PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 31. Berubah Jadi Serigala


__ADS_3

Tim 3 tiba siang hari. Dari ke jauhan oang-orang di shelter sudah berteriak gembira menyambut mereka.


"Kalian akhirnya tiba.. Hahaha," Angel melambaikan tangan dengan wajah cerah.


Laras menghampirinya dan memeluknya dengan bahagia. "Ya, langit cerah. Kabut tipis tak kan menghalangi jalan kami," jawab Laras sambil tersenyum lebar. Lalu menyapa rekan tim lain yang ada disitu.


"Ahh,, kami kira akan menemukan shelter yang kosong di sini. Tak disangka kalian ternyata merindukanku hingga rela menunggu," Michael berlari senang dan merangkul Liam serta Sunil yang berdiri berdampingan.


"Hahaha.. Kau terlalu pede," Sunil tertawa. Liam memukul pundak Michael pelan sambil tersenyum lebar. Mereka berjalan bersama sambil tertawa.


"Istirahat dan hangatkan tubuh dulu," Marianne mengajak mereka masuk ke shelter.


"Kenapa Alex diikat dan digotong?" tanya Indra yang melihat Robert dan dokter Chandra membawa Alex dengan cara diikat dan digantungkan pada kayu yang diletakkan di pundak mereka.


"Hah?! Apa yang terjadi?" Dewi juga memperhatikan dengan heran.


"Nanti kami ceritakan. Adakah ruangan lain? Dia lebih baik ditempatkan terpisah dari yang lain." Robert menjelaskan.


"Ya, pakai ruang pertama yang kami buat saja. Jika hanya untuk 1 orang, itu lebih dari cukup." Indra meminta Alan dan Gilang menggantikan Robert dan dokter Chandra menggotong Alex ke shelter lain. Lena mengikuti dari belakang.


Alex di tempatkan disitu masih dalam keadaan terikat. Dia dibaringkan diatas tumpukan daun pinus. Pandangan matanya kosong. Tapi terdengar suara mendesis dan geraman halus dari mulutnya yang menyeringai memperlihatkan gigi-giginya. Bagian bahunya dibalut dengan kain. Lena menatap Alex dengan mata sedih. "Bisakah membuatkan api agar kami tidak kedinginan di sini?" Tanya Lena pada Indra.

__ADS_1


"Tentu saja. Tunggu aku ambilkan bara api dari sana." Indra baru akan keluar saat Robert datang dengan sebatang kayu yang masih menyala. Di belakangnya Niken menyusul membawakan sepanci penuh salju untuk dihangatkan dan sebuah bungkusan daun pinus. Indra menahan pertanyaan yang berhamburan dalam benaknya. Dia hanya memperhatikan apa yang mereka lakukan.


Setelah Robert membuat perapian, Niken meletakkan panci berisi salju di dekat api agar cepat mencair dan hangat. Dia mengeluarkan sepotong besar daging kelinci dari bungkusan daun pinus lalu menusuk dengan kayu dan meletakkannya dekat perapian untuk memanggangnya. Setelah itu Niken memeluk Lena..


"Aku pergi dulu. Nanti setelah dapat bahan makanan lain, akan ku antar ke sini." Lena mengangguk, matanya terlihat sedih.


Robert meminta Alan dan Gilang menutup pintu shelter dengan menancapkan kayu-kayu di permukaan salju. Alan dan Gilang melakukannya tanpa bertanya, meskipun mereka heran, kenapa Alex dan Lena dikurung begitu rupa? Setelah Robert memastikan kayu-kayu itu cukup kuat, mereka meninggalkan tempat itu.


"Kepala kalian pasti penuh dengan pertanyaan." kata Robert dengan wajah lelah tapi terus melangkah.


"Ya. Apa yang terjadi dengan mereka?" Alan tak bisa menahan rasa penasarannya. ?Robert masih diam dan terus berjalan menuju shelter tempat tim lainnya berkumpul.


"Minum dulu," Laras menyodorkan cangkir berisi air hangat pada Robert yang baru kembali. Robert menerimanya lalu mencari tempat untuk duduk. Semua orang diam dengan pertanyaan menari-nari di kepala masing-masing.


"2 hari yang lalu saat dalam perjalanan kami berpapasan dengan 3 ekor serigala. Kami sudah berusaha menghindar, karena kita tentu kalah kemampuan jika harus bertarung melawan ketiganya sekaligus. Jadi kami memilih mundur, menjauhi jalur jalan dengan petunjuk yang kalian tinggalkan itu. Tapi naas, seekor serigala tampaknya tak ingin melepaskan. Dia mencoba menyambar Lena yang berjalan lambat. Alex mencoba menghalangi dan menepis sambaran serigala itu dengan memukulkan tombaknya. Serigala itu jatuh. Aku yang berada di depan mencari jalan alternatif terlambat berbalik ketika serigala lain yang lebih besar berbulu abu-abu menyambar ke arah Alex yang baru saja memukul serigala satunya. Dia jelas tak siap dengan sambaran kedua itu. Bahunya digigit dengan kuat tampak tak ingin dilepaskan oleh serigala itu. Aku mengejar dan memukul kepalanya, barulah gigitan di bahu Alex terlepas. Alex jatuh terkapar penuh darah di salju. Lena berteriak histeris, kacau sekali. Dokter Chandra dan Michael menyeret Alex menjauhi tempat itu. Kami semua menjauh dari situ karena para serigala itu tak mau beranjak sedikitpun dari situ. Tapi mereka tak pula menyerang kembali, mungkin mereka terluka karena pukulanku dan Alex." Robert menjeda cerita untuk meneguk minumannya.


