PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 388. Ke Kota Pelabuhan di Pulau Tahanan


__ADS_3

"Pantas kau tak terlalu khawatir akan ada yang mendatangi tempatmu!" komentar Robert.


Jalur keluar pintu teleportasi itu berada di ketinggian. Kang Tua langsung terjatuh saat keluar dari lorong teleportasi. Tapi dia segera merubah bentuknya menjadi naga, agar tak jatuh ke laut.


"Kita berada di laut asin!" Dean menunjuk hamparan pohon kelapa di pantai berpasir.


"Jadi, mau kemana dulu?" tanya Sunil.


"Kita ke tempat Kang lebih dulu!" putus Dean.


"Terima kasih, anak muda. Kau sangat bijak. Tunjukkan padaku tempatnya!" ujar Kang Tua senang.


Keempatnya melesat melintasi hutan lebat yang masih terasa misterius dan belum terjelajahi seluruhnya.


Mereka melintasi kubah cahaya Kota Mati.


"Tunggu!" Kang Tua berhenti di atas kubah itu.


"Ini penjara yang kubuat waktu itu!" ujar Naga Tua.


"Jadi benar, musuhmu itu yang membunuh saudariku dan penduduk kota ini!" ujar Dean.


Kang Tua tak memilih untuk tidak mengatakan apapun. Karena apapun yang diucapkannya, tak kan bisa mengembalikan yang sudah hilang.


"Aku bisa menyingkirkan kubah ini," tawarnya.


"Itu harus dibicarakan dengan para penghuni di dalamnya," kata Dean.


"Apakah sekarang ada penghuni lain di dalam situ?" tanyanya heran.


"Ya. Putra dari saudariku dan beberapa teman kami, tinggal di Kota Mati!" jelas Dean.


"Nanti kami bawa Anda bertemu mereka. Sekarang kita ke tempat Kang." Robert menegaskan tujuan pertama mereka.


"Yah, baiklah." Naga tua itu mengangguk.


Mereka kembali terbang melintasi hutan lebat. Melewati pohon apel hutan yang berbuah lebat. Dean memetik cukup banyak apel matang sambil melewatinya. Akhirnya mereka sampai di atas kubah tempat tinggal Kang.


"Dia juga tinggal di dalam kubah?" Naga tua itu tak percaya.


"Ratusan tahun dia terkurung tanpa bisa keluar. Aku tersesat masuk ke sini dan jadi teman satu-satunya setelah sekian lama!" kata Robert.


Naga Tua itu bersedih dengan nasib cucunya. "Lalu bagaimana kita masuk?" tanyanya.


"Aku menemukan celahnya!" seru Dean. Dia menjulurkan kepalanya, melihat situasi di bawah sana.


"Sepi sekali! Mari kita masuk dan berikan kejutan untuk mereka!" ajaknya.

__ADS_1


Satu persatu mereka turun melalui celah di atas kubah raksasa itu. Terlihat hamparan gandum menguning dan jejeran pohon mapel di belakangnya.


Robert terbang lebih dulu ke arah rumah Kang sambil berteriak! " Kang ... aku kembali!"


Dean, Sunil dan Kang Tua juga tiba. Tapi rumah itu sunyi.


"Mungkinkah dia sedang pergi ke kota atau ke tempat Laras?" duga Sunil.


"Kita cari dulu!"


Robert terbang lagi menuju lembah. Ladang soba di bawah sana masih menghijau. Kang juga tak terlihat di sana.


"Kuil!" ujar Robert lagi. Dia terbang ke arah kuil yang juga berada di dalam satu kubah lagi.


"Kubah di dalam kubah!" guman Kang Tua.


Mata tuanya memandang dengan lekat ke arah kuil. Ada kenangan masa silam yang melintasi matanya, seperti gambaran film.


Dia membuat gerakan tangan yang tak dimengerti Robert, Dean dan Sunil. Namun berhasil menghilangkan kubah yang menutupi kompleks kuil itu.


Robert terpana. Sebelumnya, kompleks ini hanya bisa dimasuki lewat ruang bawah tanah. Sekarang mereka bisa masuk dengan bebas.


"Bagaimana Anda melakukannya?" tanya Sunil.


"Aku yang mengajari putraku jurus ini untuk melindungi diri. Tentu saja aku juga punya cara untuk mematahkannya!" jawabnya kalem.


Mereka melangkah masuk ke halaman depan kuil. Robert terbang memasuki celah atap di samping kompleks makam.


Robert sudah sampai di ruang bawah tanah itu. Tempat itu sunyi. Dibukanya pintu-pintu kamar, kosong! Robert naik lagi ke atas.


