PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 103. Kisah Tuan Felix


__ADS_3

Tengah malam.


"Dean, bangun. Gantian jaga. Aku sudah ngantuk banget." Alan membangunkan Dean yang sudah tidur sejak sore.


Dean menggeliat dan membuka mata dengan malas. Tiba-tiba dia menyadari bahwa hari sudah gelap.


"Apakah sudah malam?" tanyanya linglung.


"Ya. Ini sudah tengah malam. Kau tidur pulas petang tadi jadi melewatkan makan malam. Tapi Widuri menyisihkan makanan di perapian untukmu. Cepat bangun."


Alan mengomel dengan mata setengah terbuka. Dia langsung tertidur begitu menyentuh permukaan kayu tempat Dean tidur sebelumnya.


Dean segera bangkit. Perutnya lapar. Jadi kakinya otomatis melangkah ke perapian, dimana Widuri meninggalkan makanan agar tetap hangat.


Dean makan dengan lahap. Ubi bakar dan tumis sayur serta irisan daging di piring, segera tandas. Dean meneguk minuman dengan puas. Dia segera membersihkan peralatan makan dan menyusunnya di rak di dapur yang ternyata sudah rapi.


Dean menambah kayu ke dalan perapian. lalu duduk di bangku kayu. Masih ada 4 bangku kayu yang selamat dari pusaran air. Tapi sekarang mereka tak punya meja makan.


Dean membuat perencanaan kerja besok. Masih ada bagian-bagian kamar yang belum diselesaikannya. Dean berbaring di lantai batu sambil menghitung bintang saat terdengar suara yang membuatnya langsung terduduk kaku.


Toooooootttt..


Itu bunyi klakson yang kuat sekali. Hanya ada satu kemungkinan suara begitu di tempat seperti ini. Itu suara horn(klakson) kapal laut.


"Kapal laut?!" ucap Dean berseri-seri.


Tiba-tiba mata Dean bersinar keemasan. Diperhatikannya area sekitar tempat tinggalnya. Tak tampak hal mencurigakan di tempat itu. Dean tak tega membangunkan Sunil yang masih kelelahan.


"Aku hanya akan melihat kapal itu sebentar saja, lalu kembali." Dean meyakinkan diri untuk pergi.


Sebuah cahaya keemasan melesat melewati tebing, menuju laut.


"Laut ini aneh. Airnya tidak asin. Apa ini sebuah danau? Jika benar, maka ini danau terluas yang pernah ku lihat. Sampai tampak seperti lautan." gumam Dean sambil terbang mencari keberadaan kapal yang mengeluarkan bunyi sebelumnya.


Tooooottttt..


Dean segera mencari asal suara itu. Tampak sebuah kapal layar besar bergerak menuju ke satu arah. Dean mengejar dan melihat arah yang dituju kapal tersebut.

__ADS_1


Setelah terbang sedikit lebih jauh lagi, Dean bisa melihat pendaran cahaya lampu yang bertebaran di ujung sana. Meski masih lumayan jauh, tapi Dean yakin bahwa itu ada kota pelabuhan yang dituju kapal pemberi suara klakson tersebut. Klakson itu sebagai informasi kapal itu ingin merapat ke dermaga.


Dengan perasaan senang, Dean kembali ke tebing. Dan akhirnya menemukan tempat mereka yang tersembunyi dari pandangan luar. Batang kayu raksasa yang melintang sejajar tebing itu berhasil menutupi keberadaan mereka. Cahaya perapian tak sampai membias melewati kayu itu. Jika bukan karena terbang tinggi, Dean juga mustahil menemukan tempat itu.


Dean kembali berjaga dengan santai. Dia bersiul-siul dengan bahagia. Setidaknya, sekarang mereka sudah menemukan sebuah kota kecil. Mereka bisa menumpang kapal menuju kota besar dan melaporkan keberadaan mereka ke kedutaan negara masing-masing.


