
Sebuah pondok mungil dari batu, berdiri sunyi di tengah kebun sayur. Ada jalan setapak yang juga berbatu, dibingkai bunga-bunga marigold kuning orange yang cerah di sepanjang sisinya.
Tim Dean berhenti di pinggir jalan dan memandang kagum ke tengah kebun itu. Ada aneka tanaman tumbuh subur di sana. Sementara tepat di seberang jalan, tumbuh tanaman padi yang subur dan hampir terlantar.
"Permisiiiii ...."
"Halloooooo ...."
"Apa ada orang di rumah?"
Mereka bergantian memanggil penghuni rumah itu. Namun tak ada jawaban.
"Coba kita masuk ke halamannya saja. Sejauh ini, mana mungkin dia bisa mendengar," saran dokter Chandra.
"Betul. Bisa jadi juga orangnya sedang berada di kebun belakang," tambah Alan.
"Ya sudah ... ayo."
Dean melangkah menyusuri jalan setapak berbatu.
"Permisiiiii .... Apa ada orang?"
"Hallooooo ...."
Masih tak juga ada jawaban.
"Biar ku lihat ke belakang," ujar Alan.
Robert masih memanggil-manggil pemilik rumah dari depan.
"Haloooo ...."
"Anybody home?"
Sementara itu, Alan hanya menemukan kebun sayur kosong di bagian belakang. Dia mengelilingi rumah itu untuk kembali ke halaman depan.
Saat melewati sebuah jendela yang terbuka, dia mendengar suara keluhan samar-samar dari dalam rumah.
"Hallo ... apa anda ada di dalam?" tanya Alan.
Alan mendengarkan dengan seksama, tapi tak mendengar satu jawabanpun.
"Ahh, mungkin tadi cuma suara angin," gumam Alan. Dia kembali melanjutkan langkah.
Prangg!
Terdengar bunyi benda jatuh dan pecah. Alan berbalik ke arah jendela dan mengintip ke dalam. Sesosok tubuh tertelungkup di lantai dan kesulitan untuk bangkit.
"Tunggu sebentar! Kami akan menolongmu," teriak Alan. Dia kemudian berlari ke halaman depan.
"Orangnya ada di dalam. Mungkin sedang sakit," lapor Alan
__ADS_1
"Buka pintunya!" perintah Dean.
Robert mencoba memutar handel pintu, tapi tak bisa.
"Dikunci," katanya.
"Dobrak saja!" kata Alan panik.
Robert dan Sunil mengangguk. Keduanya menghantam pintu kayu itu dengan tubuh mereka. Kayu itu lumayan kuat. Namun pada hitungan ke-tiga, akhirnya berhasil didobrak.
Alan menyerbu masuk. Dia berlari ke arah ruang belakang yang tadi dilihatnya dari jendela. Benar saja. Ada sosok tubuh yang tertelungkup di situ. Kelihatannya kesulitan untuk bernafas. Alan meraih dan membalikkan tubuh orang itu, lalu membaringkannya di lantai.
"Dok, tolong periksa dia!" teriak Alan pada dokter Chandra yang masih berada di ruang depan.
Dokter Chandra dan Dean menuju ke ruangan belakang. Orang itu segera diperiksa.
"Dia demam tinggi. Nanti kita cari tau sebabnya. Tapi suhu tubuhnya harus diturunkan lebih dulu," jelas dokter Chandra.
"Coba beri dia minum dulu, biar gak dehidrasi." Dean menyodorkan secangkir air abadi pada Alan.
"Ayo, minum dulu."
Alan membantu menuangkan minuman ke mulut pria tersebut. Lalu, berdua Sunil mereka mengangkat ke atas dipan dan membaringkannya di sana.
"Coba buka saja bajunya yang sudah basah itu," kata dokter Chandra.
Alan melakukan perintah dokter Chandra. Alan sedikit terkejut melihat banyaknya bekas luka di tubuh pria itu.
Dokter Chandra memperhatikan Alan. "Bisakah kau mencari air untuk sedikit membasuh tubuhnya dengan kain basah? Fungsinya seperti kompres, agar panasnya segera turun."
