
Diluar bangunan itu telah menunggu seseorang yang terlihat tak sabaran. Tinggi tegap dan kasar.
Dean, Michael, Robert dan Alan didorong masuk ke dalam benda, yang mereka duga adalah alat transportasi. Di dalam situ tertutup sepenuhnya. Tak ada jendela kaca untuk melihat keadaan di luar.
Keempatnya duduk berhadapan. Lalu pria besar tadi ikut masuk. Memasang jeruji besi pemisah dan duduk di sisi lain besi itu.
Mata Alan berkilat merah saat melihat penjaga itu duduk sebaris dengannya, meski dipisahkan jeruji besi.
"Jangan macam-macam. Kita cari tau dulu, ini ada di mana."
Suara Dean menggema di kepalanya.
"Jika menunggu sampai markas mereka baru mau melarikan diri, akan sulit. Pasti ada lebih banyak petugas bersenjata di sana!" bantah Alan.
"Berangkat!"
Penjaga itu bicara pada pengemudi di depan melalui alat komunikasi. Karena tak lama kemudian, kendaraan itu terasa sedikit berguncang.
"Kendaraan ini terbang!" Ujar Michael lewat transmisi suara.
Alan, Robert dan Dean juga menyadarinya.
"Aku tidak ingat negara mana yg punya kendaraan seperti ini di dunia kita."
Dean menggemakan pemikirannya pada tiga temannya yang lain.
Robert, "Aku juga tidak tau. Setauku, USA juga belum punya kendaraan seperti ini."
"Mungkin ini daerah khusus? Lab rahasia yang diawasi oleh dinas rahasia? Bukan mustahil jika mereka mungkin sedang mencari cara untuk memasuki worm hole dan sedang mencari tau keberadaan dunia lainnya." Michael mengutarakan pendapatnya.
"Kau kebanyakan nonton film Scifi," ledek Alan.
"Kau tidak mempercayainya?" Michael mendebatnya.
"Tidak!" jawab Alan.
"Apa kau tidak mempercayai pengalaman kita selama berbulan-bulan ini?" tanya Michael heran.
Alan terdiam. Bahkan keberadaan jiwa Z dalam dirinyapun ikut protes. Z memilih tidur. Dan yang ada sekarang hanya Alan. Tanpa bantuan Z, dia tak punya kemampuan apapun. Dia bahkan tak bisa bicara lewat transmisi suara.
"Z ngambek," bisik Alan pada Robert yang duduk di sebelahnya.
"Dilarang bisik-bisik!" bentak petugas di balik jeruji.
"Ada apa?" tanya Dean lewat transmisi suara.
"Alan bilang, Z ngambek. Ku rasa dia tak lagi punya kemampuan sekarang." Robert mengabarkan.
Mereka saling berpandangan. Dan Alan jengkel sekali, karena tidak bisa nimbrung dalam pembicaraan itu. Jadi dia hanya cemberut sepanjang perjalanan mereka.
*
*
Kurang lebih satu jam perjalanan. Kendaraan itu terasa mulai turun. Lalu benar-benar berhenti.
Petugas itu turun dan menutup pintu lagi. Terdengar langkahnya menjauh.
"Bagaimana sekarang?" tanya Alan.
Michael, "Apa Z masih ngambek?"
Alan mengangguk lesu. Dia sudah biasa dengan kekuatan Z. Dan itu menyenangkan. Sekarang dia hanyalah seorang Alan. Dicobanya membuka tangan, tak ada mata api yang keluar. Alan merasa kesal. Tapi tak bisa apa-apa.
__ADS_1
Petugas tadi kembali dan membuka pintu jeruji besi.
"Keluar!" serunya keras.
Dean, Michael, Alan dan Robert turun bergantian. Dua petugas lain telah menunggu di luar. Mereka digiring menuju satu bangunan tembok yang tinggi.
Melewati pintu, petugas di depan mendaftarkan mereka. Lalu ikatan tangan mereka dilepaskan. Kemudian setiap orang mendapatkan gelang aneh di tangan kanan.
"Mereka memberi kita barcode!" ujar Dean.
"Maaf, boleh tanya, ini dimana?" tanya Robert.
"Penyusup tak punya hak bicara!" seorang petugas memukul dari belakang.
"Kami bukan penyusup. Kami tersesat!" Robert mencoba menjelaskan.
Tapi dia kembali menerima pukulan. Dan kali ini lebih keras lagi.
"Robert!" seru Michael.
Bughh!
Michael ikut dipukul hingga jatuh.
Alan merasa darahnya mendidih. Tapi dia tak punya kemampuan apa-apa sekarang. Jadi dia hanya bisa menggertakkan gigi menahan marah.
Mereka didorong pergi. Dengan dipapah oleh Dean, Robert mengikuti Michael dan Alan. Mereka dibawa melewati lorong panjang. Lalu naik lift.
