
Sarapan sudah selesai. Tapi dokter Chandra masih belum sadarkan diri. Dean sudah memberikan minum air abadi padanya. Mereka hanya bisa menunggu.
"Aku melihat Indra pergi dengan Sulaiman tadi. Biar ku bawakan makanan ke bawah," kata Niken.
"Ya. Ambil untukmu dan Sulaiman juga," ujar Marianne.
Niken memisahkan makanan untuk mereka bertiga di wadah lain. Dia bersiap turun bukit.
"Ucapkan terima kasih pada Sulaiman untuk sayuran yang diantarkannya," pesan Marianne.
"Oke!" sahut Niken sambil berlalu.
"Sebaiknya kita makan dulu. Pisahkan makanan untuk penguasa agar bisa dimakan nanti," saran Robert.
"Baik," jawab Widuri cepat. Bersama Marianne mereka memisahkan makanan untuk dokter Chandra.
Mereka menikmati sarapan yang sudah kesiangan itu. Hari mulai panas, karena posisi matahari kian meninggi.
Anggota tim itu duduk-duduk menikmati hembusan semilir angin laut. Harusnya jam segini masih banyak burung camar beterbangan. Tapi langit dan laut ini sepi. Yang terdengar hanya suara deburan ombak yang memecah karang di bawah sana.
"Ugh ...."
Leon yang berada di dalam rumah bersama Jane dan bayi itu, langsung mengabarkan bangunnya dokter Chandra.
Semua berkumpul di sekitar dokter Chandra. Mengawasi dengan khawatir. Apakah proses tadi berhasil atau tidak?
"Kalian menghawatirkan aku? Aku baik-baik saja sekarang. Hanya agak haus dan lapar," ujar dokter Chandra.
"Ah ... aku lupa."
Widuri segera ke belakang dan mengambil makanan yang di hangatkan dekat perapian.
Dokter Chandra makan dengan lahap. Dia terlihat puas dengan makanannya. Senyum tak lepas dari wajahnya saat melihat semua orang di sana menunggunya bicara.
Kemudian, keheningan yang kaku itu buyar setelah tangis bayi lelaki itu pecah. Dokter Chandra menoleh ke arahnya sambil tersenyum.
"Bawa dia ke sini."
Wibawa yang ditunjukkan dokter Chandra, membuat tak seorangpun berani membantah. Jane bergegas mengangkat bayi itu dari alas tidur. Kemudian membawanya ke hadapan dokter Chandra.
"Dia lapar," ujar dokter Chandra.
"Akan ku siapkan makanannya," sahut Marianne. Wanita paruh baya itu menyingkir ke dapur.
"Apa kalian sudah memberinya nama?" tanya dokter Chandra.
"Belum," jawab Leon.
"Boleh aku memberinya nama?"
"Tentu saja, Yang Mulia. Itu adalah berkat untuknya," jawab Leon takzim.
"Aku memberimu nama Eunoia Khandra, artinya Cahaya Pemikiran. Aku memberimu berkat kecerdasan Bangsa Cahaya."
Seberkas cahaya menyelubungi kepala bayi itu memasuki kepalanya, lalu menghilang. Tangis bayi itu langsung hilang.
Leon tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Kemudian berlutut di lantai dan berterima kasih.
"Terima kasih untuk berkat Yang Mulia," ujar Leon. Jane juga ikut menundukkan kepala.
"Sudah, beri dia makan," perintah dokter Chandra. Jane langsung pergi ke belakang membawa bayinya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana rencana selanjutnya?" tanya dokter Chandra pada Dean.
"Kami ingin memeriksa pulau terdekat lainnya," jawab Dean.
Dokter Chandra mengangguk.
"Ayo kita pergi!" serunya.
"Bagaimana denganku?" tanya Leon.
"Tugasmu menjaga tempat ini. Jika ada sesuatu yang penting, kirim pesan transmisi!" perintah dokter Chandra.
"Baik!" Leon menjawab patuh.
Kemudian lima orang itu melesat ke angkasa. Memeriksa sebentar area sekitar pulau itu. Kemudian melanjutkan rencana.
Mereka melewati pulau pertama yang kini sunyi senyap dan berwana hitam kelabu di mana-mana. Kemudian sampai di pulau kedua, dimana bayi itu ditemukan. Tak ada perubahan juga di situ.
"Di sana ada pulau lain. Sepertinya lebih besar dari ini. Tapi kita tak melihatnya kemarin," ujar Sunil.
"Mungkin karena terlalu gelap," jawab Robert.
"Mari periksa," ujar Dean.
Kelimanya pergi ke tujuan itu. Tak lama berselang, mereka mengambang di udara dan mengawasi pulau yang sunyi. Pulau itu lumayan besar. Tapi bencana yang dialaminya juga besar. Mereka mengelilingi pulau dari ketinggian.
"Lihat! Bukankah itu kapal penumpang, atau semacam Ferry?" tunjuk Sunil ke tengah laut.
"Cobalah periksa. Tapi hati-hati," pesan Dean. Sunil mengangguk.
Biar ku periksa di atas sana!" tunjuk Robert ke arah bukit di pulau itu.
"Ya," Dean mengijinkan.
Setengah jam kelimanya berputar dan memeriksa seluruh area. Tempat ini tak seberuntung pulau kedua, yang masih menyisakan bayi.
""Cepat bereskan. Buat makan untuk jasad yang ditemukan. Bakar semua bangkai ikan pyang mencemari lautan," perintah dokter Chandra.
