PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 77. Sihir Dan Ilusi


__ADS_3

Kicau burung dan kehangatan sinar matahari di sela-sela daun tak mampu membangunkan anggota tim Robert. Selimut kabut yang dingin laksana rayuan dewi surgawi untuk terus merajut mimpi.


Hembusan angin membelai daun membuatnya bergoyang riang. Hingga tak mampu lagi mempertahankan sentuhan cinta dari sang embun. Bulir-bulir sebening kristal yang menempel di permukaan daun itu itu jatuh berderai menuju bumi yang terus merindunya.


Tis.. tis.. tis..


Kelopak halus bunga terompet biru yang muncul diantara pohon juga tak sanggup menahan posisi agungnya. Batangnya melengkung seperti lekuk penari balet memainkan tarian angsa. Kelopak biru itu mengembang indah meluncurkan airmata dewi yang dipeluknya sejak dini hari.


Byuurr..


"Ahhh.."


Liam membuka matanya dengan terkejut karena wajahnya kejatuhan air dingin dan murni itu. Disekanya pipi yang basah dan mengucek mata. Tepat di atas kepalanya, sekuntum bunga terompet terlihat bergoyang-goyang seperti mengejek kemalasannya menyambut pagi.


"Kau yang menumpahkan embun ke wajahku? Sengaja ya?" Liam bangun dan duduk menatap kuntum bunga itu.


"Apa kau ingin dijadikan hiasan rambut atau teh bunga?"


Liam menyentuh kelopak bunga biru cerah itu. Tampak seekor kupu-kupu kuning berbintik merah hinggap di kelopak bunga lain dan memasukkan kepalanya untuk mencapai sari bunga. Liam tersenyum melihat keindahan itu.


Liam berbalik dan ingin menyapa teman-temannya. Namun dia segera merasakan kejanggalan. Hari sudah cukup terang meski hutan terselimut kabut. Liam bisa mendengar ramainya kicau burung di pepohonan. Tapi kenapa teman-temannya belum bangun juga? Semua tidur pulas, termasuk para kuda juga berbaring malas.


"Leon, bangun.. sudah pagi." Liam menggoyang tubuh Leon untuk membangunkannya. Leon hanya mengeluh samar sambil tidur.


Liam mencoba membangunkan semua temannya. Namun tak seorangpun yang terbangun. Bahkan Robert yang punya kewaspadaan tinggi juga tak kuasa menahan godaan mimpi. Liam bingung melihat itu.


"Kenapa hanya aku yang bangun? Apa karena tetesan embun itu?" gumamnya sendiri.


Liam mencari kuntum terompet lain dan menemukan beberapa yang masih berisi embun. Dipetiknya hati-hati bunga itu lalu menuangkan airnya ke wajah Robert.


Robert terkejut dan segera membuka mata.


"Apa-apaan sih. Basah nih," seru Robert jengkel.


Tapi Liam nengabaikannya.


"Lihat, semua orang tertidur dan tak bisa bangun kecuali dikucuri air embun," jelas Liam.


Robert menoleh ke sekitarnya. Benar, semua temannya masih tidur pulas dibawah tarian puluhan kupu-kupu di tempat itu.


"Bantu aku mencari bunga yang ada air embunnya, sebelum sinar matahari menguapkan semuanya."


Liam kembali menjatuhkan setetes embun ke wajah dokter Chandra dan membuatnya terbangun. Robert melihat itu dengan tak percaya, tapi segera mengikuti cara Liam mencari bunga-bunga yang untungnya banyak tumbuh diantara pohon bahkan menutupi hampir seluruh permukaan tanah.


Dokter Chandra ikut membantu keduanya mencari bunga agar semua teman mereka bisa bangun, sebelum semua embun menguap ke langit.


Kuda-kuda malas itu juga mendapat perlakuan sama hingga semuanya kembali tegak berdiri dan bersemangat memakan rumpun-rumpun bunga basah nan segar itu.

__ADS_1


Setelah semuanya sadar, mereka lalu membahas hal itu. Tempat itu memang indah. Di bawah kerindangan pohon dipenuhi aneka warna bunga. Selain burung, juga ada banyak kupu-kupu warna-warni beterbangan dan hinggap di kuntum-kuntum bunga.


Tapi meskipun sangat indah, tempat itu terasa menakutkan. Mereka bersyukur karena bunga biru itu telah membangunkan Liam. Jika tidak, entah apa yang mungkin terjadi. Bisa saja mereka tertidur di situ lebih lama, atau mungkin selamanya?


"Lihatlah lokasi kita ini. Bagaimana pendapat kalian?" tanya Robert.


"Kita tak lagi di lorong pohon mapel!" seru Silvia terkejut.


"Ya, di sini ku lihat pohonnya beragam dan tidak terlalu rapat, hingga permukaan tanahnya bisa ditumbuhi bunga-bunga liar. Tapi pohon mapel yang kita lubangi untuk menampung air minum, masih ada di sini." Robert menunjukkan kendi airnya.


"Tapi letak pohon ini tidak lagi berdiri berjajar membentuk lorong, malah berdiri melingkar mengelilingi kita." Leon menambahkan.


"Lalu kemana lorong jalan menuju kolam yang ada di belakang kita sebelumnya ya?" Angel tak habis pikir.


"Entah apakah kita yang dipindahkan ke sini, atau lorong mapel itu ditutup oleh ilusi." Niken menambahkan praduganya.


"Mungkinkah ada sihir di tempat ini?" tanya Laras.


