PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 175. Adik Yoshi


__ADS_3

"Siapa dia?" tanya Nastiti.


Indra telah lari ke arah dapur. Dia ada melihat tali digantung di dinding dapur. Saat dia kembali, orang asing itu telah ditundukkan oleh Alan. Indra mengikat kedua tangan dan kaki orang asing itu.


Orang itu berusaha melepaskan diri. Tapi makin keras usahanya, makin kencang ikatan tali di lengan dan kakinya. Akhirnya dia menyerah. Tapi matanya memandang Yoshi dengan sorot tajam


Tuan kota, Dean dan Widuri mendekat. Yoshi menatap ayahnya meminta persetujuan. Tuan kota mengangguk. Sebuah pisau tiba-tiba muncul dalam genggaman Yoshi. Dengan cepat Yoshi menggores lengan orang itu. Lalu Yoshi juga menggores lengannya sendiri.


Yoshi membandingkan darahnya dan darah orang asing itu. Keduanya sama" tampak seperti tetesan air bening berkilauan.


"Dia sama dengan kita." kata ketua kota.


""Apa?"


Terdengar suara-suara tak percaya dengan apa yang telah mereka lihat. Bagaimana mungkin darahnya tampak sebening tetesan air?


Tuan kota mendekat. Dia menangkupkan kedua tangannya di wajah orang itu dan menatapnya dengan tajam.


Indra bergidik ngeri melihat itu. Tatapan tajam ketua kota seperti hendak membuka rahasia yang disimpan orang itu dalam memorinya. Orang itu terlihat berontak kesakitan, karena memorinya dimasuki secara paksa.


Bahkan Dean dan Alan tak menyangka ketua kota bisa melakukan cara semenyakitkan itu


Tapi tiba-tiba tangan ketua kota bergetar. Dia justru memeluk orang asing itu dan menangis. Namun tak sepatah katapun yang terucap


"Ayah.."


Yoshi ingin menyela, saat menyadari bahwa ayahnya sedang berkomunikasi dengan orang asing itu. Yoshi menahan agar orang lain tak mengganggu apa yang sedang dilakukan ketua kota.


Dean bertanya lewat transmisi pada Yoshi.


"Ayah sedang berkomunikasi dengannya." jawab Yoshi singkat.


Dean mengangguk, lalu membawa yang lainnya sedikit menjauh. Memberi ruang dan ketenangan pada ketua kota.


Nastiti dan Niken menyajikan makanan yang telah mereka siapkan. Mereka akan menikmati makan siang di bawah pohon.


Tapi acara makan itu tak bisa terlalu ramai. Karena ketua kota belum melepaskan pelukannya dari orang asing itu. Yoshi masih setia menunggui. Dia makin merasa aneh ketika melihat tangan ayahnya mengusap-usap punggung orang itu dengan lembut.


"Mata ayah basah tapi terlihat penuh kasih sayang. Siapa orang ini sebenarnya?" gumam Yoshi.


"Yoshi mari makan dulu dan biarkan ayahmu sebentar." Dean mengirim pesan transmisi.


"Tidak paman. Aku tidak mempercayai orang ini. Aku harus menjaga ayah." Yoshi bersikeras.


Dean tak lagi memaksa. Dia ikut memperhatikan dua orang yang sedang berpelukan itu. Keningnya mengerut.


'Mereka terlihat mesra. Seperti kenalan lama yang berjumpa lagi' pikirnya.


"Ayah... apa yang terjadi? Ayah mengenalnya?" tanya Yoshi lembut, sambil memegang pundak ayahnya.


Ketua kota terkejut. Lalu tangisnya pecah. Semua orang bisa mendengar ketua kota sedang menangis keras. Tangis sedih, haru, bahagia? Tak bisa diduga.

__ADS_1


"Yo.. shi, dia... a..dikmu." Suara ketua kota terbata-bata.


Pemberitahuan itu seperti gelegar guntur di siang bolong. Sungguh mengejutkan. Dean segera melesat ke samping Yoshi. Dia menahan tubuh Yoshi yang gemetar hebat.


"Apa maksudmu?!" Dean menatap tajam dan minta penjelasan. Jelas dia akan murka jika ternyata Bi diselingkuhi.


Tuan kota terhuyung. Tubuhnya tumbang. Tapi Alan segera melesat untuk menyangga tubuhnya agar tak terbanting ke tanah.


"Ayah!" Yoshi mengejar ayahnya.


Dean melesat untuk mengambil air tempayan.


"Beri minum ini." Dean menyodorkan secangkir air abadi pada Yoshi. Yoshi segera memberi ayahnya minum. Sayap tuan kota perlahan-lahan menghilang.


"Dia adikmu. Ibumu sedang hamil saat pergi ke kubah itu. Kau bisa membaca ingatannya." Dengan suara lemah tuan kota menjelaskannya.


Dean dan Yoshi melihat ke arah orang asing itu. Mata orang itu basah dan penuh tanya. Yoshi mendekatinya, memeluknya. Dan tangisnya meledak. Orang asing itu hanya diam, tapi matanya ikut membasah.