"Lalu kapal itu bagaimana? Banyak yang gosong di situ. Sepertinya suhu kemarin, membuat kapal itu berubah jadi oven raksasa," ujar Sunil.
"Lubangi kapal itu. Biarkan dia dan penumpangnya tenggelam dan beristirahat dalam kedamaian," kata dokter Chandra.
"Baik. Biar aku yang melubanginya dengan laser." Alan mengajukan diri.
"Pergilah!"
Yang lain mulai membantu mengumpulkan jasad yang tercecer di pantai dan jalan-jalan kota. Dean membuat lubang sangat besar di bawah lapangan yang ada di pinggang bukit. Semua dikuburkan jadi satu di sana.
Lewat tengah hari, semua pekerjaan pembersihan itu telah selesai. Pulau itu telah bebas dari bau bangkai yang menusuk.
"Mari kita kembali," ujar dokter Chandra.
"Apa tak sebaiknya kita lanjut memeriksa pulau terdekat?" tanya Sunil.
Dokter Chandra menggeleng.
"Kembali dulu. Kita diskusikan lagi langkah selanjutnya. Kita harus buat keputusan malam nanti."
"Baik."
Semua mengangguk mengiyakan dengan patuh. Kemudian mereka kembali ke pulau Buwan. Tak ada yang berani membantah kata-kata dokter Chandra. Keagungan seorang Penguasa sudah menyatu dengan dokter Chandra. Sikapnya, nada bicaranya, serta auranya, mengintimidasi mereka semua. Termasuk para wanita yang jelas-jelas tidak menerima kepingan jiwa Bangsa Cahaya.
__ADS_1
Sampai di pulau, mereka tidak langsung ke tempat Leon. Tapi menuju rumah Sulaiman.
Pria itu sedang asik mengolah lahan di belakang rumahnya. Meski tanah itu keras, dia tetap tekun. Alan memanggilnya agar ikut ke depan, menemui dokter Chandra.
"Ya, Dokter. Ada apa?" tanya Sulaiman begitu tiba di depan.
"Saya berpikir keras beberapa hari ini. Tapi kemudian menemukan cara untuk mengobati sedikit pandanganmu yang kabur," ujar dokter Chandra.
"Wah, senang sekali. Mata ini memang mengganggu saat malam tiba," sambut Sulaiman,
"Mendekatlah ke mari."
Sulaiman mendekat. Keduanya duduk di lantai, yang kini sudah bersih.
"Coba berbaring ...."
Sulaiman mengikuti instruksi dokter Chandra. Dokter Chandra memegang kepala Sulaiman dengan tangan kirinya, lalu di tangan kanannya ada sesuatu yang tak seorangpun tau. Mungkin itu benda yang berasal dari penyimpanannya.
Ada tetesan air dimasukkan ke mata Sulaiman, kiri dan kanan. Kemudian dokter Chandra menutup kelopak mata Sulaiman, menahan dengan tangan agar tak terbuka.
"Aduh, sakit ... panas!" keluh Sulaiman.
"Tahan sebentar," kata dokter Chandra datar. Mata Sulaiman ditutup hingga lima menitan. Kemudian dokter Chandra mengakat tangannya yang menutupi kelopak mata tadi.
"Coba kau buka mata sekarang."
Sulaiman membuka matanya yang masih terasa panas. Dokter Chandra mengamati matanya.
"Cuci muka dulu. Basahi matamu hingga mendingin. Nanti kau akan baik-baik saja."
"Baik."
Sulaiman langsung pergi ke halaman belakang, di mana kamar mandinya berada.
"Ayo kita kembali," ajak dokter Chandra.
"Lalu, bagaimana dengannya?" tanya Alan heran.
"Dia akan baik-baik saja," jawab dokter Chandra santai. Dia sudah melangkahkan kaki keluar rumah.
Dokter Chandra memilih untuk berjalan menuju kediaman Leon. Sepanjang jalan tangan dokter Chandra terangkat. Kadang melambai, kadang berputar-putar. Tak seorangpun mengerti apa yang dilakukannya. Tapi tak seorang berani bertanya. Mereka mengikuti saja dari belakang.
Sampai di halaman rumah Leon, Dean dapat mendengar gumaman dokter Chandra.
"Sudah sampai."
"Apa yang sudah sampai?" pikir Dean.
Oh ya, mereka memang sudah sampai di kediaman Leon.
Mereka semua baru naik ke teras, ketika suara angin berkesiur dan berhasil melambaikan ujung kemeja dokter Chandra. Pria paruh baya itu berbalik dan tersenyum misterius. Kemudian lanjut masuk ke rumah.
"Ah, mau turun hujan. Jemuranku," Widuri berlari ke halaman samping dan mengangkati semua kain.
Kini Dean mengerti, apa yang terjadi. Dia bersyukur Penguasa Cahaya masih bersama dengan mereka. Dean tersenyum melihat teman-temannya tertawa kegirangan. Berlarian di bawah guyuran hujan. Sedikit kilatan petir di sana sini, mereka sambut dengan penuh syukur. Dan Alan yang paling senang menyambut datangnya petir.
"Jangan mengganggu petir itu!" terdengar peringatan di kepala Alan. Dia yang sudah melayang tinggi, kini turun dengan ekspresi takut.
"Ku tebak, Penguasa pasti melarangmu bermain petir," ledek Sunil sambil tertawa.
Tapi cemberutnya Alan tak lama. Dia sibuk mengajak Cloudy mandi hujan. Keduanya berlarian di halaman.
__ADS_1
*******