
Dokter Chandra membawa Dyah menyingkir ke arah pintu samping yang mengarah ke garasi. Tas belanjaan yang tadi diletakkannya ikut dibawa juga.
Robert dan Sunil segera bekerja menarik seluruh debu yang beterbangan dengan kekuatan mereka. Dyah mengintip apa yang dilakukan dua pria asing itu di ruang tengah dan ruang tamu.
Matanya membelalak melihat benda-benda kecil yang beterbangan di udara, bersama debu tebal. "A-ap-pa yang mereka lakukan?" tanya Dyah terkejut.
Di dalam rumahnya angin berkesiur seperti sedang ada badai. Dan di dalam badai, segala benda kecil yang belum sempat dibereskan keluarganya, ikut beterbangan. Berputar-putar seperti mata tornado kecil.
"Mereka membantu membersihkan rumah. Tenang saja!" bujuk Dokter Chandra.
"Kurasa tumah ini akan hancur oleh tornado itu!" kata Dyah dari garasi.
Dokter Chandra ikut mengintip ke dalam. "Tornado apa? Mereka hanya mengumpulkannya jadi satu. Jangan khawatir!"
"Sudah siap, Dok!" seru Sunil.
"Oke. Terima kasih." Dokter Chandra membawa lagi putrinya masuk ke ruangan. Semua debu sudah hilang. Kesan dingin, lembab dan apek di udara juga menghilang.
"Ini lebih baik. Coba buka semua pintu dan jendela, agar udara bertukar!" perintahnya.
Kembali, Sunil dan Robert melakukan perintah itu dengan segera. Sampai Dyah tak dapat menahan rasa ingin tahunya yang besar.
"Mereka siapa? Bagaimana Papa bisa menyuruh mereka ini dan itu?" bisik gadis itu heran.
"Sabarlah dulu. Setelah mereka selesai, akan kuperkenalkan padamu!" bujuk Dokter Chandra.
"Robert, Sunil, ayo berkenalan dengan putriku Dyah Wardani," Dokter Chandra memperkenalkan putrinya.
"Hai, aku Robert. Aku masih single!" kelakar Robert.
"Hei, apa maksudmu itu!" protes Dokter Chandra. Dyah jadi tersenyum geli melihat papanya cemberut dan bersungut-sungut.
"Aku Sunil!" ujar Sunil memperkenalkan diri. Dyah mengangguk.
"Nah, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi!" desak Dyah.
"Hahh ... ini sedikit rumit. Sulit mengatakan pada orang awam, bahwa kami melintasi ruang dan waktu berkali-kali, baru bisa kembali ke dunia ini lagi!" Robert menghempaskan tubuhnya ke sofa yang kini bebas debu.
Mata Dyah membesar mendengarnya. "Melintasi ruang dan waktu? Hahahaha ... jangan mengira aku gila!" Gadis itu langsung berdiri dengan marah.
__ADS_1
"Siapa kalian sebenarnya! Apa kalian ingin mengambil keuntungan dari musibah yang sedang kami alami!" teriaknya marah.
"Nduk, ojo seru-seru!" tegur Dokter Chandra lembut.
"Memang tak mudah dimengerti. Jadi, tenangkan dulu dirimu, buka pikiran untuk segala kemungkina," bujuk Dokter Chandra sambil melambaikan tangannya, meminta gadis itu kembali duduk.
"Yang dikatakannya benar. Pesawat itu melintasi lorong waktu. Hari itu hujan. Pesawat terbang di bawah gerimis. Setelah makan malam, ada guncangan. Pilot bilang kami berada dalam pusaran badai. Itu hal terakhir yang kuingat tentang pesawat itu!" Dokter Chandra mendesah berat!"
"Lalu kami terbangun di tempat asing. Pesawat itu patah tiga. Terdampar di lereng bukit bersalju tebal, dikelilingi hutan pinus dan ditakut-takuti lolongan serigala! Pilot dan copilot tewas di tempatnya!" cerita Dokter Chandra.
Dyah ternganga. Bagaimana dia bisa mempercayai cerita ajaib begitu? "Hutan pinus bersalju apa? Pesawat itu terdampar di negara mana?" tanyanya heran.
"Kami tidak tau itu di dimensi yang mana. Tapi, kami tak ingin kembali ke sana lagi. Ada banyak serigala di sana. Banyak yang tewas dan kami kubur di bawah tumpukan salju! Istri Sunil juga termasuk yang tewas dan dikuburkan di sana!" jelas Robert.
Sunil mengangguk dan menunduk sedih. "Tapi, jika kau ingin bukti, kami bisa membawamu ke tempat, dimana korban selamat lainnya tinggal!" ujarnya.