Yoshi melepas ikatan pada tangan dan kaki adik yang baru ditemuinya itu. Dibawanya ke dekat ayahnya.


Tuan kota merengkuh wajah kedua anaknya. Memejamkan mata dan mentransfer ingatan Yoshi tentang ibunya pada anak yang baru ditemuinya itu.


Ekspresi terkejut jelas terlihat di wajahnya. Ditatapnya Yoshi dengan seksama. Lalu tanpa disangka dia berteriak..


"Ibuuuu.." sambil menangis dan memeluk Yoshi.


Semua orang tertegun melihat itu. Yoshi berdiri kaku dipanggil ibu.


Ketua kota melihat kedua anaknya yang saling berpelukan dengan keharuan mendalam.


Tak lama Yoshi melepaskan pelukan adiknya. Lalu dia menarik tangan Dean.


"Ini paman Dean. Saudara ibu kita." Yoshi memperkenalkan Dean pada adiknya.


"Lihat, dia kebingungan karena terlalu banyak informasi yang harus dicerna sekaligus." Dean memperhatikan sesuatu di leher anak itu.


Tangan Dean terulur ke arah lehernya. Anak itu sigap mencengkeram sesuatu di leher itu.


Dean menunjukkan kalungnya. Anak itu mengamati kalung Dean. Dia lalu mengeluarkan kalungnya yang mirip dengan milik Dean.


Alan juga ikut menunjukkan kalung yang sama. Wajah anak itu mulai. menunjukkan ekspresi percaya pada Dean dan Alan.


"Itu kalung ibumu." terdengar suara ketua kota. Dean mengangguk. Dia mengenali dengan kalung penyimpanan Bi itu.


Dengan sekali gerakan, Dean mengeluarkan isi kalung itu. Semua isinya melayang di udara. Kebanyakan isinya adalah stok makanan. Dean memeriksa beberapa barang lain. Tapi tak ada yang bisa menjelaskan tentang Bi.


"Namamu siapa?" tanya Dean.


"Aku belum mengetahui namanya. Aku lelah. Membaca memori seseorang itu butuh kekuatan batin." Jelas ketua kota.


"Tidak apa ayah.. Pulihkan tenagamu dulu. Nanti kita cari tau lagi." Yoshi menenangkan ayahnya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita kembali ke rumah sekarang Bawa dia," putus ketua kota.


"Baik ayah," ujar Yoshi.


"Kita pulang ke rumah yuk.." ajak Yoshi pada adiknya yang sedang memperhatikan semua orang di situ.


Dia bergeming. Matanya berhenti dan terpaku pada Sunil yang duduk diam di kursi roda.


"Ini paman Sunil. Dia sedang sakit. Jadi tak bisa menyapamu." Yoshi mengenalkan Sunil.


Anak itu meletakkan telapak tangannya pada kening Sunil. Seberkas cahaya keperakan muncul dan melingkupi tubuh Sunil. Tak berapa lama tangannya diangkat kembali. Dia menatap Sunil lama, lalu mengangguk.


Dia mencoba mengangkat Sunil. Tapi tangannya segera ditahan Dean. Anak itu memberi isyarat ke arah hutan.


"Kau mau membawanya ke tengah hutan? Untuk apa? Apa kau bisa mengobatinya?


Anak itu mengangguk-angguk beberapa kali.


"Paman Dean, sebaiknya Kau mengantar ayah pulang. Aku dan paman Alan akan mengikutinya. Mungkin dia punya cara mengobati paman Sunil." Yoshi membuat pengaturan.


Dean tak terlalu yakin, jadi dia masih diam dan berpikir.


"Paman, kau lihat tadi kekuatan penyembuhannya kan. Dia lebih kuat dariku." Jelas Yoshi.


"Baiklah. Alan, kau bertanggungjawab atas Sunil." pesan Dean.


"Ayah, kau kembali dengan paman Dean dulu. Nanti setelah urusan paman Sunil selesai, aku akan membawanya kembali ke rumah kita." kata Yoshi.


Ketua kota mengangguk lemah. Dia tak punya pilihan. Bagaimanapun, kesehatan Sunil juga penting.


Yoshi, Alan, Sunil dan adik Yoshi melesat cepat dan menghilang di kedalaman hutan.


Dean menghampiri Widuri dan teman-teman lain yang hanya memperhatikan mereka sejak tadi.


"Aku mau antar ketua kota ke kediamannya dulu. Kau tunggu di sini." Dean mengecup kening Widuri. Widuri mengangguk.


"Cepat kembali." Bisik Widuri lembut.


"Hem.." Dean melepaskan pelukannya.


Lalu menghampiri ketua kota yang sudah ditemani oleh dokter Chandra.


"Maafkan saya merusak acara bahagia kalian," kata ketua kota.


"Tidak.. Sama sekali tidak. Kami ikut bahagia karena anda menemukan putra anda kembali." Dokter Chandra berkata bijak.


"Kami berangkat," ujar Dean.


Dokter Chandra mengangguk. Dean segera melesat membawa ketua kota kembali ke kediamannya.


Pondok itu kinin hening. Terlalu banyak kejutan hari ini. Harus dipahami dengan perlahan.

__ADS_1


*****


__ADS_2