
Pagi hari.
Robert dan anggota timnya sudah membereskan tas-tas mereka. Meskipun waktu yang dikatakan oleh pembuat perahu adalah siang, tapi mereka tak ingin terburu-buru nanti.
Tadi malam Robert sudah memberi beberapa koin perak pada ketua desa untuk membeli bahan makanan. Dia tak ingin kedatangan timnya menjadi beban ketua desa yang sederhana ini.
Selesai berberes, mereka menumpuk tas di sudut pelataran. Mereka duduk santai menunggu siang. Di sebatang kayu kelapa yang roboh, Niken asik dengan kertas dan penanya. Dia telah membuat beberapa sketsa kasar desa nelayan itu. Bahkan telah menyelesaikan gambar putra ketua desa. Saat Niken menunjukkannya, anak muda itu terpesona pada dirinya sendiri yang ada di gambar itu. Jadi dia menandatangani gambar itu dan memberikannya padanya sebagai ungkapan terima kasih.
Sekarang Niken sedang membuat sketsa kasar lainnya, dimana teman-temannya ada di dalamnya, berlatar belakang pelataran ketua desa. Ada Leon yang duduk mencangkung sambil mengigit lidi, Ada Liam yang berbaring di lantai beralas tangan. Di situ Robert dan dokter Chandra duduk bersama ketua pengawal. Laras dan Silvia santai bersandar ke pagar pelataran yang rendah. Sementara Indra menatapnya penuh cinta dari sana.
"Anda sangat mahir menggambar nona." Seorang pengawal tiba-tiba menegurnya.
Niken menoleh ke belakang, pengawal itu melihat kertas sketsa di tangannya.
"Ah, ini hanya sketsa. Lihat, cuma garis-garis saja. Keindahan sebenarnya negeri anda hanya bisa terekam di ingatan saya." Kata Niken rendah hati.
Ketua desa muncul. Istri dan putrinya mengiringi dari belakang. Mereka membawa hidangan pagi. Semua diminta berkumpul untuk sarapan sebelum melakukan aktifitas lain sembari menunggu waktu.
*
Robert, ketua pengawal dan ketua desa pergi setelah sarapan. Mereka akan melihat kapal si nelayan.
Tiba di pantai, dimana kemarin kapal itu ditambatkan, Robert melihat beberapa pekerja sedang membereskan tali-temali. Semua dipotong bersih dan layar sudah disingkirkan.
Nelayan itu bahkan telah melepas beberapa lantai dek untuk memberi ruang duduk yang lebih nyaman. Kabin bawah tempat menyimpan hasil laut telah dibongkar Sekarang kapal itu terlihat lebih lega.
"Kalian sudah datang." Sapa si nelayan.
"Ya. Tak kami sangka anda berinisiatif membereskannya sampai seperti ini." Robert tersenyum senang.
"Sebagai pelaut berpengalaman, saya bisa menduga bagaimana posisi duduk di dalam kapal agar seimbang, aman dan nyaman." Jawabnya.
"Terima kasih. Saya sangat menghargainya." Ucap Robert tulus.
"Karena di sini belum selesai sepenuhnya, saya ingin melihat ke galangan kapal pak tua itu."
"Ya. Anda bisa ke sana dulu. Kapal ini masih harus dibersihkan sedikit." Kata nelayan itu ramah.
Robert, ketua desa dan ketua pengawal menyusuri tepian pantai menuju galangan kapal.
Mereka bisa melihat bahwa kapal besar itu sudah dikeluarkan dari garasinya. Sudah dibersihkan dari tali temali dan kain layar. Kabin dan beberapa lantai dek juga sudah dilepas seperti permintaan Robert kemarin.
"Kalian sudah datang? Tapi dayungnya belum semuanya selesai." Pak tua pembuat perahu menyapa.
"Tak apa. Kami hanya melihat-lihat." Jawab Robert.
