
Saat sarapan di kapal.
"Tiga hari lagi kapal akan berangkat. Aku sudah bosan dan tak sabar lagi," keluh Niken.
"Sabar.... Kota Rawa ada di perhentian berikutnya kok," kata Widuri.
"Aku ingin turun jalan-jalan ke kota. Apa kau mau menemaniku?"
Marianne mengarahkan pandang ke Sunil.
"Oke." Sunil mengangguk.
"Aku juga ingin melihat-lihat." Alan tak mau ketinggalan.
Sunil kembali mengangguk sebagai jawaban. Dia sedang asik menikmati sarapan paginya.
*
Pagi ini, Michael, Sunil, Marianne dan Robert hendak turun ke kota. Mereka berpapasan dengan Kapten Smith yang baru naik.
"Kalian mau jalan-jalan?" sapanya ramah.
"Ya... melihat-lihat keramaian," jawab Robert.
Kapten Smith mengangguk dan membiarkan mereka turun.
"Oh iya, hampir aku lupa. Barusan ku dengar kalau ada kafilah dari negara gurun yang baru masuk kota. Biasanya mereka membawa barang-barang bagus. Kalian mungkin akan menyukainya!" teriak Kapten Smith dari atas.
"Oke..Terima kasih informasinya!"
Robert ikut berteriak, membalas Kapten Smith. Rombongan itu melambaikan tangan ke arah kapal.
"Apa kau mau melihat ke sana?" tanya Michael.
Robert tertawa. "Kita tak punya uang. Mau beli pakai apa? Lagi pula, kita tak tau dimana tempatnya."
"Iya. Kemarin saja, Dean sampai menjual sedikit persediaan gandum, agar kita bisa punya roti baru untuk dimakan," kata Marianne.
Kalau begitu, lupakan saja." Ujar Michael.
Mereka berjalan-jalan melihat keramaian pasar.
*
******
"Kenapa dia lama sekali?" gerutu Kapten Smith.
"Siapa yang anda tunggu Kapten?"
Kapten Smith mencari asal suara.
"Ah kau mengangetkanku Dean."
"Aku pernah meminta seorang pedagang membawakan barang-barang tertentu dari negaranya. Harusnya dia sudah mengantarnya sekarang." Wajah Kapten Smith ditekuk karena gusar.
"Kenapa tidak mencarinya saja? Mungkin dia tak tau kapal anda bersandar. Atau mungkin dia lupa?" Dean mengemukakan beberapa kemungkinan.
"Kau benar. Dari pada aku kesal di sini. Lebih baik pergi mendampratnya sekarang. Hahahaa."
Kapten Smith berjalan turun. Dia membawa seorang kru kapal bersamanya. Dean menggeleng melihatnya melenggang pergi begitu saja.
Kapten Smith pergi menuju sisi lain kota Levin. Kru kapal mengikutinya dengan senang. Dengan mengikuti kapten, artinya dia bisa ikut melihat-lihat kota dan sedikit belajar berbisnis dari Kapten Smith.
__ADS_1
Kapten itu berjalan pasti ke satu arah yang terlihat sangat ramai. Dia bergegas. Matanya melihat gerobak dan pedagangnya satu-persatu. Para pedagang itu menggelar dagangan mereka di atas gerobak yang sudah dibuka penutupnya.
Kapten Smith sudah berjalan hingga ujung barisan. Tapi dia tak menemukan orang yang dicarinya. Dia justru mendengar gossip tak sedap.
"Pantas saja dia tak muncul. Dasar mata keranjang. Istri orangpun diganggu. Mati adalah balasan setimpal!" umpat Kapten Smith sebal.
Sekarang, Kapten Smith terpaksa ikut melihat-lihat barang yang dijajakan setiap pedagang. Membeli eceran begini dirasanya kurang menguntungkan. Tapi mau bagaimana lagi? Pedagang langganannya sudah mati. Dia harus mencari barang bagus di pedagang lain.
"Kapten, bukankah kau suka barang yang seperti itu?" tunjuk kru ke arah sebuah gerobak.
Kapten Smith mengikuti arah tangan kru tersebut. Matanya langsung bersinar cerah. Itu barang yang dia cari dan selalu dibelinya untuk dijual lagi di kota lain.
Kapten Smith ingin melihat siapa penjualnya. Tapi pengunjung yang mengelilingi gerobak ini sangat ramai. Dia kesulitan melihat. Bagaimana mau berbisnis besar?
'Gawat! Dia tak segera menemukan cara, bisa-bisa semua dagangannya habis dibeli pengunjung!' pikir Kapten Smith.
"Ayoo, banti pikirkan cara agar aku bisa bertemu dengan penjualnya, sebelum semua barang itu habis!"
Kapten Smith menjitak kru kapalnya. Kru itu hanya bisa meringis memegang kepalanya. Hanya ada satu cara yang terpikir olehnya.
Dengan tubuh besar dan kekarnya, kru kapal itu menyibak kerumunan orang. Orang-orang itu terdorong ke kiri dan kanan. Bahkan ada yang terjatuh. Mereka meneriakkan berbagai kata umpatan karena tak terima. Tapi kru itu menulikan telinganya.
"Mari kapten!" katanya dengan senyum kemenangan.
Dengan wajah merah padam menahan malu, kapten Smith akhirnya mengikuti kru kapalnya. Umpatan dan cercaan makin membuat merah kupingnya. Wajahnya meringis. Antara tersenyum geli dan menahan malu.
Di depannya berdiri seorang anak muda yang melempar senyum ramah padanya.
"Ada yang bisa saya bantu? Anda membutuhkan barang apa?" tanyanya ramah.
