
Robert mulai terbangun. Kepalanya terasa pening. Matanyapun masih berat. Kesadarannya perlahan terkumpul. 'Penjara!' ingatan itu membuatnya segera duduk.
Robert memiringkan sedikit kepalanya melihat tempat dia saat ini. Ini ruangan tertutup dengan beberapa tumpukan barang di salah satu dinding. Robert terbaring di lantai tanah yang bahkan sudah keras seperti batu bata.
"Ini bukan penjara. Lebih mirip gudang," gumam Robert.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku tiba-tiba pingsan? Ahh, rasanya seperti aku lihat tahanan sebelah menarik tembok hingga runtuh lalu dia lari. Meski samar, tapi aku yakin itu dia." Robert meyakinkan dirinya sendiri.
'Lalu apa yang terjadi? Kenapa aku dipindah ke sini? Aku tak ada sangkut-pautnya dengan orang itu. Bagaimana dengan tahanan lain? Apakah dikurung tertutup juga?' Robert terus menerka-nerka kejadian malam itu.
"Ah, sudahlah. Tunggu saja petugas datang. Lagi pula aku memang belum diinterogasi." Gumam Robert.
Robert lalu duduk bersandar pada dinding. Syukur tangan dan kakinya tidak diikat. Seakan yang menahan yakin Robert takkan bisa melarikan diri.
Kruyukkk.. kruuyuukkk..
"Sial. Aku lapar sekali." Robert menggerutu.
"Apakah para tahanan di sini hanya diberi makan saat petang saja? Tak manusiawi!" umpat Robert kesal.
Robert terus menunggu. Dia tak tau di luar jam berapa. Tak ada satupun cahaya yang masuk dari luar karena seluruh dinding dan pintu tertutup rapat. Penerangan di ruangan itu hanya pelita kecil yang sudah hampir mati. Tapi saat dia mendengar suara jangkrik ramai bersahutan, dia terperanjat.
'Ini pasti sudah malam. Apa mereka lupa mengantar makananku? Atau sengaja menghukumku?' pikir Robert.
Robert bangkit dari duduknya. Dengan terhuyung dia berjalan menuju pintu.
"Hei, penjaga. Kalian belum memberiku makan!" Teriak Robert sambil menggedor pintu kayu itu.
Tapi tak ada jawaban. Bahkan sebuah bentakan dari penjagapun tak ada. Robert merasa heran. Dicobanya mendengarkan suasana di luar. Tak ada kedengaran langkah kaki tegas para penjaga seperti yang diingatnya semalam. Hanya ada keriuhan suara jangkrik.
"Apa aku diisolasi?"
"Diasingkan? Dibuang? Dikurung hingga mati kelaparan?"
Robert terus menerka-nerka. Tapi tetap tak menenukan jawaban.
"Hei, penjaga. Kalian dengar aku?" teriak Robert lagi mencari perhatian.
__ADS_1
Robert kembali mendengarkan di balik pintu. Tak terdengar suara apapun di luar sana.
Robert memeriksa tumpukan barang yang disusun di satu dinding.
"Senapan?" Robert terkejut. Dia mundur sekarang. Mencari pisau besarnya di pinggang. 'Masih ada' batinnya lega.
"Tampaknya ada yang ingin menjebakku sebagai pemilik senjata-senjata ini. Aku harus segera pergi dari sini." Robert sudah mendapat titik terang.
"Stupid. Kenapa tidak dari tadi ku periksa barang-barang itu." Dia menyesali kebodohannya.
Robert berusaha mendorong pintu, meraba tiap kayu dinding. Tak ada yang goyah. Robert memindahkan tumpukan barang ke depan pintu, untuk menghalangi orang masuk dengan mudah.
Lalu dia menusuk-nusuk bagian bawah dinding kayu yang sebelumnya ditutupi barang. Robert terus menusuknya dengan pisau besar. Bagian bawah dinding itu terlihat sedikit lapuk. Robert menendang sebilah kayu. Lalu dicobanya menusuk kayu yang disebelahnya.
Sekitar 15 menit kemudian, Robert sudah berhasil menyelinap keluar ruangan itu. Benar saja. Dunia sudah gelap gulita.
Ini teramat gelap. Pun tak ada bulan. Hanya terlihat bayangan hitam pohon saat melihat ke atas langit yg biru gelap.
"Pondok ini di hutan. Aku harus segera pergi sebelum ada yang datang." Robert menggenggam pisaunya dengan kuat.
