PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 349. Sepotong Surga di Ujung Pandangan


__ADS_3

Terdengar suara berdebum dan keluhan, begitu mereka mendarat.


"Aduuhhh ... kalian menimpa tubuh tuaku," keluh dokter Chandra.


"Oh, maaf Dok."


Robert dan Dean menyingkir dan membantu dokter Chandra untuk duduk.


"Di mana kita sekarang? Tempat ini sunyi," ujar Robert.


Dia berdiri untuk melihat sekitarnya. Mereka keluar dari lorong teleportasi di sebuah padang rumput. Sejauh mata memandang, tak terlihat ada bangunan di dekat situ.


"Menurutmu kita ada di mana?" tanya Robert penasaran.


"Nanti kita cari tau," sahut Dean. Dia sibuk mm menepuk-nepuk punggung dokter Chandra yang terlihat kepayahan.


"Baiklah, kau benar. Asalkan tak ada yang melihat kita tiba-tiba muncul dari kehampaan, maka kita aman."


Robert kini kembali duduk di dekat kedua temannya. Dia sedikit merasa bersalah. Akibat ditimpa tubuh mereka berdua, dokter Chandra jadi kepayahan. Meskipun di tubuhnya ada jiwa Penguasa yang kuat, tapi fisiknya tetaplah seorang pria tua.


"Kurasa, kita perlu istirahat sebentar," usul Robert.


Dean mengangguk setuju. Dikeluarkannya sedikit makanan dan air minum. Mereka duduk dengan santai menikmati sapuan angin.


"Hei, apa hanya aku yang merasa mencium bau amis di udara?" ujar Dean tiba-tiba.


"Maksudmu?" tanya Robert.


"Lihat di sana!" tunjuk Dean ke arah kejauhan yang letaknya sedikit meninggi.


"Sekumpulan burung terbang...."


Robert seketika menganga. "Kita tiba di sebuah pulau!" serunya gembira.


"Hemmm, aku kira juga begitu." Dean tersenyum.


"Kita harus memeriksa, apakah pulau ini berpenghuni atau tidak. Jika tak berpenghuni, maka kita masih harus melakukan perjalanan ke pulau terdekat, untuk mencari tahu," saran Robert.


"Kurasa Robert benar. Bagaimana menurutmu, Dean?" tanya dokter Chandra.


"Aku setuju." Dean mengangguk. Jika sudah cukup beristirahat, baiknya kita cek dulu pulau ini. Apakah berpenghuni atau tidak," ajak Dean.


"Ayo," sahut dokter Chandra. Diapun berdiri dan melihat sekeliling.


"Mau periksa ke mana dulu? tanya Robert sambil melihat pemandangan sekitar.


"Mari kita lihat naik ke atas sana dulu. Aku inginemastikan tempat ini. Tunjuk Dean ke dataran tinggi di depan mereka.


"Ayolah."


Ketiganya terbang ke arah dataran tinggi. Tempat itu juga sama. Lermukaanya dipenuhi rumput liar setinggi lutut.


"Kita benar-benar sedang ada di pulau."

__ADS_1


Mata Robert mengarah ke laut lepas yang membiru. Ombaknya yang besar-besar, memecah pinggiran karang di bawah sana.


"Tempat ini menbuatku teringat pantai air asin," cetus Dean.


"Tapi di sini tak ada pepohonan seperti di sana!" bantah dokter Chandra.


"Ya, di sini tak ada pepohonan. Mustahil di Indonesia ada pulau yang tak ditumbuhi pohon," sergah Robert.


"Mungkin kita memang belum sampai di Indonesia," kilah Dean.


"Bukankah rencana awal kita, membuat alibi. Bahwa selama masa kita hilang, kita tinggal di pulau terpencil. Apakah pulau ini sudah memadai sebagai batu loncatan?" tanya Dean akhirnya.


"Baiknya kita periksa berkeliling dulu," saran dokter Chandra.


"Oke." Robert mengangguk.


Sekarang ketiga orang itu terbang mengelilingi pulau. Mengamati keadaan pulau yang tak seberapa luas itu. Secara keseluruhan, pulau itu gundul, tanpa sebatangpun pepohonan. Bahkan tak terlihatsebatang pun pohon cemara yang sangat tolerant dengan iklim yang tak bersahabat.


"Kurasa, pulau ini tak bisa jadi alibi," ujar Robert.


"Kenapa?" tanya Dean.


"Karena tak ada sumber mata air. Pun, tak ada sebatang pohon yang bisa kita gunakan untuk membangun kediaman!" beber Robert.


"Tak ada kayu, berarti tak ada kayu bakar untuk masak!" celetuk dokter Chandra.


"Itu ... ada pepohonan!" Dean tak menyerah begitu saja.


"Dan, lebih tak mungkin lagi menjadikan pulau ini alibi, karena...."


