
Hari itu Robert terlihat sumringah. Dia bahagia bisa bertemu lagi dengan Dean. Meski hidupnya di sini sangat baik, tapi bisa bertemu teman dari dunia yang sama tentu sangat membahagiakan.
Saat makan malam, Robert terus bercerita tentang Dean, Sunil, Alan, Widuri, Nastiti dan Dewi yang berpisah jalan di gua hutan salju. Kang mendengarkan dengan penuh perhatian.
Kang menempelkan jarinya ke dahi Robert.
"Tentu saja aku ingin berkumpul lagi dengan mereka. Lagi pula Dean terburu-buru tadi. Dia pasti mengkhawatirkan sesuatu, makanya pergi lebih cepat," ujar Robert.
"Tapi Kang, aku ingin tau kenapa kau bisa terbakar di ruang bawah tanah hari itu? Itu menakutkanku. Kalau kau kenapa-kenapa, aku bagaimana?" tanya Robert khawatir.
Kang diam mendengar pertanyaan Robert. Dia terlihat enggan mengatakannya.
"Jika menurutmu itu rahasia, maka kau bisa menyimpannya. Tapi jika kau punya masalah pelik, kau bisa menceritakannya padaku, kita pecahkan bersama," kata Robert.
Kang menatap Robert serius. Lalu tangannya diletakkan di dahi Robert.
Robert tersentak kaget.
"Ketakutanmu tak beralasan! Aku temanmu. Maka teman-temanku juga temanmu. Jika tiba saatnya aku melanjutkan perjalanan, maka kau akan punya teman baru."
"Lagi pula ada Vivian di sini. Dia menyukaimu," hibur Robert.
Tapi Kang menggeleng. Dia kecewa dengan sikap Vivian tadi siang. Kang meletakkan jarinya di dahi Robert lagi.
Robert menghela nafas panjang.
"Dia hanya kaget Kang. Jika dia betul menyukaimu, maka semua perbedaan bisa diatasi. Buktinya, ada teman seperjalanan ku yang menikahi bangsa Elf. Dia tinggal di negri itu sekarang."
Kang meletakkan jarinya lagi di dahi Robert. 'Kau tak takut padaku.'
"Untuk apa aku takut padamu? Kau penolongku, temanku. Hatimu baik, itu yang penting," jawab Robert cepat.
Kang menempelkan jarinya lagi ke dahi Robert. 'Kapan kau berencana pergi?'.
"Aku tidak tau. Biarkan mereka datang dan menceritakan keadaan mereka. Dimana mereka tinggal pun aku tak tau. Lagi pula aku tak bisa terbang. Jadi mereka yang harus menjemputku bukan?" ujar Robert santai.
Kang mengangguk. Keduanya duduk di bangku teras dan memandang langit yang biru gelap. Segelap awan hujan yang menggantung. Robert tiba-tiba ingat sesuatu.
"Kang, apa kau tau asal muasal kabut magenta sehabis hujan?" tanya Robert penasaran.
Kang menggelengkan kepalanya.
"Kalau sinar terang di atas kuil itu, apa kau tau karena apa?" tanya Robert lagi.
Kang kembali menggeleng. Tapi jarinya menempel di kening Robert.
"Kakekmu yang memasangnya?" ujar Robert heran. Ini cerita baru.
Kang mengangguk. Diletakkannya lagi jarinya di kening Robert. Kali ini lebih lama dari biasanya.
Robert terdiam, tak tau mesti bereaksi bagaimana. Dia mendapat banyak sekali informasi. Dan ini harus dicernanya dulu.
"Biar ku urai dulu informasimu. Koreksi jika salah," kata Robert.
"Hemmm," jawab Kang.
"Kakekmu terdampar di masa Sebelum kerajaan Gojoseon. Yang menolongnya adalah calon raja? Dia ingin membawa ayahmu sebagai pelindungnya, tapi ditentang pejabat dan publik. Akhirnya kakekmu diminta untuk menjaga makam leluhur raja. Tapi jika ada panggilan tugas dari raja, ayahmu akan bekerja diam-diam."
Kang mengangguk mengiyakan.
"Tckk. Ini sangat menarik."
Robert benar-benar kagum. Raja itu sangat cerdas. Menempatkan kakek Kang di makam untuk mengikuti permintaan publik. Sekaligus menyembunyikan pelindung rahasianya dari sorotan.
__ADS_1
"Lalu. Bagaimana kelanjutannya?" tanya Robert penasaran.
Kang meletakkan lagi jarinya di dahi Robert. Robert mengangguk-angguk mengerti.
"Kakekmu menikah dengan wanita yang dipilihkan raja. Lalu lahir ayahmu seorang, karena nenekmu tak berumur panjang. Ketika raja mangkat, putranya naik takhta dan mengambil ayahmu sebagai pelindung rahasianya dan menempatkannya di makam ini juga. Mencarikannya istri, lalu lahir kau dan adik perempuanmu. Begitu?" tanya Robert memastikan.
"Hemmm," jawab Kang.
"Tapi dari ceritamu, tak ada yang menceritakan tentang cahaya itu," protes Robert.
Alis Kang mengerut sebentar lalu dia tersenyum. Diletakkannya lagi jari di dahi Robert.
"Ooo... Kuil makam itu dibangun ulang oleh kakekmu, setelah raja terdahulu mangkat. Dan cahaya itu hanya muncul 2 kali setelah ayahmu diangkat jadi pelindung raja baru."
