
Untuk stok perjalanan, Yabie memotong seekor domba hari itu. Esok dia akan memotong seekor sapi lagi yang mungkin bisa ditukar juga sebagai ongkos perjalanan.
Hingga petang, baru pekerjaan keduanya selesai. Dean menyimpan biji-biji gandum itu dalam beberapa karung agar tidak memakan tempat penyimpanan di kalungnya. Karena masih harus memasukkan makanan siap santap yang akan mereka konsumsi selama pelayaran.
Dean dan Yabie pulang sudah mendekati senja. Saat melihat Widuri dan Yoshi di pelataran, baru dia ingat telah meninggalkan istrinya sejak pagi.
"Kau sangat terlambat," tegur Widuri.
"Yahh, sangat banyak yang harus disiapkan dalam 3 hari." Dean mengecup kening Widuri.
"Marianne, ini daging domba. Apa masih sempat diolah untuk perjalanan kita?" Dean mengeluarkan potongan daging domba.
"Akan ku marinasi semalaman. Besok diasap agar bisa langsung kita konsumsi," ujar Marianne.
"Tulang-tulangnya tak ada?" Niken nimbrung.
"Tidak ada lagi. Sudah diserahkan pada hewan liar di tempat Yabie.
"Apakah ada yang harus ku kerjakan lagi? Aku ingin mandi ke laut," tanya Dean.
"Tak ada. Semua tempat air sudah terisi penuh. Tanaman juga sudah disirami," jawab Alan.
Dean mengangguk, lalu menghilang di balik bayang-bayang senja yang mulai menghitam.
Tak lama Kang dan Robert juga muncul. Kang mengeluarkan karung berisi butiran gandum yang telah bersih dan siap pakai. Juga biji-biji soba yang sudah siap untuk dimasak. Kang masih mengeluarkan cukup banyak mentega dan keju di meja besar.
"Wooaaa...." sorak semuanya.
"Ini sangat banyak. Kau bisa membuat toko keju dan mentega di pasar," kata Dokter Chandra.
Kang hanya tersenyum.
"Yah, ratusan tahun, Kang selalu memerah susu. Jadi dia punya sangat banyak produk susu di tempat penyimpanannya." Kata Robert menjelaskan.
"Jangan khawatir," tambah Robert lagi.
"Berarti ini keju tua. Jika tempat penyimpanannya bagus, harusnya ini akan sangat enak," kata Marianne.
"Memang enak. Kalian coba saja," saran Robert.
"Mari kita pakai untuk masak makan malam yang lezat."
Widuri berdiri, mengambil sebongkah keju dan mentega. Para wanita mulai sibuk masak.
Saat Dean kembali, harum masakan sudah menguar. Tercium sangat enak, hingga Cloudy tak ingin jauh dari dapur.
"Ini... banyak sekali," ujar Dean yang melihat meja penuh dengan keju dan mentega.
__ADS_1
"Dari Kang," ujar Nastiti yang kini makin lengket dengan Kang.
"Untuk kita?" tanya Dean memastikan.
"Tentu saja," jawab Nastiti.
"Baiklah. Karena ini sangat banyak, baiknya kita berbagi kelezatan rasanya dengan yang lain," ujar Dean bijak.
Dean membagikan untuk Ketua Kota. Dititipkan pada Yoshi. Lalu untuk Laras dan Liam, serta Kenny dan Mattew. Semuanya dititipkan pada Yabie.
"Sunil, tolong masukkan semua ini dalam kalung penyimpananmu," kata Dean.
"Oke!"
Sunil mengibaskan tangannya, dan semua keju serta mentega itu lenyap seketika.
"Bibi, biar ku bantu," uhar Yoshi yang melihat para Wanita mulai menata hidangan di meja.
*
*
"Jadi bagaimana tugasmu hari ini?" tanya Dean pada Widuri.
"Aku masih butuh waktu, paman." Yoshi memotong pembicaraan Dean dan Widuri.
"Hufttt."
"Ku fikir, Bi pasti ingin anak-anaknya menyambung garis keturunannya. Jika kau tak menikah, maka garis keturunan bangsa kami terhenti padamu dan Yabie."
Pandangan Dean menerawang, matanya berkilat keemasan. A Membayangkan bangsanya yang benar-benar punah.
"Bukankah masih ada paman dan bibi Widuri? Paman Alan dan Paman Sunil?" tanya Yabie.
"Hahh.... Kami sejatinya sudah tewas di saat guncangan dunia bintang itu terjadi. Kami terperangkap di gunung batu, tempat kami bekerja. Merekalah yang menyelamatkan jiwa kami yang tersisa." A menatap Widuri dan Nastiti.
