PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 371. Marianne dan Ivy


__ADS_3

Dokter Chandra membawa Aslan ke gazebo di puncak bukit. Aslan terpukau melihat pemandangan di sekelilingnya. Dia dapat melihat ombak laut di satu sisi. Juga hutan lebat di belakang tanah makam. Kemudian hamparan kebun sayur, ladang gandum dan hutan dibelakang, serta padang rumput yang dipenuhi ternak, di belakang rumah panggung. Dan satu lagi, rumah pohon yang tinggi menjulang, juga dilatari hutan.


"Ini titik pusat dunia ini," gumam Aslan.


Dokter Chandra tersenyum samar. Menurutnya, Aslan sama sekali tidak bodoh. Dia hanya kurang wawasan dan tidak berpendidikan.


"Itu tidak benar. Bukit ini lebih dekat ke arah pantai. Hutan di sana itu, sangat luas. Kau bisa menemukan aneka tanaman buah di sebelah sana." Dokter Chandra menunjuk hutan di belakang ladang gandum.


"Tempat yang sangat luas, tapi hanya diisi beberapa orang saja," komentar Aslan.


"Ya. Inginnya aku bisa mengumpulkan cukup banyak Bangsa Cahaya di sini. Tapi sejak peristiwa itu, aku kehilangan rakyatku." Pandangan Dokter Chandra menerawang.


"Maksud Kakek? Peristiwa apa?" tanya Aslan tak mengerti.


"Biar kuceritakan padamu tentang Dokter Chandra dan Tim Dean. Kau mungkin akan sedikit terkejut dan tak percaya. Tapi jangan menyela. Aku hanya akan menceritakannya sekali." Dokter Chandra mengingatkan.


"Baik." Aslan mengangguk mengerti. Dia duduk dengan rilex, siap untuk mendengarkan cerita-cerita musykil yang mungkin ada.


Dokter Chandra ikut duduk dan menerawang jauh. Mengingat kisah petualangannya sejak pesawat jatuh.


"Jadi, awalnya aku dan Tim Dean adalah orang biasa. Kami menumpang pesawat yang sama malam itu. Tapi tak disangka...."


Dokter Chandra menceritakan kisah perjalanannya. Tak peduli bagaimanapun anehnya kisah itu, dia tak ada keinginan untuk menutupinya. Saat ini, Aslan adalah keluarganya. Dia harus mendapatkan informasi yang sebenarnya.


A few moments later.


Aslan terdiam. mulutnya hanya ternganga, mendengar cerita yang sangat ajaib itu. Tapi dia tak mungkin tak percaya, karena ada banyak bukti keajaiban yang sudah ditunjukkan oleh keluarga barunya ini.


"Jadi, upacara pemindahan jiwa nenek malam tadi adalah cara menjaga jiwa Bangsa Cahaya tetap ada?" Aslan menyimpulkan.


"Ya. Hanya jiwa itu yang tersisa dari bangsa kami. Ribuan tahu. telah berlalu. Tubuh fisik tak bisa bertahan terlalu lama." Dokter Chandra melempar pandangan ke arah makam.


"Tapi aku beruntung, masih bisa melihat wajah aslinya. Aku merindukan masa-masa sebelum aku berkuasa. Sebelum begitu banyak pertengkaran dan kesalah pahaman diantara kami."


Aslan menebak, kakeknya sedang membicarakan nenek. "Jika nanti Bibi Marianne berhasil melewati masa kritisnya, Kakek harus menyelesaikan kesalah pahaman ribuan tahun itu dengan nenek!" desaknya.


Sambil manggut-manggut, Dokter Chandra menyetujui permintaan Aslan. "Tentu. Kami memang harus bicara panjang lebar."


"Apakah, jika ada jiwa bangsa cahaya lain, kau bersedia menerimanya?" tanya Dokter Chandra hati-hati.


"Berarti kita harus menemukan mereka dulu." Aslan tertawa. "Bukankah itu hal yang mustahil?"


Dokter Chandra menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ada segurat senyum sedih di wajahnya.


"Melihat laut, selalu membawa anganku kembali ke Indonesia. Negara itu tak kalah indah dengan negaramu. Bahkan jauh lebih luas, dengan tujuh nelas ribu pulau di tengah samudera." jelas Dokter Chandra.


"Laut memang akan selalu memanggil anak-anaknya pulang." timpal Aslan.


"Dok, Marianne ... terjadi sesuatu pada Marianne!" lapor Dean lewat transmisi suara.


"Gawat!" batinnya. "Aku segera kembali!" Dokter Chandra menyahuti Dean.


"Ayo kembali. Yerjadi sesuatu pada Marianne!" Aslan sudah dibawa terbang, sebelum memberikan komentar.

__ADS_1


"Bagaimana Kakek tahu?" tanya Aslan.


"Lewat pikiran!" jawabnya singkat.


"Ahh...." Aslan mengangguk.


"Apakah Kakek juga bisa membaca pikiranku?" pikirnya cemas.


