
~Dear Diary,
Ini hari ke-12. Sudah 3 hari ini kami tidak kemana-mana. Selain menunggu pemulihan Alex dan Lena, luka Robert ternyata tidak sesederhana kelihatannya. Tapi tadi malam dia tidak mengalami demam lagi. Sungguh perkembangan yang bagus.
Kami menunggu Dean, Indra dan Michael kembali dari ekspedisi hari ini. Semoga hasilnya bagus, karena arah air terjun itu sementara dilarang Dean untuk didatangi mengingat kejadian terakhir dengan beruang itu.
Aku sendiri mulai skeptis untuk bisa pulang dalam waktu dekat. Aku merasa tempat ini bukanlah tempat biasa. Aku ingat cerita Robert tentang cahaya biru di langit yang seperti tirai. Apakah kami terkurung dalam tirai cahaya itu? Saat ku katakan itu, dokter Chandra tertawa. Tapi Robert tidak. Dia sungguh orang yang berpikiran terbuka.
Ku harap orang tuaku tidak terlalu bersedih karena kehilanganku. Kakak, jagalah mama dan papa dari atas sana. Aku baik-baik saja di sini, jangan khawatir.~
-
"Widuri, apa kau sudah bisa membuat kaus kaki yang diajarkan Marianne? Kenapa rasanya sulit sekali ya?" Dewi menunjukkan rajutannya yang tak berbentuk.
Widuri tersenyum lalu menutup buku catatannya dan menunjukkan hasil pekerjaan yang ada di sebelahnya "Tak jauh beda denganmu." Mereka tertawa bersama.
"Hasil pertama ini untuk kita pakai sendiri. Jadi biarkan saja kalau jelek. Merajut memang bukan hal mudah untuk kita yang tak terbiasa." Widuri menyemangati.
"Yah.. kau benar. Lena bahkan tidak berhasil membuat satu barispun." Dewi kembali tertawa. Disana Robert dan Marianne ikut tersenyum mendengarnya.
"Robert, terimakasih sudah membuatkan jarum rajut untuk kami."
Widuri tersenyum pada Robert yang duduk dekat api. Dia sedang menghaluskan ranting pinus untuk dijadikan jarum rajut.
"Bagus jika aku masih bisa berguna. Karena hanya ini yang bisa ku lakukan sambil duduk. Keadaanku ini sudah menyusahkan kalian semua." Mata Robert penuh permintaan maaf.
'Ahh,, dia terlihat tampan' batin Widuri.
"Tidak Robert. Kau sudah sangat membantu kami sebelumnya. Lagipula kita memang tidak dapat pergi ke manapun sebelum Dean kembali bukan?"
Marianne menyahuti sambil matanya terus menatap rajutan di tangannya. Pekerjaannya rapi dan cepat. Dia mengenakan baju hangat hasil rajutannya sendiri. Cantik sekali.
"Hei, Dean sudah kembali. Dean sudah kembali." Suara ramai di luar shelter membuat Dewi bangkit dan berjalan keluar.
"Indra, apa yang kalian bawa ini?" Terdengar suara Silvia di luar.
"Hei, mereka sudah lelah dan kedinginan. biarkan masuk dan menghangatkan diri lebih dulu sebelum kita berondong dengan pertanyaan." Dewi tersenyum lebar. Disambut gelak tawa yang lainnya.
Dean masuk diikuti Indra dan Michael. Mereka meletakkan bawaannya yang dibungkus daun pinus di lantai. Widuri menyodorkan teko air hangat dan cangkir untuk ketiganya.
"Apa kalian ingin makan? Aku panggangkan ikan sebentar." Widuri baru akan berdiri tapi dicegah Dean.
"Tidak. Kami tadi sudah sarapan sebelum kembali. Duduklah, aku akan katakan hasil perjalanan kami." Tangan Dean menuang air hangat dan meminumnya. Semua orang lalu mulai masuk dan duduk melingkari perapian menghangatkan diri.
"Baiklah, kami sudah berjalan sejauh sehari. Berhenti saat sore dan membuat tempat menginap darurat sore itu. Esok paginya kami eksplore lokasi sekitar tempat itu dan memutuskan untuk membuat shelter lebih besar yang cukup untuk menampung anggota tim." Dean berhenti sejenak.
__ADS_1
"Saat siang kami melajutkan perjalanan lagi . Jalan itu mulai menurun tapi tidak curam. Hanya saja, itu arah yang menjauhi danau. Beberapa kali kami melihat serigala di kejauhan. Juga cukup banyak kelinci. Sebelum langit gelap, kami berhenti dan membuat tempat beristirahat. Keesokan pagi baru kami menyadari bahwa salju di situ tidak terlalu tebal. Perapian yang kami buat tidak membuat lubang terlalu dalam di permukaan seperti disini. Michael mengorek bagian bawah bekas perapian, itu benar-benar tanah." Dean tersenyum, dia tampak senang.
"Memangnya kenapa kalau itu tanah?" tanya Nastiti yang tidak mengerti melihat sikap Dean yang tampak senang.
Dean menghena nafas, tapi sebelum dia menjawab, Robert lebih dulu buka suara: "Itu artinya kita mungkin akan lebih mudah menemukan tanaman untuk bahan makanan. Apa suhu di sana lebih hangat Dean?" tanya Robert.
"Ya, sedikit lebih hangat karena ada cukup banyak pohon yang menghalangi tiupan angin. Ku fikir juga, tipisnya salju disitu mungkin karena rapatnya pepohonan. Tapi betul bahwa kami menemukan beberapa sumber makanan."
Dean meminta Indra dan Michael membuka ikatan daun-daun pinus mereka. Semua terkejut melihatnya.
"Ubiiii! Ini ubi."