A menjelaskan tentang keadaannya yang sebenarnya.
"Ini aku yang sebenarnya." Dean menunjukkan kilau keemasan pada matanya. Sunil dan Alan juga menunjukkan sinar merah dan biru pada mata mereka.
"Aku mengerti maksudmu, paman."
Yoshi akhirnya memahami kekhawatiran ayah dan pamannya. Jika dia dan Yabie tidak segera menikah, maka garis keturunan The Fallen Angel dan manusia bintang, akan berakhir sampai di sini.
Yoshi mulai menyadari bagaimana egoisnya dia selama ini. Padahal ayahnya memikirkan hal-hal yang jauh ke depan. Jika dia sudah menikah sedari awal, mungkin saja dia sudah punya anak-anak yang bisa membantunya menjaga kota ini, dengan kemampuan unik mereka.
"Nanti aku akan bertanya pada ayah tentang pria itu. Selama dia baik dan bersedia tinggal di kota ini, aku akan menyetujuinya," ujar Yoshi sambil menunduk.
"Kau jangan merasa tertekan dengan kata-kata pamanmu. Pikirkan baik-baik semuanya. Tak ada yang akan memaksamu." Widuri mengusap punggung Yoshi hangat.
Yoshi mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku juga akan menikah. Jadi masih bisa melanjutkan garis keturunan ayah dan ibu," ucap Yabie spontan.
"Hebat! Itu baru laki-laki," puji Indra.
"Apa maksudmu berkata begitu? Kau menyindirku? Kau mau bilang aku bukan laki-laki?" sergah Alan sewot.
"Kalau kau merasa tersindir, itu bukan salahku. Aku cuma memuji Yabie." Indra mengelak.
"Kami juga ingin menikah," ujar Nastiti memotong pertengkaran.
"Ahh iya. Waktu kita mepet dan tak banyak persiapan. Bagaimana jika besok kau dan Kang ikut ke kota bersamaku? Kau menikah di kediaman Ketua Kota saja. Tapi tak ada acara pesta seperti pernikahan Niken dan aku." Dean bertanya serius.
Nastiti memandang pada Kang, meminta pendapatnya. Kang mengangguk. Wajah Nastiti langsung cerah.
"Besok pakai baju pengantinku saja," ujar Niken dan Widuri bersamaan.
"Baiklah... Karena ukuran tubuh kita mirip, aku pinjam baju Widuri saja." Nastiti memutuskan.
"Kang, kau bisa pakai bajuku untuk acara besok." ujar Dean akhirnya.
"Sudah kita putuskan! Besok hari pernikahan Nastiti dan Kang. Aku akan pergi ke kediaman Ketua Kota bersama Dokter Chandra," ujar Dean.
"Yoshi, bisakah kau sampaikan rencana ini pada ayahmu?" tanya Dean.
"Akan ku sampaikan," ujar Yoshi menyanggupi.
"Terima kasih."
"Yang lainnya mempersiapkan bekal. Waktu kita tinggal besok dan lusa. Semua harus siap lusa. Dan ku pikir, kita akan tinggal di kediaman Yoshi pada malam terakhir, agar tidak ketinggalan saat kapal berangkat."
"Siap!"
Semua menjawab dengan bersemangat. Dan tak sabar untuk melanjutkan perjalanan pulang mereka.
Dean masih mengatur beberapa hal lagi. Hingga Yoshi dan Yabie berpamitan pulang. Meja dan piring-piring kotor sudah dibersihkan. Para wanita sibuk membantu Nastiti memeriksa gaun pengantinnya.
"Tambahkan hiasan bunga ini, agar tak persis sama dengan Widuri," ujar Niken.
"Terserah kalian saja," ujar Nastiti malu.
Mereka masih berisik di kamar. Sementara di luar, Robert merasa hatinya kosong. Dean mengatakan bahwa Liam dan Laras memutuskan tetap tinggal di kota mati.
"Kau kenapa?" tanya Sunil yang melihat Robert termenung.
"Laras memutuskan tinggal," jawab Robert tanpa sadar.
Sunil yang mendengar nada suara itu sedikit terkejut. Lalu dia mengerti sesuatu.
"Ketika kita menyayangi seseorang, kita hanya mengharapkan yang terbaik untuknya. Mengharapkan dia terus sehat dan bahagia," ujar Sunil sambil menerawang ke langit.
Robert mencerna kata-kata Sunil dalam hatinya. Dia akhirnya menyadari bahwa kesehatan Laras bergantung pada Kang dan Yabie. Robert hanya bisa memejamkan mata, menyembunyikan lukanya dari pandangan orang lain.
__ADS_1
******