PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 269. Pemindahan Jiwa


__ADS_3

Aslan terpukau saat melihat dunia lain di depannya. Tempat yang sama sekali berbeda. Hutan hijau dan ladang gandum yang tumbuh subur.


"Apakah di sini tidak ada malam?" tanya Aslan.


"Tentu saja ada. Kami tidak pernah menghitung perbedaan waktu di sini dengan dunia luar," sahut Sunil.


"Ayo!" Dokter Chandra mendahului. Robert membawa Aslan dan menyusul. Sunil mengikuti. Mereka melesat menuju rumah panggung.


Terlihat dari ketinggian, para wanita sedang asik di kolam air terjun.


"Kami kembali," sapa Dokter Chandra.


"Oh, baguslah. Lebih ramai, lebih asik," senyum Niken.


"Biar kutebak. Dia harusnya cucumu Aslan, kan?" tebak Marianne.


"Salam, Bibi," sapa Aslan hormat.


"Ah ... kau sangat sopan." Marianne manggut-manggut.


"Di mana Dean dan Indra?" tanya Robert.


"Aku ingin makan tiram. Jadi Indra mencarinya ke pantai. Dean ikutan pergi," sahut Niken.


"Sebaiknya kalian istirahat dulu. Nanti kita makan seafood untuk makan malam," saran Marianne.


"Baiklah. Ayo kita istirahat." ujar Dokter Chandra. Mereka pergi ke rumah panggung dan duduk di sana. Sunil mengambil minuman dari mata air abadi, untuk memulihkan tenaga.


Kemudian Sunil membaringkan tubuhnya di bangku. Matanya teramat ngantuk dan tubuhnya sudah mencapai batas.


"Kenapa kalian tidak kembali ke rumah sendiri?' tegur Dokter Chandra.


"Nanti ketinggalan makan malam!" sahut Robert. Dia ikut berbaring di bsngku lain.


"Ayo kita pulang. Aku juga ingin beristirahat sebentar," ajak Dokter Chandra.


Aslan dibawa terbang menuju rumah mungil di seberang rumah panggung itu.


"Kau bisa beristirahat di sini untuk sementara."


Dokter Chandra menunjuk ruang kosong dengan jendela menghadap ke kebun bunga dan kontak-kotak lebah madu.


"Ya, Kakek." Aslan mengangguk. Dia langsung duduk di satu-satunya bangku kayu panjang yang ada di ruangan itu. Pandangannya diarahkan ke taman bunga.


"Udara bersih dan sejuk. Berbeda dengan daerah pantai tempat tinggalku. Nyaman sekali di sini," gumam Aslan.


Mata pria itu sudah berat dan mengantuk. Tapi pandangannya terpaku pada rumah unik dan cantik berwarna pink dan ungu, nun jauh di tepi hutan.


Aslan tersenyum, ingat Indra yang membeli cat warna itu di kota. "Jadi itu rumah Paman Indra."


Lewat jendela lain, tampak rumah panggung yang besar berlantai dua. Dicat warna biru navi dengan tiang-tiang yang hitam legam. Terlihat sangat kokoh.


"Berdasarkan ucapan Kakek pada Paman Robert, maka itu pasti rumah Dean," simpulnya.

__ADS_1


"Bagaimanakah tampilan rumah Paman Robert dan Paman Sunil?" Aslan tak sabar untuk bisa melihat dunia ini lebih jauh.


*


*


Setelah makan malam.


"Aku berpikir untuk memakamkan adikku dan putrinya besok," cetus Dokter Chandra.


Yang lain mengangguk setuju. "Memang sudah waktunya," sambut Widuri.


"Baik. Besok pagi-pagi akan kubuatkan makamnya. Katakan saja tempatnya." Dean menanggapi.


"Besok kita lihat bersama," putus Dokter Chandra.


"Dean, tolong keluarkan dua lempeng batu. Aku akan keluarkan jasad mereka," perintah Dokter Chandra.


"Baik!"


Dean mengeluarkan beberapa lempeng batu hitam dan menyusunnya seperti meja. Sekarang ada dua meja batu di ruangan besar itu.


Dokter Chandra mengeluarkan rangka adiknya yang telah mengering di dalam kotak batu marmer. Diletakkannya jasad itu di meja batu.


"Tutupi dengan kain, dan sirami dengan mata air abadi!" perintah Dokter Chandra lagi.


Marianne naik ke lantai atas, tempat dia menetakkan mesin jahit dan semua perlengkapannya.


Marianne turun dengan selembar kain putih di tangannya. Lalu kain itu digunakan untuk menutupi jasad itu dari leher hingga kakinya.


Aslan memperhatikan hal aneh yang dilakukan para wanita. Tapi melihat semua orang bersikap biasa, Aslan tidak berani membuka mulut. Jadi diperhatikannya saja apa yang terjadi.