Tim Dean yang lain segera keluar dan ikut istirahat. Marianne, Niken dan Widuri memandang areal kebun sayur yang luas itu dengan takjub.
"Kebun seluas ini. Apakah hanya pria itu sendiri yang menggarapnya? Menakjubkan!" kata Widuri.
"Mungkin penghuni rumah ini bukan hanya dia sendiri?" Niken berspekulasi.
"Hemm ... bisa jadi." Widuri mengangguk setuju dengan pendapat Niken.
Marianne berjongkok di dekat sebuah perdu. Sudut bibirnya tertarik ke atas otomatis.
"Akhirnya aku menemukanmu!" ujarnya senang.
"Tanaman apa itu?" tanya Niken ingin tau.
"Ini tanaman Merica. Kita sudah lama tak masak dengan bumbu merica," ujar Marianne.
"Nanti, setelah pemilik rumah ini sadar, kita coba saja minta bibitnya untuk ditanam." usul Widuri.
"Ide yang bagus!" Niken mengangkat jempolnya ke arah Widuri. Marianne tersenyum melihat dua perempuan muda di depannya.
"Jane. Kemarilah! Bergabung dengan kami di sini," panggil Niken.
__ADS_1
Jane mendatangi Ketiga wanita yang belum lama dikenalnya itu. Dia masih belum bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar yang berubah dengan cepat.
Niken meraih tangan Jane dan membawanya jalan.
"Kau pasti belum pernah berjalan di pematang atau diantara kebun sayur. Ayo, kau harus mencoba sensasinya!"
Niken menerobos rumpun tanaman dan berjalan lincah diantara bedeng sayuran. Sesekali dia melompat dan mengangkat kedua tangannya dengan riang. Jane mengikutinya sambil tersenyum simpul.
"Ayo, mari melompat-lompat dan nikmati aroma kesegaran tanah pertanian. Kau takkan menemukan tempat seindah ini di kota!" kata Niken dengan cerewetnya.
"Hei, mainnya jangan jauh-jauh!" Widuri mengingatkan.
"Kami ngebolang dulu!" sahut Niken sambil melambaikan tangannya.
*
*
Lewat tengah hari, pemilik rumah itu terbangun. Dia merasa heran melihat orang-orang di rumahnya. Ada seseorang paruh baya tertidur di bangku tak jauh dari dipan. Sementara dari arah depan, menggema gelak tawa dan canda orang-orang yang tak dikenalnya.
Dia turun dari tempat tidur dan berjalan sempoyongan ke ruang depan.
"Kalian siapa?" tanyanya dengan suara serak.
Suara gelak tawa dan candaan segera lenyap dari udara. Semua orang menoleh ke arahnya.
"Dia sudah sadar!"
"Dan dia berbahasa Indonesia!"
Beberapa komentar terdengar, tanpa seorangpun ingat untuk menjawab pertanyaannya.
"Hahahaha ... kita kembali ke Indonesia! Kita pulang!" teriak Sunil histeris. Wajah dan senyum mereka sangat cerah.
Orang itu bertambah heran mendengar kata-kata yang didengarnya.
"Kalian siapa dan bagaimana bisa berada di sini?" tanyanya mulai tak sabar.
"Oh iya. Maaf, kami lupa memperkenalkan diri," ujar Leon.
"Dean, kamu pemimpin tim. Kau yang harus memperkenalkan diri mewakili tim," dorong Robert.
"Kalian juga kan sama saja," tolak Dean.
"Ayolah!"
Widuri menarik tangan Dean dan membawa suaminya ke depan pemilik rumah.
Dean tak berkutik, jika Widuri yang meminta. Jadi dia menegaskan tubuh dan menganggukkan kepala sedikit sebelum mulai bicara.
"Perkenalkan, kami PARA PENYINTAS dari pesawat SAE INTERNATIONAL yang hilang pada Desember 2021," ujar Dean dengan senyum terpampang di wajahnya.
__ADS_1
"Tahun 2021?" tanya orang itu terkejut.
*****"