PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 330. Tertembaknya Dokter Chandra


__ADS_3

"Apakah kalian aman?" tanya Robert melalui transmisi suara.


"Ya!"


Terdengar sahutan dari Dean, Sunil dan Indra.


"Penguasa. Bagaimana dengan Anda?" tanya Dean khawatir.


"Ku kira aku kurang gesit. Aku tertembak. Tapi aku berhasil bersembunyi," sahut dokter Chandra.


"Apa?!"


Empat orang itu mulai panik. Mereka tak tau di mana dokter Chandra bersembunyi dengan luka tembaknya.


"Katakan posisi anda saat ini, kami akan ke sana," ujar Dean.


"Jangan! Di dataran tinggi ini tak ada banyak pepohonan. Jika kalian melintas, pasti akan terlihat oleh mereka," cegah dokter Chandra.


"Bersembunyilah dengan baik. Tunggu hingga mereka pergi, baru keluar."


Anggota tim itu menunggu dengan tak sabar helikopter itu memeriksa berputar-putar dengan cahaya penerang, dalam gelap malam.


Terdengar beberapa teriakan yang tak mereka mengerti. Lalu perlahan-lahan suara helikopter itu berhenti.


"Mereka tidak pergi, tapi berhenti di sini. Berhati-hatilah! Mereka pasti turun memeriksa ke seluruh tempat," Robert memberi peringatan.


"Dokter Chandra mengalami luka tembak. Dan kita tak tau bagaimana kondisinya sekarang. Rasanya aku tak bisa bersabar lagi!" geram Sunil.


"Jangan memperumit keadaan," bujuk Dean.


"Dean, jika tadi mereka berhasil menembak Dokter Chandra, artinya keberadaannya di sini sudah ketahuan. Maka mereka pasti akan mencari di seluruh tebing, hingga ketemu!" bantah Sunil.


"Kurasa yang dikatakan Sunil ada benarnya. Mereka takkan pergi hingga menemukan orang yang mereka tembak tadi. Jika kita terus bersembunyi begini, bukankah akan semakin membahayakan keadaan dokter Chandra?" tambah Indra.


"Lalu bagaimana?" tanya Dean.


"Biar aku menyerah saja. Saat mereka menangkapku, kali selamatkan dokter Chandra!" Sunil menawarkan diri.


"Tidak, biar aku saja! Jika kau yang keluar dan melawan mereka, Takutnya akan berakibat buruk hingga ke kota kecil sana!" cegah Indra.


"Bagaimana jika aku saja yang keluar?" Robert juga menawarkan diri.


Kemudian, rentetan senapan mesin terdengar dari arah helikopter itu berhenti. Dean dan timnya segera tiarap, agar tidak terkena peluru nyasar.


Kemudian terdengar suara-suara teriakan orang-orang yang mencari itu di kejauhan. Lalu keheningan yang mencekam, tercipta.


Tak lama, terjadi sedikit keributan dan suara bentakan.


"Aku ketahuan," kata Sunil lewat transmisi.


"Hah?"

__ADS_1


Tiga temannya yang lain, terkejut mendengarnya.


"Aku akan buat keributan di sini. Kalian selamatkan dokter Chandra!" perintah Sunil.


"Dok, kau di sebelah mana?" panggil Dean.


"Diam saja di tempatmu!" Terdengar sahutan dari dokter Chandra.


"Sunil tertangkap! Dia akan mengalihkan perhatian agar kami bisa menemukan Anda," ujar Dean.


"Ceroboh!" gerutu dokter Chandra.


"Anda di mana? Begitu ada tanda dari Sunil, aku akan ke sana," desak Dean.


Tak lama, terdengar keributan lagi. Tapi kali ini, terdengar suara familier yang sedang berteriak marah.


"Apa yang kalian lakukan! Apa tidak boleh orang mendaki gunung dan menikmati alam?"


"Itu suara Indra!" gumam Dean membeku.


"Aduuhh! Beraninya kau memukulku! Kau akan menyesal!" Indra berteriak marah.


"Dean, Robert, cari dokter Chandra!" teriakan Sunil menggema di pikiran keduanya


"Penguasa, beri kami pertanda!" pinta Robert.


"Satu ... dua ... tiga!"


Orang-orang itu berteriak ribut. Dean melesat secepat kilat ke arah rumpun tanaman liar dibawah hujan peluru. Dia menemukan tubuh dokter Chandra tergeletak tak berdaya. Segera disambarnya dan dimasukkan dalam kalung penyimpanan.


"Aku mendapatkan dokter Chandra!" teriak Dean di pikiran teman-temannya.