Dean tak bisa memperkirakan seberapa tinggi mereka dibawa. Kemudian pintu lift terbuka.
???
Tempat itu sangat jelas merupakan penjara.
Bugghh!
Alan meringkuk menahan sakit setelah perutnya ditinju petugas.
Ada seorang penjaga di belakang jeruji besi. Petugas itu mengangkat alat pemeriksa scan barcode. Mereka akhirnya dibawa masuk ke balik jeruji besi.
Sekarang Michael membantu Alan agar bisa berjalan. Mereka melewati ruang-ruang tertutup. Hanya ada jendela kecil berjeruji di setiap pintu.
Michael dimasukkan dalam sel yang sama dengan Alan. Tapi Robert dan Dean terpisah. Itu mengkhawatirkan mereka semua.
"Tenang, aku tak apa-apa. Kita berkomunikasi lewat transmisi suara saja," ujar Dean.
"Hati-hati dengan penghuni sel lainnya," pesan Michael.
"Hemmm...."
"Iya!"
Michael mendudukkan Alan di bed bawah. Ada bed atas untuknya.
"Aku lapar sekali," keluh Alan.
"Aku haus sejak di dalam worm hole," balas Michael.
"Dan tempayan air ada bersama Dean.
"Apakah kelapa mudamu masih ada?" tanya Michael penuh harap.
"Aku tak bisa mengakses ruang penyimpananku. Z masih ngambek."
__ADS_1
Alan mendesis kesakitan saat mencoba membaringkan diri. Pukulan petugas tadi tak main-main. Alan merasa ususnya mengalami cedera. Dia meringkuk agar otot perutnya tak mengalami peregangan berlebihan.
Michael memeriksa ruang penyimpanan Ma. Meski dia merasa pesimis, tapi tetap mencari. Entah obat, atau sedikit makanan dan minuman.
"Bagaimana kalian di sana?" Suara Robert terdengar oleh Michael.
"Alan kesakitan. Dan, yahh... kami kelaparan," jawab Michael.
"Bersabar sedikit. Teman satu sel ku mengatakan akan ada pembagian makan sekitar 3 jam lagi," kata Robert.
"Oke. Bagaimana dengan teman satu selmu? Apa kesalahannya?" tanya Michael ingin tau.
"Awalnya dia mencuri. Lalu tertangkap lagi saat berusaha kabur," jawab Robert.
"Hah.... Kita dicampur baur dengan kriminal," keluh Michael.
"Bagaimana dengan Dean?" tanya Michael lagi.
Robert, "Dia belum membalas transmisiku."
"Mungkinkah dia diganggu teman sekamarnya?" Michael segera terpikir hal itu.
"Dean.... Dean! Apa kau baik-baik saja?" tanya Michael.
Namun tak ada jawaban apapun. Itu membuat teman-temannya khawatir.
"Alan. Dean tak bisa dihubungi. Aku khawatir dia sedang dipukuli orang!" bisik Michael.
"Hah?! Berani sekali!" teriak Alan keras.
"Sssstttt! Kau jangan membuat keributan! Bagaimana kalau mereka tak mengantarkan makanan untuk kita?" Tegur Michael sambil berbisik.
"Apa mereka akan mengantarkan makanan?" tanya Alan dengan suara rendah.
"Ya. Kata Robert, sekitar 3 jam lagi makanan diantar!" sahut Michael sambil berbisik lagi.
Bang! Bang!
Pintu besi dipukul seseorang dari luar. Michael dan Alan terkejut.
"Jangan berisik di sini! Sekali lagi bikin keributan, Masuk sel isolasi!" teriak petugas itu garang.
Alan dan Sunil terdiam dengan perasaan kecut. Mereka harus bersabar agar dapat mengisi tenaga 3 jam lagi.
*
*
Hingga saat makanan diantar, Dean masih tidak ada kabarnya. Mereka gelisah dan khawatir. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.
"Sudah ku bilang, kita harus melawan sebelum dibawa mereka. Dean tak percaya. Jika sudah begini, bagaimana kita mau kabur," gerutu Alan perlahan.
"Kita tunggu hingga besok. Masa iya mereka tak membiarkan tahanan keluar ruangan?" balas Michael.
"Kalau Dean beneran digebukin teman satu selnya, besok itu kita tinggal lihat mayatnya saja!" ujar Alan frustasi.
"Jangan berucap buruk. Kalau itu kejadian, kan kasihan Widuri!" tegur Michael.
"Aku ini prihatin. Prihatin! Bukan berharap buruk!" bantah Alan.
Michael memilih diam. Jika dia terus meladeni Alan, emosinya bisa memuncak dan akan membuat keributan lagi. Sel isolasi hanya akan memisahkan dan makin mempersulit keadaan.
******
__ADS_1