PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 106. Penyelamatan Michael dan Marianne


__ADS_3

Gemeretak suara gigi Dean menahan amarah. Wajahnya merah padam dengan mulut terkatup. Matanya bersinar keemasan.


"Kau habisi algojo dan pria muda itu. Aku akan mengambil Michael dan Marianne." Putus Dean.


Sunil mengangguk cepat. Matanya menyipit dan bersinar biru gelap.


"Sekarang!" seru Dean.


Selarik cahaya biru gelap, terbang seperti laser menyambar algojo dan pria muda di samping panggung. Mereka ambruk seketika dengan tubuh hangus terbakar tanpa sempat berteriak.


Lalu Dean mengangkat kedua tangannya. Marianne dan Michael serentak melayang di udara. Dean membawanya dengan kecepatan tinggi menuju laut. Lalu sebuah cahaya biru menyusul cahaya kuning itu menghilang di laut.


Semua penonton di situ bersuara riuh rendah melihat kejadian ajaib di depan mata mereka. Mereka tak tau siapa yang membunuh algojo dan orang kepercayaan Duke. Mereka lebih tak menyangka lagi karena orang yang mau dihukum mati justru melayang di atas langit kota sebelum hilang di atas laut.


Kota itu gempar seketika. Siapa orang hebat yang berani melawan kehendak tuan Duke? Bahkan tuan pemimpin kota saja tak berkutik di bawah dominasinya. Meski masyarakat gerah melihat sepak terjang Duke, tapi tak ada yang mampu mereka lakukan untuk melawan.


*


Setelah merasa cukup jauh, Dean berbelok arah menuju tebing tempat teman-temannya menunggu. Sunil ikut berbelok arah. Dia tau, Dean melakukan pengalihan dengan terbang menuju laut. Hal itu dilakukan agar lokasi pondok mereka di hutan, tak mudah dideteksi oleh orang-orang di kota tadi.


Dean dan Sunil menemukan area pondok. Keduanya turun dengan perlahan. Michael dan Marianne juga ikut diturunkan pelan-pelan. Kedua orang itu pingsan dibawa terbang secepat itu.


"Kalian sudah kembali?" sapa Alan riang, melihat kehadiran Dean yang melayang turun.


"Siapa mereka?" tanya Widuri saat menyadari bahwa Dean tak hanya berdua dengan Sunil.


Dean mengabaikan pertanyaan itu. Dia membaringkan tubuh Michael dan Marianne di permukaan batu. Ketiga temannya segera merubung.


"Marianne. Ini Marianne!" seru Nastiti kebingungan bercampur sedih melihat kondisi Marianne.


"Ini Michael. Mereka kenapa? Dimana kalian menemukannya? Bagaimana dengan Robert dan lainnya?"


Rentetan pertanyaan Widuri tak terjawab.


Dean mengambil cangkir dan menampung air abadi dari tempayan. Dia tak tau seberapa parah kondisi keduanya. Entah apakah akan bisa diselamatkan dengan meminum air ini.


Dean meminumkan pelan-pelan air di cangkir pada Marianne. Sunil mengambilkan air juga untuk Michael.


Kelima orang itu hanya bisa berharap, Michael dan Marianne bisa melewati masa-masa kritisnya. Rasanya sedih, karena tak ada seorangpun diantara mereka yang mengerti ilmu pengobatan yang mungkin bisa menyelamatkan kedua temannya itu.


Cukup lama sampai Michael bangun dan terbatuk-batuk. Alan yang sedang sibuk memanggang ikan, langsung menoleh.


"Kau sudah sadar?" Dean melesat cepat ke arah Michael.

__ADS_1


"Aahhh.." Michael terkejut melihat seseorang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Kau...!" Michael terpana tak percaya, lalu melihat semua orang di situ.


"Ini kalian. Syukurlah. Syukurlah.. kalian menemukan kami. Ya Tuhan, terima kasih," Michael tak dapat menahan tangisnya.


Dean membiarkan Michael memeluknya dengan erat sambil menangis. Semua berkumpul mengerubungi Michael.


"Kami di sini. Tenanglah.. Kau bisa menceritakan perjalananmu hingga bisa sampai di kota itu," bujuk Sunil menenangkan Michael.


"Lalu dimana anggota tim yang lain?"


Mata Widuri berbinar cerah, mengira akan segera berkumpul lagi dengan semua teman sepesawat yang selamat.


"Beri dia minum dan makan dulu," tegur Alan.


"Ini, ikan bakar.. masih hangat. Makanlah dulu." Alan menyodorkan sepiring ikan panggang yang masih mengepul dan roti gandum buatan Widuri.


"Ini teh jahenya sudah siap untuk menghangatkan perutmu," ujar Nastiti sambil tersenyum.


"Dimana Marianne?" tanya Michael.