"Setiba di shelter, Alex sudah terlihat setengah sadar karena kehilangan banyak darah. Dokter Chandra berusaha membersihkan luka itu dan membalutnya seperti yang dilakukannya padaku saat itu. Kami bersiap untuk berjaga dan bergantian mengurus Alex jika dia demam. Betul dia demam setelah itu, panasnya tinggi. Dia mengingau tak jelas. Tapi saat malam makin larut, dia terbangun. Itu giliran Michael yang berjaga, jadi coba kau ceritakan saja," tunjuk Robert pada Michael.


Orang-orang menoleh pada Michael yang duduk di sisi hampir berseberangan dengan Robert.


"Ya, aku berjaga menggantikan dokter Chandra. Kira-kira tengah malam, Alex terbangun, dan langsung duduk. Suara menggeram terdengar dari mulutnya. Matanya sangat tajam saat melihatku. Sesaat aku seperti melihat seekor serigala yang sedang mengangkat tangannya untuk melompat menyerangku. Aku terkejut mundur sambil berteriak. Robert langsung bangun." Michael menjelaskan.

__ADS_1


"Lalu?" mata Marianne terlihat tak sabar.


"Saat aku terbangun, kulihat Michael tak sanggup bicara, matanya melotot takut ke arah Alex. Alex masih menggeram sambil menyeringai. Dan benar, aku juga seakan melihat Alex seperti berubah jadi serigala sepersekian detik lalu berubah lagi jadi dirinya. Karena khawatir, aku langsung menyambar tumpukan kain pembalut dokter Chandra dan menyambar tangan Alex, membelit dan langsung mengikatnya. Dia awalnya terkejut, telat merespon, jadi sudah terlambat untuk melepaskan diri. Suara kami yang bergumul membangunkan dokter Chandra." Robert meminta dokter Chandra menambahkan bagian ceritanya.


Anggota tim lain langsung mengalihkan pandangan lagi menuntut dokter Chandra melanjutkan cerita.


"Baiklah.. baiklah.. Aku akan lanjutkan ceritanya." Dokter Chandra menghabiskan isi cangkir dan meletakkannya dekat teko air.


"Saat aku terbangun, kulihat Robert bergumul dengan Alex, sementara Michael ternganga ketakutan tak bisa bicara. Aku masih ngantuk karena baru saja tidur, masih belum tau situasi. Kuhampiri mereka berdua untuk melerai perkelahian. Yaa, ku kira mereka berkelahi." dokter Chandra tersenyum miring. Para penonton hanya mengerutkan kening tanda tak sabar dengan kelanjutan cerita.


"Hei,, apa kalian tak perlu mengumpulkan makanan? Kenapa santai duduk mendengarkan cerita?" dokter Chandra terlihat enggan melanjutkan. Para pendengar terlihat gregetan karena cerita dokter Chandra tidak tuntas.


'Masa cuma sampai segitu saja ceritanya? Sama sekali tidak dapat menjawab pertanyaan semua orang,' gerutu mereka dalam hati.


"Aku tak melihat Dean dan Widuri. Dimana mereka?" tanya Robert juga. Yang lain segera tersadar. Perhatian mereka akhirnya teralihkan.


"Widuri terperosok dalam lubang gua. Kakinya terkilir, karena saat itu sudah sore sementara belum menemukan cara mengangkatnya keluar, maka Dean memutuskan ikut turun untuk menjaganya."


"Hah?! Gua?" seru Robert dan dokter Chandra bersamaan.


"Jauhkah letak gua itu?" tanya Robert langsung berdiri, diikuti dokter Chandra.

__ADS_1


"Tidak jauh. Kalian ingin ke sana sekarang?" Tanya Indra ikut berdiri. Robert mengangguk lalu berjalan keluar diikuti dokter Chandra. Indra meminta tim 3 lainnya untuk beristirahat dulu. Sementara anggota tim 1 dan 2 lainnya harus melanjutkan tugas masing-masing. Sebagian mereka lalu meninggalkan shelter untuk melanjutkan kerja membangun shelter tambahan, menebang kayu untuk perapian, serta memeriksa hasil jebakan. Meskipun mereka masih penasaran, tapi pekerjaan mereka jauh lebih penting untuk diselesaikan sebelum malam turun. Bagaimanapun, cerita masih bisa dilanjutkan saat makan malam.


__ADS_2