
Pagi itu di kota di tengah gurun.
Leon telah mendaftarkan diri untuk ikut dalam rombongan kafilah sejak kemarin sore. Dia juga telah membayar biaya pengawalan. Tadi malam dia masih tidur bersama pedagang lain di dekat tembok kota.
Leon juga membeli cukup logistik untuknya dan Jane. Membeli beberapa barang penjual lain untuk dijualnya di kota tujuan, nanti. Dia hanya memiliki sedikit uang sekarang.
Leon sangat berharap, dia bisa mendapat informasi tentana teman-temannya, ataupun tentang dunia lain. Itulah tujuan utamanya melakukan perjalanan jauh ini.
Fajar menyingsing. Penjaga gerbang mulai menggeser pintu besar itu. Perlahan-lahan rombongan pedagang keluar dari gerbang kota.
Leon dan Jane juga sudah siap. Kuda mereka sudah cukup istirahat, makan dan minum. Leon juga mengambil persediaan air untuknya dan Jane. Juga untuk minum kuda dari air pancuran di tengah kota.
Tepat di sisi kiri gerbang, berbaris gerobak yang mengikuti kafilah dagang kali ini. Para pengawal berkuda juga sudah bersiap. Leon membawa gerobaknya untuk bergabung dalam kelompok itu.
"Sampai jumpa lagi, Leon. Semoga kau berhasil di sana. Aku ingin mendengarkan kisahmu nanti!" Pak tua itu menyampaikan salam perpisahan pada Leon dan Jane.
"Sampai jumpa lagi, paman." Leon dan Jane melambaikan tangan pada teman-teman pedagang itu.
Setelah seluruh pedagang yang mendaftar berkumpul, kafilah itu memulai perjalanan panjang mereka.
Kafilah itu tidak bisa berjalan lebih cepat. Karena gerobak-gerobak itu penuh dengan barang. Kecuali gerobak Leon yang tak memiliki banyak barang untuk dijual. Dia menghabiskan hampir setengah uangnya hanya untuk membeli kuda. jadi tak ada cukup barang di gerobak. selain tumpukan logistik, jerami dan air, untuk bekal perjalanan.
*
*
Hingga malam menjelang, perjalanan itu sangat aman. Kafilah itu berhenti di sebuah oase kecil. Menurut kepala pengawal, daerah ini cukup aman. Tapi perjalanan akan lebih sulit esok hari, apa lagi saat malamnya.
Jadi mereka mengambil istirahat yang cukup untuk perjalanan esok hari.
"Leon." Panggil Jane. Dia tidur setelah menggeser beberapa barang di gerobak. Tubuhnya ditutupi kain dengan rapat.
"Hemmm?" jawab Leon yang tidur di sampingnya, ditempat dia duduk untuk mengatur kuda.
"Bukankah barang-barang kita hanya sedikit? Bagaimana kita bisa membeli cukup barang untuk dibawa kembali?" tanya Jane heran.
"Kita bisa menetap di sana untuk sementara dan mencoba peruntungan baru. Jika lain waktu ada kafilah dagang lagi yang ke sana, kita bisa ikut untuk kembali ke sini, jika kau mau," jawab Leon.
Jane cukup terkejut mendengar penjelasan Leon.
"Jika begitu, bukankah kita akan meninggalkan rumah kita?" kata Jane.
"Apa kau menyesal sekarang?" Leon balik bertanya.
Jane diam cukup lama memikirkan jawabannya.
"Tidak!" jawabnya singkat.
"Aku tak mau tinggal di sana tanpamu," ujar Jane jujur.
Kali ini Leon yang terkejut.
'Apa maksud wanita ini?' pikir Leon. Tapi tanpa disadarinya, bibirnya menarik garis senyum.
__ADS_1
"Istirahatlah," ujar Leon, menutup pembicaraan mereka malam itu.
*
*
Saat cahaya pertama muncul di langit, rombongan itu sudah memulai geliatnya. Semua orang menyelesaikan hajat dan keperluannya. Tak ada istirahat siang ini, karena mereka harus mencapai area aman sebelum malam.
Jadi Jane dan Leon pagi itu sudah menyiapkan bekal untuk dimakan sambil jalan. Kuda juga sudah diberi istirahat, air dan makan yang cukup tadi malam. Mereka sudah siap untuk melanjutkan perjalanan.
Kafilah itu melewati pagi di area berpasir. Kemudian memasuki area keras berbatu. Gerobak harus berjalan lebih lambat agar tidak menginjak tanah yang berlubang dan tak rata.
Leon memilih turun, untuk membersihkan jalan yang akan dilalui gerobak tuanya. Itu membuatnya sedikit tertinggal. Tapi tidak sampai terlalu jauh. Seorang pengawal bolak-balik memarahinya karena menghambat laju kafilah.
Tapi, sebelum Leon menjawab, di depan sana, satu gerobak sudah tumbang. Itu takkan mungkin bisa jalan lagi tanpa tukang berpengalaman. As rodanya patah. Membuat semua isi di atasnya jatuh memenuhi jalan. Beberapa gerobak di belakangnya jadi terhambat.
Gerobak Leon akhirnya menyusul kafilah itu. Mereka masih membantu pemilik gerobak untuk membawakan barang-barang dagangannya. Tentu dengan sejumlah bayaran. Tapi masih ada barang-barang tersisa. Dia menghampiri Leon, meminta izin menitipkan barang, dengan bayaran.
Leon ragu. Dia butuh uang sewa itu. Tapi gerobaknya sudah tua, dan sangat tidak mungkin membawa beban berat.
