
Robert mengikuti Kang berjalan di lorong bawah tanah menuju ruangan bawah makam. Kang berjalan cepat.
Sampai di pintu ruangan bawah tanah di samping makam. Kang berjalan mundur kembali ke lorong. Robert yang bingung, kehilangan hitungan langkah Kang. Dia sudah berdiri menghadap tembok di kanan pintu masuk.
Kang meraba dinding. Lalu melompat ke atas dan menyentuh sesuatu di situ. Dinding batu itu bergeser ke samping dan membuka celah seperti pintu ukuran besar.
Pintu itu sama sekali tak terlihat, bila bukan Kang yang membukanya. 'Betapa cerdas kakeknya dulu itu? Bisa membuat ruangan rahasia sesempurna ini.' Robert merasa kagum.
Kang membungkuk takzim di pintu sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan besar dan tinggi itu. Robert mengikuti caranya. Di situ ada satu tempat tidur tua, meja tulis dan bangku yang juga sama tuanya. Yang paling mencolok adalah lemari besar yang seluruh rak nya dipenuhi gulungan kayu.
"Apa ini ruangan kakekmu?" tanya Robert yang tak dapat menahan rasa penasaran.
"Hemmm...." jawab Kang.
Kang mendekati lemari besar itu untuk mencari sesuatu. Yang tak dimengerti Robert adalah, tiap kali Kang mendekatkan tangan ke salah satu gulungan, maka telapak tangan Kang bersinar kekuningan. Lalu gulungan yang ada di situ mengeluarkan cahayanya sendiri-sendiri.
'Itu pasti cara untuk memproteksi informasi. Dengan cara itu, siapapun yang menemukan ruangan ini, tak kan pernah bisa memanfaatkannya. Brilliant!' puji Robert dalam hati.
Karena tak bisa membantu Kang, Robertpun mengalihkan perhatiannya untuk memeriksa ruangan 5x5 meter itu. Tempat tidur ini sepertinya lebih panjang dan besar dari umumnya tempat tidur sekarang.
'Seberapa tinggi kakek Kang dulu? 2 meter? atau lebih?' batin Robert.
Meja tulis di ruangan itu cukup besar. Sesuai dengan perkiraan tinggi kakek Kang. Masih ada mata pena dan wadah tinta di situ.
'Apa di masa itu sudah ada pena? Bukannya masa dinasti joseon mereka masih menggunakan kuas?'
Robert menggelengkan kepalanya tak mengerti. Di satu sisi dinding, ada kayu bersilang, berdiri untuk menyangga sebuah baju usang dan sangat asing. Itu menarik perhatian Robert untuk berjalan mendekatinya.
Kang menyadari itu. Ditahannya lengan Robert dan menyentuhkan jari ke dahinya.
'Jangan menyentuh baju itu. Kakek melindunginya dengan mantra.'
Robert mengangguk.
"Aku mengerti. Terima kasih Kang."
Robert mendekati baju unik tersebut.
'Seberapa penting baju ini sampai dilindungi mantra?' pikirnya.
Tapi baju itu memang sangat unik. Ukurannya besar, berwarna dasar biru tua yang mewah. Di bagian bahu, dada dan ujung lengan seperti dikombinasikan bahan lain yang terlihat kukuh. Itu tidak terlihat seperti baju perang prajurit. Tapi tampak kuat. Hampir seperti baju zirah, tapi berbeda. Baju ini terusan panjang, seperti jubah kehormatan. Banyak motif rumit berwarna keemasan bertebaran di atas baju itu.
__ADS_1
'Motif apa ini?'
Robert berjongkok memperhatikan motif rumit yang seperti simbol itu. Tanpa sadar, tangannya berusaha menyentuh ujung jubah itu. Tiba-tiba sesuatu menyetrum tangannya....
"Aduh...." desis Robert.
Dalam sekejap tubuhnya juga dihentakkan hingga terlontar cepat.
"Aaaahhhh...." jerit Robert kaget.
Brukkk!
Tubuhnya mendarat di tembok seberang ruangan. Tepat di bagian kepala tempat tidur.
Kang terkejut dan mendapati Robert yang sudah jatuh merosot, terduduk di tempat tidur.
"Aghhh..., punggungku... sakit. Aduhh.... Apa itu tadi?" gumamnya bingung.
Tapi Kang tak menjawab. Pintu ruangan itu sudah tertutup seketika. Ruangan terdengar berderak. Ada cahaya dan asap kelabu memasuki ruangan. Debu-debu berjatuhan dari langit-langit kamar.
