PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 128. Diskusi Dengan Ketua Kota


__ADS_3

Saat sarapan, Dean menyampaikan hasil diskusinya dengan Widuri. Widuri mengijinkannya memeriksa kubah cahaya di tengah hutan itu dengan beberapa syarat.


Bahwa pergi ke sana itu harus dengan ijin dari tetua. Bahwa tidak boleh membahayakan nyawa. Tidak boleh menerobos masuk ke dalam kubah.


Alan terheran-heran.


"Kenapa malah kau ijinkan dia memeriksa ke sana?"


"Bagaimanapun, A sudah sangat membantu kita. Jadi tak ada salahnya kita membantunya mencari tau tentang Bi. Sungguh sudah tewas atau bagaimana."


"Jika tak berhasilpun, setidaknya kita sudah berusaha. Kau jangan kecewa A." Kata Nastiti.


Dean mengangguk.


"Jadi, setelah sarapan, kau temani aku ke kediaman tuan kota Alan."


"Siapp. Tapi apapun hasilnya nanti, kita bicarakan dulu dengan semuanya, sebelum pergi ke sana." Jawab Alan.


"Oke." Dean mengangguk


*


*


"Paman, apa kau datang untuk bertemu ayah?" Yoshi menyambut Dean dan Alan di depan pintu rumah.


"Ya, ada yang ingin kami bicarakan. Apakah ayahmu sibuk?" Tanya Dean sambil tersenyum.


"Tidak. Ayah baru selesai bertemu dengan kepala keamanan. Mari masuk." Yoshi mengantar mereka ke ruangan tetua kota.


"Ayah.. Paman Dean dan temannya datang," Yoshi sudah berteriak bahkan sebelum membuka pintu.


"Berhentilah bersikap begitu. Kau bukan anak kecil lagi. Bawa pamanmu masuk dan siapkan minuman," omel ayahnya.


"Paman, ayo masuk. Aku siapkan minuman dulu." Yoshi langsung menghilang.


"Hah... anak ini. Selalu bertingkah konyol jika di rumah. Tapi pada orang lain sikapnya sangat berbeda. Luar biasa dingin, sombong dan galak." Ketua kota mengeluh setelah Dean dan Alan duduk.


Dean tersenyum ringan.


"Bukankah bagus jika dia bersikap begitu di rumah? Rumah ini jadi lebih ceria dan ramai." Balas Dean.


"Meski kau pamannya, tolong jangan manjakan dia." Ketua kota mengingatkan. Dean mengangguk setuju.


"Jadi, ada hal apa kalian datang ke sini?" tanya Tuan kota.


"Ini, saya masih menyimpan air dari mata air abadi yang berasal dari dunia kami. Ini bukanlah obat, tapi bangsa kami percaya bahwa dengan meminum air ini, beberapa keluhan pada tubuh bisa diatasi."

__ADS_1


Dean mengulurkan kendi ukuran sedang yang telah diisinya dengan air dari mata air abadi di tempayan.


"Waahhh.. aku sangat beruntung. Dulu Bi pernah menceritakan tentang khasiat mata air abadi. Tapi karena aku tak pernah melihat dan merasakan manfaatnya, aku tidak terlalu percaya. Sekarang kau justru memberikannya padaku. Terima kasih banyak."


Ketua kota terlihat bahagia. Dituangnya air di kendi pada cangkir minumnya yang kosong. Lalu langsung meminumnya di depan Dean dan Alan.


"Ahh, menyegarkan sekali rasanya. Terasa agak dingin di tenggorokan." Ketua kota kembali meneguk minumannya hingga habis.


"Beruntung aku bertemu dengan kalian. Ehh, sekarang katakan ada hal apa kalian datang hari ini." Ketua kembali pada pertanyaannya tadi.


"Kami ingin memeriksa kubah cahaya di hutan itu. Bagaimana pendapat anda?" tanya Dean langsung.


"Oo tidak. Tidak.. tidak.. Tempat itu berbahaya. Jika saja aku bisa melenyapkannya, pasti sudah ku lenyapkan agar tak jatuh korban lainnya. Tapi aku tak bisa. Jadi lebih baik menjauh saja." Ketua kota menggelengkan kepala sambil tangannya mengibas tanda menolak keras.


"Kami hanya ingin memeriksa dan mencari tau keadaan Bi. Jika dia masih hidup, mungkin kita bisa cari cara untuk menyelamatkannya." Dean membujuk ketua kota.


"Hidup? Bagaimana bisa dia masih hidup setelah terkurung di sana selama 600 tahun?" Ketua kota menggeleng lemah.


"Apa? Apa maksudmu 600 tahun? Bukankah baru beberapa puluh tahun?" tanya Dean heran.


"Tidak. Kejadian itu sudah 600 tahun lebih. Dan karena Bi juga, aku ikut berumur panjang melebihi manusia biasa. Tapi aku tidak tau kenapa Duke juga bisa berumur panjang." Kata ketua kota.


