
Tapi, kurasa ini adalah hal penting. Sangat penting. Tapi aku lupa, hal penting apa itu." Dokter Chandra menggeleng-gelengkan kepalanya kesal.
"Tenanglah ... kami akan menjaga Anda di sini." Dean menenangkan dokter Chandra.
"Oh ya, bagaimana jika kita main catur saja? Catur paling cocok untuk menghilangkan hal ruwet," usulnya.
"Baiklah. Ayo!"
Mereka bermain catur bergantian. Siang itu mood dokter Chandra kembali bagus. Setelah makan siang bersama, keduanya meninggalkannya untuk beristirahat.
Namun, sejak sore hingga malam, moodnya kembali jelek. Bahkan dia menolak untuk makan malam. Dokter Chandra hanya berdiam dan termangu di atas tempat tidurnya. Berusaha mengingat-ingat apa yang telah dilupakannya.
Dia membuka buku catatan harian yang diberikan dokter Ian. Membacanya ulang, untuk mencari hal yang terlupa itu. Namun tak ditemukannya apapun. Semua yang dicatatan itu diingatnya luar kepala. Dia merasa belum pikun.
"Tapi, kenapa seperti ada yang kulupakan? Dan itu membuat hatiku sedih," gumamnya.
"Ayolah ... kalau kau ingin aku mengingatmu, maka kau harus muncul dulu. Beri aku titik terang!," gerutunya kesal, sambil membanting buku.
Malam makin larut. Gedung megah tempat riset kelautan itu telah sunyi. Semua terbuai dalam mimpi.
Robert, Dean dan Dokter Chandra tak terkecuali. Ketiganya tertidur lelap. Namun dokter Chandra merasa gelisah. Keringatnya mengucur deras hingga membasahi baju tidurnya. Bola matanya bergerak-gerak saat terpejam.
Sekonyong-konyong tubuhnya bergetar hebat. Cahaya putih redup menyelubungi seluruh tubuhnya, seperti merecharge tenaga. Setengah jam kemudian, matanya terbuka, bercahaya dan berkilauan sebening berlian!
"Ah, kau orang tua bodoh! Kau membuat semua orang hilang ingatan begini lama! Entah apa yang terjadi di dunia kecil selama kita tertahan di sini!"
Dokter Chandra mengomeli Penguasa Cahaya di dalam hatinya. Kemudian diambilnya kendi air abadi di dalam penyimpanan, lalu meneguk habis isinya. Tubuhnya terasa lebih bugar setelah itu. Rasa nyeri akibat jatuh, berangsur hilang. Dia sudah siap sekarang.
Sebelum melakukan hal lain, dokter Chandra membuka lemari dan menyimpan semua pakaian yang ada di situ, ke dalam penyimpanannya. Diambilnya pula semua buku catatan dari atas meja.
"Ayo kita selamatkan Dean dan Robert. Lalu pergi dari tempat ini!" ujar dokter Chandra dalam pikirannya.
"Tapi sebaiknya kau buat tidur dulu semua orang di sini. Jangan sampai ada kehebohan!" saran dokter Chandra.
Lalu sebuah cahaya putih menyelubungi tubuh dokter Chandra. Makin lama makin terang. Kemudian cahaya itu meledak dan membias ke seantero gedung, hingga keluar. Dua orang petugas yang duduk berjaga di pos depan, langsung tertidur begitu terkena cahaya. Kemudian cahaya itu lenyap tak berbekas.
"Ayo!"
Dokter Chandra melesat keluar ruangan. Dia menuju kamar Dean di sebelah. Pria itu masih tertidur. Dipegangnya tangan Dean, dan menyalurkan energinya untuk membuka penghubung dengan jiwa A.
"Bangunlah!" perintah penguasa pada jiwa A yang tertidur pulas. Tak lama, cahaya kuning keemasan menyelubungi seluruh tubuh Dean. Merecharge dan mengembalikan ingatannya.
Dean bangun dan langsung duduk di tepian ranjang. Matanya yang bersinar keemasan, melihat sekeliling tempat itu.
"Penguasa, kita ada di mana?" tanya A.