Kang menyadari situasi yang gawat. Perangkap pencuri di ruangan ini sudah diaktifkan Robert.
Kang langsung berubah menjadi naga. Ukurannya membuat ruangan itu terasa sempit. Diangkatnya Robert ke atas punggungnya. Kang lalu menggeser tempat tidur ke sisi lain ruangan.
Kang dan Robert menunggu. Tak lama suara berderak itu berhenti. Warna merah pada simbol itu ikut lenyap. Cahaya dan asap kelabu juga menghilang bersamaan dengan terbukanya pintu secara otomatis.
Kang menggeser tempat tidur ke tempat semula. Robert diturunkan ke sana. Kang meletakkan tangan depannya yang masih berdarah ke dahi Robert.
'Jangan sentuh apapun! Di sini banyak perangkap. Kakek telah memanterai hampir semua benda di sini. Kau bisa terbunuh tanpa dapat ku tolong.'
"Maafkan aku."
Robert mengangguk, menyadari kesalahannya.
'Rasa penasaran ternyata memang bisa membunuh kita' batinnya.
Kang melajutkan pencariannya. Ada ratusan gulungan kayu di rak itu. Robert hanya bisa menunggu Kang menemukan catatan yang tepat. Dia duduk dengan patuh di tepi tempat tidur. Punggungnya masih sakit. Beruntung tak ada tulang yang cedera.
A few moments later.
Kang akhirnya membawa sebuah gulungan ke meja kerja. Tangannya dilambaikan di permukaan meja.
__ADS_1
'Bahkan permukaan meja itupun dimanterai? Sungguh hati-hati' batin Robert.
Lalu gulungan itu dibentangkan Kang di atas meja. Robert ikut melihat, apa yang dicatat di situ. Tapi tak ada tulisan apapun di sana. Kosong. Blank. Gulungan itu bersih dari goresan pena.
"Tak ada catatan apapun di situ Kang. Apa kau tidak salah ambil?" tanya Robert heran.
Kang menggeleng. Dikibaskannya lagi tangannya di atas permukaan gulungan. Kini huruf-huruf berwarna orange mulai muncul satu persatu. Tapi bukan di permukaan kayu gulungan. Huruf-huruf asing itu melayang di udara, bergerak seperti gelombang air, tepat di atas gulungan.
"Woooww...!"
Robert tak bisa menyembunyikan kekagumannya akan kecerdasan kakek Kang. Menulis catatan dan menyembunyikannya dari yang tidak berhak, dengan cara menakjubkan.
Wajah Kang berubah-ubah saat membacanya. Senang, sedih, rumit, bingung...?
Robert hanya bisa menebak-nebak. Karena dia tak mengerti satu hurufpun dari semua huruf asing yang melayang-layang itu.
"Apa kau bisa membacanya, Kang?" tanya Robert ingin tau.
"Hemmmm...." jawab Kang.
Kang melanjutkan membaca catatan itu. Lalu dia menyentuh dinding di atas meja kerja. Suatu bunyi mekanis terdengar.
Klikk!
Kemudian sebuah rak rahasia terbuka di situ.
Kang meraih kotak kayu hitam yang ada di situ. Dikibaskannya tangannya pada kotak itu. Lalu kotak itu terbuka. Ada beberapa botol kecil disusun di dalamnya. Kang mengambil satu, lalu menutup kotak itu lagi. Menyimpannya kembali pada rak rahasia yang segera menghilang di balik dinding.
Robert hanya bisa ternganga melihat semua yang terjadi.
'Serahasia itu? Apakah banyak yang menginginkan obat itu?' pikirnya.
Setelah mengembalikan gulungan kayu ke tempatnya lagi, Kang mengajak Robert keluar ruangan. Sebelum menutup pintu, Kang terlihat melontarkan cahaya hijau dari telapak tangannya ke dalam ruangan. Lalu dia meraih sesuatu di bagian atas. Dan pintu batu besar itu kembali bergeser dan menutup sempurna. Tersamar dengan dinding lorong. Sama sekali tak ada bedanya.
Kang meletakkan jari ke dahi Robert.
'Obatnya sudah ada. Apa mau diantar sekarang?'
"Ya, ayo.... Bagus sekali jika kau bisa menemukannya." Robert sangat gembira.
Keduanya keluar dari dunia kecil itu menuju rumah Dean dan kawan-kawan. Robert optimis Laras dapat disembuhkan. Harapannya besar untuk bisa membawanya kembali ke Indonesia.
__ADS_1
******
1 Chapter yaa..🙏