"Kami membawanya ke kamar. Bagaimana dia bisa mendapat begitu banyak luka dan lebam biru dan hitam di sekujur tubuhnya?" tanya Widuri heran.


"Kalian tinggal di sini?" tanyanya lagi, setelah melihat ke sekeliling tempat itu.


Sunil menceritakan kisah mereka hingga terdampar di hutan itu. Michael mendengarkan sambil makan dengan lahap. Dia tampak sangat kurus dan kurang gizi. Begitu pula halnya dengan Marianne.


Michael menceritakan seluruh kejadian sejak mereka berpisah di hutan salju. Diculik perompak dan dijual sebagai budak pada penguasa kota pelabuhan ini. Serta perlakuan-perlakuan kasar yang sangat buruk yang mereka terima. Terutama Marianne. Karena usianya, dia tak mampu lagi bertahan. Semakin dia lemah, maka akan semakin sering menerima pukulan.


"Jadi tadi kalian yang membawa kami terbang ya. Hebat sekali. Beruntung sekali kalian mendapatkan kekuatan seperti itu."


Michael memuji dengan tulus.


"Lalu kira-kita dimana Robert dan timnya kini? Apa kau bisa mengenali pantai itu jika kita cari?" tanya Sunil ingin tau.


Michael menggeleng.


"Perjalanan laut setelah diculik itu, ku rasa ada lebih dari sebulan lamanya. Banyak pantai dan kota pelabuhan yang kami singgahi.


"Apakah pantai tempat kalian dulu, airnya asin?" tanya Alan.


"Tentu saja. Kami minum air dari sungai, karena air laut yang asin tak mungkin dikonsumsi." Michael menerangkan dengan terheran-heran.

__ADS_1


"Tapi air di luar sana itu tawar. Kami pikir ini sebuah danau yang sangat besar." tambah Nastiti.


"Apa?!" seru Michael terperanjat.


"Ku rasa kau tak tau tentang itu," tebak Widuri.


"Artinya, danau luas ini bersambung dengan lautan." gumam Dean sambil berpikir.


"Apakah kalian selalu melihat daratan?" tanya Sunil ingin memastikan.


"Tidak juga. Bahkan pernah lebih dari seminggu kami tidak menemukan daratan. Itu terjadi setelah kapal melewati badai dahsyat di malam hari." Michael menceritakan hal detail yang diingatnya.


"Kita tak mungkin mencari mereka dengan terbang." Kata Alan. Diangkatnya piring kotor bekas makan Michael.


"Terima kasih Alan. Ikannya lezat," puji Michael. Alan tersenyum tipis, dan berlalu ke dapur.


"Apa kau ingin mandi? Biar ku temani kau mandi di bawah sana." Sunil menawarkan bantuan.


"Baiklah. Sudah lama sekali sejak terakhir aku mandi. Apa aku bisa pakai bajumu?" tanya Michael.


Sunil mengeluarkan ranselnya dari kalung penyimpanan. Dibiarkannya Michael memilih sendiri baju yang disukainya.


Mereka berdua pergi mandi ke bawah tebing.


"Dean, apa kau ingin mencari tim Robert?" tanya Widuri sambil menyodorkan sepiring ikan bakar untuk cemilan siang.


Dean makan dengan lahap. Keduanya duduk santai di bangku kayu di bawah kerindangan pohon-pohon raksasa.


"Menurutku, Robert juga tak akan menetap lama di tempat itu. Setelah kedatangan perompak, mestinya mereka pindah tinggal lebih ke dalam hutan." jawab Dean.


Widuri mengangguk.


"Menurutku, Robert justru akan terus mencari jalan pulang. Seperti juga kita, tak akan menetap terlalu lama di satu tempat. Tujuan kita adalah pulang, jadi akan terus memcari jalan untuk bisa pulang."


Widuri menyampaikan buah pikirannya. Dean tersenyum lembut. Meski dengan pemahaman berbeda, tapi mereka sama-sama yakin bahwa Robert tak mungkin tetap berada di tempat itu. Waktu yang berlalu sejak penculikan, sudah ada 4 bulan.


Dean menggenggam jemari Widuri dengan lembut. Widuri menyandarkan kepalanya di dada bidang Dean. Dia sudah mulai terbiasa direngkuh dan dipeluk Dean untuk terbang bersama. Dada itu adalah tempat ternyaman untuk bersandar dari kepenatan pikiran.


Dean membiarkan kekasihnya bersandar dengan nyaman. Dia bahkan mulai mengenali aroma tubuh Widuri yang lembut. Meski sudah sangat lama sejak terakhir menggunakan sabun mandi, tapi aroma asli tubuhnya tetap enak dicium.


Elusan jemari Dean pada anak-anak rambut di kening Widuri, membuat matanya terpejam. Widuri menikmati elusan sayang itu. Membuat tubuhnya rilex dan tenang.


*****

__ADS_1


__ADS_2