
Hutan itu menggelap dengan cepat. Kini giliran kunang-kunang menunjukkan keindahan cahayanya menggantikan kupu-kupu.
Ketika para wanita sedang menyiapkan makan malam, yang lainnya ikut duduk melingkari perapian itu sambil berbincang.
"Jadi bagaimana malam ini?" tanya Gilang.
"Kita bergantian jaga seperti biasa. Tapi kali ini harus berjaga hingga pagi." Robert memutuskan.
"Kita berjaga berdua dalam satu tim. Jika ada yang tertidur, segera bangunkan."
"Baik." Yang lainnya mengangguk setuju.
"Yang di tanganmu itu apa?" tanya dokter Chandra.
"Oh, ini jamur yang tumbuh di pohon birch. Ku dengar ini bagus untuk kesehatan, tapi belum pernah coba."
Robert menunjukkan bongkahan jamur berwarna coklat itu pada dokter Chandra.
"Kau yakin jamur ini tidak beracun?"
Dokter Chandra memperhatikan benda coklat di tangannya.
'Bentuknya sama sekali tidak mirip jamur pada umumnya. Kenapa Robert bilang ini jamur?' batin dokter Chandra.
"Sudah banyak yang mencoba, dan dijual sebagai teh herbal. Tapi aku belum pernah mencoba dan tidak terlalu mengerti manfaatnya. Yang jelas, ini tidak beracun," jawab Robert.
"Baiklah, kita simpan saja ini. Mungkin nanti berguna," timpal dokter Chandra.
Selesai makan malam, mereka beristirahat dan meninggalkan Indra dan Liam berjaga pertama.
Malam itu berlalu tenang tanpa gangguan binatang buas. Indra dan Liam duduk dengan bosan di depan perapian. Sampai jam pergantian jaga hampir tiba, mereka masih mencoba membuka mata yang berat.
"Gilang, Leon, bangun. Sekarang giliran kalian yang jaga." Indra menggoyang tubuh kedua temannya yang sedang tidur pulas itu.
"Ahh? Apa?", Gilang menjawab linglung dikuasai kantuk.
"Jaga! Aku udah ngantuk banget." Indra ngomel dan segera mencari posisi nyaman untuk berbaring.
"Leon, bangun! Gantian tidurnya." Liam menarik tangan Leon untuk menegakkan tubuhnya.
"Jaga! Jangan tidur terus. Buka matamu!" Liam menepuk punggung Leon sedikit kuat dan membuat matanya terbuka.
"Ah, ya. Jaga. Jaga," Leon menoleh ke arah Gilang yang kepalanya tertunduk sambil duduk.
"Jaga! Jangan tidur lagi." Leon memukul lengan Gilang yang membuatnya kembali menegakkan kepala.
"Ada apa?" Mata Gilang yang sayu menatap Leon buram..
"Jaga." Leon mengambil teko, menuang teh hangat dan meminum isinya hingga habis. Itu cukup untuk mengembalikan kesadarannya.
"Minum dulu, biar gak ngantuk." Secangkir teh hangat di dekatkan ke mulut Gilang.
Dipaksa minum, membuat mata Gilang kembali terbuka. Dia berdiri meregangkan tubuh sebentar, lalu kembali duduk dan menatap perapian. Tempat itu benar-benar tenang tanpa gangguan binatang besar seekorpun. Hanya ada kunang-kunang dan jangkrik yang mengisi sunyinya malam.
*
Drap.. drap.. drap..
Suara derap kaki kuda berlari terdengar di kejauhan. Ada rombongan berkuda masuk ke hutan dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba kuda terdepan mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan meringkik, membuat pengendaranya jatuh terguling di semak berbunga. Semua kuda lain serentak menarik kekang kuda masing-masing.
__ADS_1
"Arghhh."
Pengendara kuda yang jatuh akibat keterkejutan kudanya, mencoba untuk duduk.
"Kau tak apa?" tanya seorang pria bertopeng bermata biru dari atas kuda.
"Punggungku sakit," keluh si pengendara. Seseorang yang lain mendekati dan memeriksanya.
"Tuan, lihat ini," teriak seseorang dari balik pohon.
Yang lainnya mendekat tanpa turun dari kuda. Mereka melihat 10 orang manusia serta 10 ekor kuda tertidur pulas. Mereka bahkan tidak terbangun mendengar ringkik kuda atau suara teriakan.
Pria bertopeng itu mengerutkan kening lalu menggeleng samar. Dia langsung turun dari kuda, diikuti yang lainnya. Tampaknya dia adalah pemimpin kelompok itu.
Pria itu memberi kode. Mereka lalu mengelilingi orang-orang yang tidur itu sambil menodongkan tombak dan pedang di tangan mereka.
Si pria bertopeng itu menggerakkan tangannya sambil bergumam samar. Lalu muncul cahaya putih dari telapak tangannya yang diarahkan pada orang-orang yang tidur itu. Cahaya itu mengelilingi mereka hingga ke sekitarnya. Lalu dia menggerakkan dua tangannya memutar sambil mengangkatnya dan berhenti di posisi lebih tinggi dari kepala. Titik-titik air embun dari area bercahaya semua ikut berputar dan ditarik naik ke atas lalu melayang, berkumpul di atas orang-orang yang sedang tidur pulas itu.
Setelah menggumamkan kata-kata yang tidak bisa dimengerti orang lain, pria bertopeng itu menghempaskan kedua tangannya dengan ke bawah dengan cepat. Seiring dengan itu, semua titik air yang melayang tadi seketika jatuh seperti hujan membasahi semua yang ada di bawahnya.
