PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 231. Ibuu...


__ADS_3

Malam itu Mustafa mengatur beberapa hal untuk Silvia. kediaman barunya sedang disiapkan. Bagaimanapun, setelah memutuskan untuk bermalam di kamar Silvia, maka posisi gadis itu berubah dari pengasuh menjadi selir.


Mustafa sangat mengerti intrik kecil para wanita. Dan kediamannya tak lepas dari permainan keji yang dibencinya itu. Jadi dia harus membuat pengaturan yang lebih baik untuk melindungi keselamatan Silvia.


Mustafa berharap banyak pada pola pengasuhan Silvia terhadap Yasmeen agar putrinya itu kelak tidak berlaku keji pada wanita lain. Silvia mengajari banyak hal baru pada Yasmeen. Dan itu akan menjadi kelebihannya di masa depan, selain kecantikannya.


Sama halnya dengan Silvia yang sangat menarik perhatian Mustafa dikarenakan kecerdasannya.


*


*


Sekira pukul empat, Mustafa telah bangun. Pengawal pribadinya melapor bahwa semua persiapan telah selesai.


Mustafa melihat Silvia yang masih terlelap dalam gulungan selimut. Udara dini hari ini memang teramat dingin. Mustafa merapikan dirinya dan hendak membangunkan Silvia.


"Silvia, sudah waktunya aku berangkat," bisik Mustafa lembut.


Dirapikannya helai-helai rambut yang menutupi wajah gadis itu. Tapi Silvia tak bereaksi sama sekali. Dia tidur makin lelap.


Mustafa memandang tak berdaya. Akhirnya dibopongnya tubuh mungil berselimut itu menuju keluar.


"Pindahkan semua miliknya ke kediaman yang baru. Setelah itu kita baru berangkat," pesan Mustafa pada pengawalnya yang dengan setia duduk menunggu di teras.


"Ya, tuan."


Pengawal itu memanggil 2 orang lain yang juga berjaga tak jauh dari situ. Mereka memindahkan semua barang-barang pribadi Silvia.


Mustafa melangkah lebar. Dia harus mengitari setengah halaman untuk mencapai kediaman baru Silvia yang jauh lebih besar. Ada 2 orang pengawal menunggu di situ. Mereka sigap membukakan pintu saat melihat Mustafa muncul dari balik pagar pemisah rumah utama dengan pavilion ini.


Mustafa membaringkan Silvia di atas tempat tidur. Merapikan lagi selimutnya. Dia menunggui sebentar saat orang-orangnya memasukkan semua barang pribadi Silvia.


"Sudah tuan," lapor pengawalnya.


"Tak ada yang tertinggal?" tanya Mustafa memastikan.


"Tidak ada tuan. Bshkan tanaman di pot sudah dipindahkan juga ke sini," jawab pengawal itu sigap.


Mustafa mengangguk. Dipandangnya lagi Silvia yang masih tidur, seakan enggan pergi.


"Siapkan kereta kuda. Jangan lupa bawa bekal untuk sarapan pagi nanti!" perintah Mustafa.


Para pengawal itu mengundurkan diri.


Mustafa mencium kening Silvia, dan berbisik lembut.


"Aku berangkat. Berhati-hatilah di rumah."


"Hemmm...," gumam Silvia dengan mata mengantuk.


Mustafa tersenyum senang melihatnya bangun.


" Aku sudah harus berangkat. Gunakan uang ini jika kau ingin membeli sesuatu," Mustafa menyelipkan sebuah kantong uang berwarna merah.


"Cepatlah kembali," bisik Silvia lirih.


Kini dia sudah bangun sepenuhnya. Silvia duduk dengan selimut membelit seluruh tubuhnya. Pandangannya menyapu ruangan sekitar yang tampak asing.


"Dimana ini?" tanyanya heran.


"Ini ruang pavilion. Kau tinggal di sini mulai sekarang," jawab Mustafa.


"Barang-barang pribadimu telah dipindahkan. Periksalah lagi, jika masih ada yang ketinggalan, minta pengawal mengambilkannya. Aku meninggalkan 2 orang pengawal di sini, serta seorang pelayan untukmu."


Mustafa berdiri dan melihat keluar jendela. Tampaknya sudah waktunya dia pergi.


"Aku pergi...."


Mustafa memeluk dan mencium Silvia sebentar, lalu berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruangan itu. Terdengar pintu ditutup dan suara-suara di luar. Lalu senyap kembali.


