
Pagi sekali, Dean, Indra dan Alan berjalan menembus kabut. Mereka harus mengumpulkan makanan lebih cepat agar bisa segera berangkat untuk mengecek tim 3. Pagi ini mereka membawa cukup banyak hasil, 14 ekor ikan dan 2 ekor kelinci. Itu dirasa cukup untuk sarapan semua orang.
"Aku rindu makan nasi dan sayuran," celetuk Angel sambil tertunduk lesu melihat ikan panggang di piringnya. Yang lain terdiam mendengarnya. "Kapan kita bisa pulang yaa.." Angel tampak begitu sedih.
"Ku rasa ini sudah ada seminggu sejak pesawat kita jatuh. Kenapa tak ada tanda-tanda tim pencari yang terlihat di angkasa?" Keluhan Dewi membuat suasana pagi itu makin muram. "Apakah kita tak kan pernah bisa pulang? Apa mereka di sana menganggap kita semua sudah mati?" Tak kuasa, Dewi akhirnya menangis.
Mata mereka ikut basah mengingat semua yang mereka alami selama ini. Melihat korban-korban tewas dengan luka menganga serta menguburkannya sendiri. Mencari makanan untuk tiap waktu makan yang sering mengancam nyawa. Dean memahami situasi ini. Saat ini adalah masa-masa kritis bagi semua orang yang mengalami kecelakaan hebat ataupun bencana dimanapun. Rasa optimis serta harapan akan segera tibanya bantuan dan penyelamatan, akan menghilang seiring waktu berjalan.
"Kita akan segera keluar dari sini. Itu sebabnya kita mencari jalan untuk keluar hutan dan turun dari gunung ini." Indra mencoba menyemangati, jangan sampai harapan itu runtuh.
"Kapan kita bisa keluar dari sini?" Toni terlihat emosional. "Adakah yang bisa memastikan waktunya?" Indra hanya bisa menggeleng dan menunduk. Yang lain terlihat makin putus asa.
"Tak ada dari kita yang tau ini ada di negara mana. Jadi kita tak bisa pastikan kapan akan keluar dari sini. Tapi adalah sangat jelas, bahwa kita tak akan pernah keluar dari sini jika kita berhenti berusaha." Jawab Dean ketus.
Mendengar kata-kata Dean, mereka tak berani lagi menyuarakan kekesalan. Hanya bisa mengeluh dalam hati. Sebagai orang yang paling tua diantara semuanya, Marianne mengerti bahwa orang-orang yang tidak dapat menyalurkan emosinya akan merasakan depresi. Harus ada cara mengeluarkan emosi negatif dari diri teman-temannya itu.
Setelah sarapan itu selesai, Dean berangkat menuju hutan bersama Toni dan Sunil. Mereka akan mengecek keadaan tim 3 pagi itu. Beruntung malam tadi tidak turun hujan, jadi tumpukan salju tak makin meninggi. Mereka berjalan cepat mengikuti langkah Dean yang terlihat sangat khawatir.
Sejurus kemudian.
"Robert.. kami datang." Suara Dean terdengar meski shelter masih berjarak sekitar 10 meter. Shelter itu sangat sepi meskipun pintunya sudah dibuka. Dean setengah berlari untuk masuk ke pintu. Matanya bertanya-tanya, saat melihat Robert terbaring dengan wajah memerah. Laras mengompres kening Robert.
"Kenapa dia?" Tanya Dean heran. Kemarin Robert terlihat sehat saat ditinggalkannya.
"Sore kemarin Robert mencari makanan. Dia bertarung dengan serigala. Meski lukanya sudah dibersihkan oleh dokter Chandra, tapi sepertinya itu mengalami infeksi. Dia demam sejak menjelang pagi." Laras menjelaskan semua yang terjadi.
"Apa lukanya sudah diperiksa lagi?" tanya Dean lagi.
"Sudah. Sudah dibersihkan dan diganti dengan pembalut yang baru." jawab Laras.
"Kalian masuklah. Hangatkan diri dulu," ajak Niken pada Toni dan Sunil yang termangu di depan pintu.
"Dimana dokter Chandra?" Sunil bertanya sambil masuk untuk menghangatkan diri.
__ADS_1
"Pergi dengan Michael memeriksa jebakan kelinci setelah sarapan tadi." jawab Niken.
"Dan mereka bagaimana?" tanya Toni menunjuk Lena dan Alex yang masih tidur.
"Mereka belum bangun juga," Kali ini suara Laras terdengar sangat kuatir. Keningnya sedikit berkerut saat bicara dan matanya terlihat sedih.
Dean mendekat dan memeriksa detak jantung Alex dengan menempelkan telinganya di dada Alex. Detak jantungnya terdengar tidak selambat kemarin. Meskipun masih belum bangun, tapi menurut Dean itu sudah ada kemajuan meski sedikit. "Sudah ada sedikit perubahan padanya," tunjuk Dean pada Alex. "Kita tunggu saja apa kata dokter nanti." pungkas Dean.
"Sunil, ikut aku menyusul dokter Chandra. Toni, kau berjaga di sini." Dean lalu keluar lagi disusul Sunil.
Tinggal Toni yang merasa canggung sendiri. Jadi dia keluar sambil membawa kayu dengan bara api menyala. "Aku akan berjaga di luar saja." Toni membuat perapian lain tak jauh dari pintu. Mematahkan beberapa ranting pinus untuk alas duduk, lalu menghangatkan diri di situ sambil mengawasi sekitarnya. Tampak beberapa kayu bekas atap yang masih berserakan di samping shelter. Toni menyeret dan mengumpulkannya lebih dekat ke pintu. Dia tak punya gergaji untuk memotong menjadi kayu bakar, jadi dibiarkan saja tetap seperti itu.
