PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 235. Rencana perjalanan


__ADS_3

"Baiklah, aku akan bicara dengannya besok."


Widuri menyanggupi permintaan Ketua Kota yang disampaikan Dean.


"Besok kita ke kota," ujar Dean mengangguk.


"Lalu bagaimana kami ke kota mati?" tanya Robert.


Dia dan Kang bermalam dintempat Dean malam ini. Besok adalah waktunya perawatan Laras.


"Aku bisa mengantar Kang," tawar Sunil.


Robert mengangguk. Meskipun dia ingin ikut, tapi tak ada orang lain lagi yang bisa membawanya ke sana. Alan jelas harus standby di base camp.


"Jadi bagaimana dengan kelanjutan informasi kota Rawa?" tanya Dokter Chandra.


"Kemaren belum ada tambahan. Besok sekalian ku tanyakan lagi. Alan, besok pagi mulailah ambil ikan-ikan di laut. Para wanita bisa mulai pengolahan ikan untuk bekal perjalanan panjang. Nanti kita masukkan ruang penyimpanan agar tetap segar."


Dean memberikan beberapa instruksi lain terkait rencana pelayaran, jika jadi berangkat dalam minggu ini.


"Kami akan siapkan!" sahut Marianne. Dia mengepalai bagian dapur tanpa perlu ditunjuk. Para wanita biasa mengikuti arahannya.


"Tapi kita harus siapkan cukup grain untuk perjalanan ini. Ku rasa penting untuk menyiapkan granola bars yang lebih praktis juga sehat untuk keadaan darurat," usul Marianne.


"Baiklah. Besok ku tanyakan pada Yabie, apakah kita bisa memanen sebagian gandum di ladangnya, ditukar dengan ladang gandum kita yang belum masuk masa panen."


Dean berpikir cepat untuk mengatasi beberapa hal yang sangat penting bagi perjalanan mereka.


Kang menyentuh kening Robert untuk mengatakan sesuatu.


"Kata Kang, kalian bisa ambil sebagian hasil panen gandum kemarin. Juga masih ada cukup banyak soba untuk dibagikan," ujar Robert.


"Boleh. Tapi, berikan sepertiga saja dari yang dia rencanakan untuk diberi. Kang harus punya cukup stok sampai masa panen berikutnya. Dia juga mungkin masih harus membantu kelompok Vivian yang terancan kelaparan." Dean mengangguk.


"Robert, tentang Vivian dan kelompoknya. Apakah tidak berbahaya membiarkan dia tau tentang kita di sini? dia pasti menceritakan kejadian operasinya saat itu." Michael tak bisa menghilangkan pemikiran itu dari kepalanya.


Kang menyentuh dahi Robert.


"Kang sudah menghapus memorinya tentang itu." Robert mengatakan apa yang dikatakan Kang.


"Apa?!" seru semua orang.


Mereka menatap Kang tak percaya. Dia punya kemampuan itu juga? Robert tertawa kecil melihat teman-temannya terkejut. Dia saja sudah beberapa kali dibuat tertidur pulas hanya dengan sekali usap. Entah mantra apa yang dibaca Kang. Tapi Robert tak mengatakan apapun.


"Yah.. baguslah kalau begitu. Setidaknya, Vivian dan kelompoknya tidak akan macam-macam," ujar Dean lega.


"Apa maksudmu?" tanya Robert heran.


Akhirnya Dean mengatakan bagaimana reaksi Yoshi dan Yabie setelah operasi Vivian. Bagaimana mereka menjauh dan tidak ingin berinteraksi dengan Vivian lagi.


"Jadi Kang, feelingku mengatakan, kau harus berhati-hati terhadap mereka. Aku tidak tau apa yang disimpan Yoshi. Tapi menurutku, dia tau sesuatu. Dan itu mungkin bukan hal yang baik."


Dean menyampaikan pemikiran yang disimpannya beberapa waktu lalu. Dia mengenal Ketua Kota dan Yoshi sebagai pribadi yang baik. Jadi setelah melihat reaksi Yoshi, meski tidak dikatakannyapun, Dean bisa tau ada sesuatu yang salah tentang Vivian dan kelompoknya.


"Dari interaksi kami yang hanya beberapa kali, kelompok itu cukup licik. Ibunya bahkan rela menukar Vivian untuk makanan. Menyuruh gadis itu membantu kami. Tapi Kang menolak. Dia tak ingin ada mata-mata di tempatnya," jelas Robert.


