
Teriakan Dean yang keras menggema di lorong hingga ke gua. Membuat teman-temannya yang baru memejamkan mata kembali duduk dengan waspada.
"Teriakan siapa itu tadi?" Dewi bertanya linglung. Widuri terkejut dan ingat sesuatu.
"Dean." Widuri bangkit dan berlari masuk lorong gua.
Yang lain terbengong sejenak sebelum ikut lari mengejar Widuri.
"Dean kenapa?" Teriak Alan tak mengerti.
"Gak tau. Tadi dia luka kata Sunil." Widuri terus lari dan mendengar suara Sunil dari lorong di kanannya. Widuri berbelok dan tercengang melihat pemandangan di depannya.
"Apa itu?" tanyanya bingung. Ketiga temannya menyusul sampai dan terkejut.
"Dean.. di.. dia.. ada di dalam lingkaran cahaya keemasan itu." Sunil yang masih jongkok tergagap menunjuk ke arah depannya.
Alan maju ingin menjangkau bayangan samar Dean.
"Jangan! Nanti kau.." belum selesai Sunil bicara, Alan terpental ke tembok lorong.
Brukk.
"Aargghh," Alan mengerang kesakitan. Punggungnya menghantam dinding batu dengan keras lalu merosot ke lantai.
"Alan!" Dewi dan Nastiti mendekat memeriksa kondisinya.
"Berbaring saja dulu," kata Dewi.
Alan berbaring sejenak meredakan deburan jantungnya. Kepalanya berkunang-kunang. Punggungnya terasa remuk, jadi sebenarnya dia ingin berbaring dulu di lantai itu. Tapi lantai itu terasa sangat dingin, membuat tulangnya makin ngilu.
"Tolong bantu aku duduk," kata Alan pada Dewi. Dewi membantunya duduk lalu bersandar pada Dewi. Keduanya mengamati cahaya keemasan yang menyelubungi Dean.
Setelah melihat Alan terlempar, tak ada lagi yang berani mencoba menarik Dean. Mereka hanya bisa melihat dan menunggu dengan gelisah.
"Aaaaaaarrhhhhh." Dean kembali berteriak nyaring membuat teman-temannya makin cemas.
Tak berselang lama, lingkaran cahaya keemasan itu mulai menipis, membuat bayangan Dean terlihat makin jelas. Dalam semenit, cahaya itu menghilang seluruhnya, membuat tubuh Dean yang melayang tanpa kesadaran langsung jatuh tergeletak di lantai.
"Dean." Widuri berlari mendapatinya.
"Dean, kau kenapa? Bangun.. sadarlah..," Widuri menangis sambil menepuk-nepuk pipi Dean.
"Balut jarinya yang berdarah dulu. Setelah itu kita bawa dia keluar." Sunil menyerahkan kain pembalut pada Widuri.
"Jarinya yang mana yang luka?" tanya Widuri memeriksa tangan Dean.
"Tangan kanannya tadi yang luka. Coba lihat saja. Darahnya terus menetes tadi," kata Sunil lagi.
Widuri kembali memeriksa semua jari tangan Dean, tapi tak ada satupun yang luka.
"Gak ada tuh lukanya," kata Widuri bingung.
"Masa sih?" Sunil tak bisa mempercayainya.
Jelas-jelas tadi darahnya mengucur dan mengalir sampai telapak tangannya, masa tiba-tiba hilang? 'Apakah air yang menetes dari tembok itu bisa menyembuhkan luka seketika?' pikir Sunil tak percaya.
__ADS_1
"Tadi bagaimana ceritanya Dean bisa seperti itu?" tanya Nastiti.
Sunil pun menceritakan semua yang dilihatnya. Meski begitu, mereka tetap bingung dengan apa yang terjadi.
"Dean belum sadar juga." Widuri cemas.
"Coba ambilkan air di tembok itu, cipratkan ke mukanya," saran Dewi.
"Ya, coba saja. Jika benar air itu bisa menyembuhkan luka Dean dalam sekejap, mungkin juga bisa membuatnya sadar." Nastiti setuju.
Widuri melangkah menjangkau air dari dinding, menampung dengan telapak tangannya. Sunil pergi keluar untuk mengambil cangkir batu yang ada di ruang makan.
Widuri mencipratkan air di tangannya ke wajah Dean, tapi tak ada reaksi apapun. Mereka kecewa.
"Ayo, kita gotong keluar aja. Lantai ini sangat dingin. Nanti malah dapat penyakit lain." Nastiti akhirnya buka suara.
"Apa kita kuat menggotongnya?" Widuri balik nanya.
"Biar ku ambilkan saja beberapa kain dari gua untuk alas tidurnya," kata Widuri.
"Yah, terserah. Bagaimana denganmu? Bisa berjalan kembali ke gua atau enggak?" tanya Nastiti pada Alan.
"Biar ku coba," Alan mencoba berdiri, dibantu Dewi.
"Dari mana kau?" tanya Dewi pada Sunil.
"Mengambil ini," Sunil menunjukkan cangkir batu yang dibawanya.
Sunil terus melangkah mendekati bak batu. Ditampungnya tetesan air dari tembok. Butuh waktu lama untuk memenuhi cangkir batu itu. Teman-temannya memandang dengan tak sabar.
Dia sudah sangat ngantuk, tapi tak ada yang mau kembali ke gua. Nastiti tak berani sendirian di sana di malam hari begini.
