
Sore hari, Dokter Chandra memeriksa pekerjaan Aslan di gua. Dilihatnya pria muda itu duduk bersila di lantai gua.
"Apakah ada masalah?" sapa Dokter Chandra.
Aslan menoleh ke belakang. "Tidak, Kek. Semua sudah selesai," sahutnya.
"Lalu kenapa kau duduk terdiam di situ?" tanya Dokter Chandra.
"Aku sedang membayangkan dunia seperti apa itu," katanya.
"Nanti kau bisa ke sana. Tapi tidak sekarang. Kau adalah penjaga dunia ini saat kami pergi," ujar Dokter Chandra.
"Tempat ini akan sangat sunyi saat kalian tak ada," Aslan menunduk sedih.
"Kau bisa sesekali kembali ke pulau itu, asal tidak melupakan tanggung jawabmu di sini. Sebagai cucuku, kau adalah penerus tempat ini!"
Dokter Chandra mengingatkan.
"Iya, Kek. Aku paham." Angguk pria muda itu.
"Sudah sore. Mari kita berkumpul dengan yang lainnya," ajak Dokter Chandra.
Satu pintu yang diatur untuk ditempatkan di Indonesia sebagai jalur kembali, disimpan Dokter Chandra. Satu pintu lagi dibawanya serta.
Aslan tak menanyakan alasan pintu itu dibawa. Sangat mungkin itu akan diletakkan di tempat lain. Jadi dia mengikuti saja dari belakang.
Di rumah panggung, semua mata melihat pintu yang dibawa terbang oleh Dokter Chandra. Mereka yakin, itulah pintu menuju ke Indonesia yang sudah diatur Aslan.
Pintu itu disandarkan di dinding, sebelah tangga naik ke lantai dua. Kemudian Dokter Chandra ikut duduk bersama yang lain, mengelilingi meja makan.
"Pintu untuk pulang sudah siap!" kata Dokter Chandra.
"Akhirnya, hari ini tiba juga!" ujar Robert. Dari nada suaranya, sulit menebak isi hatinya.
"Kita terlalu lama di alam liar. Jadi terasa aneh, menyebut tempat itu sebagai tempat untuk pulang!" ujar Dean jujur.
Robert menatapnya tak percaya. Tak disangkanya Dean dapat mengatakan hal itu dengan mudahnya. Tapi dia ikut mengangguk setuju, karena hatinya kini merasakan hal yang sama.
"Yah ... seperti tarzan yang harus kembali ke kota!" Marianne terkekeh geli.
"Tepat!" sambung Robert.
"Aku membayangkan kalian kebingungan di sana dan mengalami gegar budaya. Hahahaha...."
Tawa Marianne pecah. Yang lain tersenyum kecut mendengarnya. Tapi tidak Dokter Chandra.
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan kata kalian? Apa kau tak ingin kembali?" tanya Dokter Chandra.
"Tidak terlalu. Aku sangat suka di sini. Dunia kecil yang damai. Tapi, jika memang kalian berhasil kembali dan meletakkan pintu teleportasi dengan aman, maka aku akan bersedia pergi ke sana, sekedar jalan-jalan," ujarnya santai.
"Nenek tidak pergi?" Mata Aslan terlihat senang.
"Lihat ... cucuku lebih senang aku di sini. Kalian tolong bawakan banyak benang bagus untukku saat kembali. Itu sudah cukup!" ujarnya dengan senyuman di wajah.
Namun Widuri memahami kata-kata Marianne secara berbeda. "Apakah perjalanan ini akan benar-benar berhasil dan tanpa ada masalah di sana?" tanya Widuri.
"Perjalanannya mungkin bisa kita lalui dengan baik. Tapi keadaan di sana ... itu tidak dapat diprediksi!" Dokter Chandra menjawab dengan jujur.
"Karena aku sedang hamil, kukira aku boleh memilih tetap tinggal di sini dulu, kan?" harap Widuri.
"Kau ingin tinggal?" Dean ingin memastikan pendengarannya.
"Ya, sampai perjalanan kalian aman dan tidak ada penahanan dan sebagainya, seperti saat terakhir kali kalian pergi!" ujarnya tajam.
"Widuri benar. Aku juga memilih tinggal. Ini untuk keamanan bayi-bayi kami!" Niken nimbrung dalam pembicaraan.
"Sayang!" Indra terkejut dengan keputusan Niken.
Dokter Chandra terdiam. Dia sedang menimbang-nimbang berbagai hal. Tadinya dia pikir semua orang bisa langsung berangkat. Para wanita bisa disembunyikan. Tapi, jika mereka ingin tinggal demi menjaga bayi-bayi itu, itu juga bukanlah hal yang salah. Hanya saja dia harus membuat pengaturan lain untuk menjaga kedua wanita hamil di tim ini.