"Ku kira lebih baik kita segera muat lagi barang-barang kita ke atas kuda dan pergi dari tempat ini." Robert memberi instruksi.


Mereka dengan cepat membereskan barang-barang bawaan. Kuda-kuda harus mengakhiri masa istirahatnya. Untuk sarapan, Laras hanya memberi masing-masing mereka beberapa kerat daging asap dan minum air pohon mapel masing-masing sambil menunggu semua persiapan selesai.


"Air ini manis dan segar," kata Niken sambil tersenyum pada Angel yang sedang mengunyah irisan daging.


Angel mengangguk puas setelah ikut mencobanya.


--


"Kita mau ambil arah mana?" Indra bertanya.


"Menurut kalian bagaimana?" Robert justru kembali bertanya.


Indra garuk-garuk kepala.


"Aku tak tau arah kalau di hutan begini," jawabnya jujur.


"Karena tempat ini datar, bagaimaba jalau kita memilih arah berdasarkan mata angin saja?" usul Gilang.


"Kita ikuti matahari terbit sajalah. Karena arah manapun kita toh tidak tau kemungkinannya akan seperti apa." Dokter Chandra nimbrung setelah selesai membereskan kudanya.


"Yahh, benar juga sih. Kita ikut arah matahari terbit saja deh." Angel mendukung. Yang lain mengangguk.


"Baik, kalau begitu kita jalan." Robert mulai menuntun kudanya mengikuti arah matahari. Mereka bergerak menjauhi arah jatuhnya bayang-bayang di tanah.


--


Matahari tepat di atas kepala saat mereka menemukan bahwa permukaan tanah mulai menurun. Mereka beristirahat sejenak.

__ADS_1


"Apa kita akan turun?" Robert minta pendapat pada yang lainnya.


"Boleh saja. Mungkin kita bisa menemukan aliran sungai jika turun," kata dokter Chandra.


Indra membantu Niken membuat api agar bisa memasak sedikit makanan untuk siang ini. Karena pagi tadi mereka tidak sarapan dengan benar sebab ingin secepatnya menyingkir dari tempat mereka dibuat tertidur itu.


Laras, Angel dan Silvia membantu agar semua bisa siap lebih cepat. Mereka hanya membuat sepanci sup sayuran dicampur potongan kentang dan daging rusa asap.


Beristirahat satu jam, mereka mulai melanjutkan jalan, mengikuti tanah yang menurun. Begitu jauh sudah, tapi mereka masih belum menemukan tanda-tanda kehidupan lain selain bunga, burung dan kupu-kupu.


"Bagaimana? Masih ingin lanjut atau menyiapkan tempat istirahat?" tanya Robert.


"Sudah sangat sore, baiknya kita istirahat saja," usul Angel yang sudah kepayahan.


"Istirahat di sini? Apa tempat ini bebas sihir? Bukan seperti tempat kita tidur tadi malam?" Gilang ragu.


"Iya juga. Gimana kalau kita semua dibuat tertidur lagi seperti semalam? Apa keberuntungan masih akan mendatangi Liam esok pagi?" Silvia makin cemas.


"Bagaimana jika kita terus jalan saja di malam hari?" Indra menyampaikan idenya.


"Robert menggeleng.


"Bahkan, meskipun kita membuat obor sebagai penerang, itu tidak akan membantu banyak jika kita tak mengenal tempat ini dengan baik. Itu akan sangat membahayakan."


"Lagi pula, jika sihir itu memang dimaksudkan untuk menjebak kita, maka baik siang ataupun malam, sekalipun tidur maupun bangun, kita tetap tak bisa lari," kata Leon.


"Jadi, bagaimana?" dokter Chandra minta kepastian.


Robert berpikir sejenak.


"Kita istirahat di sini." putus Robert.


Mereka akhirnya menurunkan beban dari punggung kuda masing-masing. Memberi makan dan minum lalu membiarkan mereka beristirahat.


"Robert, kita kehabisan air minum lagi," dokter Chandra menunjukkan kendi airnya yang tinggal sedikit.


Dokter Chandra tak melihat pohon mapel berdaun merah seperti yang ditusuk Robert sebelumnya. Jadi dia ingin tau solusi lain yang mungkin ada.


Robert melihat ke arah pohon-pohon berbatang lurus putih keperakan. Dia berjalan ke arah itu diikuti dokter Chandra. Membersihkan permukaan batang pohon itu dari serpihan-serpihan kulit halus yang menempel.


"Perhatikan pohon ini dok. Batang lurus tinggi dan warna batangnya yang putih keperakan, serpihan kertas tipis yang menutupinya ini mudah sekali untuk memantik api jika kita mau membuat perapian. Lalu warna daunnya yang kuning terang sangat mencolok. Ini pohon Birch. Umumnya bisa diambil airnya di musim dingin. Jadi mari kita coba lagi peruntungan kita."


Robert menusuk batang pohon itu dengan pisaunya. Menunggu sesaat, lalu matanya bersinar bahagia ketika merasakan jarinya basah. Dibuatnya tusukan lain agar air keluar lebih banyak. Menambahkan kepingan kayu kecil yang dibersihkannya ke dalam lubang air itu untuk mengarahkan tetesan air ke dalam kendi air mereka.


"Terima kasih Robert. Tanpamu, tim ini pasti sudah kocar-kacir sejak lama." Dokter Chandra menepuk pundak Robert. Dia bersungguh-sungguh dalam ucapannya kali ini.


***

__ADS_1


__ADS_2