Pak tua itu berteriak. Tak lama beberapa pekerja membawa dayung-dayung kapal yang sudah jadi. Robert menghitung, sudah ada 6 buah. Masih kurang 2 lagi.
Diambilnya satu dayung dan mencoba menggerakkannya. Pembuat perahu memberi instruksi lagi. Beberapa pekerja membawa 4 dayung ke atas dan memasangnya pada tempatnya. Robert dipanggil naik untuk mencoba.
Pembuat perahu menunjukkan posisi duduk dan bagaimana seharusnya menggerakkan dayung. Robert belajar dengan cepat. Gerakannya mulai luwes. Wajahnya terlihat senang.
'Ini tidak sesulit yang ku bayangkan," batin Robert.
"Masih kurang 2 dayung lagi untuk kapal si nelayan. Tapi untuk kapal ini, sebaiknya diturunkan ke laut untuk melihat ada kebocoran atau tidak." Usul Robert.
Pembuat perahu memberi perintah lagi. Para pekerja meninggalkan pekerjaannya dan bersama-sama mendorong tatakan perahu menuju garis pantai. Ternyata ada lebih 20 orang yang bekerja di galangan ini. Mereka bergerak bersama mengikuti irama aba-aba dari depan. Setiap melakukan dorongan, mereka meneriakkan sebuah kata, serempak. Robert tak tau apa yang mereka sebut, tapi kata itu seperti pil penambah tenaga. Mereka jadi makin bersemangat. Robert sampai merinding mendengar suara gegap gempita yang mereka tunjukkan.
Tak butuh waktu lama, ujung kapal itu meluncur mencapai air. Dan masih terus didorong lebih jauh hingga mengambang sepenuhnya di air. Sebuah tali dilemparkan ke pantai. Robert tak tau sejak kapan pak tua itu berada di atas kapal. Seorang pekerja menambatkan tali pada tiang kayu kokoh. Kapal itu kini bergoyang-goyang seirama ombak.
Para pekerja itu bersorak-sorai gembira. Bangga dengan hasil kerja keras mereka. Sebuah kapal yang kuat dan indah sudah turun ke air. Itu adalah kebanggaan terbesar seorang pembuat kapal.
Pak tua itu meluncur turun dari kapal dengan berpegangan pada tali penambat. Sebelum menambrak tiang, dia melompat lincah dan menjejak di pasir pantai. Para pekerjanya memberi tepuk tangan riuh.
"Kapal anda sudah siap tuan." Kata pak tua itu setelah menghampiri Robert.
__ADS_1
"Ya, kapal yang bagus. Terima kasih. Saya akan membayarnya. Dimana 2 pendayung lainnya?" Robert mengeluarkan kantung uangnya.
Pak tua itu berteriak lagi. Semua pekerja kembali ke tempatnya. Dan 4 pendayung kayu diantarkan ke depan Robert. Robert menilai keempat dayung itu dan mengangguk.
"Bisakah ini diantarkan pada si nelayan itu?" Tanya Robert.
"Bisa."
Pak tua itu memerintah pekerjanya untuk mengantar dayung ke kapal nelayan di pantai lain. Mereka bergegas pergi.
"Ini koin emas yang saya katakan." Robert menyerahkan 1 koin emas yang dimilikinya pada pembuat perahu.
Pak tua itu kembali memeriksa keaslian koin itu. Dia sangat teliti jika itu tentang uang dan membuat perahu atau kapal. Lalu dia berteriak kembali.
Seseorang datang dengan menyeret sebuah kotak. Kotak itu diletakkan di depan Robert. Pak tua itu membuka tutup kotak dan memperlihatkan isinya. Kotak itu penuh dengan koin perak.
"Ini berjumlah 750 koin perak." kata pembuat perahu.
"Sebanyak itu?" Robert tak dapat mempercayai matanya.
"Apa anda tak percaya? Anda bisa menghitungnya sendiri. Silahkan ambil waktu." Kata pak tua itu tak senang.