"Jadi Kang juga sudah menyadarinya. Syukurlah," kata Dokter Chandra.


"Tapi, bagaimana dengan keluarganya? Mereka pasti ingat kalau Vivian kalian bawa untuk diobati," tanya Indra.


"Iya Kang. Bagaimana dengan wanita lain di sana?" tanya Robert.

__ADS_1


Kang menyentuh kening Robert lagi.


"Kau menghapus ingatan mereka juga?" tanya Robert tanpa sadar.


Kang mengangguk tanpa ragu sedikitpun. Dia masih meyakini kewajibannya menjaga makam. Membiarkan kelompok Vivian bebas melewati lembah dan datang ke tempatnya, itu sama saja dengan memberi kesempatan pihak lain mengetahui rahasianya


???


Yang lain menatap Kang dengan aneka macam pemikiran. Tak menyangka pria naga itu bisa melakukan hal semacam itu. Bagaimana jika itu dilakukan pada mereka? Mengerikan! Lebih baik jangan menyinggung Kang kalau begini.


"Lupakan soal itu. Kang sudah mengatasinya." Robert mengalihkan perhatian.


"Sekarang yang harus diputuskan adalah, apakah kalian setuju kita mengikuti kapal itu?" tanya Dean.


Niken ingin menjawab, tapi ditahan Dean. Tangannya diangkat ke udara, meminta semua tidak bicara dulu.


"Belajar dari pengalaman kalian mengarungi laut, maka aku tidak akan memaksa siapapun untuk ikut. Bagaimanapun, hidup di kota ini juga tidak buruk. Aku akan menyiapkan beberapa pengaturan, jika ada yang ingin tinggal."


Dean menyelesaikan kata-katanya dan menurunkan tangannya dari udara.


"Aku ingin tinggal!"


Sebuah suara mengejutkan semuanya. Bukan... bukan suaranya. Karena itu jelas suara Nastiti. Yang mengejutkan adalah keputusannya. Jadi mereka menoleh dengan heran padanya.


"Kau yakin?" tanya Marianne tak percaya.


"Ohh, jika kau tak ikut pergi, alangkah membosankan perjalanan ini nanti. Tak ada lagi temanku untuk berdebat," keluh Alan.


"Kau bukan suka berdebat. Kau suka membuat onar." Celetuk Michael.


"Yahh... kurang lebih seperti itu. Tapi hanya dia yang akan mendebatku dengan ramai. Jika dia tinggal, bukankah tim kita jadi lebih sepi?" tanya Alan dengan polosnya.


Alan cengengesan memeletkan lidahnya, mengejek Nastiti. Nastiti mengambil sendok di piring dan melemparnya ke arah Alan. Tapi Alan justru tertawa senang.


Teman-teman mereka menggeleng dan menghela nafas. Memanglah mereka berdua yang selalu menghidupkan suasana.


"Kau yakin ingin tinggal?" tanya Dean.


Nastiti mengangguk yakin. Dia menunduk dalam.


"Baiklah, aku akan mengaturmu untuk tinggal di kota mati. Atau di kota. Kau pilih saja. Nanti ku bicarakan dengan Yoshi dan Yabie."


"Tidak... aku tidak ingin tinggal di sana...." kata-kata Nastiti belum lagi selesai, sudah dipotong Widuri.


"Jadi kau ingin tinggal di sini?!" tanya Widuri tak percaya.


"Di sini memang bagus. Tapi tak ada sumber air. Bagaimana kau bisa hidup tanpa air?" timpal Michael lagi.


Nastiti menatap Kang tepat di matanya. Bertanya lewat tatapannya. Wajah Kang mungkin terasa panas karena tatapan intens itu.


Kang menyentuhkan jarinya pada Robert.


"Kau menginginkan Nastiti?" tanya Robert tak percaya. Kang mengangguk.


Nastiti tersenyum, lalu menunduk.


"Aku tinggal...." suaranya lirih.


Niken berdiri dari duduknya. Dihampirinya Nastiti dan memeluknya dari belakang. Wajahnya gembira.


"Kita harus menikahkan mereka sebelum pergi. Selamat yaa sayangku...." ujar Niken bahagia.