"Baiklah. Kalian bisa tinggal. Ada Marianne yang bisa menjaga. Juga ada Aslan. Jika ada hal-hal darurat, kalian bisa minta tolong Kakek Kang," Dokter Chandra.
"Ah, saudara Kang," sapa Dokter Chandra ramah.
Kakek Kang bergabung di meja makan. Marianne menghidangkan segelas air jus untuknya.
"Ada apa?" tanyanya lagi, setelah menyesap minuman yang disuguhkan.
"Pintu teleportasi untuk ke tempat asal kami, sudah diatur. Besok kami berangkat ke sana. Tapi para wanita ini memilih tinggal. Karena memikirkan keselamatan bayi-bayi mereka!" jelas Dokter Chandra.
Kakek Kang mengangguk. Lalu masalahnya apa?" tanyanya heran.
"Yang tinggal di sini tinggal Marianne dan Aslan. Kubilang jika ada sesuatu mendesak saat kami tak ada, mereka sebaiknya minta pertolongan padamu!" jelasnya lagi.
"Tak masalah. Aku bisa mampir melihat ke sini sesekali." Kakek Kang menanggapi ucapan Dokter Chandra.
"Terima kasih," ujar Dokter Chandra.
"Apakah itu pintu menuju duniamu?" tunjuknya ke arah pintu dekat tangga.
"Ya. Sengaja kutarih di sini, agar tak terjadi persimpangan seperti saat kami tersasar ke tempatmu!" bener Dokter Chandra.
__ADS_1
Kakek Kang berjalan ke pintu teleportasi itu. "Aku ingin melihat dunia kalian!" katanya.
Orang- orang itu jelas sangat terkejut. Apa lagi melihat kepala Kakek Kang menghilang di pintu teleportasi, sementara kakinya masih di lantai.
"Apa yang dilaikukannya!" seru Niken. Tapi para pria itu menenangkannya.
"Tidak apa. Tunggu saja," ujar Indra.
Tak sampai lima menit. Kakek Kang kembali. Wajahnya tersenyum puas.
"Dunia yang luar biasa berisik! Sangat ramai dengan manusia yang berlarian ke sana-kemari!" komentarnya.
"Kau melihatnya?" tanya Indra tak percaya.
Kakek Kang mengangguk. "Ya!"
"Itu di mana?" tanya Niken penasaran.
"Aku tidak tau itu di mana. Rasanya aku belum pernah ke dunia itu," jawab Kakek Kang.
"Setidaknya sudah sampai di dunia yang sama. Kita tinggal cari cara untuk pulang ke Indonesia!" celetuk Sunil.
"Nah ... kemungkinan berhasil sudah sembilan puluh persen! Tinggal memastikan kita muncul di negara apa dan tanggal berapa!" kata Robert.
"Yah ... semoga yang sekali ini lebih mendekati!" timpal Dokter Chandra.
"Memangnya sepenting itukah eaktu tiba kalian?" tanya Kakek Kang heran.
"Ya! Dunia di jaman kami, sangat teratur. Segala sesuatu harus ada penjelasan logisnya. Atau mereka akan curiga dan mengira kita gila. Yang lebih buruk dari itu adalah, kita dijadikan obyek penelitian!" Beber Dokter Chandra.
"Kami pernah mengalaminya. terjebak berbulan-bulan di dunia Aslan, sebelum akhirnya sadar dan melarikan diri dari pusat riset itu!" Robert menambahkan.
"Mengerikan sekali!" guman Kakek Kang.
"Tapi, apa kalian tidak bisa hanya menemui keluarga saja? Keluarga tentu tidak banyak pertanyaan. Seperti aku yang baru bertemu Kang setelah ratusan tahun. Aku menceritakan pengalamanku terjebak di dunia itu. Dia langsung percaya. Setelah kutunjukkan tempatnya, dia mendapatkan bukti bahwa aku tidak berbohong." Kakek Kang menceritakan pengalamannya.
Mereka saling berpandangan. "Itu benar. Kita hubungi dulu keluarga kita. Ceritakan apa adanya. Bukankah gengan begitu, jadi lebih sederhana?" usul Widuri.
"Tapi dengan begitu, kita tak bisa kembali ke publik. Dean tak bisa kembali bekerja di hotel. Aku juga tak mungkin lagi bekerja sebagai dokter di sana!" bantah Dokter Chandra.
"Semua diam. Dokter Chandra juga ada benarnya. Tapi Widuri juga tidak salah. Setiap pilihan, memiliki kesulitan dan konsekwensinya sendiri.
"Kita pikirkan dulu malam ini. Ini sangat memusingkan!" Dokter Chandra berjalan pulang ke rumahnya.
Ruangan itu hening seketika.
__ADS_1
********