
Kenny mengawasi Liam yang masih terduduk di tengah gerbang kota. Dia tak dapat mendengar suara tangisan. Tapi bisa merasakan kesedihan Liam. Bahu kekar itu tampak turun karena beban berat yang ditanggungnya.
Tiba-tiba Kenny terkejut. Ada cahaya di langit kota. Cahaya itu merambat dari arah depan.
'Gawat! Apakah ada orang lain yang masuk ke sini? Apakah para penjahat yang menguasai desa?' pikirnya.
"Liam!" teriak Kenny sambil berlari ke arah Liam.
Liam menoleh ke arah suara Kenny. Dilihatnya Kenny yang berlari dengan wajah panik. Liam ikutan panik. Apakah Laras? Tidak! Liam segera berdiri dengan wajah cemas.
"Ada apa dengan Laras? Apa dia mencariku? Ayo kita kembali." Liam menghapus airmatanya dan melangkah kembali ke arah tengah kota.
"Hah.. hah.." Kenny berhenti dan mengatur nafasnya.
"Bukan... bukan Laras. I-itu..." tunjuk Kenny ke arah langit kota yang terus bercahaya.
"Tidakkah itu pertanda bahaya?" tanya Kenny.
Liam memperhatikannya. Dia juga mulai khawatir. Jangan-jangan ada orang lain yang menerobos celah dunia ini.
"Ayo kita kembali," kata Liam.
"Ya," sahut Kenny.
Keduanya bergegas untuk kembali ke rumah.
Brukkk
"Aaarrgghhh!"
Kenny tertelungkup di tanah. Lehernya ditekan seseorang. Liam terkejut melihat itu. Tapi sebelum dia bereaksi, tangan lain menyentuh lehernya dan mendorongnya hingga jatuh ke tanah juga. Tapi posisinya yang berjongkok jauh lebih baik dari Kenny.
"Tolong, kami hanya tersesat di sini. Kami bukan orang jahat. Jika kalian pemilik rumah itu kami minta maaf. Kami bisa jelaskan semuanya. Tolong jangan sakiti dia."
Liam berusaha keras menjelaskan keadaan mereka. Entah orang-orang ini mengerti atau tidak.
"Ada apa?"
Liam mendengar suara orang lainnya. Dia makin cemas. Tampaknya rumah itu bukan hanya diisi suami istri. Mungkin juga ada beberapa orang lain.
"Ada penyusup. Seharusnya kan tak ada yang tau tempat ini," kata Yoshi.
"Yabie, lepaskan. Kau menyakitinya. Lalu bagaimana kita mau bertanya kalau dia tak bisa menjawab?" Dean mencoba meredakan kemarahan Yabie.
"Betul. Kami hanya tersesat. Maafkan kami," ujar Liam.
Widuri melangkah melewati Yabie yang mulai mengendurkan tekanannya pada leher Kenny. Alis Widuri sedikit mengerut. Dia penasaran dengan orang yang dipegang Yoshi.
"Coba jelaskan bagaimana kalian bisa sampai tersesat di sini," tanya Widuri sambil mengangkat wajah pria di depannya.
Keduanya segera terkejut.
"Widuri?" tanya Liam.
"Liam? Ini benar-benar kau?"
Widuri memeluk Liam hangat. Airmatanya menetes. Melihat itu, Yoshi melepaskan pegangannya. Begitu juga Yabie. Kenny melihat bingung pada Liam yang memeluk seorang wanita.
Wajah Dean menggelap.
"Mau berapa lama kau memeluk wanitaku?" tanya Dean dingin.
Liam terkejut. Dilepaskannya pelukan Widuri. Lalu dia menoleh ke arah suara itu.
"Dean!" serunya gembira.
__ADS_1
Liam segera berdiri dan hendak memeluk Dean juga.
Dean menahan Liam dengan tangannya. Tangan Liam menggapai ingin memeluk.
"Kau bukan istriku. Untuk apa peluk peluk?" Mata Dean membuka lebar. Dia tersenyum kini.
"Itu karena aku merindukanmu!" ujar Liam jengkel.
"Ini siapa?" tunjuk Dean pada Kenny.
"Ah, dia teman seperjalananku. Panjang ceritanya nanti saja. Ada hal yang lebih penting. Laras sakit. Dia butuh bantuan." Wajah Liam kembali panik.
"Dimana dia?" tanya Widuri khawatir.
"Di rumah. Ayo," Liam berlari.
"Aaahhhhhh."
Terdengar jerit ngeri Kenny dan Liam yang dibawa terbang oleh Yoshi dan Yabie. Di belakang menyusul Dean dan Widuri.
Yabie masuk rumah dengan langkah cepat. Seorang anak dan gadis remaja menjerit terkejut melihat kehadiran orang asing di rumah itu.
"Tidak apa-apa. Mereka teman kita." ujar Liam menenangkan.
"Kenny, tenangkan mereka dan beritau anak-anak yang lain. Mereka mau melihat kondisi Laras," ujar Liam. Kenny mengangguk.
Dean, Widuri dan Yoshi menyusul Liam masuk. Lalu diikuti Kenny dan dua anak yang sebelumnya ada di kebun depan.
"Laras, kau lihat siapa yang datang? Ini Widuri dan Dean. Mereka ada di sini. Mereka bisa membantumu."
Liam naik ke tempat tidur. Duduk di depan Laras yang membelakangi pintu.