__ADS_1


Teman-teman mereka yang lain, jadi terbengong, tak tau apa yang terjadi sebenarnya. Hanya Niken dan Robert yang mengetahui perasaan Nastiti. Dan Robert begitu terkejut ketika Kang mengatakan menginginkan Nastiti. Robert mengira perasaan Kang pada Vivian cukup dalam. Ternyata dia salah. Kang bahkan sanggup menghapus ingatan seluruh kelompok itu tentangnya.


"Apa kau serius?" Sunil tak bisa menahan keheranannya.


Tapi Dokter Chandra justru menatap Kang dengan mimik serius seorang bapak.


"Kang, di sini aku yang tertua. Ketika kau mengatakan menginginkan Nastiti, itu seperti kau menginginkan putriku. Jadi aku harus bertanya serius padamu," ujar Dokter Chandra.


Yang lain mengangguk setuju dengan ucapan Dokter Chandra. Mereka mengarahkan pandangan pada Kang.


Kang terlihat bingung. Dia tak tau apa maunya orang-orang ini. Ditolehnya Robert dengan pandangan bertanya. Robert akhirnya menyadari keterbatasan pengalaman Kang yang ratusan tahun hidup sendiri.


"Kang, jika kau menginginkan Nastiti, maka kau harus menikahinya. Seperti Indra menikahi Niken beberapa waktu lalu," ujar Robert.


Kang mengangguk.


"Kau mau menikahi Nastiti?" tanya Dokter Chandra sekali lagi.


Kang mengangguk yakin. Dia balas menatap Dokter Chandra dengan serius.


"Kau tau arti menikah? Kau harus menjaga dan menyayanginya selamanya. Terutama karena kami akan pergi. Jadi dia tak akan punya teman-teman lain yang akan mendukungnya. Kaulah yang harus jadi pendukung utamanya," ujar Dokter Chandra menjelaskan.


Kang mengangguk. Ekspresinya mulai melembut. Dia bisa tersenyum kini. Diliriknya Nastiti yang masih menunduk. Kang bisa melihat airmata jatuh dari pipi gadis itu, meskipun terhalang rambutnya yang tergerai jatuh.


"Kang, aku tau Nastiti cantik dan baik. Dia sangat pengertian dan penyayang. Tapi apa kau akan tahan dengan kecerewetannya? Dia itu super duper bawel. Rumahmu yang sepi itu akan seperti suasana rapat RT. Ramai sekali."


Celotehan Alan membuat atmosfer serius berubah jadi aneh. Kini semua orang mengalihkan pandangan pada Alan. Termasuk Nastiti. Pipinya yang basah tidak disembunyikannya lagi.


"Kalimatmu itu rancu. Kau sedang memujiku atau menghinaku sih?!" ujar Nastiti gregetan.


"Hapus dulu ingusmu itu, baru bicara. Aku tak mau meladeni bocah ingusan," ledek Alan.


"Kau!"


Nastiti menyambar sendok di piring Widuri dan melemparnya ke Alan dengan kesal.


"Gak kena...."


Alan mengelak kali ini. Sendok itu terbang ke halaman. Cloudy berlari mengejar sendok terbang dan memungutnya. Sendok itu dikembalikan pada Widuri.


"Sudah... sudah...! Kau membuyarkan apa yang ingin ku katakan tadi," omel Dokter Chandra.


"Jadi, setelah menikah, kau akan membawa Nastiti ke tempatmu?" tanya Dokter Chandra lagi.


Kang mengangguk lagi.


"Baiklah. Aku setuju, dengan satu syarat," ujar Dokter Chandra.


Kang mengangguk cepat. Dia mendengarkan dengan serius.


"Kau harus membawanya keluar sesekali. Dia suka berenang di laut. Dia suka buah kelapa muda di pantai sana. Dia suka apel manis yang ada di tengah hutan situ. Dia suka lihat pemandangan. Dia juga suka berteman. Jadi kau harus membawanya sesekali ke kota mati, atau ke kota, membeli beberapa kebutuhannya. Apa kau bisa?" tanya Dokter Chandra sangat serius.


Kang tersenyum lebar. Dia mengangguk dengan sungguh-sungguh.


Meski sedih jika harus meninggalkan Nastiti, tapi teman-temannya ikut senang jika dia menemukan cintanya.


"Jika kau menyakitinya, aku akan mengutukmu dari Indonesia!" ujar Niken santai.


Yang lain serentak mengalihkan pandangan ke arah Niken. Tak percaya dia akan mengucapkan hal seperti itu dengan santainya.


******

__ADS_1


__ADS_2