PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 216. Naga Terakhir di Bumi


__ADS_3

Kang tidak terlihat saat Robert bangun pagi hari. Meskipun itu bukan hal yang biasa terjadi, tapi Robert tak mencarinya. Bisa saja Kang ada di ruang bawah tanah dekat makam.


Robert bangun dan memeriksa kandang ternak. Memberi makan mereka dan memerah susu pagi hari. Rutinitas biasa di tempat itu.


Selesai sarapan, Robert baru merasa heran. Kang tak muncul juga. Dengan khawatir Robert menuju ruang bawah tanah. Menggeser tangga dan membuka pintu lorong.


Udara panas langsung menerpa wajahnya. Robert heran. Ini tidak seperti biasanya. Akhirnya Robert mempercepat langkahnya menyusuri lorong itu.


Ketika menemukan persimpangan jalan, Robert ingin melangkah terus ke arah yang diingatnya, dimana satu pelita telah menyala di situ. Itu jelas menuju ruang bawah tanah dekat makam. Tapi sebuah suara menghentikan langkahnya.


Robert menoleh ke arah area gelap di sisi kirinya. Hembusan udara panas lebih terasa di tempat itu. Dia mendengar lenguhan samar.


Robert curiga sesuatu. Diapun berbelok menuju lorong gelap yang udara panasnya terasa membakar hingga ke paru-parunya.


Robert menutup hidung dan mulutnya dengan lengan bajunya untuk mengurangi rasa panas menerpa hidungnya. Tapi tak pelak bagian wajahnya yang lain terasa panas juga. Tapi rasa khawatir terhadap Kang, meneguhkan tekadnya untuk terus maju.


50 meter berikutnya, bahkan dinding lorong terasa makin panas. Di depan sana, lewat sebuah lengkungan arch dari batu. Seekor makhluk asing tergeletak tak berdaya di lantai yang semerah bara.


Tubuhnya sehitam arang dan tercium bau gosong teramat pekat. Dia terus melenguh dan bernafas pendek-pendek, menolak untuk menyerah.


"Siapa kau?" tanya Robert dari luar pintu.


Dia tak bisa masuk lebih jauh lagi. Nafasnya susah sesak dan dadanya mulai sakit.


Makhluk itu menolehkan kepalanya yang besar. Dia menyeringai. Gigi-giginya besar dan runcing. Nafas yang keluar darinya terasa sangat panas menerpa wajah Robert.


Makhluk itu mengangkat tangannya... tidak! Itu kaki depannya. Kaki itu diarahkan ke Robert.


Robert secara refleks mundur. Tapi itu hanya 2 langkah sebelum tembok lorong menghalangi langkahnya. Makhluk itu kembali melenguh dengan susah payah.


Kaki besar itu diarahkan ke kening Robert. Robert tak bisa menghindar lagi. Lalu sekelebat informasi masuk ke pikiran Robert. Robert terkejut.


"Kang?" tanyanya tak percaya.


Kaki makhluk itu jatuh menghempas lantai lorong. Robert tersentak melihatnya. Dia segera menyadari sesuatu.


"Kau tunggu sebentar. Akan ku ambilkan yang kau minta."


Robert berlari kencang keluar lorong dan kembali ke ruang bawah rumah mereka. Dicarinya kendi yang tadi diminta Kang.


"Dimana dia...."


Robert tak sabar mencari kendi yang ditempeli kertas bertulis seperti yang diingatannya. Robert memeriksa setiap kendi yang ada di sudut itu. Sudut tempat Kang menyimpan obat-obatannya.


"Ketemu!" seru Robert girang.


Diraihnya kendi itu dan memeriksa label tulisannya. Karena Robert tak mengerti tulisan tersebut, jadi dia harus memeriksanya. Tulisan itu harus sama dengan ingatan yang diberikan Kang tadi.


"Oke. Ini sudah benar."


Robert memeluk kendi seukuran 30cm itu di dadanya. Lalu Robert kembali berlari menuju lorong gelap dimana Kang tergeletak tak berdaya.


"Kang, aku membawa obatmu!" teriak Robert.

__ADS_1


Diguncangnya kaki yang menjulur tadi. Namun tak ada reaksi sama sekali. Tampaknya Kang pingsan.


Meski udara ruangan itu yang sangat panas, tapi Robert memang harus masuk ke sana agar bisa menolong Kang. Tak ada pilihan lain sekarang.


Ruangan ini sangat panas. Dan tubuh Kang gosong seperti arang.


'Apakah dia mengamuk tadi?' pikir Robert tak mengerti.


Dengan susah payah, Robert mencapai bagian kepala Kang. Telapak kakinya terasa panas. Ruangan itu sepanas pemanggang pizza!


"Ini harus cepat. Atau kakiku bisa meleleh nanti." gumam Robert.


Diraihnya kepala hitam gosong tak berbentuk itu. Dikucurkannya air obat dari kendi ke dalam mulut besar bergigi runcing. Robert tak merasa takut sedikitpun pada makhluk itu. Dia tau ini adalah Kang temannya.


Obat di kendi itu sepertinya sangat ampuh. Karena kaki yang sebelumnya terjulur keluar lorong, ditarik masuk tiba-tiba. Seperti gerak refleks.


Robert terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. Kendi itu terbalik dan menumpahkan isinya ke wajah Kang.


Asap putih mengepul naik. Seperti bara panas yang disiram air.


"Kau mengagetkanku. Jangan salahkan aku jika obatmu jadi tumpah," kata Robert.


