
"Indra, ke sini," panggil dokter Chandra.
"Ya?" Indra berjalan mendekat.
"Tak ada pria lain lagi di sini. Apa kau bersedia mensmpung jiwa Z?" tanya dokter Chandra.
"Secepat itu?" celetuk Niken tanpa sadar.
"Karena Alan ingin dimakamkan di sini. Kita harus kabulkan permintaannya," jelas dokter Chandra sabar.
"Oh? Baiklah ...." Indra mengangguk.
"Ini akan sedikit menyakitkan. Tapi, kami akan merawatmu. Kau siap?" tanya dokter Chandra lagi. Indra kembali mengangguk. Dia sudah siap sekarang.
Dokter Chandra meminjam pisau besar Robert. Lalu menggores ujung jari Indra dengan pisau itu. Darah yang mengucur, diteteskan pada dahi Alan. Setelah menunggu agak lama, baru terlihat cahaya merah keluar dari seluruh tubuh Alan dan menyelubungi Indra. Membawanya melayang. Terdengar jeritan Indra setiap kali aliran petir menyambar.
Niken melihat itu dengan tubuh bergetar. Dia bisa bayangkan bagaimana sakitnya mendapat setruman sekuat itu.
"Apakah dia akan mati?" lirihnya.
"Kita akan merawatnya, jangan khawatir," bujuk Widuri.
"Tapi, Alan saja tak sanggup menahan tambahan kekuatan petir. Bagaimana Indra bisa bertahan?" rintih Niken tergugu. Marianne memeluk dan menenangkannya.
Setelah setengah jam yang mendebarkan, cahaya merah itu lenyap sepenuhnya. Tubuh Indra yang kehilangan tenaga, jatuh dengan deras ke hamparan batu.
"Aaaaaaa," pekik Niken tertahan. Tangannya menutup mulut dan matanya melihat dengan ngeri.
Dokter Chandra segera meraih tubuh Indra sebelum membentur bebatuan. Dan Dean dengan cepat mengeluarkan lempengan batu lain, sebagai pembaringan Indra.
Dean langsung meminumkan air abadi ke mulut Indra. Syukur air itu berhasil masuk ke tenggorokannya. Berikutnya, seluruh tubuhnya disirami hingga benar-benar basah.
Niken masih menangis di pelukan Marianne. Dia tak sanggup melihat keadaan Indra yang seperti itu.
"Robert, jika kau mengenali tempat ini, mungkinkah kau bisa mencarikan tempat yang baik untuk memakamkan Alan?" tanya dokter Chandra.
"Yah, sebaiknya tidak di sini. Harus sedikit ke arah atas, agar aman dari luapan air saat salju mencair," jawab Robert.
"Mari kita cari," ajak dokter Chandra.
Keduanya melihat berkeliling, mencari tempat mana yang cukup bagus untuk dijadikan makam bagi Alan.
"Bagaimana jika di sana?" tunjuk Robert ke arah bukit kecil di seberang sungai. Dokter Chandra mengamati bukit kecil itu. Lalu mengangguk setuju.
Keduanya terbang ke seberang, dan melihat-lihat lokasinya.
"Pemandangan di sini, sangat indah. Alan akan menyukainya. Mari kita segerakan. Katakan pada mereka untuk membereskan urusan Alan lebih dulu. Setelah itu, kita bisa mencari tempat istirahat dan merawat Indra."
Penguasa telah memberikan instruksinya. Robert mengangguk dan terbang kembali ke seberang sungai, di mana teman-temannya masih berkumpul. Disampaikannya pesan Penguasa pada anggota tim lainnya. Mereka mengangguk mengerti.
Niken mendatangi jasad Alan.
__ADS_1
"Aku mengucapkan selamat jalan untukmu. Dan terima kasih sudah berkorban, agar kami bisa pulang. Kami akan selalu mengenang semua kebaikanmu. Berbahagialah di sana, oke."
Niken terduduk di sisi Alan. Hatinya amat sedih. teman terbaik yang selalu berbagi celoteh dan berdebat itu sudah tak ada lagi.
"Tim ini takkan sama lagi tanpamu," bisiknya lirih.
"Sudah?" tanya Sunil. Dilepasnya kalung Alan dan dibawanya. "Ayo ikut aku," ajaknya pada Niken.
Niken mengikuti Sunil ke tempat Indra berbaring. Kalung yang diambil tadi, dipasangkan pada leher Indra yang mulai pulih.
'Kau jagalah dia sebentar di sini. Kami akan memakamkan Alan di sana," pesan Sunil.
"Ya." Niken mengangguk patuh.
Tubuh Alan telah dibawa Dean terbang ke seberang sungai. Widuri dan Marianne juga sudah ada di sana. Mereka mengelilingi lubang yang sudah disiapkan Penguasa. Perlahan-lahan, tubuh Alan diturunkan ke dalam lubang.
"Selamat jalan sahabatku," desis Widuri lirih.
Pemakaman yang sederhana dan berlangsung cepat. Mereka memberi tanda bongkahan batu besar dan diukir dengan nama:
Alan the Hero
*
*
Semangat tim menurun setelah pemakaman Alan. Mereka lebih sedih lagi melihat Indra masih tergeletak tak berdaya. Tapi, hari mulai sore. Mereka harus segera melanjutkan perjalanan.