Ketua desa dan ketua pengawal yang belum pernah melihat uang koin sebanyak itu, tentu ingin menghitungnya. Jangan sampai tamu kerajaan tertipu.
"Biar kami bantu hitung." Ketua pengawal menawarkan diri.
Robert mengangguk.
"Tolong hitung dulu uang untuk bayaran kapal si nelayan." Kata Robert.
Mereka menumpahkan isi kotak lalu menghitung 150 koin perak untuk si nelayan. lalu menghitung sisanya dengan teliti. Itu benar" memakan waktu. Tapi..
"Jumlahnya pas." Kata ketua pengawal. Ketua dewa mengangguk meyakinkan.
"Baiklah. Tapi rasa rasa akan sangat merepotkan membawa kotak sebesar itu. Apa tidak ada cara penyimpanan lain?" Tanya Robert.
Robert mengeluarkan kantung uangnya. Benda itu kecil saja, hanya seukuran telapak tangannya saja.
"Kantung uangnya kecil. Tak muat untuk memadukkan semua itu." Sanggah Robert.
"Bukankah itu kantung dimensi? Harusnya semua ini bisa masuk ke situ." Ujar ketua pengawal.
"Benarkah?" Robert tak yakin.
"Kenapa tak dicoba dulu?" Saran ketua desa.
"Bagaimana cara memasukkannya?" Robert kembali bingung.
"Sini saya ajari." Ketua pengawal mendekat. Mengeluarkan kantung penyimpanannya sendiri.
"Begini caranya. Konsentrasi untuk mengeluarkan uang jumlah tertentu. Misal sata mau ambil 10 koin perak. Maka saya konsentrasi untuk mengeluarkan sejumlah itu."
Tiba-tiba di telapak tangannya muncul 10 koin perak dari arah kantungnya Lalu dia berkonsentrasi kembali untuk memasukkan lagi uang itu ke dalam kantung uangnya.
Robert melihat dengan seksama. Dicobanya untuk berkonsentrasi memasukkan kotak uang kr dalam kantung, tapi tidak berhasil.
Ketua pengawal mengambil beberapa keping uang. Diulurkan di depan Robert. "Coba lagi."
Robert mencoba hingga 2 kali baru berhasil.
"Hahaha.. Tidak mudah juga ternyata. Ku rasa aku akan melatihnya lain kali saja. Sekarang masukkan secara manual saja." Robert mendapat solusi.
Ketua desa dan ketua pengawal mengangguk setuju. Waktu memang sudah terbuang banyak karena menghitung uang tadi. Jadi mereka membantu memasukkan semua koin perak di kotak ke dalam kantung penyimpanan. Dan itu memang muat. Mereka menyisihkan jumlah untuk membayar kapal si nelayan.
"Baiklah pak tua. Senang berbisnis dengan anda. Nanti aku akan datang dengan teman-temanku untuk membawa kapal ini ke pantai sebelah sana." Ujar Robert. Keduanya berjabat tangan hangat.
__ADS_1
"Ya. Ya. Asal bukan si tua licik itu yang membeli, maka itu baik." Jawabnya sambil menyindir ketua desa.
"Apa maksudmu? Kau menuduhku licik? Sudah ku katakan aku tak ada hubungannya dengan itu. Tapi kau tak mempercayainya. Huh. Dasar keras kepala." Omelan ketua desa tak kan berhenti jika Robert tak melangkah pergi meninggalkan galangan kapal.
Ketiganya berjalan menuju kapal nelayan yang sudah ditambatkan di dekat garis pantai. Pecahan ombak sesekali membasahi dinding kapal. Semua tampaknya sudah rapi dan bersih. Meski masih tercium bau amis ikan, tapi jelas tidak setajam sebelumnya. Kelihatannya nelayan itu dan pekerjanya juga mencuci kapal dengan bersih. Itu sebabnya sekarang berada di tepi pantai.
"Tuan. Kami sudah memasang pendayung di sana. Anda bisa mencobanya." Si nelayan sudah datang menghampiri.