"Di bawah kosong!" lapornya.


"Jika dia tak ada di rumah, tak ada di sini dan diladang, maka kemungkinan besar dia pergi ke Kota Mati atau ke pasar bersama Nastiti!" simpul Sunil.


"Jadi, apakah kita akan pergi dulu atau menunggu saja?" tanya Dean.


"Tunggu dulu. Kang Tua sedang masuk ke dalam kompleks makam!" tunjuk Robert ke arah undakan batu di antara dua ruangan kuil. Undakan batu itu menjadi gerbang menuju kompleks makam kaisar dan keluarganya yang berada di belakang.


Tiga orang itu duduk-duduk di pelataran kuil. Robert teringat, dia kerap berbaring di sini bersama Kang, melihat hujan dan kabut merah magenta mengelilingi seluruh areal.


Dulu Kang takut pada kabut itu, pasti karena penjelasan ayahnya. Belakangan terbukti bahwa kabut itu memang berbahaya dan dapat menimbulkan luka bakar. Tapi satu hal sudah jelas. Kabut magenta itu bukanlah fenomena alam. Melainkan ulah Vivian dan kelompoknya.


"Tempat yang sangat tenang," Celetuk Sunil.


Suara burung bernyanyi di dahan-dahan tinggi. Ada juga kupu-kupu yang datang berbondong-bondong ke kompleks makam.


"Kenapa banyak kupu-kupu ke sini?" tanya Dean heran.

__ADS_1


"Dugaanku...."


Robert terbang ke samping kuil. Dia melihat kompleks makam, dari bagian samping, karena ingat pesan Kang, bahwa dia tak boleh memasuki kompleks makam.


"Apa dugaanmu?" tanya Sunil.


"Cherry blossom!" tunjuk Robert ke arah kompleks makam yang dipenuhi bunga cherry putih dan pink yang sedang berbunga.


"Indah sekali!" Dean berdecak kagum.


"Dan kupu-kupu itu tertarik pada bunga cherry!" imbuh Sunil.


"Dari cerita Kang, Kakeknya yang membangun kompleks pemakaman dan kuil ini!" jelas Robert.


"Hasil kerja Naga Tua itu?" Sunil ingin tak percaya, tapi jika Kang mengatakan begitu, artinya ya memanglah seperti itu.


"Apa dia belum kembali?" Kang Tua datang menghampiri.


"Belum terlihat di sini. Bagaimana jika kita tunggu di rumahnya saja?" usul Robert.


"Ayo!" Kang Tua terbang lebih fulu ke arah rumah yang mereka simggahi sebelumnya.


"Begini saja. Kalian berdua tunggu di sini. Kami akan ke Kota Mati menyapa Liam dan Laras. Bagaimana?" tanya Dean.


"Pergilah. Biar kami berdua menunggu di sini!" Naga Tua itu mengangguk setuju.


"Oke. Kami pergi dulu!" Dean dan Sunil terbang keluar kubah itu. Mereka melesat cepat ke arah Kota Mati.


"Ini pintunya!" Sunil menemukan celah pintu kubah itu lebih dulu. Dua orang itu masuk dan disuguhi pemandangan menakjubkan.


Kota Mati yang dulu gersang, sekarang sudah menghijau. Hamparan tanah keras dari pinggiran kubah itu, sekarang sudah dipenuhi beraneka tanaman sayur dan bunga-bunga.


"Wow.... Julukan Kota Mati sudah tak pantas lagi disematkan!" lirih Sunil.


Keduanya menyusuri jalan setapak yang dibuat menuju ke pintu gerbang kompleks perumahan kota kecil itu.


"Kenapa aku tak melihat seorang pun di sini?" Kata Dean heran.


"Tak mungkin kebetulan Kang dan Nastiti tak ada. Lalu Yabie, Laras, Liam dan yang lain juga tak ada," gumamnya heran.


Sunil melesat cepat ke arah rumah Laras dan Liam. "Laras, Liam! Kami datang!" panggilnya.


Tak ada suara sahutan. Dean memeriksa himgga ke kandang ternak di belakang. Lalu mengelilingi seluruh kota itu.


"Benar-benar tak ada siapapun di sini!" kata Dean lewat pesan transmisi.


"Jadi bagaimana?" Sunil terbang mendekati Dean yang sudah melayang di tengah kota.

__ADS_1


"Kita harus ke kediaman Ketua Kota. Aku khawatir terjadi sesuatu di pulau ini, sepeninggal kita!" ujar Dean. Dia langsung melesat cepat ke pintu keluar. Sunil mengikuti dari belakang. Dia ikut khawatir sekarang.


********


__ADS_2