Tak butuh waktu lama, bagian wajah yang tersiram obat tadi berangsur berubah.


Kini terlihat sisik-sisik kehijauan di sekitar kepalanya. Beberapa duri runcing juga terlihat. Mata makhluk besar itu masih terpejam. Nafas yang keluar dari hidungnya masih terasa panas.


Robert ingin meraih kendi yang tergeletak miring di lantai. Tapi kakinya sudah tak tahan lagi. Robert pun berusaha lari ke arah lorong. Kakinya menginjak air tumpahan obat yang tercecer di lantai.


"Aku keluar dulu Kang. Sebentar ku cari alas untuk kakiku dulu!" teriak Robert sambil berlari.


Setelah terasa mendingin, Robert mengeluarkan kakinya dari wadah berisi air rendaman. Robert memperhatikan kakinya. Tak ada lecet sama sekali. Kakinya hanya memerah. Denyut dan nyeri yang dirasakannya sesaat lalu juga telah hilang.


'Tak mungkin air kamar mandi ini yang menyembuhkan luka bakar' pikir Robert.


"Ah! Aku tadi menginjak air obat yang tumpah." Robert akhirnya ingat.


"Kang punya obat yang sangat mujarab. Hebat sekali."


"Kurasa aku harus membawa cukup air untuk mendinginkan ruangan yang panas membara itu."


Robert mengambil wadah lain. Mengisinya dengan air. Lalu menuju rumah dan turun ke lorong.


"Kang, aku kembali," ujar Robert dari balik pintu.


Taoi Robert tertegun melihat makhluk yang tadinya hitam gosong seperti arang dan tergeletak tak berdaya, kini terbang melayang di tengah ruangan. Tubuh besar bersisik kehijauan itu terlihat sangat agung. Sayap lebarnya mengepak indah. Mata Kang sehijau zamrud. Robert kagum dan takjub melihatnya.


"Syukurlah kau segera sadar. Dan bagus, kau terbang di situ. Aku membawa air untuk memadamkan tembok yang membara ini."


Robert melemparkan air di wadah ke arah dinding. Asap putih mengepul membubung naik ke arah atas.


Kang meraih Robert dengan kakinya yang satu. Sementara kaki kainnya menjangkau kendi obat di lantai.


"Aaaaaaa!" teriak Robert kaget. Dipeluknya kaki Kang dengan erat, agar tak jatuh.

__ADS_1


Kang meniup ruangan dengan uap putih dingin yang keluar dari mulutnya. Asap putih memenuhi ruangan, naik dan memasuki sebuah celah di bagian atas ruangan.


Kang menurunkan Robert, meletakkan kendi obat, lalu berdiri dengan empat kakinya.


Robert berjalan mundur untuk memberi ruang yang lebih leluasa buat tubuh baru Kang yang super besar.


Ruangan itu terasa dingin sekarang. Terutama bagian lantai yang tadi kena siram air. Itu jadi licin dan terbentuk lapisan es di situ.


"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Robert takjub.


"Kau bisa mengeluarkan api dan uap dingin juga? Komplit sekali." Robert meraba dinding yang kini membeku seperti bekunya air di puncak musim dingin.


Kang mengangkat kaki depannya dan diletakkan di dahi Robert.


"Aku harus minum air obat ini juga? Baiklah. Aku takkan membantahmu."


Robert segera meminum beberapa teguk air obat itu. Tak butuh waktu lama. Sekitar 5 menit, dadanya yang panas mulai terasa membaik.


"Obat yang sangat bagus Kang. Masih ada sedikit. Harus disimpan baik-baik," kata Robert.


Kang menggeram sebagai jawaban.


"Kau, dilarang bicara. Atau tempat ini akan berubah jadi oven lagi!" larang Robert serius.


"Ayo kita keluar. Aku ingin mendapatkan udara hangat. Disini sudah seperti freezer."


Robert melangkah ke arah lorong sambil memeluk kedua lengan di dadanya, menahan dingin. Beruntung udara hangat di lorong tak serta merta berubah dingin. Jadi dia bisa merasa sedikit nyaman sekarang.


"Kang, ku kira lorong ini tak cukup besar untuk kau lew...." Robert yang menoleh ke belakang tiba-tiba terdiam.


Di sana, Kang keluar dari kegelapan sudah dengan wujud semua. Menatap Robert dengan senyum tulus yang tak lepas dari wajahnya.


"Ah, untung aku juga pria. Jadi tak terkejut melihatmu seperti itu. Cepatlah naik dan kenakan pakaianmu. Jangan sampai Vivian melihatmu sepolos itu," ujar Robert cuek.


Keduanya melanjutkan jalan beriringan.


"Kang, apakah kau jelmaan naga?" tanya Robert.


"Hemmm," gumam Kang menyahuti dari belakang.


Robert membalikkan badan dan berkata dengan serius.


"Ku rasa, kau adalah Naga terakhir di bumi. Karena di jaman kami, naga hanya ada dalam dongeng."


Kang tertegun mendengarnya.


"Warna sisikmu bagus sekali. Ku kira Naga hanya berwarna hitam atau putih. Tapi kau berwarna hijau lime. Unik."


Celotehan Robert terdengar sepanjang lorong. Dan Kang hanya menjawab dengan deheman atau anggukan dan gelengan kepala.


******


Ilustrasi di dapat dr pinteres

__ADS_1



Kang dan Vivian


__ADS_2