PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 338. Tak Lama Lagi


__ADS_3

Hari sudah pagi. Sinar lembut matahari yang menyeruak dari balik rimbunan daun di tebing, memberi rasa hangat yang nyaman. Dean dan Indra tertidur di bangku, dekat kolam.


"Kenapa kalian tidur di sini?" Suara Niken membangunkan Indra dan Dean.


"Ahh ... pantesan terasa dingin sekali," ujar Indra sambil memeluk kedua lengannya ke dada.


Dean bangkit dan berjalan masuk. Dia belum menyapa Widuri pagi ini.


"Kenapa tidur di luar?" ulang Niken lagi.


"Kami ngobrol sambil menunggu Penguasa kembali. Ehh, malah ketiduran di sini," jelas Indra. "Ayo masuk ke dalam."


Keduanya berjalan menuju rumah sambil berpelukan.


"In, kapan kita bisa punya bayi juga?" tanya Niken


"Jika sudah waktunya, Tuhan pasti akan memberikannya. Kita cuma perlu berusaha." Indra mengecup kening istrinya lembut.


Jam sarapan tiba.


Dokter Chandra, Robert dan Sunil sudah kembali. Anggota tim lain menunggu cerita mereka dengan antusias.


"Bagaimana dunia di sana? Apakah bagus?" tanya Niken tak sabar.


Sunil menggeleng. Teman-temannya belum jelas arti gelengan kepala Sunil.


"Apa maksud gelengan kepalamu?" tanya Indra ingin kejelasan.


"Itu bukan koordinat yang tepat. Kami tiba di dunia yang gelap gulita. Tak ada kehidupan di sana," jawab Robert.


"Kalian sudah memeriksanya?" Dean nimbrung dalam diskusi setelah selesai mengantarkan makanan Widuri.


"Ya. Karena memeriksa dululah makanya terlambat kembali," jawab Robert lagi.


"Berarti itu bukan bumi. Seberapa jauh kordinat itu kalian tukar?" tanya Niken lagi.


"Tidak jauh. hanya berbeda satu angka," imbuh Sunil.


"Bisa jadi bukan bagian angka itu yang dirubah. Tapi bagian angka lainnya," celetuk Marianne.

__ADS_1


Semua terdiam, mencerna kata-kata Marianne. Itu terdengar masuk akal.


"Marianne benar. Nanti kita coba merubah bagian yang lainnya," putus dokter Chandra.


"Oke. Apa kita coba hari ini?" tanya Robert.


"Istirahatlah sehari. Besok coba lagi," saran Dean. "Melewati teleportasi sambil membawa pintu teleport, pasti tidak ringan kan," tambahnya lagi.


"Baiklah. Setelah ini aku mau tidur sejenak."


Robert berjalan keluar, menuju kerindangan pohon. Dia berbaring di bangku kayu panjang di sana. Suasana yang tenang dan udara yang sejuk serta angin semilir, membuatnya tertidur dalam sekejap.


Dokter Chandra dan Sunil juga berbaring di bangku kayu yang lain. Dean dan Indra melanjutkan pekerjaan mereka di pinggir hutan.


"Apa yang kita kerjakan hari ini?" tanya Indra sambil terbang.


"Kita buat papan kayu dulu, untuk dinding rumah," sahut Dean.


"Eh, Dean, lihat!" Tunjuk Indra ke padang rumput. "Ada induk sapi yang mau melahirkan."


"Bagus. Kita bisa punya susu, mentega dan susu lagi," jawab Dean datar.


"Hahahaha ... iya. Itu bagus. Kita sudah lama tak menikmati keju yang enak," jawab Indra.


Dean sudah mendarat di rerumputan. Dia mulai bekerja dengan serius. Indra membantunya memindahkan papan-papan kayu yang sudah dibuat Dean.


Hingga lewat tengah hari, dokter Chandra mendatangi dan melihat pekerjaan mereka.


"Kalian mau membuat pondok lagi?" tanyanya.


"Indra bilang, pemandangan di sini bagus. Cocok untuk dibuat pondok lain," jawab Dean, melempar masalah itu pada Indra.


Indra garuk-garuk kepala. "Penguasa, bukankah memang benar, pemandangan di sini sangat cantik?"


Indra membuka tangannya sambil menghadap ke arah bukit. Dokter Chandra ikut mengamati dari sebelahnya.


"Tempat yang sangat pas. Apa lagi kalau lantai rumahnya dibuat lebih tinggi sedikit dari tanah. Mungkin setinggi ini." Dokter Chandra memberi tanda dengan menyentuh pahanya.


"Baik. Akan kami buat seperti itu," ujar Indra senang.

__ADS_1


Dokter Chandra duduk di sebongkah batu tepi kali. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh hutan di belakang sana.


"Apa menurut kalian, kita takkan bisa kembali?" cetusnya tiba-tiba.


"Justru dengan adanya dua pintu teleportasi itu, mencari jalan pulang, jadi jauh lebih mudah 'kan?" sanggah Indra.


"Indra benar. Dengan pintu teleportasi itu, kita bisa datang dan pergi setelah memeriksa. Kita bisa terus melakukannya hingga menemukan dunia kita yang sebenarnya," jawab Dean.


"Baiklah. Sekarang aku mengerti. Selama menunggu, kita juga tetap harus memikirkan kehidupan anggota tim lainnya di sini." Dokter Chandra mengangguk.


Lalu bersama-sama, lima pria itu membangun pondok baru yang cantik.


Petang hari, pondok kayu itu sudah berdiri. Tapi belum ada atapnya. Namun sudah sangat memuaskan.


*


*


Dalam sepuluh hari itu, dokter Chandra sudah tiga kali pergi melewati pintu teleportasi. Namun, hasilnya masih belum memuaskan.


"Buminya sudah benar. Tapi kita masih tiba di tahun 2021," papar dokter Chandra.


"Tibanya di negara mana?" tanya Niken.


"India!" jawab Sunil.


"Hah?" Niken terkejut mendengarnya.


"Apa kau tidak pulang mencari istrimu?" Indra ingin tau.l


"Kami pergi ke sana. Tapi hanya melihat dari jauh. Aku bisa melihat lagi istri dan dua anakku. Aku bahagia sekali. Rinduku rasanya terobati." Sunil menunduk.


Yang lain terdiam mendengarnya. Perasaan seperti itu, mereka mengerti sekali.


"Berarti kordinatnya hanya perlu dirubah sedikit lagi," gumam Dean lirih.


"Ya. Lusa dicoba lagi." Robert mengangguk mantap.


"Akhirnya kita bisa pulang?" seru Niken gembira.

__ADS_1


Kegembiraan itu menular. Sekarang mereka jadi lebih optimis lagi untuk mencoba pintu teleportasi. Tak lama lagi, harapan bertemu keluarga, bisa terwujud.


******


__ADS_2