"Widuri? Dean?" Suara Laras terdengar sangat lemah. Liam mengangguk sambil tersenyum.
"Laras, ini aku, Widuri," Widuri menggenggam tangan Laras lembut.
"Widuri ... ku-kira aku ber-mimpi ...," katanya lemah.
"Tidak. Syukurlah kita bertemu lagi. Tebang. Kami akan mengobatimu," ujar Widuri.
"Dean, bisakah dokter Chandra dibawa kemari? Atau kita pindahkan Widuri ke pondok?
"Kalian bertemu dokter Chandra?" tanya Liam tak percaya.
"Ya. Ada Indra dan Niken juga. Mereka terdampar di pantai." jawab Dean.
"Paman, biar aku yang menjemput dokter Chandra. Bibi ini tampaknya tak bisa dipindahkan." Yoshi menawarkan diri.
"Yabie, pergi ambillah benda itu. Lalu temani kakakmu untuk menjemput dokter Chandra. Bawa ke sini," perintah Dean.
"Ya, paman," jawab Yabie.
Dia lalu keluar dari kamar. Tertegun sebentar melihat begitu banyak anak kecil berdiri diam dan takut di ruang tengah itu. Yabie melempar senyum kaku, lalu pergi ke arah gudang. Yabie menemukan benda yang dicarinya di atas rak. Dia segera keluar dengan bahagia.
Mattew melihat benda yang dipegang orang asing di depannya.
'Oh, syukurlah aku tidak lancang membukanya. Ternyata benar milik penghuni rumah sebelumnya' batinnya. Mattew merasa lega.
"Sudah ketemu."
Yabie menunjukkan kotak kotak hitam di tangannya. Yoshi memeriksa kotak itu sejenak. Dia tak mengenalinya.
"Paman, apa kau mengenali kotak milik ibu ini?" tanya Yoshi sambil menyodorkan kotak itu pada Dean
Setelah mengamati beberapa saat. "Aku tidak mengenalnya," kata Dean yakin.
__ADS_1
"Coba tanya ayahmu," saran Dean.
"Baiklah. Kami jemput dokter Chandra dulu."
Yoshi dan Yabie keluar ruangan.
"A-apa maksudnya dengan paman dan bibi?" Liam akhirnya tak bisa menahan tanya.
"Mereka anak saudaraku. Keponakanku. Tentu saja harus memanggilku paman.
"Dan tadi kau menyebut Widuri wanitamu. Apa maksudmu? Kalian pacaran?" tanya Liam lagi.
"Kami sudah menikah," kata Dean dengan bangga.
"Selamat. Selamat. Aku senang mendengarnya. Hahahaa," Liam tertawa senang.
"Hush. Berisik. Laras sedang sakit!" tegur Widuri.
"Lihatlah, dia sampai menangis. Kalian pergi keluar sana. Mengganggu saja," omel Widuri.
"Ya, nyonya," jawab Dean sigap. Widuri melotot.
"Laras, apakah sangat sakit? Jangan menangis lagi. Sebentar lagi dokter Chandra datang." Widuri hanya bisa mengusap-usap tangan Laras dengan lembut.
'Mereka sudah menikah. Tak ada harapan lagi.' Laras merasa hatinya hancur. Cinta yang selama ini disimpannya harus dikubur selamanya. Laras memejamkan mata. Airmata kepedihan mengalir keluar.
"Ya Tuhan... beri sahabatku kekuatan. Hilangkanlah rasa sakitnya. Dan beri kesembuhan padanya," doa Widuri lirih.
Widuri terus menggenggam tangan Laras. Membujuk, menyemangati dan memberinya kekuatan.
Laras mencoba tersenyum.
"Widuri. Selamat ya, kau sudah menemukan jodohmu," kata Laras tulus.
Widuri tersenyum manis.
"Terima kasih. Tapi tak usah pikirkan itu sekarang, oke?" balas Widuri lembut.
"Hemmm," Laras mengangguk.
"Aku lega bertemu dengan kalian lagi. Aku merasa tak punya beban lagi. Tolong jaga anak-anak itu untukku," ucap Laras pelan.
"Laras, apa yang kau katakan? Jangan berkata seolah-olah kau akan mati. Jangan menakutiku!" kata Widuri kesal.
Tapi Laras tak membalas kata-katanya.
"Laras. Laras! Bangun. Jangan pingsan sekarang!" Widuri panik.
"Dean, Liam. Laras pingsan!" teriak Widuri.
Seorang gadis remaja yang disuruh berjaga di situ, segera lari ke halaman belakang. Liam memperkenalkan kelompok Mattew dan Kenny. Dia menunjukkan halaman belakang yang baru mereka tanami.
"Kak Liam, kak Laras pingsan!" ujar anak perempuan itu.
Liam, Dean segera balik ke rumah.
"Bagaimana dia bisa pingsan?" tanya Liam
"Tidak tau. Mungkin terlalu sakit. Dia sampai menangis tadi," Widuri menjelaskan sambil menangis. Dia merasa takut kini. Dean memeluk untuk menenangkannya.
Kini Liam yang duduk di tempat tidur, mencoba menyadarkan Laras.
"Ambilkan air untuk kompres!" perintahnya pada gadis remaja yang berdiri di pintu kamar. Gadis itu segera berlari keluar.
*********
__ADS_1