
Pagi hari.
Robert dan Kang menyibukkan diri dengan perencanaan renovasi rumah mereka yang sudah sangat tua dan terkesan kuno.
Robert bisa memaklumi keterbatasan Kang tentang referensi rumah modern. Jadi Robert berperan lebih banyak dalam membuat disain. Robert menggambar di atas tanah, disain rumah yang lebih rapi dan fungsional untuk ditempati.
Kang terpukau melihat disain yang dibuat Robert. Lay out dan sirkulasi yang memudahkan serta cukup ventilasi agar rumah lebih sejuk dan nyaman. Kang mengangguk-angguk setuju.
Jadi mereka bersepakat untuk membuat rumah semi permanen agar lebih kuat dan tahan lama. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat batu bata dan genteng dari tanah liat.
Robert dan Kang mencari tanah liat dekat sungai kecil di lembah. Dalam setengah hari mereka mengumpulkan tanah liat. Kang menyimpannya dalam cincin dimensi. Setelah penuh, Kang akan naik dan meletakkan tanah itu di depan halaman. Dimana Robert sibuk mencetak batu-bata ukuran besar. Kang melakukan itu bolak balik hingga tengah hari. Lalu dia membantu Robert untuk menyelesaikan mencetak batu bata.
Hingga sore, Semua pekerjaan itu selesai. Sudah ada 300 batu bata yg siap untuk dijemur.
*
*
Malam hari.
Robert dan Kang mendiskusikan lagi apa yang akan dikerjakan keesokan harinya.
"Jadi besok kita baiknya menebang pohon untuk dinding dan tiang-tiang. Bagaimanapun batu-batu itu butuh waktu untuk kering, baru dibakar sekaligus," kata Robert.
Kang mengangguk. Diletakkannya jarinya di dahi Robert.
"Iya, batu bata itu memang belum cukup. Lebih baik membuatnya lebih ketimbang kurang. Setelah itu kita harus membuat atap gentingnya." Robert menjawab pertanyaan Kang.
Mereka beristirahat lebih cepat malam itu. Besok adalah hari yang panjang dan melelahkan.
*
*********
Sudah 3 hari Laras demam. Memar di punggungnya terlihat hitam membiru. Bengkaknya semakin nyata. Kompres yang dilakukan tak membuahkan hasil.
Laras hanya bisa berbaring miring atau duduk di tempat tidur untuk makan. Jika berjalan, dia sudah membungkuk semakin rendah dari sebelumnya.
Semua orang cemas melihat perkembangan itu. Liam selalu berusaha ada di sisinya tiap kali waktunya mengompres.
"Jangan. Sakit ...," tolak Laras lirih.
"Aku di sini. Kau bisa menggigit tanganku jika memang sangat sakit. Maafkan aku. Ini salahku," ujar Liam penuh penyesalan.
Laras menggenggam tangan Liam yang ikut berbaring di sampingnya. Tangan itu panas dan gemetar.
"Ssshhhh... Aaaaahhhhh!"
Jeritan Laras menyayat hati. Matanya berair menahankan sakit yang tak terkira.
Kenny dan Mattew saling pandang. Mereka putus asa menyaksikan penderitaan Laras. Sakit yang dirasakan Laras juga terasa di ulu hati mereka. Rasa ngilu yang menyayat hati mereka.
Setelah menahan sakit tak terkira, Laras tidur kelelahan. Bulir-bulir keringat membasahi seluruh pakaiannya. Liam perlahan turun dari tempat tidur. Rahangnya dikatupkan rapat. Giginya gemeretak menahan semua keputus asaan.
Dia keluar kamar tanpa menoleh lagi. Melangkah cepat dan mulai berlari setelah keluar pintu rumah. Bendungan di matanya jebol sudah. Di gerbang kota, Liam menjerit meluapkan rasa sedihnya.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaaaaaaahhhh!" teriaknya kencang. Lalu terduduk di tengah jalan dan menangis tersedu sedu.
Kenny yang mencoba menyusul, melihatnya dari kejauhan. Tak ingin menganggu luapan rasa yang dialami Liam. Bujukan bukan hal yang terbaik saat ini. Sebab, sungai di matanya sendiripun sudah sudah mengalir deras. Kenny duduk bersandar di tumpukan batu penanda perempatan jalan.
Liam, pria kuat dan ceria yang dia kenal sebelumnya, kini terlihat sangat rapuh.
'Apa yang harus dilakukan sekarang? Apakah harus keluar dan mencari pertolongan? Bagaimana jika dunia luar justru jauh lebih berbahaya dari tempat ini?' Kenny berperang dalam hatinya.
*
**********
Siang hari.
"Paman, bibi!"
Terdengar suara khas Yoshi. Semua orang mendongakkan kepala. Tampak Yoshi dan adiknya datang bersama.
"Kalian sedang apa?" tanyanya setelah menjejak tanah.
"Kami sedang memperbaiki rumah," jawab dokter Chandra.
"Bagaimana kabar ayahmu?" tanyanya lagi.
"Ayah sudah membaik. Dan ada yang ingin kami sampaikan," kata Yoshi.
Dean menghentikan pekerjaannya. Mencuci tangannya yang kotor laku mendekati Yoshi dan adiknya.
"Katakanlah. Kami akan mendengarkan."