"Aku menyukai teko-teko kuningan ini. Berapa kau jual?"
Pria itu baru mau bicara, tapi ditahan Kapten Smith.
Pria muda itu diam sejenak dan berpikir.
"Anda butuh berapa banyak? 5? 10?" Dia bertanya balik.
'Hemmm, dia tak mudah diintimidasi' pikir Kapten Smith.
"Barang semacam ini, berapa yang kau punya?" tunjuk Kapten Smith.
Pria itu mengambil barang yang ditunjuk oleh Kapten Smith.
"Kau benar-benar mau ini? Jangan nanti sudah menyusahkan istriku mencari stok, kau tak jadi beli ya...." katanya menegaskan.
Kapten Smith menelan ludah, lalu menganggukkan kepalanya.
"Orang ini sulit, kapten." Kru kapal berbisik.
"Hemm... itu sebabnya dia sudah kaya sejak muda," balas Kapten Smith.
"Oh, jadi seperti itu. Aku mengerti," kata kru kapal.
"Jane, barang ini tinggal berapa lagi di sana?" teriak pria muda itu ke arah gerobak.
Seraut wajah wanita cantik yang kecoklatan akibat matahari, muncul dari balik gerobak, melihat benda yang diacungkan pria itu.
"Sebentar!" teriaknya.
"Leon, barang itu masih ada 8. Yang jenis lain masih ada 7. Yang warna lain masih ada 10!" teriaknya lagi.
Tak lama dia keluar sambil membawa 3 contoh barang yang dikatakannya. Ketiganya adalah jenis yang sama, namun 2 diantaranya memiliki model dan bahan yang berbeda.
__ADS_1
Mata Kapten Smith bersinar cerah. Dia sangat menyukainya. Dia sudah membayangkan keuntungan yang didapatnya dari benda-benda itu.
"Aku mau semuanya!" kata Kapten Smith percaya diri.
Pria muda tadi lalu menghitung. Dia mengajukan harga. Lalu terjadi tawar menawar. Dengan senyum sumringah, Jane langsung mengemas semua yang diinginkan, begitu harga disepakati.
"Ada kabar baru apa dari kota lain?" tanya Leon pada Kapten Smith.
"Tidak ada kabar baru. Hanya saja, belakangan ini banyak orang pergi ke kota Rawa untuk mengadu nasib," kata Kapten Smith.
"Oh... apakah di sana lebih menjanjikan dari kota ini?" tanya Leon ingin tau.
Kapten Smith mencemooh, "Hah! Orang-orang bodoh itu hanya termakan issue tak berdasar."
"Mereka percaya ada kehidupan yang lebih baik dibalik dinding cahaya yang ada di kota Rawa. Jadi, mereka berbondong-bondong pergi," jelas Kapten Smith.
"Apa?!"
Barang yang dipegang Leon terjatuh. Dia sangat terkejut mendengarnya.
Kapten Smith memungut benda yang jatuh tadi dan menunjukkannya pada Leon.
"Hei, nak. Jika ini lecet, aku tak mau membayarnya!" katanya tegas.
Leon mengangguk-angguk. Diberikannya benda itu pada Jane untuk dikemas.
"Ceritakan padaku tentang dinding cahaya itu," ujar Leon, tak bisa menutupi ketertarikannya.
"Aku tak tau apapun. Belum ada yang pernah kembali dari sana. Mungkin saja mereka semua sudah mati." Kapten Smith mendengus.
Dia tak pernah percaya omong kosong tentang dinding cahaya itu. Di kapalnya bahkan ada kelompok Dean yang juga ingin berpetualang ke sana.
"Bagaimana caranya agar aku bisa ke sana?" tanya Leon.
Kapten Smith terkejut. Dia tak mempercayai pendengarannya.
"Nak, ku lihat kau sudah sukses dan kaya di usia muda. Untuk apa lagi pergi ke sana?" tanyanya keheranan.
"Seperti katamu, mengadu nasib. Kau tau daerah gurun? di sana sangat panas. Kasihan istriku." Balas Leon asal.
Kapten Smith mendengus. "Meski panas, tapi istrimu masih hidup. Siapa yang tau ada binatang buas apa dibalik dinding cahaya itu. Nanti kau menyesal, sudah tak bisa kembali lagi!" Kapten Smith menasihati dengan tak senang.
Leon menggelengkan namun tetap tersenyum.
"Katakan saja, bagaimana cara untuk ke sana," desaknya lagi.
"Dengan kapal. Aku berangkat tiga hari lagi. Seminggu berikutnya, akan mendarat di kota Rawa," jawab Kapten Smith.
"Boleh aku ikut?" tanyanya cepat.
Kapten Smith tersentak. Pria muda ini tak butuh waktu lama untuk berpikir. Dia langsung ingin ikut pergi. Dilihatnya ke dalam mata yang penuh keinginan itu. Ada tekad yg kuat.
"Masih ada satu kabin kosong di kapalku, jika kau mau. Tapi bicarakan dulu dengan istrimu. Jika kalian memang sepakat, maka cari aku di pelabuhan. Kapal kejora. Ingat itu!" kata Kapten Smith.
"Berapa bayarannya?" tanya Leon lagi.
Mereka kembali bernegosiasi. Hingga tercapai kesepakatan lagi.
"Baiklah. Jangan lupa, 3 hari lagi, kami berangkat. Kalian sudah harus naik sebelum itu."
Kapten Smith melambaikan tangannya dan pergi dari situ, diikuti kru kapal yang harus mengangkut banyak barang.
******
__ADS_1