PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 386. Kembali ke Dunia Kecil


__ADS_3

"Jadi, seperti itu perjalanan kalian?" Ivy mengangguk-anggukkan kepalanya senang.


"Bagus, jika Kang muda bisa bertemu kakeknya!" tambahnya lagi.


"Jadi, kau mau kembali ke desa itu lagi?" tanya Dokter Chandra.


"Ya! Aku harus mengantar mereka pulang!" jawabnya. "Bagaimana dengan pintu teleportasi yang di sini? Bisakah kubawa untuk digunakan di desa itu?" tanyanya.


Dokter Chandra mengangguk. "Ya, kami menemukan pintunya. Kau bisa membawanya!"


Dokter Chandra mengeluarkan pintu teleportasi yang mereka temukan sehari sebelumnya.


"Aku harus kembali ke sana secepatnya. Nanti kita bertemu di dunia kecil." Ivy menyimpan pintu itu dalam kalung penyimpanannya.


"Ya, berhati-hatilah di perjalanan!" pesannya. Ivy mengangguk. Dan keluar dari gua.


Lima warga Suku Cahaya mengangguk hormat dan mengucapkan terima kasih atas bantuan Dokter Chandra dan teman-temannya.


"Hei, katakan pada Niken aku akan segera kembali!" seru Indra yang sudah melesat pergi menyusul Ivy dan lima orang warga Suku Cahaya.


"Kita juga sudah harus kembali. Jadi bisa secepatnya pergi ke Kota Pelabuhan dan bertemu yang lainnya," ujar Dokter Chandra.


Sunil dan Robert mengangguk. Pintu teleportasi menuju dunia kecil, dikeluarkan. Dokter Chandra menyelubungi tubuh mereka dengan cahaya putih berkilau. Kemudian bola cahaya itu lenyap dalam gumpalan cahaya. teleportasi. Pintu teleportasi itu perlahan juga lenyap dari gua.


*


*


Dean, dibantu Aslan sedang memanen tanaman gandum. Ladang jagung dan tanaman padi sudah selesai ditanami kemarin.


Niken dan Widuri asik bersantai di tepi kolam air terjun, ditemani Cloudy.


"Menurutmu, apakah Marianne akan menemukan anak-anak yang dulu ditolongnya?" tanya Niken.


"Mudah-mudahan," sahut Widuri. "Dengan begitu, kita bisa menjaga agar Bangsa Cahaya tidak punah," harapnya.


Niken manggut-manggut. "Kau benar. Rasanya sayang sekali jika bangsa yang punya kemampuan tinggi ini punah. Padahal mungkin bisa memberikan kontribusi besar untuk kemajuan dunia!" ulasnya.


"Sebelumnya, aku belum berpikir sejauh itu. Namun, membiarkan mereka masuk ke dunia manusia jg tidaklah sesederhana itu. Bukan cuma membuat mereka jadi rentan karena keunikannya. Tapi juga pengaruh buruk kehidupan di Bumi yang mungkin akan meracuni pemikiran bersih mereka selama ini!"


Widuri mengatakan pendapatnya sambil berbaring malas menikmati siraman matahari.


"Kau benar!" Niken kembali menganggukan kepala setuju.


"Di tempat asal, mereka biasa patuh pada penguasanya. Tak memiliki banyak keinginan pribadi, karena semua sudah terpenuhi. Semua diarahkan bekerja sesuai dengan keahlian dasar masing-masing. Dan itu membuat mereka puas. Contohnya A, yang punya keahlian pertanian dan pembangunan. Dia sangat pas ditempatkan di dunia kecil pertanian, untuk membuatnya semakin maju!"


Niken merasa kagum dengan pembagian tugas yang dibuat oleh sistem Bangsa Cahaya.


"Ayo kembali. Sebentar lagi Dean dan Aslan sudah akan kelaparan."


Widuri bangkit dari duduknya dan melangkah hati-hati menuju rumah. Niken dan Cloudy mengikuti dari belakang.

__ADS_1


"Apa yang mau kita masak siang ini?" tanya Niken.


"Dean sudah merendam dua ekor ayam sebelum pergi memanen. Aku juga sudah menyiapkan adonan roti tadi subuh. Kukira, kita tinggal memanggangnya saja," jawab Widuri.


"Asikk ... biar kutambahkan salad untuk menemani makan siang kita!" Wajah Niken cerah. Dia sedang membayangkan kelezatan salad asam manis di kepalanya.


"Oke!" Angguk Widuri setuju.


Satu jam kemudian.


"Kalian sedang apa?" sapa Dean dari depan pintu rumah.


"Sedang bersantai!" jawab Niken.


"Di mana Widuri?" tanya Dean lagi.


"Sedang menjahit baju bayimu di atas." Niken menunjuk ke lantai dua rumah.


Dean langsung naik ke lantai dua dan meninggalkan Aslan serta Niken di bawah.


"Apakah roti ini tidak gosong?" tanya Aslan dari dapur.


"Astaga! Aku lupa!" Niken buru-buru bangkit dari duduknya mau menuju ke dapur.


"Biar aku keluarkan dari oven!" Aslan mengeluarkan panggangan roti dan juga ayam dari oven. Semuanya terlihat coklat.