"Ya, artinya Duke juga sudah berumur 600 tahun lebih. Jika bukan terbunuh oleh kita, maka dia akan terus panjang umur." Dean berguman sambil menegang dagunya.


"Jadi sudah berapa lama Bi berada di sini?"


"Hemmm... Bi hamil setelah kira-kira 400 tahun kami hidup bersama. Kelahiran Yoshi adalah hal yang paling membahagiakan. Kami..."


"Jadi Yoshi sebenarnya berusia 600 tahun?" Alan memotong ucapan tuan kota dengan mimik tak percaya.


"Yah, begitulah. Tapi tingkahnya masih seperti anak-anak." Ketua kota tersenyum melihat dua tamunya terlihat linglung.


"A, berarti kita sudah 1000 tahun terkubur di gunung batu dunia kecil," transmisi suara Alan terdengar oleh Dean. Dean hanya menoleh dengan mimik yang sulit untuk dilukiskan.


"Hahaha... kalian berwajah bodoh. Apakah ayahku sudah menipumu paman?"


Suara Yoshi yang nyaring segera menyadarkan Alan dan Dean. Keduanya meringis sambil menggaruk kepala.


"Apa kalian masih ingin memeriksa?" Tanya ketua kota.


"Aishh, ini diluar dugaan. Kami akan mendiskusikannya dulu dengan anggota tim yang lain." Dean menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia masih shock mengetahui waktu yang telah berlalu.


"Kalian mau kemana paman? Bolehkah aku ikut?" Yoshi bertanya dengan nada manja.


"Kami mau mencari jodoh untukmu," jawab Alan jahil.


"Apa? Aku tidak mau. Aku masih kecil. Aku mau bersama ayah saja." Tolak Yoshi segera.

__ADS_1


"Kau bukan anak kecil lagi. Berapa kali ayah bilang. Berhentilah bersikap kekanakan. Pamanmu benar. Kau harus segera menikah."


Ketua kota mengambil kesempatan di depan matanya untuk mendesak putrinya menikah.


"Aku tidak mau. Huh!"


Yoshi menghentak kaki di lantai lalu keluar dari ruangan dengan wajah marah.


Aishh anak ini sungguh sulit diatur." keluh ketua kota.


"Baiklah, Jadi kami akan memeriksa sekeliling kubah itu dulu. Beberapa waktu yang lalu ada yang mengintip rekan kami di pagi hari. Dan kemarin kami melihat satu sosok makhluk masuk ke dalam kubah tanpa menimbulkan reaksi apapun pada kubahnya." Jelas Dean.


"Kami ingin tau, apakah yg mengintip kami waktu itu ada hubungannya dengan makhluk yang menerobos masuk ke dalam kubah cahaya itu." Alan menambahkan.


"Ada kejadian seperti itu juga di hutan?" Tanya ketua kota.


"Ya. Dan itu meresahkan para wanita," jawab Dean.


"Baiklah, kalian bisa menyelidikinya. Tapi jangan sekali-kali nekat masuk ke dalam kubah itu." Ketua kota tak bisa lagi mencegah keinginan Dean dan teman-temannya.


"Baiklah. Itu saja yang ingin kami sampaikan. Kami pamit dulu."


"Baik. Kabari aku perkembangannya. Tapi jangan lakukan hal berbahaya." Ketua kota memperingatkan kedua tamunya.


Dean mengangguk lalu mengangkat cangkir minumnya. Dengan sekali teguk, minuman di gelas telah habis. Dean meletakkan kembali cangkir di meja. Alan juga melakukan hal yang sama.


Keduanya bangkit berdiri. Menganggukkan kepala sedikit sebelum melangkah keluar ruangan.


Di halaman rumah, tampak Yoshi sedang berjalan mondar-mandir. Dia terkejut saat melihat Dean dan Alan keluar dan menuju halaman.


"Paman, apa ayahku yang menyuruhmu mencarikan suami untukku? Haisss orang tua itu benar-benar tidak menyayangiku lagi." Yoshi mengeluh.


"Justru karena ayahmu menyayangimu, kau dicarikan jodoh." Bantah Alan.


"Dia hanya ingin mengusirku keluar dari kediaman ini. Paman, tolong jangan dituruti. Ya.. ya.." Yoshi bersikukuh dengan pendapatnya.


"Mencari jodoh bukan hal mudah. Jadi kau bisa bersiap-siap mulai dari sekarang." Balas Dean.


"Ahh, paman. Jangan lakukan itu. Aku baru saja punya paman. Sekarang kalian ingin mengusirku. Lalu aku tak punya orang-orang yang kucintai lagi." Mata Yoshi berkaca-kaca.


"Setelah menikah, wanita akan punya suami. Kau akan mencintainya lebih dari para pamanmu ini." Alan kembali menggoda Yoshi.


"Tidak mau!" Yoshi pergi dengan marah. Dean mengamatinya. Kelihatannya gadis itu menghapus air matanya saat pergi.


"Ayo kita kembali." Dean melanjutkan langkah menuju pintu gerbang kediaman.


*****

__ADS_1


__ADS_2