PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 180. Liam dan Laras


__ADS_3

Seminggu telah berlalu lagi ketika Stevan kembali dari perjalanannya. Dia bicara singkat pada beberapa orang di pintu gerbang kediaman. Lalu segera suasanya berubah tegang. Semua orang berlarian.


Stevan berjalan cepat. Ketika melihat Liam yang bingung, dia berkata:


"Ayo masuk."


Liam mengikutinya dengan cepat. William sudah menunggu kedatangan Stevan dengan wajah cemas.


Stevan memasuki ruangannya. William dan Liam mengikuti. Beberapa pria lain juga ikut masuk. Wajah mereka tampak tegang.


'Apakah pihak musuh menyerang?' pikir Liam kalut.


"Liam, pasukan musuh sedang dalam perjalanan menuju ke sini. Kalian bisa memilih pergi dari sini atau bersembunyi. Pikirkan dengan cepat, karena waktu tak banyak. Sebagian pasukan sudah menghadang mereka di tepi hutan." Ujar Stevan.


"Jika kami pergi, arah mana yang harus dipilih agar tak bertemu mereka?" tanya Liam.


Stevan menunjuk pada bentangan peta di meja besar.


"Kita di sini. Mereka sedang dihadang di sini. Kemungkinan paling baik adalah arah ini. Tapi ini ke arah hutan angker yang tak.ada seorangpun pernah kembali dari sana." Jelas Stevan.


"Mungkinkah karena di dalam hutan adalah batas dunia lain, makanya tak ada yang bisa kembali setelah memasukinya?" Liam mengutarakan pemikirannya.


Semua terkejut memikirkan kemungkinan itu. Mereka saling pandang dengan pemikiran masing-masing.


"Tapi, itu hanya asumsi tak berdasar. Mungkin juga aku salah dan hutan itu memang benar-benar angker." Liam meralat ucapannya setelah menyadari keterkejutan semua orang.


"Aku akan bicarakan hal ini dengan Laras." Liam mengangguk dan keluar ruangan.


Laras ternyata sudah mencarinya sejak tadi. Dia mendengar desas desus bahwa ada pasukan besar menyerang desa itu dan sudah mencapai batas desa.


Liam mengatakan pembicaraannya dengan Stevan. Laras berpikir dengan serius.


"Stevan ingin melindungi kita," gumam Laras.


Matanya melihat anak-anak yang berlarian masuk rumah. Hatinya telah terpaut setelah menerima keramahan mereka.


"Bagaimana jika kita bersembunyi di sini saja?" tanya Laras pada Liam.


"Itu akan membuat kita terlibat dalam peperangan yang tidak kita pahami. Bisa berbahaya Laras. Taruhannya nyawa!" Leon mengingatkan.


"Atau, bagaimana jika kita bawa anak-anak itu ke hutan angker?" Laras mencari pilihan lain.


"Laras, itu hutan angker yang belum ada seorangpun bisa kembali dari sana. Apa kau ingin bertanggung jawab atas nyawa mereka?" Liam bingung dengan pemikiran Laras.


"Kau tidak memberiku pilihan, Liam. Bersembunyi di sini kau tak setuju. Pergi ke hutan dengan anak-anak itu kau juga tak setuju. Sebenarnya kau sudah punya pilihan sendiri kan? Lalu untuk apa lagi menanyakan pendapatku?" Laras bicara dengan sewot.


Liam menunduk.

__ADS_1


"Aku hanya berpikir kita berdua yang pergi. Jika sampai membawa mereka lalu di hutan itu kita menemukan celah dunia lain. Maka anak-anak itu akan terbawa ke dunia asing. Dan aku tak bisa bayangkan efeknya pada siklus perjalanan kita."


Laras terdiam. Kini dia mengerti jalan fikiran Liam. Bukan karena tak peduli pada orang-orang di situ. Tapi memikirkan kemungkinan buruk orang jaman ini berpindah ke masa depan.


"Aku mengerti. Baiklah, kita berdua akan pergi menuju hutan itu. Apapun yang terjadi, maka hanya kita berdualah yang menghadapinya." Laras akhirnya mengangguk setuju.


"Ayo kita kabarkan pada Stevan, sekaligus berpamitan." Ajak Liam.


Mereka melangkah menuju tempat pertemuan. Liam mengetuk pintu lebih dulu untuk memberi tau kedatangannya.


Stevan menatap Liam dan Laras yang masuk ruangan. Pintu kembali ditutup.


"Jadi apa keputusan kalian?" tanya Stevan.


"Kami akan pergi ke hutan angker." Jawab Liam tegas.


"Bisakah kalian membawa anak-anak?" tanya Stevan.


"Berpindah dunia itu bukanlah hal mudah dan indah. Seperti saat ini, kami berpindah ke dunia kalian yang sedang dalam peperangan." Jawab Liam.


"Dan sebelumnya, kami berpindah dimensi hingga nyaris membuat kami tewas dalam perjalanannya." Laras menambahkan.


"Aku mengerti. Kalian tak bisa menjamin kehidupan anak-anak di dunia yang baru yang kalian sendiri tidak tau seperti apa." Stevan sungguh paham resiko yang dikhawatirkan Laras dan Liam.