"Semoga Widuri tak mengomeliku!" lirih Niken, cemas.


"Ah, kau hanya menghiburku?" Niken duduk dengan wajah cemberut.


"Apakah ayam panggangnya sudah matang? Aku bisa mencium harumnya hingga ke atas. Bikin lapar saja!" Suara Dean terdengar dari arah tangga.


Niken dan Aslan menoleh. "Sudah!" sahut Aslan. Dibawanya dua ekor ayam panggang dan roti ke meja makan. Niken mengangkat mangkuk salad yang sudah dibuatnya.


"Kelihatannya lezat," puji Dean. Beberapa piring dan cangkir dipindahkannya ke meja.


Widuri menyusul turun bersama Cloudy. Dia tak mengomentari riti putih yang kini jadi terlihat coklat. Dean sudah memotong-motong roti untuk mereka berlima, termasuk Cloudy. Daging ayam juga dibagi lima.


Mereka mulai makan dengan nikmat. Salad segar Niken sangat pas di siang hari yang panas.


"Apa panennya sudah sekesai?" tanya Widuri. Sudah. Tinggal mengikat dan menggantungnya sore nanti!" sahut Dean.


"Apa kau butuh sesuatu?" tanyanya ingin tahu.


Widuri menggeleng. "Aku hanya bertanya. Yang kubutuhkan sudah kau sediakan. Aku hanya ingin menyelesaikan baju-baju bayiku!"


"Yah, sekarang Marianne sedang sibuk menyelamatkan dunianya. Jadi kita harus bisa membuat sendiri keperluan kita. Dan kau pasti bisa!" Dean mendukung kegiatan Widuri.


"Dean, kami pulang!" terdengar transmisi suara di kepala Dean.


"Penguasa sudah kembali!" ujar Dean.

__ADS_1


"Kami di rumah!" sahut Dean lewat transmisi suara.


"Waduh ... makanan sudah habis!" celetuk Niken.


"Nanti kumasakkan yang praktis untuk mereka. Kalian lanjutkan makan saja!" Dean yang sudah selesai makan, berdiri dan keluar rumah.


Ada empat orang yang datang ke arah rumah. Dean menyambut sambil tersenyum.


Bola cahaya menghilang di depan rumah. Dokter Chandra tersenyum lebar. "Apa kau merindukanku?" Dia terkekeh melihat Dean menyambut di pintu.


"Siapa dia?" tanya Dean lewat transmisi suara.


"Nanti aku perkenalkan. Kalian pasti akan terkejut!" balas Dokter Chandra.


Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk melingkar di meja makan besar itu.


"Tempat kalian sangat bagus!" komentar Kang Tua.


"Biar kami siapkan makanan untuk kalian!" Widuri dan Niken berdiri.


"Nanti saja. Aku ingin memperkenalkan dulu pria ini pada kalian!" cegah Dokter Chandra.


Widuri dan Niken kembali duduk dengan patuh.


"Ini Kang Tua. Menurut pendapat kami, Dia mungkin adalah Kakek dari Kang, teman kita!" Dokter Chandra menceritakan perjalanan mereka dari awal hingga akhir.


"Wah, bagus sekali jika kita memang bisa menghubungkan dunia kecil ini dengan Kota Pelabuhan!" Dean sangat antusias.


"Benar! Dengan begitu, kita bisa bertemu lagi dengan Liam, Laras dan Nastiti!" timbrung Widuri senang.


"Andai saja ada juga pintu teleportasi ke Dunia Elf. Kita pasti bisa bertemu Angel dan Gilang lagi," tunduknya kecewa.


"Aku masih menyimpan beberapa pintu teleportasi di tempat lain. Kita harus mengambilnya, jika ingin menghubungkan dunia lain lag!" jelas Aslan.


"Benarkah? Itu bagus sekali!" Niken tersenyum senang.


"Untuk ke Dunia Elf dan para peri itu, kita harus mengetahui dulu koordinatnya, bukan? Sementara satu-satunya pintu teleportasi yang pernah mereka miliki, telah dihancurkan berkeping-keping akibat ulah Bangsa Orc."


"Jadi harus dipertimbangkan masak-masak sebelum membuat keputusan. Jangan malah hal itu mengundang Orc masuk ke sini!" Dokter Chandra mengutarakan pertimbangannya.


Robert mengerti dasar pertimbangan Dokter Chandra. Keganasan Bangsa Orc dapat membahayakan dunia kecil ini jika penghubungnya direbut. Jadi ... memutuskan hubungan sama sekali dengan dunia itu, adalah pilihan tepat.


"Jadi, kapan kita ke Kota Pelabuhan?" tanya Dean tak sabar.


"Mungkin besok! Kami lelah setelah bertarung dengan Bangsa Demon sebelumnya," jawab Dokter Chandra.


"Istirahatlah. Aku siapkan makan siang untuk kalian!" Dean bergerak cepat ke dapur.


Aslan membantunya. Meskipun dia tak tau tentang Kota Pelabuhan, tapi melihat antusiasme Dean dan yang lain, Aslan tau Kota itu pasti punya arti tersendiri bagi kelompok ini.


*******

__ADS_1


__ADS_2