Setelah menembus hutan sejauh lebih dari satu kilometer, akhirnya mereka bisa melihat kabin dari kayu tak jauh dari kaki bukit.
"Itu kabinnya," kata Robert bersemangat.
Dia setengah berlari tak sabar menuju kabin itu. Kemudian menaiki tangga dan teras kecil dengan bangku gantung di sudutnya. Hatinya dipenuhi haru.
"Akhirnya aku pulang," batinnya bahagia.
"Ini kabinmu?" tanya Dean.
"Ya, ku kira waktu itu sudah ku katakan bahwa aku suka alam. Dan lihat itu, kotak-kotak madu peliharaanku. Kita bisa menikmati sedikit minuman manis di sini. Dan di sebelah sana, istriku .... Ah, sekarang mantan istri, tentu saja. Dia menanam banyak jenis bunga untuk menghidupi para lebah madu.
"Ya, aku ingat ketika kau mengajari kami membuat lilin dari beeswax," timpal dokter Chandra.
"Betul. Awalnya kami tinggal di Oregon. Itu sebabnya kami membuat kabin ini. Tapi, tugas mendamparkan kami di DC. Namun kabin ini tetap dipertahankan untuk sarana liburan."
"Ah, aku menemukan kuncinya." Robert menunjukkan kunci di tangan. Dia langsung membuka pintu.
"Honey, i'm home ...."
Suara Robert menggantung di udara. Semuanya terdiam, hening.
Sepertinya Robert lupa dia sudah bercerai. Pasti kabin ini penuh dengan kenangan. Itu sebabnya dia dengan cepat merasa familier dengan hutan di tepi sungai tadi.
__ADS_1
"Pura" tidak dengar saja," perintah dokter Chandra.
Dean segera mengeluarkan Widuri dan Cloudy. Sunil melesat cepat ke arah kotak-kotak madu. Dokter Chandra memperhatikannya sambil tersenyum.
"Hati-hati disengat tawon!" seru dokter Chandra.
Robert yang awalnya merasa kikuk, menjadi lega, karena ternyata teman-temannya tidak memperhatikan kebodohannya. Dilihatnya Dean mendorong Widuri di bangku gantung. Widuri terpekik kecil dengan gembira.
Robert masuk ke belakang dan memasak air di teko. Teh bunga hangat ditambah madu sangatlah pas. Diraihnya toples bunga kering di dinding. Diciumnya aroma khas yang sangat dirindukannya. Itu aroma rumah. Ditambahkannya kulit jeruk kering dan madu dalam air di teko.
"Biasanya Dia suka menyimpan biscotti di toples, di dalam kulkas," pikir Robert.
Dia berjalan ke arah kulkas kecil di bawah meja. Membuka dan memeriksa isinya. Dan Robert memang menemukannya.
"Thanks Honey," gumamnya.
Kue kering lezat itu dituangnya di piring. Segera teko yang sudah mendidih itu dituangkan isinya ke dalam cangkir-csngkir kecil. Dengan bahagia, diangkatnya nampan ke ruang depan. Suara teman-temannya riang di halaman.
"Minum teh dulu. Ini sangat lezat," panggilnya.
"Menyenangkan sekali. Rasanya seperti di rumah," puji Marianne.
"Kau terlalu menyanjungku. Cobalah ini. Istriku biasa membuatnya sendiri setiap kali akan berkunjung ke sini."
Robert bicara tanpa sadar, sambil mengulurkan piring kecil berisi kue kering.
Tapi tak ada yg mempedulikan kesalahan ucapannya itu. Biarkan saja. Ini adalah momen bahagia untuk semua orang.
"Hemmm ... teh yang harum dan kue yang lezat memang paling pas dinikmati sore hari. Terima kasih, Robert," ungkap Marianne apa adanya.
Dia sangat menikmati momen itu. Sudah sangat lama sejak dia menikmati teh dengan biskuit di sore hari.
"Di mana Niken? Biar dia juga bisa menikmati teh sore," tanya Widuri.
"Ah, aku lupa," sahut Sunil.
Niken segera dikeluarkan dan bergabung bersama yang lain. Kemudian Indra dibaringkan di ranjang satu-satunya yang ada di kabin. Dia masih belum sadarkan diri. Tapi kondisinya stabil. Jadi Sunil membiarkannya beristirahat di sana.
Malam itu mereka merasa sangat lega. Rasa kembali ke rumah itu memang tak bisa ditandingi oleh perasaan apapun.
"Jadi, bagaimana rencana selanjutnya?" tanya dokter Chandra.
"Besok pagi, kita turun ke bawah dan melapor pada petugas atau walikota. Nanti mereka yang akan mengurus dan menghubungi negara masing-masing. Mudah kan?" ujar Robert sambil tersenyum lebar.
Dean dan yang lain, memandangnya heran.
"Bagaimana kita mau menceritakannya?" tanya Widuri.
"Pesawat kita berangkat dari Jakarta menuju Singapura, lalu kita muncul di tepi sungai, di Oregon, Amerika Serikat?" Niken mengerjap-ngerjapkan matanya dengan jenaka.
*******
__ADS_1