PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 281. Ketidakpastian


__ADS_3

Akhirnya mereka bekerja sama membersihkan ruangan yang super kotor.


Persis satu jam, ketika petugas membuka kunci pintu dimana mereka dikurung. Dia terkejut melihat tempat menjijikkan itu sudah terlihat sangat manusiawi.


Ketiga orang tahanan itu bahkan sudah mandi dan bisa duduk dengan nyaman di lantai.


Meski ingin mencari celah kesalahan pun, petugas tetap tak bisa. Akhirnya Dean, Alan dan Michael dibawa ke ruang makan.


Tiga sekawan itu tersenyum samar. Mereka justru lega telah berada di ruangan yang sama. Jadi bisa membagikan stok makanan yang disimpan Dean pada teman-teman lainnya yang bersembunyi di ruang penyimpanan.


Untuk sementara, semua masih aman terkendali. Tapi hal ini tak bisa terus berlanjut. Mereka harus segera menemukan cara untuk keluar.


Mereka menikmati sarapannya dengan puas. Tapi mereka masih belum mengetahui tentang Robert. Dean sudah beberapa kali mengirim pesan transmisi. Namun tak ada balasan sekalipun.


Selesai sarapan, mereka masih punya waktu hingga siang untuk bisa menikmati udara di ruang terbuka. Mereka pergi ke sana untuk mencari keberadaan Robert.


"Robert dibawa kemana ya?" Michael bergumam sendiri.


Dean dan Alan hanya bisa menggeleng.


"Aku ada ide. Aku akan memeriksa ke tempat lain. Tapi kalian harus menjaga tubuhku."


Alan mengirim pesan transmisi.


"Bagaimana jika kita kembali ke ruangan dulu? Ku rasa itu lebih aman," ujar Michael.


"Aku masih bisa melakukan hal lain. Hanya saja, kekuatanku sedikit melemah." Alan memberikan penjelasan.


"Pergilah...." kata Dean.


Seberkas cahaya merah kecil yang luput dari pengawasan orang-orang, keluar dari tubuh Alan. Cahaya itu melesat cepat menuju pintu dan menyusuri lorong-lorong panjang.


(Pengumuman melalui pengeras suara)


WAKTU HABIS. SEGERA BERBARIS RAPI UNTUK PEMERIKSAAN.


"Bagaimana ini Dean? Jiwa kecil Alan belum kembali," ujar Michael khawatir.


"Tidak apa. Selama masih ada celah terbuka, dia masih bisa kembali ke tubuhnya kapanpun."

__ADS_1


Kedua orang itu bangkit dan mengajak Alan kembali. Dan mereka bertiga bisa lolos pemeriksaan tanpa dicurigai.


"Aku kembali dulu. Dan mungkin tak bisa dihubungi untuk sementara." Dean mengirim pesan transmisi.


"Oke. Berhati-hatilah," sahut Michael.


Mereka berpisah di pintu sel Alan dan Michael. Sementara Dean melewati sel Robert yang ada di sebelah tempat Alan. Tapi Robert masih belum terlihat juga. Dean menyesal tidak mendengarkan Alan sebelumnya.


'Harusnya kami tak pernah masuk kemari' batinnya.


Dean harus mulai membuat rencana pelarian jika hingga besok Robert tak kembali. Mereka harus menemukannya lalu pergi dari sini. Dean merasa terisolasi berada dalam selnya. Karena dia tak bisa mendapatkan informasi apapun tentang teman-temannya.


"Aku harus bertanya padanya! Siapa dirinya hingga mendapat sel khusus." tekad Dean.


*


*


Sementara di sel lain. Michael duduk mengamati Alan yang menjadi lebih pendiam sekarang.


"Pecahan jiwaku berada di lantai lain. Harus menunggu ada yang menggunakan lift untuk naik atau mencari celah dari luar." Alan mengirim pesan transmisi pada Michael.


"Belum. Entah dibawa kemana dia," jawab Alan.


"Akan kucari di lantai lain," tambah Alan.


"Berhati-hatilah," pesan Michael.


Tak lama, terdengar suara pintu sel ditutup otomatis. Sekarang semua tahanan itu kembali terkurung.


"Berarti hanya sampai siang saja kita dibiarkan keluar. Selebihnya dikurung hingga pagi berikutnya."


Michael bicara sendiri. Alan tak merespon sama sekali. Tapi terlihat baik-baik saja.


"Kau sebaiknya berbaring saja," saran Michael.


Alan mengangguk. Michael membantu Alan berba6. Setelah itu dia juga naik ke bed atas untuk beristirahat juga. Tak ada apapun yang bisa dilakukan sekarang ini.


*

__ADS_1


*


Michael terbangun saat mendengar bunyi pintu sel. Makanan mereka telah diantarkan.


'Apa hari sudah malam?' pikirnya.


Michael turun dan melihat Alan masih tertidur. Diambilnya makanan yang ada di depan pintu kemudian diletakkan di meja kecil.


"Alan, apa kau baik-baik saja?" Michael bertanya dengan suara rendah.


Alan membuka mata. Dia terlihat sangat lemah. Michael membantunya duduk.


"Kau harus makan!" perintah Michael.


Disuapinya Alan yang tak banyak bicara.


"Apakah bahaya jika kepingan kecil jiwamu terlalu lama terpisah?" tanya Michael hati-hati.


"Ya," jawab Alan.


"Tapi aku sudah menariknya kembali. Atau kami akan mati!"


"Kalau begitu, kita beri makan fisikmu dulu. Agar saat dia kembali, kau bisa segera pulih," bujuk Michael.


Alan menghabiskan makanannya lalu duduk bersandar di tembok. Matanya terpejam.


Michael mengawasi Alan sambil makan. Dia cemas. Jika sesuatu juga terjadi pada Alan, maka tim mereka sama saja hancur.


Bagaimana tidak. Robert menghilang sembari membawa Sunil dalam penyimpanannya. Keduanya adalah pilar kekuatan tim bersama Alan. Sekarang Alan keadaannya melemah seperti ini. Lalu siapa lagi yang bisa melindungi tim?


Terpisahnya Dean di ruang yang tak bisa ditembus komunikasi, membuat keadaan makin buruk. Mereka kesulitan membuat rencana dengan cepat.


Seberkas sinar merah kecil dan redup, masuk dari celah ventilasi di dinding. Perlahan sinar itu mendekati Alan, kemudian menyatu dengannya. Alan tumbang. Dia sudah mencapai batasnya.


Michael mendekatkan segelas air abadi ke mulut Alan. Lalu membiarkannya beristirahat memulihkan kondisi.


Malam ini, mereka hanya bisa menunggu. Ketidakpastian ini harus diakhiri secepatnya. Michael naik ke tempat tidurnya dan berbaring.


"Semoga Robert baik-baik saja dan segera kembali ke sini," harapnya sebelum tertidur kembali.

__ADS_1


******


__ADS_2