Robert terbang ke arah pantai yang ditumbuhi rimbunan bakau. Dean dan dokter Chandra mengikutinya.


"Lihatlah. Tidakkah menurutmu ini familiar?" Robert membentangkan kedua tangannya.


"Empang!" ujar dokter Chandra.


"Apakah ini pulau yang sama dengan yang ditempati Leon?" ujar Dean.


"Jelas bukan!" sanggah Robert.


"Kita dan Leon hanya beda bumi. Namun, pulau yang sama pasti tetap ada di tempatnya semula. Dan kontur pulau ini berbeda dengan Pulau Buwan yang ditinggali Leon dan Jane," timbrung dokter Chandra.


"Aku mengerti. Dan dengan adanya empang yang terbengkalai ini, berarti ada orang yang datang ke sini. Dan kita tak bisa tiba-tiba mengklaim sudah tinggal lama di sini." Dean memahani maksud dua temannya sekarang.


"Jadi, apakah kita akan terbang ke pulau terdekat lainnya? Atau tinggal di sini dulu?" tanya Dean lagi.


Robert menggeleng tak setuju. "Dunia ini berpenghuni. Sebaiknya kita tidak terbang di saat terang begini."


"Bagaimana Dok? Apakah ingin beristirahat dulu? Nanti malam kita terbang ke pulau lain," tanya Dean.


"Aku ikut saja. Di mana kita mau istirahat?" Dokter Chandra celingak-celinguk melihat sekitar. Tak ada satupun pohon peneduh.


Dean segera terbang ke ketinggian dan mengeluarkan lempeng batu hitam dari gunung batu. Disusunnya lempengan batu menjadi tempat mereka berteduh. Dia sudah sering kali melakukannya hingga sangat mahir. Jadi tak butuh bantuan siapapun.

__ADS_1


"Dok, kita bisa memulihkan tenaga di sini hingga malam datang!' teriak Dean dari ketinggian.


Dokter Chandra menoleh ke arahnya dan mengangkat tangan. " Oke!" sahutnya.


"Biar kucari, apakah ada ikan atau udang segar yang bisa kita nikmati," ujar Robert.


"Baik. Berhati-hatilah," pesan dokter Chandra sebelum menuju ke tempat Dean.


"Dia mau kemana?" Mata Dean mengarah pada Robert.


"Mencari ikan dan udang segar untuk dipanggang," terang dokter Chandra.


"Aku akan membantunya. Apa Anda butuh hal lain?" tanya Dean.


"Tidak ... pergilah! Aku mau merebahkan punggung tua ini dulu," kekeh dokter Chandra.


"Tenang, Dok. Tak lama lagi kita pulang ke rumah. Setelah pulang, kita akan cukup beristirahat serta memanjakan diri di rumah. Aku yakin, Anda justru akan merindukan petualangan seperti ini lagi," hibur Dean sambil tersenyum lebar.


"Yahh ... bagaimanapun, aku tak dapat mengimbangi semangat anak-anak muda. Aku merasa iri dengan ketangguhan kalian," puji dokter Chandra.


"Baik. Aku bantu Robert dulu," pamit Dean.


"Hemm," gumam dokter Chandra.


Dean terbang mendekati Robert.


Dokter Chandra merebahkan dirinya di lantai batu. Dua lengannya menjadi sandaran kepalanya. "Aku harap, penglihatanku salah. Tempat ini berbeda dengan bayanganku. Semoga saja itu tidak benar. Jika tidak, maka...."


*


*


Tiga orang duduk melingkari perapian. Berbincang ringan sambil menikmati udang dan ikan yang dibakar di atas batu. Robert membakar sebongkar batu yang ditemukannya di tepi pantai. Mereka menata udang dan ikan di atas batu yang sangat panas.


"Jika bepergian dengan kalian, kita tak butuh kayu bakar. Robert, Indra dan Sunil bisa membakar batu untuk mematangkan masakan." ucap dokter Chandra.


"Pada hal dulu, di tempat asal kita, kemampuan seperti itu digunakan dalam perang dan untuk memusnahkan musuh."


"Sekarang, Robert menggunakannya pada batu. Agar kita bisa memusnahkan ikan dan udang-udang ini," timpal Dean ringan.


"Hahahaha...."


"Sebentar lagi senja," sela Robert diantara derai tawa.


"Bukankah ini surga?" gumamnya lirih.


"Ya. Sepotong surga di ujung pandangan mata."


Dokter Chandra melihat heran dua pria dewasa di dekatnya. Dua alisnya sampai terangkat tinggi melihat Dean dan Robert tenggelam dalam lamunan yang hanya mereka yang tahu.


Ketiganya menikmati bias warna jingga yang memenuhi langit. Suara burung camar meningkahi deru angin, seperti musik indah yang berkesan mistis.


********

__ADS_1


__ADS_2