Robert mengangguk, lalu melangkahi dinding kapal dan langsung duduk pada posisi yang sudah disiapkan.
"Hemm, ini nyaman."
Dicobanya menggerakkan dayung, juga lancar. Robert melompat keluar kapal yang tampak seperti perahu besar baginya.
"Ini bagus. Terima kasih sudah merapikannya."
Robert menyerahkan uang sejumlah 150 koin perak. Lalu dia menambahkan 50 koin perak lagi untuk servis si nelayan hingga kapal itu nyaman diduduki.
"Ini, benarkah?" Si nelayan tak percaya dengan kebaikan itu.
Robert mengangguk.
"Semoga anda bisa membeli kapal baru dengan itu."
"Terima kasih tuan." Wajahnya berseri-seri.
"Baik, kami ke tempat ketua desa dulu. Sebentar lagi kami kembali." Robert pamit. Nelayan itu mengangguk senang.
*
Anggota tim Robert sudah siap dengan tas masing-masing. Mereka siap untuk melanjutkan perjalanan. Apapun yang akan dihadapi kelak.
"Ini kesempatan terakhir. Yang ingin tinggal, bisa memilih untuk tinggal." Kata Robert.
Dipandanginya semua anggota tim yang menggeleng kuat. Mereka sudah membulatkan tekad untuk terus melangkah.
"Baik. Mari kita berangkat." Robert memberi aba-aba.
Semuanya berjalan keluar pelataran dan berpamitan pada istri ketua desa. Sementara ketua desa dan putranya tak ada di situ. Robert telah menintanya untuk menyiapkan beberapa butir kelapa yang sudah dipersiapkan agar mudah dibuka nantinya, untuk bekal mereka di perjalanan nanti.
Robert menghampiri ketua pengawal, memberikan beberapa koin perak sebagai jasa keempat pengawal yang telah mengantar dan menjaga mereka selama ini. Mereka terlihat senang mendapatkan hadiah.
Di pantai, sudah banyak orang berkumpul. Kedua kapal sudah ditambatkan berdampingan di tepi laut. Terayun-ayun dibuai ombak. Perbekalan sudah dimasukkan.
Robert dan dokter Chandra mewakili anggota timnya berpamitan pada warga desa yang ramah itu.
Robert membagi timnya jadi 2 kelompok. Kelompok Robert diisi Robert, Laras, Silvia dan Liam di kapal baru. Kelompok Indra, terdiri dari Indra, dokter Chandra, Leon dan Niken di kapal nelayan.
Ketua desa dan ketua pengawal menghampiri Robert dan Indra. Mengingatkannya tentang rute menuju cahaya. Robert mengangguk mengerti.
"Jika terbersit ragu dan takut, maka kembalilah. Kami akan menerima kalian kembali." Kata ketua desa.
""Terimakasih atas bantuan anda selama kami di sini. Tak ada yang bisa saya jadikan cendera mata. Jadi ini buat anda. Anggap sebagai hadiah perpisahan." Robert menyerahkan beberapa koin perak ke tangan ketua desa.
"Tidak. Tidak." Tolaknya.
"Kami sudah menerima keramahan anda. Jadi jangan tolak keramahan kami." Bujuk dokter Chandra.
"Ah, baiklah kalau begitu. Terimakasih." Mereka berjabat tangan sebagai perpisahan.
"Ayo." Robert memberi aba-aba.
Kapal di dorong lebih ke tengah laut agar lambung kapal tidak terbenam pasir. Setelah dirasa cukup, mereka mulai naik satu persatu. Mereka melambai ke arah pantai sebelum memulai perjalanan.
Suara teriakan dan lambaian tangan dari pantai mengiringi kayuhan pertama rombongan menuju cahaya di tengah laut.
__ADS_1
Hati mereka sudah bulat untuk menghadapi apapun yang ada dibalik cahaya itu. Mereka percaya, hanya dengan terus berjalan baru bisa menemukan titik terang tentang jalan pulang ke Indonesia.
*****