"Akhirnya bisa pulang," gumamnya senang.


*****


3 Hari berlalu setelah operasi. Tuan Felix berangsur pulih. Bengkak di tubuhnya perlahan menghilang. Air kencing tak lagi keruh. Rasa gatal di kulitnya juga menghilang.


"Luka ini hampir pulih sepenuhnya. Mungkin akan terasa gatal, tapi jangan digaruk. Saat waktunya tiba, saya akan membuang benang-benang itu." dokter Chandra menutup kembali luka itu dengan obat dan perban.


Tuan Felix mengangguk. Lalu sebuah kode membuat semua pelayan keluar dari ruangan. Hanya ada Silvia dan dokter Chandra bersama tuan Felix dan istrinya.


"Ku rasa sudah waktunya bagiku untuk bicara tentang negri jauh itu," tuan Felix mulai bicara.


Dokter Chandra merasa hatinya plong. Lega, karena jalan pulang kini sudah di depan mata. Jadi dia mengangguk dan tersenyum sopan.


"Jangan berterima kasih dulu. Aku khawatir kau akan kecewa setelah mendengar ceritaku." Tuan Felix berkata datar.


Dokter Chandra menjadi sedikit khawatir mendengarnya. 'Mungkin jalan ke sana tidak mudah? Berbahaya?' pikirnya dalam hati.


"Dulu saat aku muda, saat ayahku masih memerintah negara ini. Keadaan di dunia ini sangat tenteram. 5 klan yang menguasai daratan ini hidup berdampingan dengan damai. Ada klan Elf, klan peri pohon, klan penyihir, klan hobbit, dan klan kurcaci biru. Tapi ada satu klan Orc yang berdarah panas dan selalu membuat keributan dimana-mana."


Semua orang sabar menunggu tuan Felix melanjutkan cerita.


"Awalnya sejak dari kakekku, mereka hanya klan pembuat onar. Jika mereka bermasalah, maka kami akan menangkap dan meminta ganti rugi kerusakan pada klan mereka. Tapi sejak raja baru mereka naik, keributan yang ditimbulkan bukan lagi sekedar berkelahi karena mabuk." Tuan Felix menghela nafas.


"Sebagai pangeran kecil, saat itu aku biasa bepergian. Kakakku yang selalu mendampingi tugas ayah. Lalu adik perempuanku yang cantik dan baik, sedang menunggu waktu pernikahannya dengan pangeran klan peri pohon."


Nyonya Felix menyusut sudut matanya yang berembun. Ditepuk-tepuknya punggung tangan suaminya dengan lembut, seakan mengatakan: "ada aku di sini menemanimu".


"Aku baru kembali dari negeri jauh itu bersama tunangan adikku. Kami terkejut begitu keluar dari tempat itu. Satu pasukan istana sudah berhari-hari menunggu kami dengan cemas. Semua tetua klan juga berkumpul di tempat lain. Begitu aku dan pangeran peri pohon menjauh, para penyihir sudah membaca mantera dan memecahkan kaca pintu portal itu hingga berkeping-keping."


"Aku hanya bisa terkejut dan terdiam tak mengerti. Bukan hakku untuk mempertanyakan kebijakan para tetua. Dan melihat kehadiran pasukan istana masing-masing, aku yakin itu adalah keputusan yang dibuat setiap raja yang memimpin klan."

__ADS_1


"Setelah itu kami pulang ke negara masing-masing. Dari kakak aku baru tau, bahwa selama aku pergi, klan Orc sudah membuat ulah yang sangat meresahkan, dari merampas wilayah, hingga membunuh anggota klan lain. Yang lebih berbahaya adalah informasi yang didapat klan penyihir. Bahwa klan Orc berencana merebut area 3 klan dimana cermin portal itu berada. Mereka ingin memasuki dunia dibalik cermin dan menguasai seluruh dunia yang kita tempati ini."