Dia berjalan menjauh dengan waspada. Beberapa kali dia menghapus jejaknya dengan menyeret ranting penuh daun di belakangnya. Kada dia menaburkan dedaunan kering. Bahkan berjalan memutar lebih dari 3 kali hanya untuk mengelabui orang yang mungkin akan memburunya.
"Menyedihkan. Bahkan tak ada sumber air." Keluh Robert.
Robert terus saja berjalan. Dan makin bersemangat saat dia bisa melihat bayangan pohon lebih terang dari depan sana.
"Ada bangunan di sana." Robert berjalan hati-hati.
'Bangunan di tengah hutan. Harusnya ada penjaganya kan?' pikir Robert.
Dengan merunduk dan mengendap-endap, Robert makin mendekati bangunan yang meski tak ada cahaya bulan, bisa tetap terlihat saking besarnya bangunan itu.
Robert mengamati sekitar. Tak ada seorangpun penjaga berpatroli. Tak ada menara pengawas, tak ada pelita, tak juga dipasangi pagar.
Gedung apa ini? Besar dan megah. Berundak ke atas seperti piramida. Apakah ini kuil yang ditinggalkan? Orang gila mana yang membangun kuil di tengah belantara?
Banyak pertanyaan yang memusingkan dan tak memiliki satu jawabanpun.
__ADS_1
Robert melangkah maju. Tapi baru satu langkah, dia berhenti lagi.
'Tak mungkin pihak yang membangun ini akan membiarkan bangunan miliknya bisa dimasuki orang asing dengan mudah. Pasti ada jebakan atau alarm pemicu' pikirnya.
Robert berjongkok lalu meraup tanah dan rumput dengan tangannya. Tanah itu dilemparkannya ke arah depan. Tak ada apapun. Robert kembali jalan, dan jongkok lagi untuk mengambil sesuatu di tanah. Hingga beberapa langkah begitu, akhirnya kewaspadaan Robert terbayar.
Saat Robert melemparkan ranting kecil yang didapatnya, dia akhirnya melihat cahaya samar melingkupi bangunan itu.
"Apakah bangunan itu berada di dunia lain lagi? Tapi bukankah biasanya aku tak dapat melihat apa yang ada dibalik dinding cahaya? Kenapa aku bisa melihat bangunan megah itu?"
Robert tak mengerti. Dicobanya sekali lagi melemparkan sesuatu ke arah depan. Selubung cahaya itu kembali benderang.
"Masuk atau enggak nih?" Robert meragu. Perlahan-lahan dikelilinginya bangunan dengan selubung cahaya itu.
"Hem... kukira selubung ini memiliki diameter tak kurang dari 100 meter. Robert sangat penasaran ingin memeriksa bangunan itu. Tapi hati kecilnya ragu.
Akhirnya Robert hanya duduk bersandar pada pohon dan beristirahat di situ. Dia lelah dan lapar.
"Sebenarnya berapa lama aku pingsan? Kenapa rasa lemah ini seolah aku sudah berhari-hari tak mendapat asupan cairan?" Robert hanya bisa mengeluh sendiri.
Langit gelap di atas memancarkan kilatan-kilatan. Gelegar guntur terdengar bersamaan dengan jatuhnya tetes hujan pertama.
Robert mendongak dengan wajah bahagia.
"Terimakasih Tuhan," bisiknya lirih.
Dengan sisa tenaga yang ada dia berpindah duduk ke tempat yang tak dihalangi oleh dedaunan. Ditampungnya air yang dicurahkan dari langit itu dengan kedua tangan lalu meminumnya dengan rasa syukur tak terkira.
Namun tubuh letihnya tak mampu lagi digerakkannya. Dia jatuh di bawah guyuran hujan.
Matanya basah dirembesi air hujan yang terus mengalir. Robert berusaha menikmati tiap tetes air yang jatuh ke wajahnya. Meresapi alirannya di pipi dan lehernya.
Tapi kemudian instingnya membuatnya membuka mata. Dia tak percaya ada burung sebesar itu di depannya. Putih, bercahaya, dan berkelap-kelip ditimpa air hujan.
"Apa aku diambang kematian hingga berhalusinasi seperti ini?" gumam Robert lemah.
Masih bisa dirasakannya burung besar itu mengusap wajahnya dan itu membuatnya mengantuk. Lalu membopong tubuhnya di pundak. Robert merasakan tubuhnya menembus angin dan hujan. Lalu dia tak mengetahui apapun lagi.
__ADS_1
*****