PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 169. Rencana Pernikahan Dean dan Widuri


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Tim Dean telah selesai membuat kebun baru. Benih sudah disebarkan beberapa hari yang lalu.


Sebagian benih adalah stok yang disimpan dari tanah pertanian di gunung batu. Sebagian lagi dibawa oleh Yoshi dari kediaman tuan kota.


Dean baru tau bahwa setiap kali petani panen, maka sebagian hasil panen dibeli ketua kota dan dikumpulkan di gudang kota. Ketua kota juga menyimpan berbagai bibit tanaman sebagai persediaan jika terjadi hal yang tak diinginkan. Petani bisa mendapatkan bibit gratis jika tanaman mereka rusak dimakan hama dalam musim tanam atau gagal panen.


Sungguh ketua kota yang bertanggung jawab. Dean merasa kagum dalam hatinya.


Setelah menyebar benih, para pria disibukkan membuat pagar baru mengelilingi kediaman mereka. Setelah itu Dean masih membersihkan area keliling pagar selebar 2 meter. Itu untuk memudahkan pengawasan jika ada yang ingin menyelinap masuk. Beberapa titik penerangan juga disiapkan. Mereka menyiapkan beberapa batang obor untuk digunakan sebagai penerangan.


*


Pagi ini Dean berencana pergi ke kediaman tuan kota. Dia ingin menyampaikan rencananya untuk menikahi Widuri. Jadi selesai sarapan, keduanya bersiap untuk berangkat.


Alan dan Nastiti juga akan ke pasar untuk menjual minyak yang telah mereka buat. Juga beberapa kue buatan Marianne. Mereka telah melakukan ini selama 3 hari. Dan penjualan minyak kelapa memang bagus, sesuai prediksi Yoshi. Setiap kali pulang, Nastiti dan Alan akan membawa stok bahan makanan mereka.


Di pondok, Indra dan Michael dengan rajin membantu para wanita membuat minyak kelapa. Alan bersama Indra kemarin sore baru menambah persediaan buah kelapa. Mereka memetik buah kelapa entah dari pantai yang mana.


Nastiti dan Marianne menyaring susu kelapa yang digiling oleh Indra dan Michael.


Sementara dokter Chandra dengan tekun merawat Sunil. Seiring waktu, tindakan Alan yang secara teratur merangsang titik saraf di jari tangan dan kaki Sunil mulai membuahkan hasil. Jari-jarinya kerap merespon jika ada yang mengajaknya ngobrol.


Kini Sunil akan selalu berada di pelataran hingga waktunya tidur tiba. Dokter Chandra ingin membiarkan Sunil mendengar suara semua orang dan merasakan aktifitas yang terjadi.


Yoshi telah memberikan cukup banyak kacang walnut. Marianne mengatakan kacang itu diolah menjadi susu untuk Sunil. Yoshi senang jika itu bermanfaat.


*


Lewat tengah hari, Dean, Widuri, Alan dan Nastiti kembali. Mereka mengeluarkan semua persediaan yang didapat hari itu. Widuri membantu Niken membersihkan sayuran dan buah yang baru dibeli.


"Dimana Marianne?" tanya Widuri.


"Dia beristirahat di kamar," jawab Niken.


Widuri melangkah ke kamar. Dilihatnya Marianne tengah tertidur. Nafasnya teratur. Widuri tak ingin mengganggunya.


"Ada apa?" tanya Niken heran.


"Aku merasa Marianne menyembunyikan sakit yang dirasakannya." Widuri berbisik di telinga Niken.


"Benarkah? Kau tau apa sakitnya?" Niken balas berbisik. Widuri menggeleng.


"Apa tak sebaiknya kita diskusi dengan dokter Chandra?" tanya Niken dengan suara rendah.


"Sudah ku lakukan." Widuri meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


"Lalu bagaimana hasilnya?" Kembali Niken berbisik.


"Marianne yang ingin menyembunyikannya. Jadi kita tak bisa memaksa untuk memeriksa." Widuri menjelaskan.


"Trus, kita biarkan aja gitu?" Niken tak percaya yang barusan didengarnya.

__ADS_1


"Kita hanya bisa memaklumi keterbatasannya. Memberinya kelonggaran dan istirahat yang cukup kapanpun dia ingin. Usahakan tidak membuatnya terlalu lelah." Bisik Widuri.


"Oh, baiklah. Aku mengerti." Niken mengangguk cepat.


"Tapi jangan terlalu kentara, nanti dia merasa kecil hati. Bagaimanapun kita harus menjaga dia tetap bahagia." Widuri mengingatkan.


"Oh..." Niken terkejut.


'Apakah sekarang Widuri juga punya kemampuan khusus membaca pikiran orang?' batinnya.


"Niken, kau pasti lelah seharian di dapur. Bagaimana jika kita pergi berenang sore ini?" usul Nastiti.


"Asiikk.." Niken terlihat gembira.


"Baiklah. Percepat urusan dapur ini biar kita bisa segera pergi berenang." kata Widuri.