"Benarkah? Kalian bisa membawaku melintasi ruang dan waktu? Hahaha...." Dyah kembali tertawa, mengejek kata-kata Sunil.
"Kau pasti sudah mengikuti perkembangan pencarian pesawat itu. Kau boleh cari, apakah Robert dan Sunil termasuk sebagai penumpang di pesawat itu."
Dokter Chandra menyebutkan nama-nama penumpang lain yang selamat, serta yang tewas sepanjang perjalanan mereka mencari jalan pulang.
"Kami bahkan tidak punya ponsel!" bantah Sunil.
"Kau tau bagaimana cara kami bisa melintasi ruang dan waktu? Kami menggunakan pintu teleportasi baru-baru ini. Sebelumnya, kami harus berusaha keras untuk menenukan celah dimensi, agar bisa bergerak maju dan pergi dari hutan salju terkutuk itu!" Robert mulai jengkel dengan sikap Dyah.
"Hei ... jangan berani membentaknya!" Dokter Chandra memperingatkan.
Robert diam, tapi tampang kesalnya jelas kelihatan.
"Petugas pintu teleportasi kami telah mengatur waktu yang salah. Awalnya kami pikir, akan kembali ke beberapa bulan setelah ini, agar alibi kami tertahan di hutan atau pulau terpencil, jadi masuk akal!" Dokter Chandra menjelaskan.
"Tapi, kemaren sore kami tau bahwa hari ini adalah hari ketiga setelah kejadian itu. Karena sudah terlanjur sampai, maka kuajak mereka melanjutkan perjalanan pulang. Mengira keluargaku akan bisa menerima kedatanganku tanpa curiga."
Suara Dokter Chandra terdengar sedih saat mengatakannya. Jelas dia kecewa dengan sikap Dyah.
"Tapi, kami akan segera pergi, dan menunggu beberapa bulan lagi, agar semua yang terjadi bisa masuk akal bagimu. Setidaknya, kau bisa tenang, bahwa papa selamat dari peristiwa itu. Kita bisa berjumpa lagi, nanti!" ujar Dokter 6 lembut.
Ekspresi gadis itu sedikit melunak mendengar kata-kata Dokter Chandra. "Kalian mau ke mana?" tanyanya ingin tahu.
__ADS_1
"Tak ada tempat buat kami di sini. Jadi, dunia kecil itulah rumah kami sekarang. Jika semesta tak menginginkan kami kembali, maka kami takkan kembali ke sini lagi!" ujar Robert pedas.
"Hei!" tegur Sunil dan Dokter Chandra bersamaan.
"Coba kamu catat Nduk. Ini nama-nama yang selamat dan ada bersama kami. Beberapa lainnya memilih melanjutkan hidup di negeri asing!"
Dokter Chandra menyebutkan nama-nama penumpang yang masih hidup. Dyah mencatatnya di ponsel.
"Baiklah. Kami akan kembali. Kau hibur dan jaga mamamu jika bersedih. Kami baik-baik saja di sana!" Dokter Chandra mengusap puncak kepala putrinya.
"Jaga adikmu juga! Jangan suka memarahinya jika kau sedang kesal. Hidupnya juga tidak mudah sekarang!" pesan Dokter Chandra.
Dyah berdiri dengan tubuh kaku. Dia ingin mengatakan bahwa pria itu adalah papanya. Tapi logikanya menolak!
"Tak ada yang bisa membuktikan omong kosong tentang perjalanan ruang dan waktu. Semua itu hanya fiksi dan imajinasi dalam film saja!" batinnya.
"Ayo kita kembali!" ajak Dokter Chandra. Robert dan Sunil berdiri dan menghampirinya.
"Bawa tas belanjaan itu. Para wanita mungkin akan senang dengan oleh-oleh ini!" kata Dokter Chandra.
Dari jauh, Sunil menarik tas belanjaan yang ada di atas meja.
Dyah terkejut melihat tas itu terbang di depannya, ke arah Sunil, kemudian lenyap entah ke mana. Mulutnya sampai ternganga.
Dan yang lebih mengejutkan adalah munculnya sebuah pintu yang bercahaya terang di tengah ruang makan.
"Apa itu?" tunjuknya.
"Pintu teleportasi!' jawab Sunil.
"Pintu teleportasi? Apa itu nyata?" lirihnya.
"Tak ada yang akan memaksamu untuk percaya!" Robert masih jengkel ternyata. Suaranya sangat ketus.
Dokter Chandra memelototinya. "Papa pergi dulu. Beberapa bulan lagi kami akan kembali!" ujarnya masih dengan ketenangan dan kelembutan yang sama.
"Bisakah aku ikut?" tanya gadis itu.
Tiga orang itu saling pandang.
__ADS_1
********