"Jangan khawatir, aku tak bisa membaca pikiranmu," ujar Dokter Chandra.


"Apa?" Aslan benar-benar terkejut, hingga tubuhnya sedikit terlonjak ke belakang.


Dia berusaha untuk tidak memikirkan apapun di depan Dokter Chandra.


"Kita sampai." Aslan diturunkan di depan pintu rumah. Sementara Dokter Chandra langsung melesat masuk ke dalam dan naik ke lantai dua.


Dugaannya benar. Marianne dikuasai oleh adiknya. Tubuhnya diaelubungi cahaya hijau kekuningan. Matanya memancarkan kemarahan.


"Ivy, berhenti!" seru Dokter Chandra.


Marianne langsung menoleh. "Siapa kau!" hardiknya.


"Aku kakakmu."


Tubuh Dokter Chandra perlahan diselubungi dengan cahaya putih berkilauan. Ruangan itu menjadi terang benderang seketika.


Marianne melihatnya tak percaya. "Kau selamat?" tanya Marianne.


"Kenapa tubuhmu berbeda? Dan aku juga? Yang kuingat, aku sudah bersiap untuk mati," ujarnya kebingungan.


"Aku akan menjelaskannya, Ivy."


Dokter Chandra menggenggam tangan Marianne. Dibawanya Marianne terbang melewati jendela besar di dekat mesin jahit.


"Ahh ... untung saja Penguasa segera tiba. Aku sangat terkejut melihatnya mengamuk," Ujar Widuri.


"Kau tak apa-apa?" tanya Dean khawatir.


"Aku baik-baik saja. Cuma terkejut. Lihatlah apa yang dilakukannya di kamar Marianne yang biasanya rapi." Widuri menunjuk kamar yang sudah seperti kapal pecah.


"Biarkan saja. Nanti juga akan dirapikannya lagi," timbrung Indra.


"ke mana mereka?" Niken mencari lewat jendela.


"Jika bukan ke gazebo, harusnya ke gua kebun obat," tebak Widuri.


"Yah ... ayo turun. Aku sedang menyiapkan makan siang, jadi tertunda," gerutu Niken.


*


*


"Tempat ini masih ada!" seru Ivy.

__ADS_1


"Terima kasih sudah menjaganya untukku," timpal Dokter Chandra.


"Berati kau sudah menemukan kebun obat itu!" tuturnya datar.


Dokter Chandra mengangguk. Keduanya berhenti di gazebo yang sudah diperbaiki Indra dan Sunil.


"Ceritakan padaku, bagaimana kita bisa jadi seperti ini!" desaknya tak sabar.


"Kau masih saja mudah disulut emosi!" keluh Dokter Chandra.


"Ok. Aku akan mendengarkan dengan tenang," ujarnya mengalah.


Dokter Chandra menceritakan bagaimana tubuh mereka bisa berubah, sementara pikiran masih sama.


"Kami baru memakamkanmu sekitar tuga jam yang lalu." Dokter Chandra menunjuk lokasi makam.


"Aku sedang berbincang dengan cucumu, ketika dipanggil karena kau bangun dan mengamuk," jelas Dokter Chandra.


"Cucu? Cucu apa?" tanyanya heran.


"Bukankah kau punya putri amgkat di pulau kecil jelek itu?" tanya Dokter Chandra memastikan.


Ivy berfikir sebentar. "Ahhh ....aku ingat sekarang. Gadis itu ... dia memberiku cucu? Hahaha," ujarnya tertawa senang.


"Ya, seorang putra." Dokter Chandra mengangguk.


"Dia di sini? Di mana?" tanya Ivy tak sabaran.


"Nanti kuperkenalkan. Jangan khawatir. Apa kau ingin melihat makammu sebentar?" tawar Dokter Chandra.


"Ayo!"


Ivy melesat terbang secepat cahaya. Dalam aekejap sudah sampai di area makam. Dilihatnya berkeliling tempat itu.


"Tempat yang bagus!" puji Ivy. Dia berjalan dan sedikit melompat karena tanah itu dibuat agak naik dari yang lainnya.


"Tambahkan undakan batu di sini. Kau menaikkan tanahnya terlalu tinggi!" kritiknya.


"Segera!" sahut Dokter Chandra. Jemari tangannya segera bergerak. Sekonyong-konyong, tanah di situ sedikit bergerak naik. Sekarang sudah ada undakan agar tidak menyulitkan orang lain untuk nsik, menuju ke makam.


"Tempat yang bagus dan indah. Kenapa dibuat terlalu besar?" tanyanya.


"Jika salah satu dari anggota kelompok kita tewas, sudah ada tempat khusus untuk itu," Jelas Dokter Chandra cepat.


"Kau berpikir terlalu rumit," celanya


"Itu makam siapa?" tunjukknya


"Makam putrinu. Dia juga di bawa ke sini dari pulau itu.


"Anak baik," keluhnya


*******

__ADS_1


__ADS_2