Ketiga wanita itu mulai bekerja mempersiapkan makan malam mereka. Widuri menyiapkan adonan roti untuk malam, lalu mendiamkannya agar bisa mengembang. Nastiti membersihkan ayam yang tadi mereka beli di pasar. Membumbuinya dan menyimpannya hingga meresap. Niken sedang membersihkan sayuran untuk salad.


Michael mendorong Sunil ke kamar. Ini waktunya membersihkan tubuh Sunil. Alan mengikuti.


"Hei, Sunil. Di pasar ada restoran yang selalu ramai pengunjung. Aku ingin mencoba masakan mereka. Apakah akan seenak buatan Marianne atau tidak. Tapi aku hanya akan pergi ke sana jika kau telah sembuh."


"Sunil. Kau dengar itu? Alan selalu pilih kasih. Ada aku di sini, tapi dia tak berpikir untuk mengajakku. Sungguh tidak adil." Michael mengadu pada Sunil.


"Hei, jika Sunil sembuh, kita bisa pergi bersama. Tapi tanpa Sunil, makanan restoran seenak apapun akan terasa hambar." Sahut Alan.


"Kasihan sekali koki restoran itu. Hahahaa.." Michael tertawa.


"Ya.. ya.. sabar sedikit."


Mereka bersama-sama membersihkan tubuh Sunil dan mengganti pakaian bersih untuknya.


"Nah, kau sudah kembali tampan sekarang." Michael membaringkan Sunil dibantu Alan.


Alan mendekat ke sisi Sunil. Sore ini dia ingin merangsang saraf-saraf jari kaki Sunil. Dokter Chandra masuk setelah Michael keluar membawa wadah berisi pakaian kotor Sunil.


"Bagaimana?" tanya dokter Chandra.


"Baru mau dimulai dok." jawab Alan.


"Coba kau lebihkan sedikit tenaga petirmu." usul dokter Chandra.


"Oke." Alan berkonsentrasi.


Satu persatu jari disentuhnya dengan percikan petir. Kali ini kekuatan petir itu ditambahnya.


"Hem.. lumayan.. lumayan.." kata dokter Chandra setelah mengamati proses tersebut.


"Besok kita lanjutkan lagi." putus dokter Chandra. Alan mengangguk.


"Alan, apakah kau sudah selesai?" Nastiti muncul di kamar.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Alan tak bersemangat.


"Sunil, O, kau harus segera bangun. Sekarang ada banyak anggota di sini. Ada Niken dan Indra juga hloo.. Kau belum berkenalan dengan mereka kan."


Nastiti berbisik di telinga Sunil. "Ada yang teramat sedih melihatmu seperti ini."


"Hei, ayo kita berenang. Niken ingin ikut juga." Nastiti menarik tangan Alan.


*


*


Diskusi malam ini adalah tentang rencana pernikahan Dean dan Widuri yang disetujui ketua kota.


Kegiatan itu akan dilakukan di pondok, mengingat kondisi Sunil. Ketua kota akan datang bersama Yoshi seminggu kemudian.


Semua gembira mendengarnya. Ini hal yang baik, jadi harus disegerakan.


"Kita harus menghias pondok ini dengan banyak bunga seperti pernikahan Angel," kata Niken. Wajahnya berseri-seri.


"Kau akan jadi pengantin paling cantik," kata Nastiti antusias.


Widuri hanya tersenyum. "Terserah kalian saja. Tapi tak perlu terlalu merepotkan diri."


"Kami ingin pernikahan yang sederhana saja." Dean menatap Widuri mesra. Widuri membalas tatapan itu tak kalah mesra.


"Lalu kapan kita menikah Indra?"


Kata-kata Niken mengejutkan semuanya.


"Kau mau kita menikah di sini?" Tanya Indra tak percaya.


"Memangnya kenapa? Angel saja sudah bahagia. Sekarang Widuri dan Dean juga menyusul. Lalu kita kapan?" Niken menatap Indra penuh harap.


"Ku kira kau ingin kita menikah setelah kembali ke Indonesia." Indra menjawab dengan jujur.


"Apakah ada yang bisa memastikan kapan kita bisa kembali? Selama waktu itu, kita bisa saja saling terpisah lagi saat melintasi dinding cahaya. Atau hilang, atau tewas?" Niken menunduk. Suaranya tercekat ditenggorokan.


indra memeluknya. " Baiklah. Kita akan segera menyusul Dean dan Widuri." Bujuk Indra lembut.


"Kapan?" desak Niken.


"Aku harus menyiapkan tempat tinggal kita dulu. Bukankah begitu Dean?" Indra minta dukungan.


"Tentu saja." Dean mengangguk setuju.


"Kau dengar itu? Aku akan menyiapkan kediaman kita lebih dulu. Setelah itu kita bisa minta ijin pada ketua kota juga. Bagaimana?" Indra sudah memantapkan hatinya.


"Baiklah." Niken mengangguk senang.


Malam itupun berlalu dengan suasana yang membahagiakan.

__ADS_1


*****


__ADS_2