"Ahhh.. hujan.. hujan.." Mereka berusaha bangun dengan panik. Tapi lebih panik lagi ketika ujung-ujung tombak dan pedang yang tajam runcing diarahkan ke depan mata mereka.
"Aahhhh," mereka terduduk dengan ketakutan memandang kelompok bersenjata itu.
\*\*\*\*\*
"Dean, hari ini 2 ekor domba kembali hilang. Sudah 3 hari begini. Lama-lama peliharaan kita bisa habis," adu Dewi dengan kesal.
"Baiklah, besok pagi kita periksa apakah ada pagar yang rusak." jawab Dean.
Widuri dan Nastiti membagikan makan malam. Mereka makan di halaman pondok, di bawah cahaya bulan.
"Ya, menurutku kemampuan kita sudah sangat bagus." Sunil menimpali.
Dean mengangguk lalu menyapukan pandangannya pada semua orang.
"Jadi, kita mau melanjutkan jalan lewat mana?"
"Hanya ada kabut hitam di sekeliling kita, kalian yakin area itu aman?" tanya Nastiti.
Semua tercenung. Hal itu juga yang meresahkan mereka sejak lama. Tempat yang mereka diami itu dikelilingi kabut dan bukit batu dimana gua berada.
"A, apakah kau bisa membuka kembali lorong gua tempat pelindungmu pergi waktu itu?" Widuri menatap Dean.
Dean mengangguk.
"Aku sebenarnya juga berencana untuk memeriksa sebentar keadaan dibalik itu." jawab Dean.
"Kau ingin mencari keberadaan kedua pelindung itu?" tanya Alan.
"Ya." Dean mengangguk.
"Tapi besok kita lebih baik periksa dulu pagar sekeliling. Atau kita tak kan punya susu lagi." Dewi mengingatkan.
"Iya, kami akan periksa besok," jawab Sunil cepat. Dewi mengangguk puas.
"Persediaan makanan kita untuk perjalanan bagaimana?" Dean mengalihkan topik pembicaraan.
"Pengawetan daging domba seperti yang kau ajarkan sudah kami lakukan sejak bulan lalu. Besok kami periksa hasilnya," jawab Widuri.
__ADS_1
"Bagus."
"Aku boleh bertanya satu hal penting Dean?"
Widuri berkata dengan gugup. Meski sudah cukup lama roh yang menempati tubuh Dean dan Dean sendiri terlihat kompak dan menyatu, dia masih tidak terbiasa.
"Apa itu?" tanya Dean balik.
"Kau menyuruh kami menyiapkan banyak persediaan untuk perjalanan. Kau tau? Kita punya 2 ruangan penuh persediaan di gua. Belum lagi yang kita simpan di dapur. Lalu bagaimana cara kita membawa barang sebanyak itu?" Widuri sungguh penasaran.
"Dimasukkan ke sini."
Dean mengeluarkan kalungnya yang biasa berada di balik baju. Kalung itu berwarna putih keperakan dan berkilau. Di sana menggantung batu hijau segiempat sederhana.
"Lihat, di sini masih tersimpan semua pakaianku. Beberapa senjata kesayanganku, tabunganku, dan... image Bi?"
Dean yang sedang mengeluarkan isi dari liontin kalungnya seketika termangu melihat pancaran cahaya biru yang jalin-menjalin membentuk sosok seorang wanita. Sosok cahaya biru 3 dimensi itu melayang di depan ke enam orang itu.
"Bi.."
Tangan Dean terulur ke arah cahaya itu. Wajahnya sendu, menyiratkan makna sedih dan rindu.
"Wanita yang sangat cantik," bisik Dewi pada Nastiti.
"Mungkin itu kekasih A," tebak Nastiti setelah melihat ekspresi Dean.
"Tapi tenang saja. Bagaimanapun A sudah tiada. Jadi kau masih punya kesempatan dengan Dean," bisik Nastiti pada Widuri.
Widuri melotot kesal ke arah Nastiti yang pura-pura tak melihatnya. Tangannya bergerilya dan hinggap di paha Nastiti lalu memelintirnya.
"Aaauuuu..!"
Pekikan Nastiti mengagetkan semua orang. Pandangan segera teralih padanya yang mendesis kepedasan.
"Kenapa?" tanya Alan khawatir.
"Widuri mencubitku. Sakit tau. Sini biar ke kembalikan padamu." Nastiti segera mengejar Widuri yang berlari masuk pondok.
"Tidak mauu.. Jangan.. Ahh.. Hahaha.. geliiii.. stop.. stop.. Ampuunn.. enggak lagiii.." terdengar teriakan bercampur tawa Widuri yang berhasil disusul Nastiti.
Ke empat temannya menggelengkan kepala. Mereka sudah terbiasa melihat keduanya bahkan bisa saling gelitik dan bergulingan di padang rumput.
Dean menyimpan kembali semua yang ditunjukkannya ke dalam kalungnya.
"Apakah ruangan kalungmu cukup untuk menyimpan semua persediaan kita?" Sunil kembali pada pembahasan mereka.
"Sangat cukup," jawab Dean yakin.
"Kalau begitu, masalah itu sudah teratasi." imbuh Alan lega.
"Jadi, kapan kita memeriksa lorong gua yang kau tutup itu?" Sunil bertanya lagi.
"Setelah kita menemukan penyebab hilangnya domba-domba milik Dewi. Kita bereskan itu dulu," jawab Dean.
"Terimakasih Dean." Dewi tersenyum tulus. Dean mengangguk.
"Baiknya kita istirahat sekarang." Dean bangkit diikuti Alan dan Sunil. Mereka membantu Dewi membereskan peralatan makan malam itu.
***
__ADS_1