"Ada wortel juga."
"Asparagus."
"Aahhh kita makan besar hari ini."
Suara-suara ramai dan gembira terdengar. Mereka sangat antusias. Dean, Indra dan Michael tersenyum lebar saat menjawab pertanyaan-pertanyaan antusias rekan tim lainnya. Harapan mulai tumbuh kembali di hati semua orang.
"Jadi bagaimana Dean? Apakah kita akan melanjutkan perjalanan?" tanya Robert mengabaikan keriuhan di sekitarnya.
"Yah, ku pikir kita bisa melanjutkan perjalanan seperti sebelumnya. Aku akan berangkat lebih dulu dengan timku. Bagaimana menurutmu?" tanya Dean balik.
Dean mengangguk dan tersenyum.
"Baik, sudah diputuskan. Besok tim 1 akan mulai kembali perjalanan. Jadi bersiap-siaplah hari ini."
"Baik, kami akan bersiap." Dewi dan Nastiti yang duduk bersebelahan segera menjawab. Widuri mengangguk. Sunil mengikuti.
"Yeahh kita jalan lagi." Alan sangat antusias.
Malam itu mereka makan besar, karena kali ini para wanita membuat sup sayuran dengan daging kelinci, serta kentang dan ikan panggang. Perbincangan hangat berangsur menghilang saat lolongan serigala mulai terdengar di kejauhan. Tanpa disadari, kini lolongan serigala sudah menjadi pertanda bahwa itu sudah waktunya untuk tidur.
*
Selesai sarapan, Tim 1 dipimpin Dean mulai berjalan meninggalkan shelter. Mereka melambaikan tangan.
"Sampai jumpa lagi." teriak Dewi dan Nastiti yang berjalan bersisian menoleh ke belakang.
Gilang di belakangnya ikut menoleh juga dan melambaikan tangan.
"Sampai jumpa."
"Hati-hati."
__ADS_1
Teriak beberapa lainnya di shelter. Mereka sangat berharap perjalanan ini segera berakhir dan bisa pulang ke rumah lagi. Jalan yang makin menurun. Bukankah biasanya ada desa di lembah dan kaki bukit? setidaknya akan ada para petani bukan?
***
Siang ini tim 1 tiba di tempat kedua yang dikatakan Dean. Memang disitu tidak terlalu berangin. Tapi tetap dingin. Para pria segera melakukan tugas yang diberi Dean. Dewi dan Nastiti menyiapkan keperluan di tempat perlindungan sementara yang telah dibuat Dean, Indra dan Michael waktu itu. Dean dan Widuri pergi bersama memeriksa jebakan yang sudah dibuat.
Dean mengajak Widuri bersamanya untuk menunjukkan letak ubi dan wortel yang ditemukannya. Widuri terpana. Rumpun ubi itu sangat banyak, menjalar kemana-mana. Berjalan lebih jauh lagi, Widuri melihat daun-daun wortel mencuat dari atas tumpukan salju tipis. Daunnya yang hijau halus terlihat kontras dengan permukaan salju yang memutih.
"Dean, mungkinkah ini kebun yang sudah ditinggalkan orang?" tanya Widuri dengan heran.
Dia bisa melihat bahwa meskipun tak dipagari, tapi pemisahan letak tanaman ubi dan wortel seperti dilakukan dengan sengaja.
"Hmmm, mungkin saja," Dean tak membantah atau mengiyakannya. Dia membawa Widuri ke arah lain.
"Asparagus ku temukan di sini." tunjuk Dean ke suatu tempat tak jauh dari situ.
Widuri takjub melihatnya. Tanaman itu tumbuh subur, dan masih banyak sekali tunas muda yang belum dipetik. Widuri segera sibuk memetik asparagus lalu mencabut beberapa wortel. Dean mencongkel rumpun ubi dan membuang daunnya begitu saja.
"Dean, setelah mencabut ubinya, rumpunnya jangan dibuang begitu saja dong. Ini bisa di stek dan tanam kembali." Widuri bersungut-sungut mengomeli.
Tangannya lincah memetik pucuk daun ubi dan menancapkan batang lainnya kembali ke tanah.
Dean yang awalnya heran diomeli, akhirnya tersenyum dan mengikuti cara yang ditunjukkan Widuri.
"Untuk apa kau mengumpulkan daunnya? Apa bisa dimakan?" tanya Dean ingin tau.
"Tentu saja bisa dimakan. Ini sangat enak dan bagus untuk kesehatan mata. Kufikir, seperti itulah yang ibuku katakan." Widuri berfikir sejenak, mengingat sesuatu.
"Yaahh.. setidaknya ini tidak beracun," Widuri tetawa geli sendiri. Dean tersenyum, 'gadis ini sangat menarik' batinnya.
Mereka merasa persediaan makanan sudah cukup bahkan untuk sarapan, jadi mereka segera kembali.
Shelter yang dibuat kali ini berbeda dengan shelter di tempat bersalju. Mereka membuat tiang tengah memanjang untuk penyangga tiang penahan atap yang dibuat miring. Bentuknya segitiga saja, tapi tidak bisa terlalu luas. Akhirnya dibuat 2 buah.
Yang pertama sudah selesai dan ditempati Dewi serta Nastiti. Atapnya masih dengan ranting-ranting pinus. Widuri menyerahkan sayuran yang didapatnya pada Nastiti. "Aku akan ambil salju untuk menyiapkan air," kata Dewi.
"Tapi salju di sini tidak cukup tebal, jadi tadi berjalan agak jauh baru menemukannya."
Dean mengangguk saat Widuri melihat ke arahnya. Lalu dia pergi menemani Dewi mencari salju untuk sumber air.
***
Contoh shelter A line sederhana.
__ADS_1