Leon mengatakan keadaan yang sebenarnya. Akhirnya hanya beberapa barang yang ditempatkan di gerobak Leon. Sisa lainnya diikatkan pada kuda masing-masing penjaga. Sementara pedagang itu, menaiki kudanya untuk mengikuti kafilah itu.
Rombongan itu kembali berjalan. Lebih hat-hati dari sebelumnya. Rusaknya gerobak tadi, jadi pengalaman berharga bagi semuanya.
Hingga sore menjelang, mereka masih belum mencapai area istirahat yang dimaksud para pengawal. Dan itu membuat mereka sangat khawatir.
Lewat senja, tampaklah dikejauhan beberapa tenda telah berdiri. Beberapa kuda, gerobak, serta kereta penumpang juga ada di sana.
Kafilah Leon makin mendekat ke arah sana dengan terseok-seok. Kuda-kuda mereka sudah sangat lelah dan butuh istirahat.
Jane menyadari bahwa Leon sangat kelelahan. Dia banyak berjalan untuk menyingkirkan batu dan meringankan beban kudanya.
Jane turun, mengambil jerami dan air untuk kuda. Lalu dia membuka bekal makan mereka dan menggoyang tubuh Leon yang tertidur pulas.
"Makan dulu, baru tidur."
Jane membangunkan Leon.
Leon membuka matanya yang berat. Melihat Jane sudah menyiapkan makanan dan minuman. Leon menoleh ke arah kudanya.
"Dia sudah ku beri makan dan minum. Setelah itu dia bisa beristirahat," ujar Jane, seakan tau maksud Leon.
"Kalau begitu, mari kita makan," ajak Leon.
"Menurut penjaga tadi sore, besok siang kita akan memasuki perbatasan negri itu. Setelah itu, harus menempuh perjalanan sehari lagi." Leon memberitahu Jane.
"Persediaan kita masih cukup untuk 2 hari lagi," sahut Jane.
"Hemmm... baguslah." Leon mengangguk lega.
*
*
__ADS_1
Hari sudah sangat malam. Tempat persinggahan itu telah sunyi. Semua orang sudah tidur, kecuali penjaga yang bergantian tidur dan berjaga.
Leon terbangun karena ingin buang air. Diliriknya Jane yang tidur nyenyak disebelahnya. Ditutupinya tubuh wanita itu lebih rapat dengan kain selimutnya. Udara malam di gurun, memang luar biasa dingin.
Leon turun dan berjalan cukup jauh dari rombongan. Agar tak ada yang terganggu saat dia buang hajat.
Suasana tempat itu sangat tenang. Leon menikmati kesendiriannya. Setelah selesai, dia berdiri. Dan melangkah ke arah kafilahnya.
"Ughhh... emmm... hempphh...."
Leon mendengar suara-suara aneh dari dalam sebuah gerobak yang ditutup rapat. Tak hanya itu. Gerobak itu juga bergoyang dengan hebatnya, diiringi suara-suara tertahan di dalamnya.
"Itu? Apakah itu seperti bayanganku? Di tempat seperti ini?" gumamnya heran.
Dengan menggelengkan kepala, Leon berlalu dari sana.
"Emmppphhh...."
Sesuatu yang berkilau jatuh di atas tanah berbatu. Kilauan sinar bulan terpantul dari benda itu.
'Itu gelang perempuan!' pikir Leon.
"Jangan-jangan ini penculikan dan pemerkosaan?" gumamnya cemas.
Dengan mengendap-endap Leon mendekati gerobak yang ribut dan bergoyang-goyang itu. Dia melihat ke sekitar, mengawasi apakah ada penjaga gerobak ini di sekitar.
Tempat itu sunyi. Tak ada siapapun. Mungkin pemilik gerobak merasa yakin bahwa gerobak sudah terkunci rapat.
Leon merasa ragu sejenak. Jika ketahuan, dia bisa dihukum karena mengganggu pihak lain. Gerobak ini jelas tidak termasuk dalam kafilah dagangnya. Tapi kecurigaan tadi telah memenuhi kepalanya.
Dengan hati-hati, Leon menyingkap sedikit kain penutup gerobak itu.
Leon terkejut. Itu terlihat seperti kerangkeng penjara. Apakah mereka membawa tahanan? Leon menutup lagi kain itu dan ingin berlalu. Dia tak boleh terlibat dengan urusan kriminal.
Tapi seseorang di dalam situ justru seperti sengaja menjatuhkan diri di dekat Leon membuka kain tadi.
'Apa dia melihatku membuka kain penutup itu? Apa dia minta tolong padaku?' pikir Leon ragu.
Dipungutnya gelang wanita yang tergeletak di tanah. Dia ingin mengembalikannya kepada wanita di dalam sana. Sayang sekali, wanita ini seorang tahanan.
Leon mengulurkan tangan ke dalam gerobak berjeruji itu. Dibukanya tangannya dimana gelang itu berada, untuk menunjukkan pada wanita itu. Leon membalikkan tangannya untuk menjatuhkan gelang itu di atas lantai gerobak.
Tapi sesuatu langsung menyentuh tangannya.
"Emmmppp... Hemmppphhh...."
Kembali terdengar suara dari dalam.
Leon tak tahan lagi. Rasa penasarannya lebih menguasai saat ini. Wanita di dalam jelas sedang minta pertolongan.
Disingkapkannya pelan-pelan kain penutup gerobak. Dia bisa melihat jelas bahwa itu seperti kerangkeng penjara atau sejenisnya.
Dan seorang wanita setengah duduk dengan mulut disumpal kain, tangan terikat ke belakang dan hanya mengenakan baju rumah, melotot ke arahnya.
__ADS_1
*****