Para wanita mulai menghidangkan minuman dan makanan yang sudah mereka siapkan sepagian ini. Para pria mengambil waktu untuk istirahat dari pekerjaan mereka sejenak. Semua duduk di meja dan siap mendengar kabar yang dibawa Yoshi.
"Hei, bagaimana aku memanggilmu sekarang?" Alan menepuk punggung adik Yoshi sebelum duduk dan mencomot sepotong kue.
"Yabie. Ayah memberinya nama Yabie," jawab Yoshi tersenyum.
"Yabie ... nama yang bagus dan mudah diingat," kata Alan sambil tersenyum.
"Ayah berkata sudah siap untuk memakamkan jasad ibu. Jika paman dan bibi ingin hadir, bisa datang ke kediaman," kata Yoshi.
"Dimakamkan di mana?" tanya Widuri.
"Di taman belakang rumah. Kami sudah mempersiapkan tempatnya. Dulu ibu suka menemaniku bermain di sana." Yoshi termangu. Yabie menggenggam tangannya, matanya menatap kakaknya dengan hangat.
"Kau tak harus ke sini. Bukankah bisa mengirimkan pesan transmisi saja?" tanya Dean.
"Iya. Tapi kami memang sengaja ke sini. Sekalian mau kembali ke kubah cahaya itu. Yoshi bilang, ada sesuatu yang masih tinggal di sana. Ibu berpesan padanya untuk mengubur itu bersamanya" Yoshi tertunduk.
"Oh, baiklah. Boleh aku ikut ke sana? Aku belum pernah melihat tempat Yabie dibesarkan." Dean meminta izin pada keduanya.
"Tentu saja. Ayo kita pergi," ujar Yoshi sambil berdiri.
"Oh iya. Bibi Widuri tidak ingin ikut? Yah, tapi memang tempat itu sama sekali tidak menarik. Hanya tinggal reruntuhan saja," ujar Yoshi.
"Tentu saja aku mau ikut. Hitung-hitung perjalanan bulan madu yang tak pernah ditawarkan pamanmu," sahut Widuri sambil menyindir.
__ADS_1
Dean terkejut, tapi dia tak bisa membantah. Karena Widuri benar. Mereka bahkan belum bulan madu. Terlalu banyak hal yang harus dikerjakan di pondok.
"Maafkan aku...," ujar Dean dengan suara rendah.
"Nanti setelah ini, kita ambil liburan sedikit. Aku akan membawamu berjemur di pantai air asin. Atau kemanapun kau suka," kata Dean membujuk Widuri. Widuri mengangguk sambil tersenyum senang.
"Baiklah, kami berangkat dulu. Acara pemakaman ibu besok pagi. Ku harap paman dan bibi semua bisa hadir."
Dean memeluk Widuri dan melayang naik menyusul Yoshi dan Yabie. Mereka melesat pergi setelah berada di ketinggian.
"Jangan terlalu cepat. Aku takut," Widuri memeluk Dean erat.
Matanya memejam rapat. Dia sama sekali tak bisa menikmati pemandangan hutan saat ini.
"Oh, baiklah. Maafkan aku," Dean memperlambat laju terbangnya.
Dia mengirim pesan transmisi pada Yoshi tentang itu. Tapi seperti biasa, komunikasi terputus di tengah hutan larangan. Hal ini belum juga bisa Dean selidiki.
Sekarang Widuri bisa membuka matanya. Pemandangan hutan yang hijau berlatar laut biru di belakang sana, sungguh indah. Tanpa disadari, Widuri tersenyum. Dia sangat bersyukur bisa menikmati pemandangan alam yang seindah ini.
Yoshie dan Yabie di depan sana dengan sabar menunggu Dean yang terbang lebih lama.
"Kita sampai, paman."
Yoshi menunjuk area kosong di bawah sana. Dia turun ke balik pepohonan mengikuti adiknya.
Dean juga turun perlahan. Widuri melihat area tanah kosong di depannya.
'Di sini? Dimana kota matinya? Aku tak melihat ada reruntuhan sama sekali' batinnya heran.
Yabie memimpin jalan. Menyelinap diantara batang pohon besar. Terlihat jelas bahwa dia hafal jalannya. Padahal di hutan itu jelas tak ada rambu jalan. Dan pepohonan itu tumbuh tak beraturan.
'Itu insting pemburu' batin Dean kagum.
'Pantas saja saat kami mengejar, dia mampu mengecoh dan mempermainkan kami. Dia hafal seluruh hutan ini. Yabie adalah orang yang tepat untuk ditanyai tentang keanehan hutan ini' pikir Dean.
"Lewat sini, paman."
Ucapan Yoshi membuyarkan lamunan Dean. Dia segera mempercepat langkah.
Yabie telah berdiri di sebelah batang pohon berukuran raksasa. Dia tersenyum menunjuk ke arah tanah kosong di sebelah kirinya.
"Apa di sini pintu masuknya?" tanya Dean.
"Ya, paman. Kau bisa menandai pohon ini jika mau," usul Yoshi.
"Jangan diberi tanda. Nanti malah jadi tempat persembunyian orang jahat," bantah Widuri.
"Ku rasa bibi benar. Lebih baik hanya kita yang tau," Yoshi mengangguk setuju.
"Ayo," panggil Yabie.
Merekapun melangkah masuk bergantian.
******
__ADS_1