Ruangan itu menjadi sunyi. Silvia membaringkan tubuhnya lagi. Dipejamkannya mata dan kilasan ingatan tentang malam tadi kembali berkelebat.


"Apa aku sudah gila?" gumamnya lirih.


Dia tak bisa mengerti, bagaimana hati dan tubuhnya telah berkhianat. Lancang untuk tidak sejalan dengan pemikirannya. Lalu apa yang bisa dilakukannya? Nasi sudah menjadi bubur.


"Terserahlah. Sudah seperti ini, mau bagaimana lagi? Hadapi saja apa yang akan terjadi."


Silvia memejamkan matanya dan kembali tidur. Dia sangat kelelahan saat ini. Urusan nanti, pikirkan nanti. Dia hanya ingin istirahat dan tidur sedikit lebih lama.


*

__ADS_1


*


Tok... tok... tok...


Silvia mendengar beberapa kali ketukan di pintu kamarnya. Lamat-lamat didengarnya seseorang bicara.


"Nyonya Silvia belum bangun, nona." Itu suara wanita.


"Tapi aku ingin bertanya hal penting!"


Itu suara Yasmeen.


"Anda bisa menunggu atau kembali lagi nanti," ujar suara itu lagi.


"Silvia!" terdengar suara teriakan Yasmeen dari balik pintu kamar.


"Ya, tunggu sebentar...." jawab Silvia.


Dia tau kebiasaan Yasmeen. Dia tak kan berhenti hingga keinginannya terpenuhi. Jadi Silvia bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju kamar mandi pribadinya.


Brakk!


Suara daun pintu dihentakkan dengan keras.


"Aaahhh!"Silvia terpekik kaget.


Kain selimut yang membalut tubuhnya nyaris jatuh ke lantai jika tangannya tak sigap menjangkau. Silvia membelitkannya lagi ke tubuhnya.


Dengan wajah memerah, dimandanginya Yasmeen yang sekarang sudah menyadari kesalahannya. Gadis kecil itu berdiri dekat pintu dan menunduk dalam.


"Maafkan aku...," ucapnya dengan suara tercekat.


"Tunggu di luar, dan renungkan!" ujar Silvia tegas.


Gadis kecil itu keluar dengan tetap menundukkan pandangannya. Pintu kamar kembali ditutup.


Silvia menghela nafas panjang dan melanjutkan rencananya untuk membersihkan diri. Dan dia merasa puas dengan kamar mandi pavilion ini. Dia jadi bisa merilekskan tubuhnya sebentar dengan berendam air hangat yang harum.


*


*


Yasmeen sedang menyirami tanaman saat Silvia akhirnya keluar menuju ruang makan. Ada jendela besar ke arah halaman samping. Di situ semua pot tanamannya diletakkan.


"Apa nyonya sudah ingin sarapan?" tanyanya sopan.


Silvia terkejut mendapat sebutan nyonya. Tapi kemudian dia menyadari. Ketika dirinya membiarkan Mustafa bermalam di kamarnya, maka dia sudah menjadi milik pria itu. Selir, nyonya muda adalah gelar yang paling halus. Dia tak bisa protes.


"Nyonya?"


Suara pelayan wanita itu mengantarkan kesadarannya kembali.


"Ya. Bawakan sarapan," ujar Silvia.


Pelayan itu berjalan menuju pintu lain.


'Mungkinkah itu arah belakang? Dapur dan kamar pelayan?' pikir Silvia sambil melirik.


Terdengar langkah kaki lincah khas yang sangat dikenal Silvia. Itu pasti...


"Silvia! Aku sudah menyiram semua tanaman," lapor Yasmeen riang.


Silvia tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Bagus!"


Silvia mengacungkan jempolnya ke arah gadis kecil itu.


Pelayan masuk dan menyiapkan meja. Silvia tidak tau jenis masakan apa yang disajikan pagi ini. Tapi itu terlihat sangat lezat serta mengundang selera makan. Dan perutnya memang sudah lapar sejak tadi.


"Ambilkan juga piring untuk Yasmeen," perintah Silvia.


"Ya, nyonya."


Pelayan itu kembali menghilang di balik pintu.


Mata Yasmeen berbinar-binar melihat hidangan di meja.


"Kau suka?" tanya Silvia lembut.


Gadis kecil itu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan antusias.

__ADS_1


Pelayan masuk dan menambahkan piring untuk Yasmeen serta tambahan lain.