Lalu Stevan memberi beberapa instruksi. Seorang pria berdiri di pintu.


"Terima kasih. Kami senang dan merasa dihargai di sini. Sayangnya kami tak bisa membantu banyak atau melibatkan diri dalam pertikaian ini. Kami takut tindakan itu bisa mengakibatkan perubahan dalam sejarah di masa depan." Liam menundukkan kepalanya sedikit.


"Terima kasih untuk keramahan kalian." Laras ikut menundukkan kepala.


Stevan mengangguk.


Laras dan Liam keluar dari ruangan. Mereka mengikuti pria yang ditunjuk tadi. Mereka sudah tak punya banyak perlengkapan. Jadi tak ada yang perlu dikemas.


Pria itu memberi sebungkus bekal, 2 buah apel, sekantong air dan 2 buah pisau untuk melindungi diri. Lalu mereka berjalan keluar dari kediaman besar itu.


Ketiganya melangkah cepat di jalanan berbatu desa itu. Baru kali ini Liam dan Laras melihat suasana desa tepi hutan itu. Rumah-rumah di desa itu saling berjauhan, dibatasi kebun dan hutan apel kecil. Suasana tenang yang mencekam. Karena bisa terasa banyaknya mata yang mengamati dari tempat tersembunyi.


"Pantas saja Stevan menyuruh anggotanya mengantar ke arah hutan. Agar kita tidak disangka sebagai musuh oleh penduduk lainnya." bisik Laras pada Liam.


"Hem.." Liam mengangguk setuju.


Pria di depan mulai berjalan lebih hati-hati. Jalanan itu bahkan tidak mendapat pengerasan dengan batu-batuan. Itu seperti jalan pintas melewati deretan pohon mapel tak berujung. Jalan itu makin lama makin menurun. Bias matahari kadang hilang, kadang muncul.


Setelah melintasi kali bening kecil, mulai terlihat hutan tak bertuan. Ditandai dengan jenis pohon yang makin beragam dan tumbuh rapat.


Akhirnya pria penunjuk jalan itu berhenti. Dia menunjuk bagian hutan di depan mereka.

__ADS_1


"Di sana batas hutan angker. Aku hanya akan mengantar sampai sini."


Laras dan Liam berpandangan. Perasaan mereka mulai tak enak. Hutan di depan itu benar-benar aneh. Semua pohonnya menghitam. Bahkan daunnya juga hitam.


"Liam, bagaimana?" tanya Laras kecut.


Liam terdiam lama. Hatinya juga menciut. Hutan di depan benar-benar terlihat seperti hutan angker berhantu dalam filem-filem horror.


"Hari sudah sore. Sebaiknya jangan masuk hutan malam hari. Tunggu saja besok pagi." Pria penunjuk jalan itu seakan tau rasa takut mereka berdua.


"Apa kalian bisa membuat api? Malam hari di hutan akan sangat dingin." Katanya menawarkan diri.


"Aku akan senang jika kau membantuku," ucap Laras senang.


Pria itu tersenyum. Lalu dia sigap mengumpulkan cukup ranting kering untuk membuat perapian.


"Liam, ayo cari kayu lagi untuk malam nanti. Kita bermalam di tepi hutan ini dulu. Lanjutkan perjalanan saat hari terang tentu jauh lebih baik." Ujar Laras.


"Oke."


Liam segera mengumpulkan lebih banyak ranting kering lagi untuk perapian mereka.


Setelah api menyala stabil, pria itu mengamati sekitar. Dahinya sedikit mengerut.


"Apa kalian biasa tinggal di hutan?" tanyanya.


"Ya. Selama petualangan ini, kami sering tinggal di hutan dan tempat tak terduga. Jangan khawatir." Sahut Liam.


"Yah, kita memang sering tinggal di hutan. Tapi biasanya Robert atau Dean akan menyiapkan Shelter untuk kita bermalam." celetuk Laras.


Liam tertegun. Laras ada benarnya. Mereka harus membuat shelter agar aman dari binatang buas ataupun hujan.


Liam bangkit. Mencari ranting-ranting panjang atau dahan lebar untuk dijadikan dinding shelter. Pria menunjuk jalan mengerti maksud Liam. Jadi dia membantunya memotong beberapa ranting lain.


Hari sudah gelap saat shelter itu selesai. Pria itu ingin segera kembali, tapi ditahan Laras.


"Sebentar lagi gelap. Kau bisa tersesat di hutan. Tunggulah di sini malam ini." Cegah Laras.


Pria itu meragu. Dia tampak ingin cepat kembali ke desa dan berperang bersama teman-temannya.


Liam menatap arah mereka datang tadi. Di langit senja dia tak melihat ada tanda-tanda desa itu jatuh. Tidak ada asap membumbung yang mungkin jadi pertanda rumah yang terbakar atau semacamnya.


"Kelihatannya desa cukup aman. Mungkin pasukan musuh bisa dihadang di perbatasan desa." Ujar Liam.


Pria itu melihat ke arah bukit, di mana desanya berada. Memang tak ada pertanda apapun yang bisa jadi tanda bahaya.


"Baiklah, kita bermalam di sini." Ujarnya. Laras merasa lega.

__ADS_1


*****


__ADS_2