"Penjelasannya nanti saja. Kita harus segera membebaskan jiwa Jenderal So dan Robert!" ujar dokter Chandra.
"Baik!" Dean segera berdiri dan siap mengikuti dokter Chandra.
"Ambil semua pakaian di lemari dan buku-buku catatanmu. Jangan ada jejak kita yang tertinggal!" pesan dokter Chandra sebelum keluar ruangan.
Dean melakukan perintah tersebut tanpa bertanya lagi. Setelah itu dia menyusul ke kamar Robert.
Di dalam kamar, dokter Chandra sedang membangunkan jiwa Jenderal So.
__ADS_1
"Aku akan meneriksa ruang kolonel dan mengambil catatan tentang kita!" lapor Dean.
Di ruang kerja kolonel, tak terlihat seorangpun. Dean melihat layar komputer yang menunjukkan aktifitas di kamar Robert. Dean segera menghapus semua memory yang berasal dari tiga kamar mereka.
Dia geram, karena selama ini, mereka ternyata diawasi terus menerus. Terlalu banyak yang mesti dihapus, membuat Dean mengambil keputusan ekstrim. Ruangan ini harus dibakar dan isinya harus lenyap, agar tak ada jejak tentang keberadaan mereka bertiga.
Dokter Chandra datang bersama Robert.
"Kau bakar ruangan ini hingga jadi abu. Apa kau bisa?" tanya Dean.
"Mudah!" sahut Robert.
Sekarang kita ke ruangan dokter dan memeriksa apa saja yang mereka simpan!" ujar dokter Chandra.
"Oke!" jawab Dean. Diikutinya dokter Chandra yang sudah melesat lebih dulu menuju ruang kerja dokter.
"Tak ada catatan apapun tentang kita, di sini," lirih dokter Chandra heran.
"Mungkin dokter menyimpan di kamar pribadinya?" tebak Dean.
Dokter Chandra mengangguk. " Mungkin juga. Tapi mari kita bereskan dulu segala yang ada di klinik. Ambil semua obat dan jarum suntik dan peralatan bedah yang mungkin kita butuhkan, nanti!" perintah dokter Chandra.
"Baik, Dok!"
Dean melesat keluar ruangan dan pergi ke ruang klinik. Disapukannya tangannya ke seluruh ruangan. Maka ruangan itu segera jadi kosong melompong. Bahkan bed rawat juga hilang tak berbekas.
"Kau ini sedang menjarah klinik?" dokter Chandra terkekeh geli sambil menggelengkan kepalanya.
"Kita butuh bed yang bagus di dunia kecil," ujar Dean membela diri.
Dibukanya pintu dengan santai. Tak perlu takut dokter itu bangun. Karena kemampuannya menidurkan orang, bisa hingga dua belas jam. Jadi dia bergerak leluasa.
Dean melihat ruangan makan. Diambilnya juga beberapa piring, cangkir dan peralatan makan yang menurutnya bagus.
Dean terus memeriksa ke ruang-ruang lainnya. Dia juga mengambil sangat banyak selimut seprei dan bantal. "Ini akan dibutuhkan saat Widuri melahirkan," pikirnya.
Satu hal yang disesali Dean, mereka tak bisa membuat kain dan benang di dunia kecil.
"Sepertinya harus mulai menanam kapas. Tapi, di mana bisa menemukan bibitnya?" pikirnya lagi.
Dean terus memeriksa tiap ruangan. Hingga dia tiba di ruangan Nancy, perawat di klinik. Entah apa yang menarik langkahnya masuk ke situ.
Nancy tidur dengan lelap sambil tersenyum. Dean harus mengakui, perawat ini manis dan selalu bersikap baik. Kakinya melangkah ke meja kecil di samping tempat tidur. Ada foto berpigura di situ. Dan keningnya mengerut, ketika melihat fotonya ada di situ. Dengan cepat, foto itu dilepaskannya dari pigura. Tak boleh ada jejak tentang keberadaan mereka di tempat itu.
Dean melanjutkan memeriksa ruangan lain, hingga dokter Chandra memanggil lewat transmisi suara.