Tapi, matanya lama-lama jadi terbelalak. Dia bisa melihat terjadinya perubahan pada kerangka neneknya.


Perlahan tapi pasti, tubuh itu pulih kembali. Aslan sampai menutup mulutnya, agar tidak melontarkan berbagai pertanyaan untuk menjelaskan hal mustahil tersebut.


Dokter Chandra mengeluarkan sebuah benda dari penyimpanannya. Itu kalung milik adiknya. Diambilnya sesuatu di sana, dan diserahkan pada Marianne.


"Tolong kenakan pakaian ini, padanya," pinta Dokter Chandra.


Marianne mengambil pakaian yang diberikan. "Kalian bisa keluar dulu," jawab Marianne.


Maka para pria pun keluar dari rumah dan duduk-duduk di bangku panjang tepi kolam.


A few moments later.


"Kalian sudah bisa kembali!" panggil Niken.


Dokter Chandra melesat paling cepat. Dia tak sabar untuk melihat adiknya lagi.


Ketika yang lain kembali, yang mereka lihat adalah pemandangan yang sangat menyentuh hati. Dokter Chandra menangis dan mengajak adiknya bicara. Disirinya rambut kusut adiknya.


"Aku minta maaf, tidak dapat memahami jalan pikiranmu," ujarnya. Tapi aku akan memakamkanmu dengan baik.

__ADS_1


Setelah rambut itu kembali rapi, Dokter Chandra meminta Marianne mendekat.


"Marianne, hanya kau yang paling pantas menerima jiwa adikku. Kebijaksanaanmu, bisa mengendalikan darah panas dan emosinya. Bersediakah kau?" harap Dokter Chandra.


"Bukankah ada Widuri atau Niken?" elak Marianne.


"Mereka sedang hamil. Tidak boleh terganggu hal begini," jelas Dokter Chandra.


"Terima saja," bujuk Niken. Widuri juga mendukungnya.


"Kenapa bukan cucunya saja?" Marianne masih menolak.


"Aslan itu pria. Tak mungkin melakukannya. Bisa bertolak belakang." Dokter Chandra menjelaskan dengan sabar.


"Baiklah. Tapi, kurasa dia akan menyesalinya." Marianne tersebyum sumbang.


"Tidak! Akan kupastikan dia mensyukuri hal ini," janji Dokter Chandra.


Robert maju dan menyerahkan pisau komandonya pada Dokter Chandra. Dokter Chandra tersenyum mengangguk. Marianne sudah mendekat. Tangannya terulur ke hadapan Dokter Chandra.


Aslan memandang ngeri. Cemas jika pria yang dia panggil kakek itu, mengorbankan orang lain demi keinginannya.


"Kakek, tunggu! Apa yang kau lakukan ini? Kasihan Marianne," cegah Aslan.


"Apa maksudmu?" tanya Dokter Candra heran.


Bu-bukankah kau ingin membunuhnya?" ujar Aslan kebingungan.


"Hahahaha." Seisi ruangan itu penuh dengan gelak tawa.


"Tidak ada yang perlu dibunuh di sini," jelas Robert sambil menahan tawa.


"Oh maafkan aku. Apakah aku mengganggu upacaranya?" Aslan jadi tersipu malu.


"Ya sudah ... berdiri di pinggir dan lihat saja upacaranya. Kau akan mengerti nanti, oke?" bisik Dean.


"Baik," jawab Aslan tersipu malu.


Dokter Chandra kembali menghadap ke meja batu. Dipegangnya tangan Marianne. Lalu pisau yang diberikan Robert digunakan untuk melukai jari Marianne. Ditekannya pelan jari itu, dan menjatuhkan tetesan darah di kening jasad adiknya di atas meja batu.


Aslan dapat melihat sebuah cahaya kuning kehijauan menyelubungi jasad neneknya. Kemudian juga menyambar tubuh Marianne, hingga terangkat ke atas. Dan dunia kecil itu dipenuhi jeritan Marianne yang melengking tinggi, menahan rasa sakit yang menderanya.


Aslan jadi mundur ketakutan wajahnya pucat masih melihat kejadian di depan matanya.


"Apa yang sedang terjadi? Apa yang dilakukan kakek pada nenek? Pada Bibi Marianne?" pikirnya galau.


Kau tenang saja. Berharaplah semoga upacara ini berjalan dengan lancar," bisik Indra.


"Apakah ini sering terjadi?" tanya Aslan ingin tahu.


"Ini namanya upacara pemindahan jiwa. Nanti akan dijelaskan semuanya. Kau akan mengerti kenapa ini harus dilakukan," terang Robert untuk menenangkan Aslan.


"Baiklah. Aku cuma berharap Marianne tidak akan mengalami cedera yang serius." Aslan mengangguk mengerti.

__ADS_1


********


__ADS_2