Dari kejauhan terlihat dokter Chandra dan Dean kembali. Sunil dan Michael menyusul di belakang sambil membawa hasil tangkapan hari itu. Dean memilih duduk dan menghangatkan diri bersama Toni di luar. Dokter Chandra mengikutinya, sementara Michael membawa kelinci-kelinci itu ke dalam. Dia kembali sambil membawa panci lalu pergi mengambil salju untuk memasak air panas. Mereka sudah haus dan kedinginan.
"Dok, ku kira hari ini bisa memindahkan semua orang ke dekat danau. Jadi hanya membawa 2 orang untuk membantu membawa barang-barang. Tak disangka 2 orang masih belum bangun, ditambah Robert yang sakit karena terluka." Dean menatap lidah api yang menari-nari. Siang ini matahari yang cerah ikut menghangatkan.
"Kau bisa membawa Laras dan Niken lebih dulu. Biar kami menunggu perkembangan sampai besok." Dokter Chandra memberi pilihan lebih mudah pada Dean. Dia tau Dean mencemaskan mereka di sini. Sementara dia juga bertanggungjawab pada tim yang lebih besar di tepi danau itu.
"Baiklah. Aku akan membawa Laras dan Niken bersamaku. Kalian tinggal di sini, besok aku kembali." Dean mengarahkan pandangannya pada Sunil dan Toni. "Besok kita harus memindahkan semua orang dari sini, apapun yang terjadi." Putus Dean.
"Aku sendiri belum melihatnya. Tapi kita harus menghindarinya. Senjata ini tak kan mampu membunuh beruang." Dean mengangkat tombaknya. "Kita hanya mengantar nyawa kalau menghadapinya secara langsung."
"Menakutkan sekali," Michael bergidik ngeri.
"Itu sebabnya mereka bertiga lari lintang pukang sampai jatuh terjerembab di depan shelter kemarin," Sunil tersenyum mengingat ketiga rekannya itu.
"Jika kita yang tiba-tiba bertemu beruang dan dikejar-kejar, belum tentu masih mampu berlari." Toni membantah kata-kata Sunil yang dirasanya meremehkan ketiga rekan mereka. Michael hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sunil memilih diam tak ingin menyinggung siapapun lagi. Dean berdiri dan masuk mengajak Laras dan Niken untuk bersiap berangkat.
"Apa mereka akan baik-baik saja?" Laras mengkhawatirkan Robert, Lena dan Alex yang akan ditinggalkannya.
"Lebih baik tidak membawa mereka sekarang." tunjuk Dean pada Alex dan Lena. Tapi dia tetap ingin membawa Robert pergi andai dia sudah sadar. "Apakah Robert sudah sadar?" Dean mendekat dan memeriksa.
"Tadi dia sudah sadar, tapi kuminta tidur kembali setelah memberi minum dan sedikit makanan." jelas Laras.
__ADS_1
"Robert.. Apa kau mendengarku?" tanya Dean. Robert membuka mata. Wajahnya terlihat lelah dan kuyu. "Hmmm.." hanya itu responnya.
"Aku ingin membawamu ke tepi danau jika kau bisa bergerak sedikit. Bagaimana?" Dean meminta pendapat.
"Kapan?" Suara Robert terdengar lemah. Dia sekarang mencoba untuk duduk. "Rencanaku sekarang, bisakah kau?" Dean masih berharap.
Robert melihat Alex dan Lena yang masih tergelak tertidur pulas. Dean faham maksud pandangan Robert.
"Ada Sunil dan Toni yang membantu berjaga di sini. Kita hanya pergi dengan Laras dan Niken. Lalu besok aku akan kembali dan menjemput semuanya." Jelas Dean panjang lebar.
Robert berpikir keras. Dengan tetap berada di situ dalam keadaan sakit, hanya akan memberatkan tim 3 dalam menjaga. Sekarang kondisinya sudah memungkinkan untuk bergerak sedikit, apakah dia harus ikut Dean atau tetap di situ menunggu sampai besok.
Semua ada plus dan minusnya.
"Aku akan menunggu sampai besok di sini." Robert bukanlah orang yang akan meninggalkan rekannya bila tidak dikhianati.
"Tapi.." Dean masih keberatan.
"Pergilah sebelum sore." Keputusan Robert tak bisa dirubah lagi.
"Baiklah. Kami berangkat sekarang. Kau beristirahatlah." ujar Dean akhirnya.
"Kami pergi," Niken melambai dari pintu.
"Kau harus makan, agar tenagamu segera pulih," saran Laras.
"Ya. Aku akan makan," Dengan susah payah Robert memaksakan senyum pada Laras yang celakanya justru terlihat seperti sedang meringis kesakitan. Laras terlihat sangat kuatir. Sebelum dia mendekat, Robert melambaikan tangannya mengusir mereka keluar. "Aku tak apa, kalian pergilah."
"Kami pergi dokter," sapa Niken.
"Ya. Hati-hati di jalan." dokter Chandra melihat ke arah Laras yang berjalanan di belakang.
"Robert sudah sadar dok. Jadi aku pergi sekarang." kata Laras sambil berlalu.
__ADS_1
"Oh, syukurlah. Aku akan memeriksanya. sekarang" dokter Chandra berjalan ke arah shelter untuk memeriksa keadaan Robert.
***