"Kau sudah makan?" tanya Silvia pada pelayan itu.


"Setelah tugas melayani anda sarapan, saya akan sarapan juga," jawab pelayan itu hormat.


Silvia menggeleng.


"Ambil piringmu dan duduk di sini. Kita makan bersama," kata Silvia.


"Tapi nyonya...." pelayan wanita itu kebingungan.


"Ayo cepat! Jangan membantah perintah. Aku sudah lapar!" seru Yasmeen tak sabar.


Pelayan itu masih menoleh dan meminta pertimbangan Silvia lagi.


"Ayo cepat!" perintah Silvia tegas.


"Dan gunakan alat makan yang sama!" katanya mengingatkan.


Pelayan itu pergi buru-buru ke arah pintu. Lalu segera kembali dan membawa piring yang serupa dengan yang dipakai Yasmeen.


"Mari makaaannn..!"


Silvia mulai menyendok nasi penuh rempah ke piringnya. Ditambah potongan besar daging domba yang harumnya menerbitkan air liur. Yasmeen mengikuti. Dia menyendok nasi dengan bersemangat.


Acara sarapan itu begitu riang gembira. Celotehan Yasmeen mencairkan sikap kaku pelayan wanita yang baru pertama kali ikut makan dengan tuannya.


*


*


"Mustafa bilang, ada 2 orang pengawal di sini?" tanya Silvia pada pelayan.


"Ya, nyonya," jawabnya.


Setelah membereskan semua ini, siapkan juga sarapan untuk mereka. Setelah itu kau bisa beristirahat!" perintah Silvia.


"Baik, nyonya."


Pelayan itu mengangkati piring-piring kotor dari atas meja.


Silvia melangkah menuju pintu taman samping. Yasmeen mengikuti. Setelah memeriksa bahwa semua tanamannya baik-baik saja, Silvia memilih duduk di bangku teras.


"Silvia, boleh aku tanya sesuatu?" tanya gadis kecil itu hati-hati.


"Apa?" tanya Silvia balik.


"Apa kau akan menjadi ibuku juga? Seperti ibunya Omaar dan Kareem?" tanyanya ingin tau.


Silvia menghela nafas panjang.


"Aku tak bisa menjawab itu. Kau harus tanyakan sendiri pada ayahmu," elak Silvia.


"Tapi, tadi pagi sekali, ibunya Omaar mengamuk di rumah besar. Dia bilang kau mengasuhku untuk menjadikanku putrimu, untuk mrndekati ayahku," lapor Yasmeen.


Silvia menutup matanya. Dia tau, meskipun poligami adalah keumuman di masa ini, tapi bukan berarti tanpa ribut-ribut.


"Apa menurutmu aku seperti yang dikatakannya?" tanya Silvia menyelidik. Dia tiba-tiba ingin tau pendapat gadis cilik itu.


"Aku... aku tidak tau...." jawabnya polos.


Silvia menghembuskan nafas panjang. Dia berharap terlalu tinggi pada gadis ini.


"Apa kau mau jadi putriku?" Silvia mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana.


Yasmeen mengangkat kepalanya cepat. Mencari kebohongan di mata Silvia. Mata kelincinya yang hitam bening, menelisik Silvia penuh perhatian. Lalu dia mengangguk dan menjawab tanpa ragu.


"Mau! Aku mau jadi putrimu."


Mata itu berbinar. Tidak...! Itu basah. Matanya basah membayangkan punya ibu sendiri tanpa harus berbagi dengan Omaar dan Kareem.


Yasmeen menghambur ke pelukan Silvia.


"Ibuu..." ujarnya terisak.


Airmatanya tumpah membasahi bahu Silvia.


Ada haru yang bergelayut di teras itu. Silvia mendekap gadis itu erat dalam pelukannya. Mengelus punggungnya penuh kasih sayang. Membiarkannya menumpahkan segala rasa yang telah ditahannya selama ini.


Gadis sekecil itu, ternyata telah menyimpan banyak hal dalam hatinya. Dia bukannya tak punya beban hidup. Tapi dia telah belajar menyembunyikannya.

__ADS_1


Silvia tak bisa membayangkan berapa banyak luka dan kepedihan yang telah dialami Yasmeen selama ini. Tapi karena Silvia telah menjadi bagian dari keluarga ini. Dia takkkan membiarkan hal itu terus berlangsung.


******


__ADS_2