"Apa kau tau kapan kedua cahaya itu dinyalakan?" tanya Robert ingin tau.
Kang berusaha mengingat hal-hal lama. Ditaruhnya jarinya di dahi Robert.
"Saat kerajaan Buyeo menyerang?" Robert terhenyak.
"Artinya, sinar itu adalah tanda bahaya! Agar istana segera tau jika ada musuh mendekat!" ujar Robert.
"Makam ini di tengah hutan. Apakah dekat dengan perbatasan?" tanya Robert lagi.
Kang menggangguk. Robert sudah mengerti tentang sinar itu sekarang. Tapi kabut magenta itu masih belum dipahaminya. Mungkin suatu hari nanti misterinya akan terpecahkan. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Lalu dimana kakekmu sekarang?" tanya Robert setelah mereka diam cukup lama.
Kang menggeleng sedih. Diletakkannya jari di dahi Robert.
"Aku mengerti. Raja terdahulu telah mangkat, dan tugasnya membangun kuil baru sudah selesai. Jadi kakekmu pergi melanglang buana. Dia berjanji, jika melihat sinar dari kuil, dia akan segera kembali. Tapi dia tak pernah kembali lagi...."
Robert bisa melihat Kang bersedih. "Berdoalah Kang. Dimanapun kakekmu menetap, semoga dia hidup dengan baik dan bahagia."
"Lebih baik kita segera tidur. Besok kita periksa tanaman soba dan gandum di belakang. Mungkin harus panen berbarengan," ujar Robert.
Robert masuk ke dalam rumah, disusul Kang. Tempat itu kembali sunyi. Dan hujan tak jadi turun.
*
******
"Dean!"
Widuri lari dan memeluk Dean begitu dia menjejakkan kaki di tanah. Dean mengecup keningnya.
"Bagaimana kau bisa kembali? Kata Sunil kau jatuh ke dunia asing." Michael tak sabar untuk bertanya.
Dean mengambil duduk di kursi. Marianne menyodorkan cangkir air.
"Minum dulu."
"Terima kasih Marianne," ujar Dean lalu meneguk air minumnya.
"Duduklah, biarkan Dean cerita," kata dokter Chandra.
Semua patuh dan mengambil tempat duduk masing-masing. Menunggu Dean dengan pandangan tak sabar.
Dean melihat semua temannya dengan alis terangkat. Baru kali ini dia melihat mereka begitu patuh dan diam.
"Aku hanya bertemu Robert di sana," ujar Dean.
???
__ADS_1
"Robert?" tanya Nastiti tak yakin.
"Maksudmu Robert dari tim kami?" Niken juga ingin memastikan.
Dean mengangguk sambil tersenyum. "Ya."
"Apa?"
"Robert ada di sana?"
"Apa dia baik-baik saja?"
Mereka berebutan bertanya.
"Dia baik-baik saja. Tapi kami tak bisa bicara banyak, ka...."
Kata-kata Dean dipotong Widuri.
"Apa dia disandera? Sakit? atau bagaimana?" tanya Widuri tak sabaran.
Dean meraih pinggang Widuri dan membawanya kepangkuan. Dean menahan senyum karena gemas.
"Makanya jangan potong penjelasanku."
Widuri menggembungkan pipinya dan menyingkirkan jari usil Dean dari puncak hidungnya.
"Tau nih, Widuri kebiasaan memotong omongan orang. Lanjutkan ceritamu Dean," ujar Indra.
"Aku sudah lihat tempat Robert tinggal dengan temannya...."
"Temannya?" Kali ini Niken yang memotong cerita Dean.
Semua orang menatapnya dengan gusar. Karena Dean jadi berhenti cerita.
"Oh, maaf gak sengaja. Lanjutkan Dean. Aku akan tutup mulut rapat-rapat." Niken menutupkan tangannya ke mulut sambil menahan tawa.
"Robert tinggal dengan temannya Kang. Dia baik-baik aja. Tapi aku tak bisa berlama-lama di sana. Takut Sunil membuat kegemparan di sini, karena aku jatuh tadi itu."
Dean menuntaskan ceritanya. Dia kembali mengganggu Widuri yang bersandar manja.
"Dan kekhawatiran mu benar Dean. Di sini gempar karena kau jatuh ke dunia yang belum diketahui. Widuri menangis menjerit-jerit tadi. Ingin menyusulmu masuk ke sana," ujar Alan.
"Lebaaayyyyyy." Widuri memanyunkan bibirnya dengan sebal.
"Lebay apanya? Itu kenyataan kok. Tanya saja yang lainnya," Alan membela diri.
Dean melihat Niken, Nastiti, Michael dan Indra. Keempatnya menganggukkan kepala dengan kompak dan wajah serius.
"Caramu menceritakannya yang lebayyy!" Widuri melempar Alan dengan kulit kacang.
Alan mengelak dan terkekeh. Dia berhasil mengganggu Widuri.
"Lalu kapan kau akan ke sana lagi?" tanya dokter Chandra.
"Besok aku akan ke sana lagi," kata Dean.
"Bolehkah aku ikut?" tanya Michael.
Dean mengangguk dan tersenyum.
"Yeayyy.. terima kasih Dean. Sudah lama aku tak keluar dari tempat ini. Tak sabar rasanya melihat dunia lain," ujar Michael senang.
******
__ADS_1