Robert telah selesai dengan tugasnya menghanguskan rusng kerja kolonel. Dokter Chandra juga sudah memeriksa ruang pribadi fokter dan kolonel. Semua tentang mereka, telah dismbil.
"Mari kita pergi!" ajak dokter Chandra.
"Kita mau pergi ke mana?" tanya Robert.
"Kembali ke dunia kecil," jawab dokter Chandra.
"Dok, tak bisakah kita mencari keperluan lain dulu, sementara kita di sini?" tanya Dean.
__ADS_1
"Kau ingin mencari apa?" tanya dokter Chandra heran.
"Membelikan beberapa pakaian bagus untuk Widuri dan calon bayi kami," sahut Dean.
"Aku mengerti perasaanmu. Kau ingin memberikan yang terbaik untuknya. Tetapi tempat ini berada di tengah Samudera Hindia. Aku melihat petanya di kamar kolonel. Jauh dari manapun," bujuk dokter Chandra.
"Kita masih bisa terbang semalaman," debat Dean.
Ini sudah lewat tengah malam, Dean," cegah Robert.
Tapi Dean hanya diam. Dia tak menyatakan bahwa dia setuju dengan dokter Chandra serta Robert, tapi juga tak ingin terang-terangan melawan perintah.
"Oh ... baiklah. Mari cepat kita pergi!" Dokter Chandra mengeluarkan peta yang tadi diambilnya dari ruang kolonel.
Peta dibentangkan di meja.
"Ini pulau besar terdekat!" tunjuknya.
"Maladewa!" Ujar Robert dan Dean serempak.
"Tapi, itu pasti sangat jauh. Kita harus terbang dengan kecepatan tinggi. Mengerti?" tegas dokter Chandra.
"Mengerti!" Dean dan Robert mengangguk.
"Ayo!"
Dokter Chandra berjalan keluar dari ruangan, menuju pintu keluar. Dua penjaga di gerbang, sedang tertidur pulas. Tiga orang itu melayang naik ke angkasa.
Kemudian dokter Chandra mengumpulkan cagaya putih pada dua telapak tangannya. Hingga cahaya cukup besar dan diameternya setinggi dokter Chandra sendiri.
Cahaya itu lalu dihempaskan ke arah pulau di bawahnya. Setelah mencapai permukaan tanah, cahaya putih tersebut segera menyebar ke seluruh pulau, dan melingkupinya.
"Ayo!" ajak dokter Chandra.
Ketiganya melesat cepat meninggalkan tempat yang diselubungi cahaya itu.
"Apa itu tadi Penguasa?" tanya Dean lewat transmisi suara.
"Aku menghapus ingatan mereka tentang kita," jawab dokter Chandra enteng.
"Tapi Dokter Ian dan Kolonel Jack Meyers masih mengingat kita!" Robert mengingatkan.
"Siapa yang akan mempercayai perkataan dua orang tanpa bukti dan kesaksian pendukung?" balas dokter Chandra enteng.
"Itu bukan urusan kita. Biarkan saja mereka!" timpal Dean. "Beraninya mengurung kita berbulan-bulan!" ujarnya kesal.
"Maafkan aku. Aku yang membuat kita melupakan beberapa hal untuk sementara, saat kurasa mereka tak berniat baik." Penguasa merasa bersalah atas tindakannya.
"Tapi, jika Anda tidak melakukannya, maka mereka mungkin akan menyelidiki tentang dunia lain, saat menahan kita. Tindakan anda itu sudah tepat, di saat krisis," bela Robert.
"Aku merasa itu tak sepenuhnya benar." Dokter Chandra terdiam, kemudian melanjutkan, "Tapi, mari kita bahas itu nanti saja. Fokus saja pada tujuan kita sekarang. Setelah itu, kembali ke dunia kecil. Mereka pasti sangat khawatir di sana!" pungkasnya.
"Baik!" jawab Dean dan Robert.
Ketiganya terbang menembus pekatnya langit malam. Benerapa kapal terlihat melintas di bawah sana. Tapi tak mereka pedulikan.
__ADS_1
*******