Sunil tak menjawab pertanyaan Nastiti. Diambilnya cangkir dan melihat isinya. Lalu mendekati Dean. Diangkatnya kepala Dean sedikit agar mudah untuk memberi minum air dari cangkir.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Widuri yang ingin pergi mengambil kain alas tidur, kembali untuk mencegah tindakan Sunil.
"Air itu tak punya keajaiban. Tadi sudah diciprati, tapi Dean tetap pingsan." Widuri ngotot melarang.
"Itu kan cuma diciprati. Sekarang kita coba meminumkan air ini sedikit, mungkin saja berhasil," Sunil juga sama-sama ngotot.
"Kalau air itu beracun bagaimana?" Widuri masih punya alasan.
"Baiklah, ku coba dulu." Sunil langsung meminum habis air di cangkir batu.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Alan.
"Tidak ada. Hanya saja rasa hausku hilang," jawab Sunil.
"Ku kira rasa laparmu yang akan hilang setelah minum air itu," ejek Nastiti geli.
"Yeahh, tapi yang jelas aku tidak keracunan kan," pungkas Sunil.
Dia kembali menampung tetesan air di tembok. Secara berangsur, Sunil merasakan bahwa rasa sakit akibat benturan tadi perlahan berkurang.
Sunil kembali mendekati Dean. Widuri masih mencoba menghalanginya, tapi berhenti setelah menerima tatapan tajam dari Sunil. Sunil meminumkan semua air yang ada di cangkir batu. Lalu dibiarkannya Dean kembali berbaring.
__ADS_1
Sunil kembali menampung tetesan air. Selang 5 menit, diberikannya cangkir pada Alan.
"Minum ini. Rasa sakit di tubuhku akibat lemparan tadi, sudah mulai berkurang." Sunil mendekatkan cangkir ke mulut Alan sambil mengangguk.
'Tak ada salahnya mencoba, toh Sunil juga tampak baik-baik saja tanpa gejala keracunan' pikir Alan. Air di cangkir itu langsung diminum Alan hingga habis.
"Kau kembalilah untuk istirahat, biar ku temani Widuri menunggu Dean sadar," saran Sunil pada Alan.
Alan mengangguk dan dipapah Dewi untuk kembali ke gua. Nastiti mengikuti dari belakang.
"Aku ambilkan kain dulu untuk alas Dean berbaring." Widuri bangkit dan mengikuti di belakang Nastiti.
Tinggal Sunil sendiri yang menemani Dean. Ditampungnya lagi tetesan air dari tembok. Sunil ingin mencoba lagi untuk memastikan rasa dan manfaat air itu. Menurut Sunil rasanya tak seperti air putih biasa, namun ada kehangatan yang menjalar membuat tubuhnya terasa nyaman setelah meminumnya.
"Ughh...!"
Terdengar suara Dean mengeluh. Sunil segera menghampiri.
"Dean, kau sudah sadar? Apa yang kau rasakan? Apa yang terjadi tadi?"
Berondongan pertanyaan Sunil masih belum membuat Dean sadar. Kelopak matanya masih tertutup rapat namun bisa dilihat bahwa bola matanya bergerak ke kanan kiri dan bergetar. Kening dan alis Dean mengerut seperti mengalami sesuatu. Sunil menuang sedikit air dingin ke tangannya dan diusapkan ke wajah Dean. Usaha Sunil sedikit membuahkan hasil. Kerutan kening dan gerakan liar bola mata Dean mulai berkurang. Tampaknya air sedingin air es itu membuat Dean nyaman.
"Dean, apa kau mendengarku? Bangunlah dari mimpimu. Semua orang khawatir." Sunil kembali mengusapkan air di wajah Dean.
"Bagaimana keadaannya?"
Widuri sudah kembali dengan beberapa pashmina dan juga coat panjang Dean. Sunil membantu membalik tubuh Dean agar Widuri bisa memasang alas di bawah punggung Dean. Ekspresi wajah Dean kini sudah tenang. Sunil kembali menampung air di cangkir.
"Aahhh.." Dean mengeluh pelan.
Tampak bayangan samar di depannya dan suara memanggil.
"Dean. Kau sudah sadar. Syukurlah," Widuri memeluk Dean tanpa sadar.
Dean mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menghilangkan kabut yang menghalangi pandangannya. Sunil tersenyum mendekat, membawa cangkir batu itu lagi.
"Biarkan dia duduk dan minum sedikit lagi." Sunil menyentuh pundak Widuri yang masih telungkup memeluk Dean di lantai.
"Hah?! Ah, iya.."
Widuri tersadar dan segera bangun. Wajahnya memerah karena malu. 'Apa yang ku lakukan? Bodoh, memalukan!" rutuknya dalam hati.
Sunil mengangkat kepala Dean sedikit dan mendekatkan cangkir ke mulut Dean.
"Minum dulu, biar terasa segar."
Dean menurut untuk minum. Pandangannya masih buram dan tubuhnya belum bisa digerakkan.
Setelah memberi minum, Dean kembali dibaringkan. Sunil berdiri ingin menampung air lagi.
"Siapa kalian?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Dean benar-benar membuat kedua temannya terlonjak kaget dan menatapnya dengan aneh. Lalu Sunil dan Widuri saling memandang bingung. Rasa takut mulai merasuki hati keduanya.
"Apakah roh orang mati itu merasukinya?" bisik Widuri pada Sunil yang kini ada di dekat Widuri untuk mengantisipasi segala kemungkinan.
__ADS_1
***