"Aaahhhhhhhh ...."


Tubuh Dean terlempar melewati tebing dan jatuh ke jurang air terjun itu. Tak lama terdengar suara sesuatu jatuh di air.


Beberapa orang bersenjata itu berlari ke tepi tebing. Mereka hanya melihat kegelapan di bawah sana. Senter yang mereka bawa, tak dapat melihat ke dasar tebing. Akhirnya mereka memuntahkan beberapa peluru ke arah bawah, untuk memastikan siapapun yang jatuh, tak bisa selamat.


Sunil dan Indra saling pandang dengan khawatir. "Dean, apa kau baik-baik saja?" tanya tiga temannya.


"Tentu saja. Cepat bereskan mereka dan lihat kemari!" sahut Dean.


"Biar kuberi pelajaran tata krama pada mereka." Indra mengulas senyum mengerikan.


"Jangan buat mereka mati," pesan Sunil.


Beberapa orang yang tadi pergi ke tebing, sudah kembali. Mereka mendorong Sunil dan Indra untuk masuk ke dalam helikopter. Tapi Sunil dan Indra melawan.


Indra langsung membuat kubah cahaya kemerahan, menutupi tiga orang di dekatnya. Sunil mendorong orang yang memegangnya ke dalam kubah itu. Orang itu menjerit histeris karena sambaran petir yang ada di dinding kubah merah itu. Tubuhnya kemudian jatuh masuk ke dalam kurungan.


Mesin helikopter mulai terdengar. Tampaknya pilot sedang berusaha melarikan diri sambil melapor.

__ADS_1


"Kau mau lari? Kau bukan orang yang setia kawan."


Sunil mengangkat helikopter itu ke. udara dengan posisi miring. Mengguncangnya dengan keras hingga pilot itu tak terlihat lagi. Lalu melemparkan helikopter itu seakan itu hanya mainan.


Tiga orang yang ada dalam kurungan cahaya itu hanya bisa berteriak ngeri dan tak percaya.


"Apa mereka semacam manusia super seperti film-film negara tetangga?"


"Apa itu nyata? Bukannya hanya karakter khayalan?"


"Robert, ke mari!" panggil Sunil.


"Kalian sudah selesai?" tanyanya sambil menyembulkan kepala dari balik rumpun rumput liar.


Dilihatnya di depan sana, ada kubah cahaya merah berderak dengan lidah petir yang terus-menerus menyambar. Di dalamnya, tidak ada lagi dari mereka yang berani menyentuh dinding kubah. Sambaran petir yang ada di situ akan segera menyambar dan melumpuhkan otot seketika.


Tiga anggota tim itu memandang tiga orang di dalam dengan jengkel.


"Kalian sudah menembak Dokter Chandra!" teriak Indra emosi.


"Biar ku periksa, apakah ada P3K di dalam heli itu." Robert terbang ke arah helikopter itu teronggok.


Tiga orang di dalam kurungan itu melotot. Orang itu terbang? Apa mereka punya keahlian masing-masing? Siapa mereka sebenarnya?


"Dean, bagaimana keadaan dokter Chandra?" tanya Sunil.


"Lukanya ... sejujurnya aku tak mengerti soal medis. Tapi melihatnya begini lemah, kurasa peluru itu mengenai organ vital dan kehilangan banyak darah," jawab Dean.


Tanyakan pada orang-orang itu, apakah ada dokter di kota itu atau obat!"


Robert kembali. Dia membawa kotak kecil peralatan medis darurat.


"Kita butuh dokter dan obat. Ini tak memadai," katanya.


Sunil dan Indra bertanya pada tiga sandera mereka. Tapi tak seorangpun mengerti bahasa Indra dan Sunil. Robert menjadi tak sabaran.


"Medis! Kalian tau medis? Dokter?" Ucapnya tak sabar.


Salah seorang berekspresi gembira, lalu mengangguk. Indra membuat celah dan mengeluarkan orang itu dari dalam kubah.


"Bawa aku ke dokter!" perintah Robert galak.


Tapi orang itu melihat dua temannya yang dikurung. Dia enggan pergi.


"Mereka baik-baik saja jika kau tidak mencoba mengelabuiku. Jaga nyawamu sendiri!" dorong Robert kasar.


"Biar kucari dokter di kota. Kalian pegang kotak obat ini," ujar Robert.


Ditariknya kerah baju orang itu dan membawanya terbang dengan cepat ke arah kota kecil yang dipenuhi lampu di bawah sana.


*******

__ADS_1


__ADS_2