"Itu sebabnya cermin portal itu dipecahkan, agar mereka tak bisa masuk ke dunia kami?" Silvia bertanya dengan mata membulat ngeri.


Tuan Felix mengangguk lemah.


"Kemudian raja klan Orc mengetahui bahwa portal itu sudah musnah, dia mengamuk. 3 negara terdekat dengan portal mendapat imbas paling parah. Terjadi perang panjang dimana kemenangan dan kekalahan berganti secepat membalikkan telapak tangan."


"Klan Elf menderita kerugian terbesar. Adik perempuanku yang pertama gugur saat membantu ayah yang dikepung tentara terlatih Orc. Lalu menyusul ayahku yang terluka parah dan tak dapat diselamatkan. Kami berkabung dan mengangkat raja baru. Saat itu klan Penyihir maju menggantikan kami bersama klan hobbit. Pada akhirnya mereka juga kalah. Tapi klan Orc juga tak bisa dikatakan tidak mengalami kerugian, mereka kehilangan banyak, karena diperangi oleh 5 klan secara simultan."


"Di perang berikutnya, bersama klan kurcaci biru, aku memimpin serangan. Kakak Glenn tewas untuk melindungiku. Meski bisa memukul mundur mereka, tapi kami sangat berduka. Keadaan damai berlangsung cukup lama. Tak kami sangka, mengira mereka sudah jera. Ternyata kakakku dibunuh saat dalam perjalanan kembali dari negeri hobbit."


"Kami kembali kehilangan raja, dan mengangkat putra tertua kakakku sebagai raja baru. Tapi aku sudah sangat marah. Seminggu berikutnya, bersama klan penyihir dan peri pohon, kami menggempur klan Orc. Seminggu peperangan tanpa henti, akhirnya kami sampai di ibukota mereka. Raja mereka yang sekarat menawarkan pecahan cermin portal untuk perdamaian. Dia pikir, itu adalah hal yang penting. Tapi dia jelas bodoh. Yang paling penting bagi semua klan adalah membunuhnya agar tak perlu ada lagi perang yang menghancurkan dunia ini."


"Aku pulang setelah menang dalam pertandingan satu lawan satu dengannya. Meski terluka parah, tapi aku bisa membawa kepalanya pulang dan menggantungnya di tengah kota. Banyak tawanan yang kami hukum mati saat itu juga."


"Tapi kesedihanku tak mau hilang. Ayahku, kakakku, anakku, adikku dan tunangannya yang merupakan teman terbaikku untuk melanglang buana, sudah pergi mendahuluiku."


"Setelah itu, dunia ini kembali damai. Semua klan memulihkan diri. Raja menikahi tunangannya, Glenn melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya dan putri kecilku dibawa juga oleh suaminya ke klan peri pohon. Sementara aku bersiap untuk bertemu semua orang yang sudah mendahului. Tapi lalu dokter datang dan membawa keajaiban."


Tuan Felix terkekeh kecil saat mengakhiri cerita. Dia menoleh pada istrinya dan mengangguk.


Nyonya Felix mengambil sebuah kotak kayu lalu menyerahkannya pada pelayan.


"Itu pecahan cermin portal yang ku rebut dari raja Orc. Entah apakah itu masih bisa digunakan atau tidak. Jika bisa, maka kalian bisa kembali ke dunia kalian lagi."


Tuan Felix mengangguk pada pelayan yang langsung menyerahkan kotak itu pada dokter Chandra.


"Terima kasih tuan." Dokter Chandra menerima kotak itu.


Tuan Felix mengangguk.


"Itu sebagai ungkapan terima kasihku atas perawatanmu. Pecahan lain, disimpan oleh tetua klan masing-masing."


Dokter Chandra merasa masih punya harapan. Hal ini harus didiskusikan dengan yang lainnya lebih dulu.


*****

__ADS_1


__ADS_2